Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 101 Apakah kamu?


__ADS_3

Maliq nampak tenang dengan pertanyaan Rui. "Iya," jawabnya. Rui hanya mengangguk. Mungkin benar apa yang ia lihat, bayangan Maliq bersama Lalita membuatnya tidak khawatir lagi.


Mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Rui. Seperti biasanya, Maliq langsung turun dan berjalan menyusuri jalan. Rui tak begitu terkejut seperti saat pertama Maliq mengantarnya. Rui kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Malam itu Rui tak dapat tidur. Ia banyak mengerjakan tugas yang sedang terkumpul. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Adalah Levi, sang sahabat, yang ingin pergi ke kampus bersama siang esok.


Satu jam kemudian, Rui merasa lelah. Ia asyik merebahkan badannya di atas kasur. Matanya terpejam. Namun bayang-bayang seseorang nampak kabur di pikirannya. Ia sedikit mengabaikan karena hendak meniadakan penjagaannya malam ini. Namun, bayang-bayang di pikirannya semakin jelas. Sosok Maliq semakin 'lincah' kemana pun Rui berpikir.


Kenapa ni cowok gak pergi-pergi, sih?


Ia memeluk sebuah boneka kucing yang ada di sebelahnya, mencoba semakin ingin menghilangkan Maliq dalam pikirannya. Semakin lama, ia pun tertidur.


Siang itu, Rui menjemput Levi untuk bersama-sama menuju kampus. Sebelum itu, mereka hendak membeli es kopi kesukaan mereka. Rui memarkir mobilnya dan segera turun. "Nih, tumblr-nya jangan sampai lupa," kata Levi. Rui pun berjalan ke kedai kopi yang tak jauh dari mobilnya.


Rui tengah berdiri untuk mengantri. Kedai ini masih terlihat sepi karena sebentar lagi masuk waktu jam makan siang. Seorang pria datang bersamaan. Di belakangnya, nampak tukang parkir yang tengah menghitung uang sambil berjalan. Tak sengaja ia menabrak pria di belakang Rui. Secara otomatis, ia jatuh ke arah Rui. Namun gadis itu nampak sigap. Ia menahan pria itu.


Sang pria nampak malu karena hampir menjatuhkan Rui. "Maaf," katanya. Ia lalu berdiri bersama Rui. Namun saat hendak memisahkan diri, secara tak sengaja pria itu hampir kehilangan malu karena celananya sedikit turun dari pinggangnya. Rui yang tak sengaja melihat hampir berteriak. Namun ia menutup mulutnya dan segera berbalik.

__ADS_1


Pria itu lalu cepat-cepat membenahi celananya dengan muka memerah. Antrian Rui telah tiba. Ia cepat-cepat memesan minumannya dengan Levi dan segera menjauh dari pria tak dikenal itu. Rui masuk ke dalam mobil dan segera melakukan kendaraannya tanpa berpikir panjang. Setelah sampai kampus, mereka berjalan untuk masuk ke ruang kelas.


Levi masuk terlebih dahulu karena Rui masih menuju toilet. Setelah selesai, ia akan pergi menyusul Levi dengan perasaan bahagia. "Hei!" suara itu sepertinya terdengar oleh Rui. Ia nampak biasa saja melanjutkan perjalanannya. "Hei, kamu!" suara itu lagi. Rui berpikir itu adalah mahasiswa lain. Ia pun kembali berjalan. "Baju kotak biru!" langkah Rui terhenti. Ia menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Tentu saja, baju kotak biru adalah baju yang ia kenakan hari ini. Tapi kenapa seseorang memanggilnya dengan begitu keras?


Lha, pria depan es kopi.


Pria itu mendekati Rui. "Kamu mahasiswa sini juga, tho?" Rui sedikit memberikan senyum. "Kamu pasti anak baru," Rui mengangguk lagi. "To the point aja, ya? Kejadian tadi. Jangan dibicarakan sama siapa-siapa," Rui berusaha memutar otaknya. Terjatuh? Atau celana yang melorot tadi? Rui hanya memberi jawaban anggukan dengan senyum sedikit terpaksa.


