Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 49 Cerita Malam


__ADS_3

"Apa aku pelarian kamu dari Hani?"


Rion menutup matanya. Neyza melirik Rion. "Ih, diajak ngomong malah tidur," Neyza menggoyangkan badan Rion. Suaminya itu hanya tersenyum. Mencoba membuat malam itu menjadi sebuah penasaran yang besar untuk Neyza.


Rion: "Lu pingin tahu aja apa pingin tahu banget?"


Neyza: "Jawab!" Neyza kembali merebahkan diri di sebelah Rion.


Rion menghela napas yang panjang.


Rion: "Lu pingin jawaban jujur dari gue, kan?"


Neyza: "Emang boleh ya manusia bohong? Bukannya dosa?"


Rion: "Waktu gue santer banget usilin lu, sebenarnya gue mulai perhatian. Sedikit-sedikit mikirin lu."


Neyza: "Suka kok usil."


Rion: "Lu nggemesin, sih."


Neyza: "Ah, gak percaya."


Rion: "Lu pingin belah dada gue dulu baru percaya?" Rion hendak membuka bajunya. Neyza menahan tangannya untuk melanjutkannya.


Neyza: "Jangan alihin topik pembicaraan, ya?"


Rion: "Lu bisa tanya sama Bili. Malah dia yang skak gue kalo gue seneng sama lu. Dia do'ain malah kita jadian."


Neyza diam saja. Tak ada yang harus ia komentari.


Rion: "Gue coba merenung dalam-dalam. Gue tanya-tanya sama diri gue. Waktu awal kita kenalan gue sempat tembak Hani dan dia nolak gue. Kalo ku masih inget kita ketemu di restoran Jepang. Lu juga makan sama Tito."


Neyza: "Aku juga ditembak sama Tito."


Rion terkejut. "Ha? Serius? Waaa... bisa double date ya kalo kita jadian."


Neyza: "Aku gak suka sama Tito."


Rion: "Senengnya sama gue?"


Neyza melempar bantal guling ke badan Rion. Neyza kembali menyiapkan posisinya untuk sebuah pengakuan. Rion juga mulai dengan wajah yang serius.


Rion: "Lu gak tanya kenapa gue nikah sama Hani?"


Neyza: "Heem."


Rion: "Suatu hari, dia hubungi gue buat ketemuan. Wajahnya murung. Aktingnya jago, deh. Gue yang awalnya biasa aja sampek kasian."


Neyza: "Kamu masih suka kan sama Hani."


Rion: "Laki-laki itu kalo patah hati lebih mudah move on daripada ciwik-ciwik. Gampang baper. Dikit-dikit sedih, dikit-dikit nangis. Ada hujan, nangis, denger lagu sedih, nangis. Ah apalah."


Neyza: "Enak aja. Gak ada, ah."

__ADS_1


Rion: "Jujur hayooo."


Neyza: "Lanjut, ah. Kebanyakan iklan, kamu."


Rion: "Oke oke. Ini gue serius banget. Hani cerita kalo orang tua dia minta dia cepat nikah. Kalo gak ada calon, orang tuanya yang jodohin. Dia ngaku kalo dia aja calon. Cuma, dia gak yakin kalo orang yang dia suka itu gak mau sama dia."


Neyza: "Oo, calonnya itu belum jadi pacarnya."


Rion mengangguk.


Rion: "Gue bilang kalo dia ngobrol aja dulu sama cowok yang dia suka. Dia ngangguk aja. Opsi keduanya, kalo si cowok yang dia suka gak mau sama dia. Gue yang nikah sama dia."


Neyza: "Terus kamu mau?"


Rion: "Lu pingin tahu?"


Neyza: "Pembaca juga penasaran."


Rion: "Gue saat itu kayak ke santet jawab iya iya aja. Etapi, gue yakini dia kalo cowok yang dia suka pasti balas hati dia. Berapa hari gitu dia telepon kalo cowok itu suka sama dia."


Neyza: "Dia gak bohong, sih."


Rion: "Kok jadi belain dia?"


Neyza: "Taktik dia smooth banget. Kamunya aja ngarep banget."


Rion: "Ya kan gue bilang kalo gue move on tapi gak sepenuhnya. Benih-benih cinta itu masih ada walau sedikit."


Neyza: "Halah gombal."


Neyza: "Gombaaaal. Cepet lanjutin ceritanya."


Rion: "Gue ke rumahnya, dia minta ditemenin. Takut salah ngomong. Eh, ternyata ngenalin gue yang jadi calonnya dia."


