Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 91 Paruh waktu


__ADS_3

Pagi ini, Rion mengajak seluruh keluarganya untuk mengunjungi Regina yang sudah pulang dari rumah sakit. Sudah satu bulan ini ia melakukan recovery ditemani suaminya, Ogi. Ogi menyiapkan banyak makanan untuk dimakan bersama. Rencana sarapan pagi bersama memang sudah mereka rencanakan. Regina bahkan memaksa Neyza dan Rion untuk mengajak kedua anaknya untuk turut ikut bersama mereka. Dua asisten rumah tangga pun menemani Rui dan Lalita.


Setelah mereka menghabiskan sarapan mereka, Rui dan Lalita bermain bersama di taman belakang rumah Regina. Neyza nampak duduk bercakar dengan Regina. "Sekarang gimana?" Regina memegang perutnya. "Udah mulai terbiasa sama pemulihan aja gue, Ney. Do'ain, ya?" Neyza tersenyum. "Kata Dokter. Bener-bener bisa pemulihan itu bisa 5-6 bulan. Baru nanti cek lagi," Regina menjelaskan. Wajar saja Regina terlihat takut sejak awal mengingat penyakitnya itu. Ia takut masalah kesehatan reproduksinya itu menganggu dirinya untuk bisa berketurunan. Neyza sekali lagi menguatkan hatinya. Ia tak mau Regina selalu dalam kesedihan.


Rui berlari ke arah Neyza. Setelah melewati Regina yang berada di sebelah Neyza. Rui berdiri dan melihat Regina yang sedang memegang perutnya. Rui secara spontan memeluk perut Regina. "Mama, di dalam sini ada adeknya, ya?" kata Rui sangat penasaran. Regina hendak menjawab tidak. Namun Neyza segera menjawab pertanyaan Rui. "Iya, sayang. Kita doakan tante Regina biar cepat segera punya adek di dalam perut ya, Nak?"


Rui lalu berlari meninggalkan Nehza dan Regina yang tersenyum melihat ulah Rui tersebut.


...


...

__ADS_1


Bili tengah asyik menikmati secangkir kopi Americano yang masih panas. Ditambah dengan roti isian daging tuna kesukaannya, di sebuah cafe di pinggir Kota. Ia sedang asyik membuka majalah saat seseorang menyapanya. "Hei! Ngapain lu di sini?" Bili yang sedang mengunyah roti itu nampak sedikit tersedak karena Shena yang menyapanya. Ia cepat-cepat menghabiskan makanannya. "Lu, Shena. Ngagetin gue aja. Sama siapa, lu?" Shena dengan tenang duduk di sebelah Bili. Kesempatan langka yang menakjubkan. "Gue kan jomlo. Jadi gue kemana-mana udah sendiri aja," Bili tak mempedulikan jawaban Shena. Ia malah asyik mengunyah roti yang enak itu. "Lu kok gak lihat gue, sih? Nanya malah gak perhatian," Bili terkekeh. "Sori sori. Gue agak sedikit laper. Lha, emang lu udah bebas gitu? Si mantan tunangan lu gimana?" tanya Bili penasaran.


Senyum Shena sumringah. Saat ini ia tengah menikmati kebebasannya dengan penuh semangat. Ia bercerita pada Bili bahwa laki-laki itu sudah dipastikan masuk penjara selama beberapa tahun. Shena merasa bersyukur karena orang tua Dirga sangat mengerti tentang keadaan Shena. Selama ini Shena mengalami depresi dan tekanan karena Dirga. Mereka akhirnya memutuskan pertunangan. Kedua keluarga sangat ikhlas untuk tidak meneruskan hubungan antara Dirga dan Shena. Impas sudah dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini. "Gue bisa rasain lu sekarang lagi dalam masa jaya. Lu bakal banyak belajar dan merenung," ucap Bili menasihati. "Lu tahu gak apa lagi yang bikin gue bahagia?" Bili tak merespon. "Lu gak asik, ah. Gue kan main tebak-tebakan gak berhadiah, Bili," Bili meneguk kopi itu sedikit. "Buruan! Gue dengerin dari tadi," protes Bili. "Gue punya teman baru kayak Lu," Bili mengernyitkan alisnya. "Emang kita temenan?" Shena memasang muka marah. "Yah, lu kenapa, sih? Jangan jaga jarak dong sama gue. Gue butuh teman, lho. Lu udah bantuin gue. Kehidupan gue lebih tenang dan bahagia sekarang. Lu emangnya milih-milih teman, ya?" Shena bersedih. Raut wajahnya membuat Bili tak tega. Ia akhirnya tertawa karena berhasil berbuat jahil kepada Shena.


