
"Aku jagain kamu tidur di sini. Bukan tidur sama kamu ya, Rion." sambung Neyza agar tidak terjadi salah paham.
Rion: "Lu makanya kalo bikin kalimat dipikir dulu."
Neyza: "Tadi ada suster ke sini gak? Katanya obatnya diganti."
Rion menggeleng. Bili dan Weni hanya terkekeh melihat percakapan Rion dan Neyza. Mereka lalu segera berpamitan pulang.
Bili memacu sepeda motornya ke kontrakan Rion dan Neyza. Ia diminta tolong Rion untuk mengurus petugas keamanan yang akan segera datang. Juga dia petak sawah yang sepertinya memang akan dibeli Rion untuk urusan yang sangat mendesak. Bili bertemu dengan dua orang Rion yang ditunjuk langsung untuk menjadi petugas keamanan. Tak berlangsung lama, pemilik Rumah-rumah kontrakan itu datang. Menemui Bili yang memang sudah memiliki janji saat berada di rumah sakit tadi.
Bili: "Pak Bas." Yang dipanggil tersenyum.
Pak Basuki: "Bili, gimana Rion?"
Bili: "Sehat, pak. Sudah makin baik. Dua atau tiga hari lagi kemungkinan bisa pulang. Doanya. Oh ya, ini dua orang yang akan menjaga Rumah-rumah kontrakan."
Pak Bas menyalami kedua orang tersebut.
Pak Bas: "Sebelumnya terima kasih untuk Rion dan Bili. Memang urgensi keamanan sangat diperlukan apalagi kejadian rumah Neyza itu. Saya jadi khawatir. Sebelumnya memang saya sudah kepikiran mau nambah satpam. Tapi karena cuan nya juga belum bisa menutupi kebutuhan lainnya, jadi masih pending dulu."
Bili: "Gpp, pak. Toh ini juga buat kepentingan bersama. Selama baik bisa berjalan. Oiya, gimana nanti dengan tetangga?"
Pak Bas: "Urusan itu bisa dikondisikan. Dan bapak bapaknya ini gak mungkin hanya berdiri disini kan?"
Bili: "Kalo perlu kami buatkan pos jaga, kami siap buatkan, pak."
Pak Bas: "Kalo tidak keberatan, bisa memakai tanah sebelah sini. Dindingnya merapat ke rumah Rion."
Bili: "Siap, pak. Segera hari ini ada yang datang untuk membangun posnya. Untuk sementara biar mereka menempati depan rumah Rion dulu."
Pak Bas mengangguk. "Untuk informasi sawah ini, sejam lagi orangnya datang kemari. Mungkin Bili bisa menemui."
Bili: "Iya, pak. Saya yang ketemu nanti. Terima kasih." Pak Bas pun kembali pulang. Sedangkan Bili menunggu pemilik sawah.
Dua jam berlalu. Bunyi telepon Rion membuatnya terbangun. "Bre. Gimana?", Rion mendengarkan dengan seksama. Neyza sedang tidur di kasur penunggu. "Yaudah. Beli aja semua. Ngerti beres aja gue mah." Rion pun lalu menutup teleponnya.
Neyza: "Beli apa? Butuh apa kamu?"
Rion segera menutup telepon. Ia sadar bahwa Neyza bisa saja tahu rencananya.
__ADS_1
Rion: "Gue pingin kamu, nek. Badan pegel-pegel semua." ia pun meregangkan badannya agar tidak ketahuan Neyza.
Neyza: "Macem-macem aja kamu ini."
Dua hari kemudian. Rion sudah dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang. Neyza dan Bili sudah merapikan barang bawaan. Neyza kembali dari ruang kasir rumah sakit untuk membayar semuanya. Neyza sudah berada di kamar Rion. Mereka hendak pulang.
Neyza: "Yuk. Uda beres semua."
Rion: "Eh tunggu. Lu bayar semua? Habis berapa?"
Neyza: "Cerewet kamu. Ayo pulang."
Rion: "Eh, tunggu lagi. Susternya gak dikasih apa gitu?"
Neyza: "Hih, udah aku kasih ya, Rion. Gak usah protes. Ayo taksinya nunggu di bawah."
Rion membuat mimik aneh tanda kekesalannya pada Neyza. Mereka pun segera menaiki taksi yang dipesan Neyza dan pulang ke kontrakan.
