
Rion sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Perempuan yang kebetulan namanya sama dengan Hani istrinya, betul-betul sama persis. Ia tak menyangka dengan apa yang ia lihat. Dari kejauhan. Ia memakai kaca mata hitamnya. Perempuan tadi, seorang laki-laki dan seorang anak kecil tadi menjadi sebuah pertanyaan besar untuknya saat ini. Ia segera mengambil mobilnya dan sengaja mengikuti keluarga kecil itu. Dalam hati, Rion hanya merasa penasaran. Kenapa ada kemiripan suara, nama, serta wajah dalam diri perempuan itu. Ah, pasti hanya suatu kebetulan. Tak mungkin Hani hidup kembali. Hani orang baik. Ia tak mungkin melakukan hal-hal yang beresiko besar seperti ini.
Sebuah rumah mewah di terletak tak jauh dari pusat kota. Mobil perempuan tadi masuk. Beberapa meter di belakangnya, nampak mobil Rion tengah berhenti. Ia mengamati rumah itu. Ia menelepon pengacaranya buang ada di Jakarta untuk segera pergi ke Bali. Apa yang ia khawatirkan bisa jadi sebuah alasan kuat. Sebuah pembuktian. Ia baru menyadari bahwa tawa perempuan tadi sama persis dengan tawa Hani.
Perlahan-lahan sejak kematian Hani, ia berusaha untuk mengobati sendiri luka batinnya. Namun dengan kejadian ini, apakah yang menjadi tujuannya bila ternyata perempuan itu benar-benar Hani? Rion tak bisa berpikir. Ia kembali ke Hotel dengan perasaan penasaran yang sangat besar.
Malam itu, pengacaranya datang dan langsung ke kamar Rion untuk sebuah misi besar.
Rion: "Saya catat alamat lengkapnya. Saya hanya ingin memastikan kalau dia betul-betul bukan istri saya. Harapan saya. Walau tak bisa saya pungkiri. Sekilas. Ia memang terlihat seperti Hani. Hanya rambutnya sedikit lebih panjang. Badannya sedikit lebih berisi. Namun bahasa, perkataan, dan tertawanya hampir persis 101% seperti Hani. Saya tidak tahu itu rumah pengusaha siapa. Saya yakin. Dia bukan orang sembarangan. Walau orang tua Hani pasti bisa memfasilitasi hal seperti ini. Bukan hal susah untuk mereka. Tolong usut kembali kasus Hani. Toh belum ada titik terang sejak kematiannya saat itu."
Pengacara itu lalu pamit untuk segera pergi. Rion terdiam sesaat. Gila. Bali adalah tempat yang damai untuk dikunjungi. Tapi bukan rasa penasaran yang membuat hati menjadi perih.
Keesokan harinya, ia menghadiri rapat investor di sebuah hotel berbintang. Selama dua jam rapat itu, selama itulah ia selalu melihat ponselnya untuk menunggu kabar dari pengacaranya. Rapat itu telah selesai. Rion kembali ke hotel. Setelah sampai di lobi, ponselnya berdering. "Pak Rion. Saya punya kabar," Rion terdiam. Seseorang menepuk pundaknya. Rion menoleh. Bili sudah ada di Bali. Nampaknya ia tak sabar ingin mengikuti Rion ke Lombok. Namun ia belum tahu apa yang Rion lalui kemarin. Rion menutup teleponnya. Memeluk sahabatnya yang selalu ada untuknya di kala susah. "Kita pending dulu ke Lombok nya. Ada yang pingin gue ceritain sama lu."
Mereka menuju cafe Hotel. Rion menceritakan segala yang terjadi padanya terkait masalah Hani. "Lu disamping gue sekarang. Dan gue senang lu ada buat gue," kata Rion. "Gue kesini karena pingin ikut lu ke Lombok, ya. Tapi masalah tadi bikin gue gak pingin kemana-mana. Gue pingin kelaran. Udah. Cukup. Kalo emang benar itu Hani. Gue gak bakal maafin dia. Dan gue bisa buktiin kalo prasangka gue benar sejak dulu," Bili berdiri dan berjalan ke luar cafe.
"Oia, bre. Parkiran mana? kanan apa kiri?" Rion hanya tersenyum melihat ulah sahabatnya itu. Rion dan Bili berada di sebuah restoran. Pengacara Rion sudah berada di sana dengan beberapa dokumen yang ia bawa.
