Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 70 Kedatangan Tamu


__ADS_3

Rion baru saja pulang dari kantor dan melihat Paman Lendra dan Neyza duduk di ruang tamu. Rion nampaknya ingat kejadian Neyza di taman kota. Foto yg dikirim Neyza sangat jelas dalam ingatan Rion. "Ini, kan?" Neyza memegang lengan Rion. "Iya, orang yang waktu itu ada di taman kota. Ternyata dia adalah Paman Lendra, begitu Heri memanggilnya," Neyza menjelaskan. "Kamu tahu dari mana?" Rion penasaran. Rasa-rasanya terlalu dini untuk... ", Paman Lendra segera mencondongkan badannya. "Tadi, mbak Neyza telepon Heri. Kami video call. Heri tahu saya," Rion menatap Neyza dan Neyza mengangguk.


Syukurlah. Semoga orang ini punya niat baik.


"Lalu. Saya penasaran. Apa yang Pak Lendra lakukan di depan rumah saya? Apa ada keperluan?" tanya Neyza langsung pada poinnya. Pak Lendra membenarkan posisi duduknya. "Seperti yang saya katakan pada Mbak Neyza, saya khawatir dengan keadaan Lalita. Keluarga besar saya tidak bisa menerima keluarga Kakak saya itu. Tapi saya tidak. Saya tahu mereka sedang kesusahan. Harta mereka disita. Heri sebelum pergi keluar negeri meneruskan sekolah megisternya, kami sempat berbicara banyak. Bahkan tentang bagaimana mbak Neyza dan mas Rion membantunya. Lalu pikiran saya terbuka," Neyza masih menatapmata Paman Lendra. "Saya berterima kasih karena Paman Lendra sudah terbuka tentang posisi kami. Kami tidak ada maksud lain selain sebuah misi sosial kepada Lalita dan juga Heri," ujar Neyza mempertegas.


"Saya sebenarnya juga ingin bertemu langsung kepada mas Rion dan mbak Neyza untuk mengucapkan Terima kasih yang sebesar-besarnya. Namun saya tidak tahu kantor mas Rion. Saya tahu alamat ini saja setelah saya mengikuti mobil mbak Neyza saat kejadian di taman kota. "Apa? Mengikuti kami?" Neyza terperangah. "Iya, saya berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan mengikuti mobil mbak Neyza dengan seorang ojek yang mengantar saya ke sana.


Kenapa aku masih belum percaya dengan Paman Lendra ini, ya?


Beberapa kudapan dan minuman hangat telah dihidangkan di ruang tamu. " Silahkan, Paman. Seadanya." Rion memandang Neyza. "Pak Lendra, dimana Bapak tinggal sekarang?" Paman Lendra menghabiskan secangkir teh melati hangat itu. "Saya tinggal di Jalan Senopati," jawabnya. Setelah perbincangan singkat itu, Paman Lendra segera pamit untuk pulang. "Saya minta ijin untuk pulang," Neyza berdiri bersama Rion setelah Paman Lendra berdiri dari sofa ruang tamu. "Oh, iya. Mohon maaf bila salah paham yang kemarin membuat Pak Lendra tidak nyaman," Rion mengantar Paman Lendra keluar pintu. Rion dan Neyza segera melihat pria paruh baya itu keluar dari pagar rumah.


Rion dan Neyza hendak berjalan ke kamar. Rion merangkul pundak istrinya. "Kamu percaya, gak?" Neyza menggeleng. "Mungkin butuh waktu. Setelah Heri kembali, mungkin," jawab Neyza jujur. "Kalo kamu?" tanyanya kembali. "Aku gak tahu juga, sih. Kalo memang dia khawatir dengan Lalita, kenapa dia gak minta ijin buat jenguk atau minimal lihat foto Lalita? Atau mungkin dia lupa?" Rion menerka-nerka. "Ah, iya juga, ya? Kenapa aku gak kepikiran gitu?" Mereka berjalan ke lantai atas untuk membersihkan diri dan bermain dengan Lalita.

__ADS_1


....


....


Bulan demi bulan mereka jalani. Kesibukan yang sangat padat juga mereka kerjakan. Rion dengan bisnisnya, Neyza dengan kehamilan yang membesar dan mendekati kelahiran. Lisa juga tengah disibukkan dengan tugasnya sebagai mahasiswa kedokteran.


Sore itu, Neyza berjalan mendekati Lalita dan hendak ikut bermain. "Ta, mau makan buah apa hari ini?" tanya Neyza dengan napas yang terengah-engah. Di akhir masa kehamilan ini ia merasa oksigen dalam tubuhnya bergantian dengan desakan bayi di dalam perutnya. "Ta.. Mama ma... Ta... " Neyza merasa bagian bawah tubuhnya basah. Seperti air yang tiba-tiba mengucur deras.


Astaga. Air ketuban sepertinya.


Ah, aku harus mengatur napasku sebaik mungkin.


