
Neyza berjalan ke taman belakang. Rion sedang duduk membenarkan beberapa bunga yang hampir terlepas dari vas kecil di atas meja. Tahu akan kehadiran Neyza, ia tetap memilih untuk duduk membiarkan Neyza yang berbicara kepadanya terlebih dahulu.
Neyza: "Sori, ya. Aku lupa kalo aku nemenin kamu makan. Tadi habis nidurin Ta."
Rion: "Gak papa. Lupa kan harfiah. Kamu udah lapar?"
Neyza: "Iya, lapar banget."
Neyza menggeser tempat duduk dan menempatkan dirinya di sebelah Rion. Sepiring nasi goreng hangat siap disantap. Mata Neyza membulat. Menu yang ia tunggu selama beberapa hari. Neyza segera mengambil sendok dan mengambil satu suapan penuh untuk dikirim ke mulutnya.
Nyam.
Neyza: "Lho, ini kan?"
Rion: "Nasi goreng kontrakan?"
Neyza melihat Rion dengan ekspresi terharu. Ia masukan lagi sesuap demi sesuap. Menghabiskan makanan jauh lebih penting dari perkataan apa pun kepada Rion. Neyza selesai memakan makanannya. Meneguk segelas air hangat dan membersihkan mulutnya dengan kain bersih.
Neyza: "Kamu beli tadi?"
Rion: "Gak. Aku gak beli."
Neyza: "Terus?"
Rion: "Aku undang dia ke rumah dan masakin buat kamu. Barusan selesai dia langsung pulang."
Neyza: "Ha? Buat ginian doang?"
Rion: "Kan kita gak bisa keluar rumah karena Lalita. Kamu kan senengnya nasi goreng mamang itu."
Neyza: "Hmm, kamu bayar berapa mamangnya?"
Rion: "Cukuplah buat sehari dia kerja. Apaan, sih? Malah bahas bayaran."
Neyza: "Kamu gak makan?"
Rion mengambil sendok di sebelah piring. Ia lupa untuk memakannya karena asyik melihat Neyza yang mampu menghabiskan sepiring makanan itu dengan hanya 7 menit saja.
Neyza: "Ada acara apa, sih? Sampai ada dinner di taman belakang?"
Rion: "Mau minta maaf."
__ADS_1
Neyza: "Maaf?"
Rion: "Sejak nikah aku gak sempat ngajakin honeymoon. Malah ketambahan Lalita."
Neyza: "Dibuat santai aja. Gak usah merasa bersalah."
Rion: "Tetap aja gak enak. Kamu butuh liburan. Walau masih ada jarak sama aku."
Neyza mendaratkan bibirnya ke pipi Rion. Muka Neyza memerah sedangkan Rion terkejut karena sebuah hadiah dadakan dari Neyza.
Rion: "Barusan itu.. "
Neyza: "Udah gak usah dibahas."
Rion: "Maaf kalo cuma ini."
Neyza: "Gak usah bikin ginian lagi. Aku gak perlu liburan mewah, gak butuh dinner restoran mahal."
Rion: "Iya, sih. Kamu uda punya banyak. Kamu bisa beli apa aja."
Neyza: "Tapi aku gak bisa beli kebahagiaan duduk sama kamu. Gak dijual dimana-mana."
Tangan Rion perlahan menuju ke tangan Neyza yang ada di atas meja. Mencoba mendekat tanpa paksaan. Meraih sebuah chapter baru.
Rion: "Besok-besok.. "
Neyza: "Besok?"
Rion: "Gak papa. Gak jadi."
Neyza: "Kita dinner-nya di kamar aja."
Rion: "Ha? Di kamar?" Wajah Rion memerah.
Neyza melempar kain ke muka Rion. "Jangan mikir macem-macem, ya? Biar bisa nungguin Ta," bela Neyza. "Aku gak mikir alasan lain, kok. Tapi.. " Rion menghentikan kalimatnya. "Tapi kalo ada hal-hal di luar kendali tanggung jawab, ya?" Neyza berlari meninggalkan Rion. Berharap pembicaraan tidak terlalu jauh walau pun wajar saja hal itu dibicarakan oleh suami istri. Rion tersenyum sambil menghabiskan makanannya.
