
Rion tersenyum pada Hani yang
menyapanya. Ada kehangatan dari pasangan berbahagia ini. Kulit Hani memang
lebih banyak kusam. Suaranya sudah mulai sedikit berubah. Senyumnya pun tak
seperti Hani yang ia kenal dulu. Belasan tahun di penjara membuatnya banyak
berubah.
Mereka segera pergi ke rumah Heri.
Rumah besar hasil jerih payahnya. Hani tersanjung dengan kerja keras Heri. Ia tak
mengira Heri sudah mulai mapan secara finansial dan kemandirian sebagai pria
dewasa. Hani nampak belum terbiasa dengan rumah mewah itu. Berada di ruangan
sempit menjadikannya seperti orang udik. Berada di penjara membuatnya ingin
memulihkan banyak waktu bagi dirinya. Hutang besar terhadap Lalita dan Heri
menjadi sebuah tujuan besar untuknya.
Heri mempersilahkan Hani dan yang
lainnya. Empat cangkir teh apel hanget siap untuk dinikmati bersama kue lemon
kesukaan Hani. Heri menunjukkan sebuah pintu yang tertutup. Itu adalah sebuah
ruang perpustakaan. Ia tahu bahwa dirinya dan Hani adalah penggila buku. Sehingga
rumah ini sengaja disiapkan untuk sebuah temat khusus untuk ratusan buku yang
ia beli.
“Kamu sudah sukses ya, Her,” kata
Hani. Heri hanya tersenyum. Heri menampik bila standar sukses tak dapat
digambarkan dengan kekayaan apa pun yang ia raih saat ini. “Kesuksesanku ada
saat aku bisa mengalahkan diriku sendiri jauh sebelum aku mendapatkan semua
ini, Kak. Saat aku sedih dan putus asa, aku hampir tidak tahu kemana arah
tujuanku. Namun, Tuhan memang penuh keajaiban. Aku bisa mengalahkan rasa takutku
untuk menghadapi semua ini. Dan kalo bukan karena Lalita, aku sampai sekarang
jadi orang yang gak punya motivasi. Dan satu lagi, dua orang hebat di depanku
ini seperti malaikat yang bener-bener ada di dunia. Mereka gak bakal dipisahin
dari kehidupanku. Sampai kapan pun aku gak bisa balas apa-apa. Tapi aku berharap
aku bisa jadi apa yang mereka butuhkan,” Heri berkata sampai matanya
berkaca-kaca.
Hani mengusap air matanya. “Lalita
gimana? Apa dia tahu kalo sebenarnya aku dan tito di penjara?” Neyza cepat-cepat
memberikan senyumannya kepada Hani. Ia tahu bahwa ia dan Rion berusaha
semaksimal mungkin untuk membesarkan Lalita sebagai pribadi yang luas hati. Neyza
meminta maaf secara pribadi bila banyak kekurangan selama membesarkan Lalita. Namun
__ADS_1
Hani berulang kali mengucapkan permohonan maafnya karena Neyza dan Rion sudah
mendapatkan banyak kerepotan karena Lalita.
Hani mengungkapkan
kekhawatirannya bahwa ia takut Lalita tahu tentang masa lalunya dan
membencinya. Rion lalu mencoba menenangkan Hani. Ia yakin bila Lalita tahu
tentang hal besar ini, ia mampu berpikiran lebih bijaksana.
Neyza dan Rion pulang. Mereka sudah
melakukan sebuah perjanjian bahwa Hani akan siap bertemu Lalita selama seminggu
ke depan. Neyza diam saja sepanjang perjalanan pulang. Rion mampu menangkap apa
yangs edang dipikirkan istrinya itu. Ia tak mampu menahan rasa khawatir Neyza
terhadap Lalita. Anak perempuan Hani itu adalah sejarah penting dalam
perjalanan hidupnya. Lalita adalah sebuah kelas kehidupannya yang pertama sebelum
Rui. Ia dan Neyza tak pernah membandingkan Lalita dan Rui. Mereka diperlakukan
sama oleh keduanya. Walau kadang ada waktu getir ketika Lalita beranjak dewasa,
ia bertanya karena bosa Hani tak kunjung menemuinya.