"Aduh, sakit," katanya kepada asistennya itu. "Bawa saya ke kamar, ya?" sang asisten menurut dan segera membantunya berjalan pelan. Sesekali ia berhenti berjalan karena rasa sakit yang semakin kuat. Sampailah ia ke kamar. Berbaring dan mencari sesuatu yang dapat menguatkannya. Sambil melihat jam dinding kamarnya. Ia berhenti dan merasa kesakitan lagi. "Mbak, tolong hape aku di meja itu. Tolong sambungin ke Dokter Mela," perintah Neyza. Dengan sigap asisten yang ia andalkan di saat genting seperti ini berhasil menghubungi Dokter Mela.

__ADS_1


"Dok, ketuban saya pecah dan rasanya semakin sakit," tanpa menyapa terlebih dahulu. Dokter Mela dengan tenang menjawab, "Ney, apa kamu masih sanggup ke rumah sakit?" tanya Dokter. "Masih, Dok. Rion dalam perjalanan," Neyza menjawab dengan suara lirih. "Oke, kamu tenangin diri kamu. Kalo bisa makan dan minum. Lepasin pikiran kamu tentang hal yang buruk. Sugesti diri kamu bahwa sebentar lagi kamu akan kedatangan tamu paling spesial. Aku tunggu kamu di rumah sakit," Neyza menutup telepon. Ia hanya mempersiapkan diri untuk segera pergi ke rumah sakit.


Lima belas menit kemudian Rion datang dan segera membawa Neyza ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Neyza yang sudah duduk di dalam mobil menghentikan langkah Rion saat hendak menutup pintu mobil. "Bentar. Mana Ta?" tanyanya dalam keadaan lemas. Seorang asisten rumah tangga menggendong Lalita yang kebingungan dengan situasi ini. Lalita menemui Lalita di dalam mobil. "Ta, do'ain Mama ya, sayang. Biar Mama bisa lahirin adek Ta. Nanti Mama, Papa sama adek pulang ke rumah terus kita main sama Ta. Oke?" Lalita mencium perut Neyza. "Ma.., peyut" Neyza tersenyum. Neyza memeluk Lalita dan Lalita membalas pelukan itu. "Ti..ti, Mama," kata Lalita saat mobil akan pergi. "Iya, sayang kita hati-hati di sini. Lalita main sama mbak dulu ya, nak?" kata Rion seketika mobil itu berjalan.


Neyza mengusap matanya ketika mobil meninggalkan rumah. Bayang-bayang wajah Lalita terpampang jelas di pikirannya. Lalita membuatnya semakin bersma untuk melahirkan. Lalita adalah anak yang pintar dan menggemaskan. "Jangan nangis. Semoga semuanya lancar. Aku ada disini," kata Rion berusaha menenangkan Neyza.


Setelah masuk ke ruang inap rumah sakit itu. Neyza didampingi seorang perawat dan sesekali seorang kepala perawat yang melihat persiapan kelahiran anak Neyza itu. Tiap jam, perawat itu mengecek sejauh mana tindakan bukaan yang telah terjadi pada Neyza. Enam jam berlalu, dengan kondisi yang semakin susah payah, tersenyum, menangis. Rion banyak menghibur Neyza agar ia tidak merasa sendiri. "Sayang. Masih ingat, gak? Waktu di rumah kontrakan, aku suruh tukang sate di depan rumah kamu biar asapnya sate masuk ke rumah kamu?" Neyza tertawa menahan sakit. "Aku banyak ingat hal-hal konyol yang aku lakukan sana kamu. Dikejar anjing dikejar biawak. Aduh, kok sama kamu, ya?" Kali ini Neyza tak tertawa. Sakitnya sudah diubun-ubun. Hampir meledak tangisnya karena sakit yang luar biasa. Seorang perawat masuk dan mengecek kembali keadaan Neyza. Dokter Mela datang bersamaan dengan perawat yang mengecek kondisi Neyza itu. "Bukaan lengkap, Dok." kata perawat itu. Kini Dokter Mela bersiap untuk membantu Neyza mengeluarkan bayinya.


"Ney, saat kamu merasa sakit, itu tanda untuk mendorong bayi itu. Atur napas kamu. Perawat akan membantu untuk ikut mengatur napas bersama kamu," Neyza mengangguk. Keringatnya sudah mengalir deras. Bajunya basah.


Kini rasa sakit itu terasa, Neyza mendorong dengan tenaga paling tinggi yang ia punya. Neyza terengah-engah. Ia hampir menyerah. Kemudian ia diam. Menunggu kesakitan berikutnya. "Dorong!!" kata Dokter Mela. "Kamu bisa sayang," bisik Rion yang berada di samping Neyza.


Bayi itu keluar seperti peluru yang meluncur dengan cepat. "Bayinya keluar, " kata Dokter. Rion mencium kening Neyza. "Kamu hebat, sayang," Neyza mengeluarkan air mata. Rasa sakitnya hilang seketika. Namun, kabahagiaan itu sepertinya berhenti sekejap, percakapan perawat pada Dokter Mela membuyarkan kebahagiaan Neyza dan Rion.

__ADS_1


"Dok, bayinya tidak menangis."


(bersambung)


__ADS_2