"Namaku Geri. Kamu?" pria itu memberikan namanya tanya ditanya. "Rui, Kak," jawab Rui. Geri lalu membalikkan badan dan segera pergi meninggalkan Rui. Perempuan itu sekali lagi, dengan sikap yang sama yang ditunjukkan oleh Maliq nampak seperti yang dilakukan Geri padanya.


Rui masuk ke kelas dengan muka yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan keadaannya saat keluar dari kamar mandi. Moodnya mendadak memburuk karena perilaku Geri terhadapnya.


Perkuliahan selesai saat sore hari. Levi dan Rui pergi ke kantin untuk membeli makanan. Dari siang tadi, setelah es kopi, mereka belum makan makanan yang berat. Rui duduk dan Levi sedang membeli sesuatu. "Hei!" seseorang menyapa Rui. Geri tepat di belakang Rui. Ia kembali menatap Rui dengan tatapan tajam. Namun diakhiri dengan senyuman.


Kalo tadi kamu gak senyum. Tonjok juga, nih. Geregetan aku.


"Rui ngapain?" tanyanya. "Mau makan. Laper. Kakak ngapain? Mau niup lilin?" Heri tersenyum. "Ih, mantap jokes-nya. Pinter kamu. Cuma gak selucu celana melorot tadi siang," kini giliran Rui yang tertawa. "Lagian bukannya dikencengin dulu tali atau sabuknya," mereka akhirnya tertawa. "Maaf, kak. Keceplosan ketawanya," Rui merasa sungkan. Geri menggeleng. Ia meletakkan buku di dua kursi di seberang Rui.

__ADS_1


Levi datang dengan membawa dua makanan. Melihat Geri duduk hampir berjajar dengannya merasa kikuk dengan keberadaan Geri. "Eh, maaf. Ini kursi saya," Geri hanya mengangguk mempersilahkan Levi duduk di sebelahnya. Namun ia lebih tertarik untuk melihat ponselnya. Rui tersenyum. "Kak Geri. Kenalin, ini Levi. Vi, ini Kak Geri," Levi tersenyum dengan lebar. Seorang kenalan baru di kampus ini rasanya menjadi sebuah kenikmatan.


"Rui. Tadi itu gebetan kamu atau kebalikannya?" tanya Levi saat mereka di dalam mobil. Rui tertawa sambil menggeleng. Kita baru juga kenalan karena suatu hal absurd banget. Jadilah. Cuma tahu sendiri, kan? Masa iya aku secepat kamu suka sama cowok? Dingin gitu orangnya," jelas Rui panjang lebar. "Kayak Kak Maliq, ya?"


Setelah Levi tiba di rumahnya, Rui kembali pulang ke rumah. Sebuah ponsel berdering. Ia lalu menyalakan model telepon di perangkat audio mobilnya. Neyza menelepon Rui. "Sayang. Udah pulang apa belum? Kalo belum Mama titip cinnamon roll di toko kue biasanya, dong," kata sang Mama. Rui mengiyakan permintaan Neyza. Tak lama setelah itu, Rui tiba dan membeli kue titipan Neyza. Karena kue itu sangat laris di situ, hanya tersisa tiga saja sehingga Rui harus bergegas mengambil semua kue itu untuk ditaruh di nampan. Capitan Rui mendekati kue itu, namun bampaknya capitan lain juga akan berlomba mendapatkannya. Kedua benda itu berbenturan. Rui melihat orang yang hendak mengambil itu. Orang tersebut juga melihat Rui.


Kak Maliq.


Maliq pun tak kalah kagetnya. Ia pun akhirnya beradu capit agar ketiga kue terakhir di nampan saji menjadi miliknya. Rui mendekati makanan itu. Begitu pula Maliq. Satu menit berlalu mereka masih beradu capit hingga seorang pelayan menghampiri mereka.


"Permisi, Mbak, Mas. Ini saya refill lagi kuenya. Jangan berantem lagi, ya," Keduanya secara cepat menjauh dan tertunduk malu. Saling tersenyum karena hal konyol yang barusan saja terjadi. Setelah selesai membayar, mereka pun keluar toko kue tersebut.


"Kamu suka sama kue tadi?" tanya Maliq. Rui mengangguk. "Aku, Mama, Kak Lalita suka banget," kata Rui.


"Lalita?" Maliq terkejut.


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2