Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
115 Kamu kenapa?


__ADS_3

"Kok selamat datang?" Rui tertawa karena ulah Maliq. "Kan harusnya Kakak yang dikasih acara selamanya datang, ya?" Maliq hanya tersenyum. Ia mengatakan bahwa dengan kepindagannya ini, ia semakin bisa berkontribusi dengan Manji dan dirinya. Ia tak menampik bahwa ia merasa nyaman dengan Manji, Rui dan bebeberapa rekan Dokter di rumah sakit ini. Maka ia memutuskan untuk segera bekerja dengan Rui dan Manji.


Rui tersenyum. Bibirnya mengembang dengan bahagia. Ada teman yang membersamainya. Maliq bertemu dengan Manji sebelum ke ruangan Rui. Hari ini ia mulai bekerja dan Maliq segera memutuskan untuk makan siang bersama Manji dan Rui. Rui hanya terkejut dengan semangat Maliq.


Dua bulan lagi, Lalita segera menikah dengan Dikta, saudara Maliq. Rui dan Maliq turut membantu pelakukan persiapan pernikahan Lalita dan Dikta. Neyza yang semula ingin membantu, terpaksa harus memendam keinginannya itu karena larangan dari Rion. Batasan kegiatan yang dilakukan Neyza semata-mata untuk memulihkan kesehatannya. Akhirnya, Rui dan Maliq membantu untuk menggantikan Neyza.


Rui bersama Maliq kini pergi ke sebuah toko kue untuk memesan kue tart pengantin. Mereka masuk dan segera duduk bersama karyawan yang membantu mereka dalam memilih keperluan mereka. Rui mengatakan bahwa Lalita sangat menyukai warna peach dan biru. Namun karena tema pernikahan ini berwarna putih, maka ia memilih kue tart bertingkat empat kue yang bernuanasa putih.


Rui melihat beberapa gambar contoh yang diperlihatkan kepadanya. Rupanya ia sangat tertarik dengan sebuah hiasan anggun dan cantik. Ia lalu memutuskan untuk memilih sebuah gambar yang ia sukai.


Mereka keluar dari toko kue tersebut dan segera melihat persiapan dekorasi di kantor sebuah vendor pernikahan. Mereka telah sampai di depan kantor tersebut, namun Rui nampak diam. Maliq lalu melihatnya dengan keadaan sedikit aneh. "Rui. Kenapa?" Ia lalu mengecek kelopak mata serta tangan Rui. Rui nampak sedikit lemas walau ia bisa sedikit berbicara. Maliq dengan sigap mengambil alat pengukur tekanan darah. Benar saja. Tekanan darah Rui sedikit turun. "Kamu belum sarapan tadi pagi?" Rui menggeleng. Maliq lalu melanjutkan mobilnya ke sebuah restoran. Maliq sedikit memaksa Rui untuk segera makan dan memberikannya stocking kompresi di kaki Rui.

__ADS_1


Mereka segera pulang ke rumah Neyza dan membiarkan Rui beristirahat. Neyza menemani Rui di kamar, sedangkan Rion berada di ruang tamu bersama Maliq. "Terima kasih, Maliq," kata Rion. Maliq mengangguk. "Rui akrab dengan kamu beberapa akhir ini," Maliq mengangguk. Tak mungkin ia berkata tidak. Meraka memang dekat sebatas teman. Maliq lalu pamit untuk segera pulang.


Dua hari kemudian. Maliq ke ruangan Rui untuk memastikan ia sudah pulih dari sakitnya. Rui tak ada di ruangannya. Maliq meninggalkan sebuah buku diatas mejanya. Ia lalu hendak pergi ke ruangnnya. Saat membuka pintu dengan terburu bersamaa dengan Rui yang hendak masuk ke dalam. Mereka bertabrakan hingga hampir terjatuh.


