
Neyza masuk ke ruang tamu. Seorang laki-laki yang hanya terlihat punggungnya membuat Neyza semakin penasaran. Ia lalu berjalan untuk menyapa tamu tersebut.
Neyza: "Lho, kamu?" Neyza terkejut melihat sosok laki-laki yang ada di depannya. "Iya. Masih ingat gak namaku?" tanyanya. Mata Neyza menatap langit-langit ruang tamu. Ia mencoba berpikir siapa nama pria ini. "Tukang ojek itu, kan?" candanya. "Hahaha. Masa nama Ogi aja lupa?" Neyza lalu mendekat dan duduk di seberang Ogi.
Neyza: "Sori sori. Kebanyakan teman. Lupa nama. Tapi kayaknya aku gak asing banget."
Ogi: "Kalo gitu kamu masih inget kita pernah satu tempat duduk waktu SD kelas 1 di Bandung."
Neyza berpikir. Lalu matanya terbelalak. "Iya, aku curiga mukamu gak asing. Ternyata teman sebangku."
Ogi: "Ya wajah kan gak banyak berubah, Neyza. Gimana kabarmu?"
Neyza: "Baik. Sekarang kuliah di mana?"
Ogi: "Udah gak kuliah. Tahun lalu baru wisuda di Singapura. Kantor Papa butuh orang untuk handle posisi baru."
Neyza: "Terus kamu yang sekarang isi?"
Ogi: "Oh, nggak. Perempuan yang isi."
Neyza: "Lho, bukan kamu?"
Ogi: "Kan yang melahirkan perempuan bukan laki-laki."
Neyza: "Kamu, ya. Dasar."
Ogi: "Becanda, Neyza. Iya aku yang isi."
Neyza dan Ogi nampak lama bercerita tentang masa kecil mereka saat di Bandung kala itu. Satu jam lamanya Ogi bertamu dan akhirnya ia akan beranjak untuk berpamitan. Neyza mengantarnya sampai ke depan rumah. "Neyza." Suara Tito tiga membuat Neyza terkejut. "Oh, Hai Tito. Tumben ke sini?" tanya Neyza. Tito melihat Ogi yang berjalan di samping Neyza. Tatapannya nampak tidak begitu menyukai Ogi. Ia hanya melirik nampung ia hanya fokus menatap Neyza dengan senyuman. Banyak cemburu terhadap Ogi karena Neyza tertawa saat berjalan ke depan tadi. Dan raut kebahagiaan Neyza nampak jelas. Ogi sepertinya bukan orang biasa. Ogi berpamitan. Ia pun menyapa Tito namun Tito hanya tersenyum simpul tanpa berkata sepatah kata pun. Ogi melaju mobil mewahnya keluar gerbang rumah Neyza. Tito dipersilahkan masuk ke ruang tamu oleh Neyza.
Tito: "Tadi itu?"
Neyza yang sepertinya sudah tahu Tito akan bertanya hal itu kepada Neyza menjawab singkat. "Ogi."
Neyza: "Ada perlu sama Mama?"
Tito: "Ah, gak. Cuma mampir. Mau ngobrol sama kamu."
Neyza: "Oh. Gimana?"
Tito: "Aku cemburu sama pria tadi."
__ADS_1
Neyza: "Ogi? Hahaha. Jangan terlalu dibawa perasaan, Tito."
Tito: "Maaf, Ney. Memang sampai sekarang aku masih punya perasaan sama kamu."
Neyza: "Sudah, Tito. Cemburu itu harfiah. Semua orang bisa cemburu. Tapi tolong juga jaga perasaan orang lain. Jangan sampai mereka tidak nyaman dengan sikap kamu."
Tito: "Maksudnya, Ney?"
Neyza: "Mata kamu bicara tadi. Aku lihat jelas."
Tito nampaknya ketahuan. Ia tak mampu menyembunyikan bagaimana dirinya tak mampu mengontrol emosinya. Cemburu membuatnya benar-benar buta. Ia yang tadinya bisa bersikap wajar tiba-tiba merasa tersaingi boleh kehadiran Ogi.
Tito: "Maaf, Ney. Aku yang salah."
Neyza: "Kita memang bukan pasangan. Tapi kita berteman. Cemburu memang tidak hanya dimiliki orang-orang yang menaruh perasaan spesial. Teman pun juga bisa cemburu. Ibu sama anak juga bisa."
Tito: "Gak, Ney. Tapi aku akui aku salah. Aku cemburu karena lihat kamu nampak senang berbicara dengan Ogi."
Neyza: "Kamu nuduh aku gak suka bicara sama kamu, To?".
Tito: " Ah, gak gitu juga. Cuma. Ada yang beda."
Neyza: "Hmm, kayaknya ini lagi bahas perasaanku, ya? Tapi aku lagi gak ada mood buat bicarain hal ini. Karena ini hal yang biasa aja buat aku. Tapi gak buat kami, betul?"