Ia lalu menyodorkan semua file itu kepada Rion.
Rion melihat dengan teliti siapa pemilik rumah itu.
Pengacara: "Mega, Detektif kita yang mencari informasi rumah itu. Pemiliknya adalah seorang pengusaha besar kepala sawit. Namun rumah itu sebenarnya kosong sudah lama. Lalu yang menempati sekarang adalah keluarga kecil. Suami istri dan seorang anak berusia 4 bulan. Seorang detektif perempuan sempat mengikuti mereka pagi ini saat mereka berbelanja di sebuah supermarket. Tak sengaja berbincang dan menanyakan namanya. Namanya Sisi. Dan suaminya bernama Zico. Mereka dari Bandung, ke Bali karena ada urusan pekerjaan."
Rion: "Syukurlah bukan dia."
__ADS_1
Pengacara: "Tapi, pak. Seorang detektif yang menyamar sebagai pekerja pembersih serangga yang kebetulan memang rutin di sana mengatakan. Bahwa kedua orang itu datang Jakarta. Dan Hani, nama yang pak Rion dengar itu, benar. Asisten rumah tangga memanggilnya, Nyonya Hani."
Rion: "Saya ingin lebih rinci, Pak."
Pengacara itu menunjukkan sebuah foto. Foto keluarga yang berada di ruang tengah yang diambil oleh detektif yang menyamar tadi. Foto perempuan yang mirip Hani, seorang anak dan suaminya yang... tunggu dulu. Rion sepertinya mengenal lelaki itu. Tapi siapa dia? Rion berpikir keras. Siapakah dia? Ia berdiri sambil mengingat-ingat pria ini. Ia pernah bertemu. Paling tidak. Dua kali. Ya, tunggu. Bukan, kah dia..
Ia lalu mengingat bahwa lelaki itu adalah Tito, teman Neyza yang pernah datang di rumah kontrakan Neyza. Ah, gila. Betul. Kemungkinan ia adalah teman pria Neyza sepertinya tidak salah lagi. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari nama nenek di deretan kontaknya.
Telepon yang Anda tuju sudah tidak aktif lagi.
Ha? Sejak kapan ia mengganti nomor telepon tapi tak memberitahu. Ah, Rion gusar. Kemana Neyza? Sepertinya ia bingung untuk menghubungi Neyza. "Bre, hubungi Weni. Tolong tanya nomor telepon Neyza. Sekarang," Bili dengan secepat kilat menghubungi Weni. Bili menggaruk kepalanya.
Rion: "Kenapa, bre?"
Rion mengambil telepon Bili dan memencet ulang nomor Weni.
Weni: "Kenapa, Bil?"
Rion: "Weni, ini gue Rion. Gue minta tolong dong nomor telepon Neyza. Gue ada perlu penting banget sama dia."
Weni: "Aku gak bisa, Rion. Dia lagi sibuk dan gak mau diganggu."
Rion: "Tolong, dong Wen. Ini tentang almarhumah istri gue."
Weni terkejut. Sambil memegang telepon, ia melihat Neyza dengan tatapan yang heran. Keadaan Rion sangat berbeda setahun ini. "Bentar, Rion. Nanti aku hubungi lagi," Weni menutup telepon.
__ADS_1
Neyza: "Kenapa? "
Weni: "Rion minta nomor telepon kamu."
Neyza: "Jangan dikasih."
Weni: "Dia bilang penting dan ada hubungannya dengan almarhumah istrinya."
Neyza batuk. "Maksudnya?"
Weni: "Aku juga gak tahu, Ne. Gimana? Kamu mau bantu dia? Atau kamu belum siap ketemu Rion?"
Neyza: "Pasti ada keperluan yang penting sampai dia hubungi kamu."
Weni: "Jadi?"
Neyza: "Kasih nomorku. Biar aku yang bicara sendiri."
Weni memberikan nomor kontak ke nomor Bili. Lalu Bili memberikannya kepada Rion. Tanpa pikir panjang Rion menghubungi Neyza.
Sementara Neyza mulai gugup. Sebentar lagi harusnya Rion menghubunginya. Tangannya mulai berkeringat. Ada kelanjutan apa lagi nanti?
Kriiing.
"Halo."
__ADS_1