Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 102 Serunai bersuara


__ADS_3

Rui nampak tak terkejut dengan jawaban Maliq. "Ha? Kenal sama Kak Lalita?" Maliq menggeleng. Namun Rui sedikit tersenyum. Mungkin benar. Kapan lalu adalah Maliq yang ia lihat bersama Lalita. Keduanya pamit untuk pulang. Sesampainya di rumah. Rui diberikan kejutan oleh sang Mama dengan kedatangan Lalita. Ia kan menginap malam ini bersama Rui. Tentu saja Rui sangat senang. Kue kesenjangan Lalita pun langsung ia berikan sebagai ungkapan kebahagiaan. Neyza pun ikut menikmati kebersamaan dua anaknya itu.


Malam itu, di meja makan. Semua anggota keluarga telah selesai makan malam. "Ta, gimana kabar semua?" Lalita baru selesai jenguk air putih dari gelas bermotif lumba-lumba kesukaanya. "Mama Hani sehat, Papa Tito juga baik. Cuma kemarin ada masalah di matanya. Udah ke dokter dan semua ok. Om Heri juga sehat, kok," Lalita tersenyum.


"Mama masih penasaran sama kamu waktu ketemu Papa Tito gimana?" Lalita memandang langit ruangan itu. Berpikir sejenak. Mencoba memutar memori beberapa waktu ke belakang saat pertama kali bertemu dengan Tito. "Mama Hani usul kalo kita jemput Papa Tito di penjara saat itu. Cuma aku gak setuju. Aku takut dia malu, Ma. Kasihan. Sudah cukup banyak penyesalan dan aku gak mau bikin Papa jadi gak enak sama aku. Aku bilang sama Mama Hani jangan cerita dulu kalo aku tahu kondisi masa lalu mereka," Neyza tersenyum. Ia merasa bangga terhadap Lalita yang sangat menerima kedua orang tuanya dengan ikhlas dan lapang.


"Waktu ketemu kan aku gak begitu canggung karena sejak aku tinggal sama Mama aku benar-benar pingin dengar masa lalu aku sama mereka. Dan tentu aja masa lalu Mama dan Papa." Neyza menatap Rion. Apakah Hani menceritakan segalanya yang terjadi terhadap mereka berempat? "Ternyata Mama cerita kalo dia dan Papa itu lagi out of control sama bisnis dan ambil cara yang salah," Neyza mengangguk tanda syukur karena Hani tidak mengatakan hal yang lebih detail.


Rion mengambil alih pembicaraan Lalita dengan mengatakan mereka kenal baik dengan Hani dan Tito. Bahwa mereka pernah menempuh perkuliahan di kampus yang sama. Rion menasihati Lalita dan Rui bahwa seseorang tidak bisa menghakimi orang lain hanya dengan satu kesalahan. Melihat kekurangan orang lain dan berusaha mencari solusi terbaik dengan memaklumi dan memperbaiki diri adalah cara bijak untuk mengatasi segala problem di dunia ini.


Neyza tiba-tiba berbicara. Lalita tahu persis apa yang ingin ia bicarakan. Pria. Rui pun merasakan hal yang sama. Mereka menunggu Rion berdiri dan meninggalkan meja makan. Lalita menuangkan air rendaman buah untuk Adik dan sang Mama. Setelah Rion pergi, Neyza berbisik pada kedua gadis yang duduk di depannya. "Mama mau dong diceritain cowok," Pancingnya. Lalita dan Rui membesarkan bola matanya. "Aku gak ada, Ma," Kata Rui. Namun Neyza masih tak percaya. Lalita dengan sikap malu-malu nampaknya lebih punya keberanian untuk membicarakannya dengan Neyza. "Aku lagi deket sama cowok nih, Ma," Rui sedikit terkejut. Apakah Lalita akan menyebutkan nama Maliq di tengah-tengah pembicaraan ini? Jantung Rui seperti hendak berlari. Neyza menyimak cerita Lalita.