“Apa Mama Hani betul-betul
belajar di luar negeri?” begitu suatu hari membuat Neyza tak mempu menelan air
ludahnya sendiri. Ia pun bingung bagaimana memberikan jawaban yang lugas dan
logis kepada Lalita. Masa kritis Lalita memang penuh dengan kejutan saat
mereka? Bagaimana ia bisa berada bersama Neyza padahal ia punya orang tua
kandung? Neyza bahkan sempat menangis. Hampir tak mampu ia bertahan karena
merasa kasihan terhadap Lalita. Rion menyadari bahwa ini adalah jalan yang
mereka ambil. Dan tantangan itu pasti ada. Neyza kembali bangkit untuk melindungi
Lalita. Sumbangsih Neyza tak sedikit. Ia memenuhi ruang hati dan pikiran Lalita
bahwa Hani dan tito adalah orang-orang yang penuh dengan kasih sayang dan juga
tak sabar ingin bertemu dengan Lalita. Sugesti baik itu lah yang perlahan
membuat Lalita enggan untuk bertanya keberadaan Hani dan tito lagi.
Semua memang tak mudah. Pada akhirnya,
Neyza harus berbesar hati membiarkan Lalita kembali kepada Hani dan tito apa
pun kondisinya. Neyza dan Rion telah sampai di rumah. Lalita baru saja pulang
dari kampus. Anak perempuan yang beranjak dewasa itu tumbuh menjadi gadis yang
cantik dan pintar. Ia penuh dengan prestasi dan kejutan. Neyza tak menampik
akan ada waktu untuknya menerima sebuah kisah nyata mengenai kedua orang
tuanya.
“Hai, Ma!” kata Rui mencium kedua
__ADS_1
tangan orang tuanya itu. Lalita baru saja mengambil air minum di ruang makan. Mereka
duduk sebentar di ruang tengah sambil berbincang-bincang. Rui bercerita betapa
susahnya beradaptasi dengan kampus baru. Maklum, ia adalah mahasiswa baru. Lalita
berusaha membantu kebingungan adiknya itu. Menenangkan gadis remaja memang tak
mudah. Rui bahkan berkali-kali bercerita
tentang seniornya yang sering bertanya perihal alMamaternya dulu. Lalita menggodanya
mungkin ia adalah orang yang ia sukai.
Lalita sekarang menjalani pendidikan
kuliahnya di salah satu universitas tinggi ternama, ia mengambil jurusan hukum
dan berniat menjadi seorang pengacara. Sedangkan Rui bersekolah di sekolah yang
berbeda dengan mengambil jurusan kedokteran. Ia sudah mengincar profesi itu
ketika ia baru masuk ke sekolah menengah atas. Ia pun ingin mengambil spesialisasi
tentang penyakit dalam setelahnya.
Pembicaraan itu menjadi waktu
yang sangat berharga untuk keempat anggota keluarga ini. Rui meminta ijin untuk
ke kamarnya. Sebuah tugas besar menantinya. Lalita menikmati satu gelas jus
buah naga yang baru saja diletakkan oleh seorang asisten rumah tangga.
“Ta, Mama punya berita bagus,” kata Neyza. Tangannya menggenggam. Ia
tengah mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sebuah kejutan besar untuk Lalita.
“Minggu depan Mama Hani pulang,” Lalita tersedak. Senyum mengembang dari
bibirnya. “Serius, Ma?” ia menaruh gelas dan segera berlari ke pelukan Neyza.
Neyza dengan cepat memeluk Lalita.
Menahan sebuah air mata yang entah apa ia akan menjabarkannya. Bahagia atau kah
kesedihan? Rion mengelus pundak Neyza. Lalita bercerita betapa senangnya kabar
ini sampai ke telinganya. Ia lalu bertanya kepada Neyza hal apa saja yang perlu
ia ketahui tentang Hani. Apa saja makanan kesukaan Hani sehingga ia akan
membawanya saat bertemu dengan Hani? Neyza tertawa. Ia tak menyangka Lalita
sangat tertarik untuk bertemu dengan ibunya. Belasan tahun membesarkannya untuk
sebuah hasil. Menyayangi Hani kembali. Mengawali peran mereka sebagai ibu dan
anak yang sebenarnya.
Ah, Ta. Mama gak suka moment
kayak gini. Kamu bakal pergi dari rumah ini dan Mama gak suka mengenang Ta
suatu saat nanti. Tapi, semoga Ta dan Mama Hani bisa bekerja sama dengan baik
seperti Ta dan Mama selama ini.
Batin Neyza seperti ingin
__ADS_1
menangis kencang.
(bersambung)