Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 60 Runyam


__ADS_3

"Hi, Neyza."


Seorang pria tengah duduk di seberang Neyza. Nampaknya ini adalah perkenalan pertamanya. Di sisi lain, seseorang tengah melihat Neyza dari kejauhan. Matanya tajam melihat Neyza dengan pria yang baru saja menyapanya itu. Sebuah kotak berwarna kream diberikan pria itu kepada Neyza. Keduanya berbincang. Neyza melihatnya dengan tatapan serius. Tiga puluh menit lamanya, keduanya masih tengah berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun akhirnya Neyza sedikit tersenyum. Beberapa kertas disodorkan pria itu kepada Neyza. Neyza melihatnya dengan teliti. Tawanya membahana, sepertinya. Saat dilihat dari mobil yang ada di area parkir restoran itu.


Beberapa jepretan Neyza dan pria itu dilakukan oleh seseorang yang sedari tadi mengikuti gerak-gerik Neyza. Foto itu segera dikirim ke nomor lain. Senyum puas menghiasi bibir penguntit Neyza itu. Ia pun segera pergi meninggalkan restoran itu.


Pukul 6 sore, waktu Tokyo. Neyza pulang ke apartemen. Suasana apartemen nampak lengang. Tak ada dua asisten yang biasanya masih berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Neyza masuk ke dalam kamar. Lalita tertidur pulas. Bayi itu nampaknya masih beradaptasi dengan waktu di Jepang. Neyza segera membersihkan diri. Setelah mandi, ia hendak membuatkan makan malam untuk Rion.


Dua jam lamanya Neyza menunggu Rion pulang dari kantor. Pukul 9 malam. Rion masuk ke dalam apartemen. Wajahnya nampak lelah. Ia menaruh tasnya di ruang tengah dan ingin segera membersihkan diri. Neyza yang sedari tadi duduk di ruang baca menghampiri Rion. "Kamu sudah makan? Aku sudah masak makan malam. Makan, yuk? Aku belum makan," Rion tak menggubris perhatian Neyza. Ia malah ke kamar dan segera mandi.


Setelah mandi, Rion mengeluarkan laptopnya dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Neyza kembali Menghampirinya. "Rion. Kamu uda makan belum, sih? Aku ambilin makanan, ya? Aku juga belum makan," paksa Neyza. "Kamu makan aja dulu. Aku masih kenyang," jawab Rion dengan dingin. Neyza merasa ada yang aneh dengan suaminya itu. Tak ingin menganggunya, Neyza makan di ruang makan seorang diri. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Neyza.


Ada apa sih sama Rion?


Setelah makan, Neyza kembali ke kamar. Namun ia tak bisa menutup mata. Rasa kantuknya masih sangat lama. Ia masih ingin berbicara dengan Rion perihal sikap dinginnya. Apa karena pekerjaannya? Atau hal lain yang tak mengenakkan saat rapat tadi. Neyza berusahalah untuk membuat sebuah kemungkinan yang masuk akal. Kini dengan kesimpulan positifnya, ia bisa merasakan kantuk yang sangat. Mungkin besok akan kembali seperti semua. Dalam hatinya, Neyza berjanji akan mensupport Rion yang sedang dalam pekerjaan berat.


Keesokan paginya, Neyza bangun seperti biasanya. Lalita juga ikut bangun setelah mendengar Neyza bangun. Neyza disibukkan dengan merawat Lalita. Para asisten rumah tangga sedang membersihkan rumah. Lalu setelahnya Lalita diberikan kepada mereka. Giliran Neyza yang akan menyiapkan makanan untuk Rion.

__ADS_1


Sarapan sudah siap. Neyza menunggu Rion di meja makan. Satu jam kemudian, Rion turun dengan baju kerjanya. Jas hitam yang elegan. Dari gaya berjalannya, nampaknya ia akan melewatkan sarapan pagi ini dengan Neyza. "Rion!" Rion sedang mengecek beberapa kertas kerjanya. "Sarapan dulu sebelum pergi," kata Neyza. "Kamu makan aja dulu. Aku sarapan di Kantor sama karyawan," Rion lalu pergi begitu saja meninggalkan Neyza. Kepergian Rion membuat Neyza yang sedari awal berpikir bahwa Rion sedang tertekan karena pekerjaan yang berat berubah menjadi sebuah pernyataan bahwa Rion marah pada Neyza.


Neyza mengingat-ingat kembali apa yang ia lakukan beberapa hari belakangan. Ia mengurutkan kegiatannya semenjak ada di Jepang. Namun ia tidak mendapati sesuatu yang mengganjal atau terlarang.


Tunggu dulu, Neyza menemukan sebuah pencerahan.


"Ah, keluar ke restoran itu." Neyza segera mengambil ponselnya. Membuka pesannya dan segera mencari nama Rion di deretan nama.


Rion. Kamu marah, ya? Kemarin aku keluar sebentar. Maaf aku gak pamit duluan. Ada hal penting.