__ADS_1


Ia bercerita bahwa ia dikenalkan oleh seorang teman saat mengerjakan tugas di perpustakaan kota. Pria yang sengaja tidak disebutkan namanya itu adalah pria pendiam yang pernah ia temui. Sikapnya dingin. Bila ditanya, maka ia tak akan mendapatkan jawaban yang detail dan panjang. Hanya kata dasar saja. Dari situ, Lalita sangat penasaran dengan teman prianya itu. Beberapa kali ia bertemu saat bersama teman-temannya, Lalita mencoba berbicara agar tidak merasa kaku.


Beberapa waktu lalu, Lalita yang akan makan siang bersama Neyza, Rion dan Rui juga tak sengaja bertemu di salah satu rumah temannya. Ia lalu menawarkan agar mengantar Lalita ke restoran itu.


Ah, benar. Itu mungkin Kak Maliq.


Rui hanya mendengarkan bagaimana Lalita bercerita hingga menggebu-gebu. Rui memperhatikan Lalita yang nampak bahagia saat menceritakan pria itu. Untuk saat ini, Rui akan simpan rapat apa yang terjadi. Ia tak ingin Lalita tahu bahwa ia salah satu yang penasaran tentang keberadaan Maliq. Ia hanya tak menyangka, bila pria yang diceritakan Lalita sama persis seperti Maliq yang ia temui. Dingin, dan penuh misteri.


Neyza senang dengan cerita Lalita. Namun tak ada suatu maksud melainkan sebuah nasihat agar Lalita bisa menjaga diri. Dan dapat menjaga tujuan sekolahnya terlebih dahulu sebelum membuka hati untuk seorang pria. Lalita dan Rui mengangguk bersama. Ia paham, sebuah prinsip yang dikatakan juga dipegang oleh sang Mama.


Sial. Kenapa tiba-tiba dia muncul, sih? Kayak maling aja.

__ADS_1


Sang Kakak melihat tingkah adiknya itu. "Kenapa, Rui?" Tanyanya. Rui masih tenggelam di dalam bantal itu. "Gak papa, Kak," Tapi bukan Lalita namanya bila kekhawatirannya tidak ditunjukkan. "Kamu bisa cerita sama Kakak. Cowok?" Tebakan Lalita sepenuhnya benar. Rui benar-benar tak ingin menceritakan hal ini. Ia tak ingin meruntuhkan kebahagiaan Lalita. Ia sangat menyayangi Lalita.


"Aku... Gak tahu rasanya suka sama cowok, Kak. Aku takut salah menilai," kaya Rui. Lalita memegang kepala Rui. Mencoba menenangkan adiknya itu. "Kalo jantungmu berdebar saat bersama dia. Namanya disebut badanmu seperti akan meriang, dan ketika melihat sesuatu yang ada hubungannya tentang dia, kamu mawas banget ingin berusaha tampil sebaik mungkin. Seratus satu persen kamu suka sama dia," Rui hampir memegang jantungnya yang hendak berlari kencang keluar tubuhnya.


Yaaah, jangan, dong. Kenapa semua yang disampein Kakak jantungku jadi gak karuan gini? :(


Lalita hampir memahami, Rui mungkin sedang dekat dengan seorang pria. Namun ia tak ingin memaksa Rui bercerita. Akan ada waktunya ia akan mendengar langsung dari sang adik tentang siapa yang ia tambatkan hatinya.


Keesokan harinya, Rui berada di kampus. Menunggu jam perkuliahan yang akan berlangsung satu jam lagi. Levi belum kunjung datang. Ia lalu melihat bunga Serunai yang ada di dekatnya. Bunga-bunga itu nampak tak biasa. Bunga-bunga itu kini perlahan menjelma menjadi seorang laki-laki. Tersenyum, matanya tajam, warnanya putih.


"Duh, kamu gak bisa apa pergi dari sini, Kak?" kata Rui. "Ha? Kenapa? Aku maksudnya?" Rui terkejut dengan pertanyaan seseorang. Ia menoleh kepada orang itu.

__ADS_1


"Kak Maliq!"


(bersambung)


__ADS_2