Neyza berada di kamar. Melihat Lalita yang tertidur nyenyak. "Ta, Mama salah gak, sih? Kalo sampai sekarang belum bisa luwes merhatiin Papa kamu?" Neyza mengernyitkan alisnya. Sebuah pertanyaan yang jawabannya hanya ada di dalam diri Neyza. Rion masuk ke dalam kamar. Mencoba melihat Lalita yang tertidur. "Lalita sakit?" tanyanya pada Neyza. "Gak," jawabnya singkat. "Terus kenapa kok di situ diem kayak patung?" Neyza berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Tangan Rion menghentikan langkahnya. "Kalo ada masalah cerita sama aku," imbuh Rion. Neyza menatap Rion. "Aku gak punya masalah," Neyza melepaskan tangan Rion. "Ney," katanya lagi. Neyza melihat Rion. "Hmm, gak apa-apa." Kali ini Neyza dibuat penasaran oleh Rion.
Neyza tengah merapikan tempat tidurnya. Malam ini Rion tak tidur di kamar Neyza. Ia tengah mengerjakan pekerjaannya di kamar di sebelah kamar Neyza.
__ADS_1
Pukul 22.49. Sudah selarut ini. Neyza tak bisa tidur. Kata-kata maaf yang dilontarkan Rion saat makan malam tadi membuatnya masih berpikir. Ia mencoba memejamkan matanya. Wajah Rion memenuhi isi pikirannya. "Duh, kenapa aku kepikiran Rion, sih?" Ia menarik selimutnya dengan harapan ia mulai tertidur dengan posisi yang sempurna. Tak lama berselang, kakinya bergerak. Badannya bergeser, menghadap ke segala arah, berpindah tempat. Neyza tak enak hati. Kini ia mencoba menetapkan hatinya untuk menemui Rion. Ada gejolak yang berkecamuk di dalam dirinya. Ia harus berubah menjadi lebih lembut kepada Rion. Ia berdiri dan mencoba menemui Rion di tengah malam ini.
Neyza membuka pintu. Namun Rion tidak ada di kamar itu. Hanya laptop yang menyala di atas tempat tidur. Kemana Rion? Ia mencoba mencari di dalam kamar mandi. Tak ada. Ia pun urung mencari Rion. Sudahlah. Besok pagi saja. Neyza hendak keluar dari kamar itu ketika Rion masuk ke dalam dan mereka berhadapan.
Rion: "Lho, Ney. Cari aku?"
Neyza dengan cepat memeluk Rion. Mata Rion membesar. Perlahan ia menutup pintu dengan hati-hati. Ada apa ini? Rion 'menjawab' pelukan Neyza. "Kamu ada masalah?" Neyza masih memeluknya. "Ada," jawabnya. Rion mencoba mendorong pelan Neyza agar ia bisa berbicara dengannya. "Ada apa?" tanyanya lembut.
Neyza: "Aku mau minta maaf."
Rion: "Maaf buat apa?"
Neyza: "Harusnya.. "
Rion masih menunggu.
Neyza: "Harusnya aku gak menunggu selama ini buat nunjukin perhatian aku sama kamu."
Rion: "Kapan kamu gak perhatian?"
Neyza: "Dari awal. Dari aku tahu kamu nikah sama Hani dan tiba-tiba hubungi aku di Bali."
Rion: "Kamu cemburu?"
Neyza: "Aku marah karena aku gak berusaha ungkapin suka aku ke kamu terlebih dahulu. Aku tersiksa."
Rion: "Kamu suka aku?"
Neyza: "Aku ke Bali karena aku pingin lupain kamu."
Rion: "Ooo gitu."
Neyza: "Waktu tahu kalo aku mau dijodohin Mama waktu itu mungkin keputusan yang benar buat jauhin kamu dari pikiran aku. Dan tiba-tiba suami aku itu kamu. Sifat cemburu dan manjaku mendadak lebih jelas dari sebelumnya."
Rion membelai rambut Neyza. "Aku ngerti, kok. Dan itu lucu." Neyza melihat Rion. "Aku merasa bersalah karena sampai saat ini aku gak punya perhatian lebih untuk kamu. Dan aku sedikit tersiksa karena itu. Maafin aku, Rion."
Rion memeluk Neyza lebih erat. "Gak ada alasan suami gak maafin istrinya. Itu jahat. Aku gak anggap itu sebuah kesalahannya. Kamu cuma butuh waktu."
Neyza menatap Rion. "Dan aku pingin waktu lebih itu sekarang."
Rion menatap lekat mata Neyza. Nampaknya malam ini jadi malam penuh kebahagiaan untuk Neyza dan Rion.
__ADS_1
(bersambung)