Rion, Neyza dan Bili sudah tiba di dekat rumah kontrakan. Mereka berjalan melewati dua orang petugas keamanan. Sadar bahwa anak bosnya yang datang, mereka segera berdiri untuk memberikan hormat. Rion yang berjalan di belakang Neyza membuat isyarat untuk tidak membungkuk atau membuat salam kepadanya. Mereka segera masuk ke rumah Rion.
Neyza: "Itu tadi. Satpam sini? Baru?"
Rion: "Iya. Kemarin Pak Bas telepon. Karena ada insiden rumah lu kemalingan, jadinya dia siapin satpam dua."
Rion: "Bu Dewi cerita ke Pak Bas. Kapan hari juga ada orang pakai baju safari hitam yang celinguk di depan rumah lu. Masa iya malingnya orang kaya?"
Neyza mengangkat bahunya.
"Bang, uda sembuh?" suara Manji terdengar seketika. Ia tahu rumah Rion terbuka dan sengaja melihat ke dalam. Manji senang karena Rion sudah kembali pulang. Rion menyuruh Manji masuk dan memeluk anak kecil itu. Neyza dan Bili tersenyum.
Manji: "Martabaknya uda aku habisin waktu itu, bang."
Rion: "Nha gitu. Dihabisin. Jangan ada sisa."
Manji: "Tapi habis itu Manji nangis, bang. Denger kabar Abang masuk rumah sakit. Itu waktu Manji mau tidur."
Rion: "Kok tahu Abang masuk rumah sakit?"
Manji: "Ibu yang tahu. Pas Abang kari kejar maling. Ibu minta tolong satpam bank yang di depan sono. Dikasih tahu kalo itu Abang tinggal di sini. Mau jengukin tapi gak tahu rumah sakitnya."
__ADS_1
Rion: "Abang tuh gpp, Ji. Cuma satu ini aja yang khawatir banget." sambil melirik Neyza.
Neyza: "Untung dibawa ke rumah sakit, Ji. Bahaya kalo gak. Bisa lumpuh gak bisa jalan."
Manji: "Ha? Gak bisa jalan? Dipukul maling, kak?"
Neyza: "Nggak. Kak Neyza yang pukul." Neyza mengangkat tangannya ke arah Rion. Rion pun secepat kilat melindungi kepalanya.
Bili: "Ya, masalah rumah tangga lagi ini. Berabe kan guenya jadi obat nyamuk."
Rion: "Uda sini Manji mau makan apa? Abang traktir."
Manji duduk bersama Rion untuk melihat menu yang ada di ponsel Manji. Sedangkan Neyza beranjak untuk melihat rumahnya.
Rumahnya tertata rapi. Dirapikan oleh asisten rumah tangganya. Catnya pun berganti lebih cerah untuk meninggalkan kesan sempit. Gagang pintunya juga rapi. Neyza masih berpikir. Kenapa mereka bisa menembus rumah ini? Sedangkan ada pagar di depan yang tidak semua orang bisa masuk karena terkunci. "Dasar orang jahat."
Ia masih melihat barang-barang yang ada di rumah. Betul kata asistennya. Semua list yang diberikan lengkap. Tak ada satupun barang yang hilang. Aneh. Incarannya bukan barang. Tapi ini sebuah gertakan dari rival Papanya.
Neyza kembali ke rumah Rion. Ia memastikan Rion dengan sisa obat yang dibawa dari rumah sakit tadi.
Neyza: "Jangan lupa minum obatnya. Bili, bisa nemenin Rion dua tiga hari? Sampai obatnya habis. Dia kalo gak diingetin kemana-mana alasannya. Katering kamu masih, kan?"
Rion: "Lu mau kemana emang? Biasanya juga lu yang ingetin gue. Kenapa Bili? Bili gak cantik."
Neyza: "Oh, ya emang aku cantik. Makasih."
Rion: "Maksud gue, Bili bukan suster."
Neyza: "Aku juga bukan suster, ya?"
Bili: "Udah udah. Gue siap jadi suster dia. Entar gue pinjem daster Emak gue. Eh, Neyza emang gak pulang di sebelah?"
Neyza: "Gak. Di rumah sodara dulu sementara. Ada perlu. Pulang dulu, ya. Dahh, Manji." Manji pun membalas Neyza. Rion hanya diam melihat Neyza pergi.
Kriiing. Kriiing.
Rion mengangkat teleponnya. Ia hanya menjawab dengan bergumam. "Kamu kenapa? Aku ke sana."
Bili: "Siapa, bre?"
__ADS_1
Rion: "Hani. Gue cabut dulu, ya."
Bili hanya bertanya-tanya apa yang terjadi antara Rion dan Hani.