Rui dan Maliq sama-sama terkejut. Maliq meminta maaf kepada Rui yang sedikit tergesa-gesa. Rui tersenyum. "Cari aku?" kata Rui. Maliq mengangguk. Ia sedikit khawatir karena dua hari ini ia tidak bertemu Rui. Makan siang bersama Manji pun juga Rui tak ikut bergabung bersama mereka. Manji juga baru tahu dari Maliq bahwa Rui sedang sakit.


"Ooh, Pantes. Tadi pagi aku dikirimi katering makanan sehat. Aku pikir dari Mama. Tumben banget pake nasi merah. Gak tahunya dari Dokter Manji," Rui tertawa. Maliq hanya memandang dengan wajah gemas. "Kamu, nih. Ada-ada aja kalo masalah kesehatan. Ngerawat orang tapi gak bisa atur badan sendiri," ujar Maliq kesal. Ia lalu meninggalkan Rui yang terheran dengan tingkah laku Maliq.


Maliq berjalan ke ruangnnya dalam keadaan kesal. Ia hampir membanting pintu ruangan. "Kenapa Dokter Manji, sih?" Ia berbicara dengan nada sangat kesal. "Eh, tunggu. Masa aku cemburu? Waduh!" Ia segera mengucak kepalanya. Membuat dirinya kembali normal karena ia hampir kehilangan akal sehatnya. Kini ia menyibukkan diri sendiri dan mempersiapkan diri untuk jadwal praktek selanjutnya.


Bilang gak bilang gak.

__ADS_1


Manji lalu mengangkat tangannya di depan wajah Rui dengan tegas. "Udah stop. Aku gak mau dengar cerita Dokter Manji lagi. Aku cuma pingin tahu kamu baik-baik aja," Rui terkejut lalu diam. "Ha? Maksudnya?" Maliq lalu menarik lengan Rui untuk masuk ke dalam mobilnya. Maliq membuka pintu, mempersilahkan Rui duduk dan menutup pintunya. Ia lalu menyuruh Rui pulang terlebih dahulu dengan tatapan tajam. Rui mau tak mau menyalakan mobil dan segera pergi.


Dalam perjalanan, Rui terheran-heran dengan sikap Maliq yang makin lama makin aneh terhadapnya. Sinar lampu jarak jauh mobil di belakang Rui menyadarkan lamunannya saat lampu hijau sudah menyala. Ia lalu melajukan mobilnya. Ia melihat ke arah spion tengah. Ia hampir terkejut karena mobil Maliq tepat berada di belakangnya. Ia kini menggelengkan kepalanya. Dan akhirnya terus melakukan mobil sampai di depan rumahnya. Sampai di depan rumahnya, mobil Maliq melaju untuk menjauh dari rumah Rui.


Dasar aneh!


Rui masuk ke kamar dan segera mandi. Ia lalu kembali ke tempat tidur untuk beristirahat. Mencoba menutup mata agar cepat terlelap. Namun bayangan Maliq tiba- tiba menerkamnya. "Ah!" ia terkejut bukan main. Ia mengucak matanya berkali-kali bahwa Maliq adalah bayangan yang ia gambarkan sendiri. Rui menarik napas dalam-dalam. Mencoba menenangkan diri dari kejadian yang baru saja terjadi. Semoga esok hari adalah sebuah hari baru yang tidak terjadi hal yang seperti tadi.


Dua bulan kemudian. Semua orang tengah bersibuk mempersiapkan pernikahan Lalita. Pagi hari itu mereka tengah bersiap-siap dengan pakaian. Semua dekorasi dan semua pekerjaan vendor lainnya sudah dalam tahap siap. Lalita sangat cantik dengan gaun kebaya berwarna putih. Riasannya sangat natural namun membuatnya terlihat berbeda. Rumah Heri kini di penuhi bunga-bunga. Rui, Neyza dan Rion sudah datang dan menunggu di ruang keluarga.


Para tamu mulai berdatangan. Duduk di tempat masing-masing. Regina, Ogi, Billi, Weni, bahkan Manji juga terlihat datang dengan pakaian khusus.

__ADS_1


Braaak.


(bersambung)


__ADS_2