Neyza: "Kamu bisa nolak, kan?"


Rion: "Posisiku susah. Dipikir orang tuanya kan gue yang memang sengaja datang buat ngelamar dia. Kalo gue tolak kira-kira harga diri gue dan keluarga gue gimana gitu."


Neyza: "Tapi seneng, kan?"


Rion: "Kalo tahu gue dikibulin ya mana mau, sayangku."


Neyza: "Jujur. Seneng apa gak?"


Rion: "Gue gak bisa bohong. Hati gue saat itu berbunga-bunga. Tapi gak sebahagia pernikahan gue yang kedua kemarin."


Neyza menutup mata Rion.


Rion: "Eeh, udah main fisik."


Neyza: "Hih, gombal mulu."


Rion: "Dan waktu malam pertama. Gue gak nyentuh dia. Gue capek dan ngantuk banget. Gue tidur sampai siang. Gak ada orang di rumah. Persis kayak rumah lu kemarin. Mbak-mbak asisten gak ada. Cuma berdua aja sama istri gue. Tapi pagi itu yang ada gue mendadak jadi duda."

__ADS_1


Neyza terdiam. Mencoba menyelami cerita Rion. Ia bingung akan berkomentar seperti apa.


Rion: "Lu masih dengerin gue, kan?"


Neyza: "Heem."


Rion: "Akhirnya gue lapor polisi. Seluruh tim pengacara udah gue kumpulin."


Neyza: "Akhirnya?"


Rion: "Berhari-hari. Waktu itu ditelpon suruh ke rumah Bokapnya. Gue lihat ada peti mati. Katanya itu Hani. Hidup gue kayak dijatuhin dari atas langit sampai ke pusat bumi. Udah gada nyawa di raga gue. Semua kelam saat itu. Sebegitu perihnya hati gue tahu kalo Hani meninggal."


Neyza: "Kasihan."


Rion: "Makanya sekarang lu mesti sayang-sayang gue. Karena nasib gue ancur banget saat itu."


Neyza: "Idih."


Rion: "Berbulan-bulan lamanya gue nyembuhin diri gue sendiri. Gak nafsu makan. Gak pingin kerja. Bawaannya sedih mulu. Lihat kamar nangis, lihat foto Hani nangis. Lihat undangan nikahan gue bawaan baper mulu."


Neyza: "Bucin emang kamu, ya?"


Rion: "Apalagi sama lu, Ney."


Neyza tak berekspresi. Rion dengan tenang menceritakan semua kejadian itu. Terbuka dan jujur kepada Neyza, istrinya.


Rion: "Pas setahun sejak kejadian itu. Gue berusaha bangkit. Gue, Bokap, Nyokap, Bili. Keluarga gue semua support gue tiada tara. Tinggal lu doang yang gak ada."


Neyza: "Halah."


Rion: "Gue sempat kepikiran. Saat itu jauh sebelum Hani ajakin gue nikah. Gue memang pingin kenal lebih jauh sama lu. Tapi kesempatan itu keburu dipake Hani untuk ambil lebih jauh kekayaan Bokap gue."


Neyza: "Dia ambil semua?"


Rion: "Yang ada di ruang kerja aja. Emas batangan. Beberapa dokumen asli aset keluarga dia jual. Ah, mulus deh kejahatan dia. Dan gue bersyukur. Gue belum punya keturunan sama dia. Bisa ada pertanggungjawaban nanti. Ribet malah."


Neyza: "Anak kecil itu? Yang di hotel?"


Rion: "Sebelum nikah sama gue kan dia udah hamil muda sama Tito. Mereka cinta sejati. Makanya pede aja rencanain anak duluan sebelum nikah."


Neyza: "Tito. Gak nyangka banget. Kaget waktu tahu kalo itu dia."


Rion: "Lu inget-inget. Manusia itu jangan cuma dilihat luarnya doang. Mau perempuan mau laki-laki. Berdoa biar dijauhin sama takdir yang buruk. Biar gak sepet hidup lu."


Neyza: "Kayak gini aja udah kayak motivator."


Rion: "Gue jujur. Dan ketika tahu Hani kayak gitu. Hilang udah di hati gue rasa yang dulu gue rasain sama dia. Gak ada lagi tempat di hati gue. Dan akhirnya gue yakin akan satu hal."


Neyza: "Apaan?"


Rion: "Saat gue mau maju untuk deketin lu. Gue yakin lu orang baik. Hanya Tuhan kasih gue belajar sama Hani dulu baru deh hadiahnya sama lu."


Wajah Neyza memerah.

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2