Neyza tertawa. "Yaudah. Biarin aja." seorang asisten rumah tangga masuk membawa secangkir minuman dan membisiki sesuatu pada Neyza. Neyza mengangguk dan tertawa.
Tito: "Kenapa?"
Neyza: "Mbak Bi, bilang Mama habis ini aja, ya?" ucap Neyza pada asisten rumah tangganya.
Tito: "Mau keluar?"
Neyza: "Mama mau meeting sama temannya. Aku disuruh ikut."
Tito: "Wah yaudah kalo gitu. Aku yang jadi ganggu ini."
Neyza: "Ya gak lah. Orang kamu tamu juga."
Tito: "Jangan. Tadi harusnya kasih tahu dulu kalo kau ke sini. Maaf, ya?"
Neyza tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Gpp. Santai aja." Tito berdiri untuk segera berpamitan dengan Neyza. Neyza mengantarnya keluar rumah dan Tito pulang dengan mobil sport-nya.
__ADS_1
Neyza menghela napasnya. Jujur di dalam hatinya ia memang tidak merasa nyaman dengan Tito. Walau ia sudah menolak dengan halus, Tito sepertinya tetap ingin berinteraksi lama untuk mengambil hati Neyza. Ia berharap Tito menemukan cinta sejatinya. Tapi ia berdoa semoga bukan dirinya.
Neyza ke kamarnya. Mama kemudian masuk ke kamarnya. "Jadi yang mana? Ogi atau Tito?" Mama tersenyum.
Neyza: "Bukan Tito pokoknya."
Mama: "Oh, jadi si Ogi itu."
Neyza: "Bukan itu juga. Bingung ah."
Mama: "Lho, ada satu orang lagi? Siapa? Kok belum cerita sama mama?"
Neyza: "Gak tahu juga nih. Kadang-kadang nyebelin. Tapi tiba-tiba ingat. Sekilas. Lupa. Eh ingat lagi."
Weni: "Namanya Rion, tante." Neyza terperanjat mendengar Weni menyebutkan nama Rion. "Apaan, sih?" Neyza lupa keberadaan Weni di sofa. Mama tertawa. "Siapa lagi itu, Rion?" Neyza menutup matanya.
Weni: "Tetangga Neyza di kontrakan, te. Usil banget sama Neyza. Tapi helpful. Baik."
Mama: "Mama lihat sama Ogi juga suka Senyum-senyum sendiri. Kamu sukanya sama sapa jadinya?"
Weni: "Bener, kan? Pas kapan itu juga Senyum-senyum sendiri. Jadi si Ogi ini?"
Neyza: "Hih," jawab Neyza singkat. "Ogi itu temenku sebangku waktu SD di Bandung. Terus kelas 2 pindah. Jadinya kita gak pernah komunikasi lagi. Dulu kita deket banget. Orangnya lucu. Makanannya selalu aku habisin. Dia hampir gak pernah makan makanan bawaannya. Dia beli di kantin. Aku makan bekal dia."
Mama tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Ney Ney. Kayaknya Mama ingat. Pantes aja Tante Dena suka cerita dulu anaknya pinter habisin bekal padahal di rumah susah makan. Ternyata kamu yang habisin."
Weni: "Udah, nih? Jadinya Rion atau Ogi, Ney?"
Neyza: "Tahu, ah. Gak dua-duanya." Neyza meninggalkan Mama dan Weni yang tertawa karena jawaban Neyza.
[Di rumah Rion]
Rion telah memberi tahu kedua orang tuanya bahwa ia berencana untuk melamar Hani. Ia menceritakan bagaimana Hani dan keluarganya. Nama keluarga Hani nampak tak asing oleh kedua orang tua Rion. Walau berbagai pendapat sedikit berat karena Rion masih belum lulus kuliah, namun alasan yang Rion berikan membuat mereka bisa menerima.
Rion: "Rion pingin mandiri. Menikah pun jadi penyemangat. Setelah ini, Rion janji untuk selesaiin gelar sarjana dan melamar kerjaan di kantor Papa."
Papa: "Ide kamu bagus. Masuk ke kantor Papa pun memang ada aturan dan kamu play the rules walau lampu hijau sangat mudah kamu dapatkan. Papa salut sama kamu. Tapi apa kamu yakin secepat ini untuk menikah? Kamu sudah yakin perempuan ini perempuan yang baik buat kamu dan keluarga?"
Rion: "Ya, Rion yakin. Rion jamin dia adalah perempuan yang baik."
Mama: "Mama tidak banyak berkomentar. Tapi Mama yakin Rion betul-betul penuh pertimbangan. Apalagi menyangkut masalah masa depan. Mama dukung ya, Nak."
__ADS_1
Rion tersenyum. Ia mendapatkan jalan luas dan panjang oleh kedua orang tuanya. Beberapa lama lagi ia akan memiliki Hani seutuhnya.
Namun mukanya menjadi murung ketika mengingat sahabatnya, Bili, tidak begitu suka dengan keputusannya menikahi Hani.