Mereka duduk dan berbincang bersama sejenak. Entah bagian mana di awalnya, tapi percakapan di cafe itu membuat mereka merasa semakin nyaman untuk menyambung tali pertemanan. Bili dan Shena menghabiskan waktu mereka saat hari sudah mulai siang. Bili menawarkan diri untuk mengantar Shena. Setelah membayar makanan itu mereka berdua berjalan menuju parkiran sambil berbicara. Melanjutkan kisah lucu Bili saat menolong Rion saat tinggal di rumah kontrakan.


"Kak Bili!" Bili menoleh.


Shena berdiri dan berhenti di samping sebuah gedung yang tak jauh dari cafe itu. Wajahnya muram. Ia tak tahu siapa sebenarnya Lisa itu. Yang ia tangkap dari pertemuan singkat tadi adalah rupanya Lisa sangat berharap banyak pada Bili. Lisa adalah kekasih Bili? Ah, ada yang retak di sudut hati Shena. Mengapa saat ia ingin berharap pada pria yang baik ada yang datang menghampirinya? Mata Shena berkaca-kaca.


Shen, lu kan udah besar. Laki-laki baik di luar sana banyak. Bili itu satu dari banyak orang baik. Ada yang lebih baik daripada dia.

__ADS_1


Shena lalu berjalan menjauhi Bili dan Lisa. Ia masuk ke sebuah toko bunga. Mungkin melihat bunga bisa menjadi penawar luka batin.


Bili terkejut dengan kedatangan Lisa yang tiba-tiba. "Kapan datang?" tanya Bili dengan tenang. Lisa menjawab bahwa ia baru saja datang dari Korea. Ia dalam perjalanan pulang ke rumah. Namun ingin membeli sandwich dan kopi untuk dibawa pulang dari cafe yang Bili datangi bersama Shena. Lisa nampak bahagia melihat Bili. Begitu pun Bili.


"Kamu naik apa? Taksi?" Lisa menggeleng. Saat ia menunggu makanannya yang akan segera ia bawa. "Dijemput kok sama supir," Bili mengangguk. Ada yang ditahan oleh Lisa. Tentang Shena. yang tak tahu siapa namanya. Perempuan yang tertawa lebar saat berjalan bersama Bili.


"Kak.Tadi itu pacar kamu?" Lisa membersnikan diri bertanya pada Bili. Laki-laki itu hanya tersenyum. "Bisa aja kamu. Itu teman aku. Kenapa? Cantik? Apa kamu cemburu?" Bili menggoda Lisa. "Gak kok. Kamu cocok sama dia," jawab Lisa. Bili tak menyangka Lisa akan mengatakan hal itu. Bili bercerita bahwa ia dan Rion baru saja menolong Shena lepas dari tunangannya yang jahat. "Kamu kok pulang cepat? Kan belum sampai tiga bulan?" tanya Bili. Lisa mengangguk. Memang jadwal yang telah ditetapkan telah maju sehingga ia lebih cepat pulang.


"Banyak yang berubah ya, Kak. Setelah aku ke Korea," kata Lisa. Bili melihat wajah Lisa. "Apanya yang berubah?" tanya Bili lagi. "Entahlah. Aku merasa ada yang berubah. Jakarta. Jalan raya. Taman di ujung sana. Sama kamu," Lisa menurunkan suaranya.


Bili tak berani melihat Lisa. Ia pun merasa sepertinya ada yang berubah.

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2