Neyza tersenyum dan segera pergi menemui Lalita. Sebentar lagi pasti Rion akan membalas pesannya. Klarifikasi ini mungkin akan membantu meredam kemarahan Rion dan ia kembali berbicara dengan Neyza seperti biasanya.


....


....


Malam itu, di jam yang sama seperti malam sebelumnya. Rion pulang dengan keadaan yang sangat lelah. Neyza menunggunya hingga rasa kantuk yang tak tertahankan. "Hoaaam, kamu sudah makan malam? Aku masakin kesukaan kamu kalo belum," Rion berlalu ke kamar untuk membersihkan dirinya. Neyza masih tak kuasa menahan kantuknya. Ia pun tertidur di ruang tengah.

__ADS_1


Sedangkan Rion yang setelah mandi dan berganti pakaian, ia langsung menuju tempat tidur tanpa melihat Neyza atau memakan makanan yang dimasak istrinya itu.


Pagi itu, Rion bangun dan mengawali harinya dengan mandi dan segera pergi ke kantor. Setelah memakai baju rapi, ia pun segera pergi ke kantor. Hampir sampai di depan pintu rumah, ia melihat Neyza tengah berdiri menyandar di samping dinding dengan melipat kedua tangannya. Rion tetap meneruskan langkahnya dan akan membuka pintu itu. Saat melewati Neyza, istrinya hanya diam. "Kamu kenapa, sih? Seharian kemarin kamu gak bicara sama aku. Lihat mukaku aja, gak. Aku bikin salah?" Rion diam. Ia ingin sekali memberitahukan apa yang ia simpan satu hari kemarin. Namun enggan. Masih pagi untuk memulai sebuah pembicaraan serius. "Kamu ada waktu sedikit gak, sih? Lihat aku," Neyza mulai kehilangan amarahnya. Rion menoleh ke arah Neyza. "Kalo kamu mau tahu kenapa aku kayak gini, kamu bisa rembukin itu sama orang yang spesial itu," Rion membalas Neyza. "Rion. Aku butuh kamu buat lurusin itu semua. Gak fair kalo aku meraba-raba apa yang terjadi sama kamu dari kemarin," Neyza menjelaskan.


"Kenapa gak kamu yang meraba-raba kenapa kamu yang berubah? Dan aku bisa lurusin juga, Ney. Cukup fair kalo kamu sudah dilengkapi sama orang lain dan aku gak butuh penjelasan kamu," Neyza terkejut. "Kamu gak butuh penjelasan aku? Rion, sadar gak sih kamu ngomong apa barusan? " Neyza hampir kehilangan emosinya. "Kamu renungin lagi deh, Ney. Jangan cuma aku aja. Kamu bisa pergi kemana pun kamu mau selagi menenangkan diri dengan orang lain" kata Rion yang membuat mata Neyza berkaca-kaca. "Kamu jahat, Rion," Neyza meninggalkan Rion masuk ke kamar. Sedangkan Rion keluar untuk segera pergi ke kantor.


Neyza mendatangi Lalita yang sedang ada di box bayi. Seorang asisten rumah tangga yang menunggu Lalita segera pergi saat tahu Neyza masuk dan sedikit terisak. Neyza menggendong Lalita. Diajaknya anak asuhnya itu duduk di atas tempat tidur. "Ta, Mama boleh gak nangis," ijin Neyza pada Lalita. Bayi kecil itu hanya tersenyum. Neyza mulai terisak mengingat kata-kata Rion. Hatinya hancur. Ia tak menyangka Rion akan berbicara itu tanpa memberitahu apa-apa kepada Neyza. Lalita yang berada di dekat Neyza mendadak memeluk lengan Neyza. "Ma!" Neyza masih menangis. "Ma!" Neyza terkejut dan memandang Lalita. "Ma!" panggil Lalita untuk pertama kalinya. Neyza mengusap air matanya. Ia peluk Lalita. Tangis Neyza pecah karena bahagia melihat Lalita dengan kata pertamanya. Lalita adalah penghiburnya. Ia peluk Lalita dengan segenap cinta.


....


....


Malam itu. Rion pulang lebih malam dari biasanya. Hatinya masih terganjal. Lampu kamar tidur remang seperti biasanya. Pasti Neyza dan Lalita tengah tertidur. Tak ada ajakan makan malam. Rion paham sepertinya Neyza tak akan menanyakan hal itu lagi. Setelah mandi. Ia lalu akan beranjak tidur. Ia melihat tempat tidur tak ada Neyza. "Ah, mungkin tidur di kamar sebelah," batinnya.


Keesokan harinya, seperti biasa. Ia mandi dan segera berangkat ke kantor. Hal yang sama juga tak terjadi pagi ini. Semalam tadi dan pagi ini benar-benar minus kehadiran Neyza. Saat ia akan pergi, ia bertanya pada salah satu asisten rumah tangganya. "Mbak, Neyza kemana?" tanyanya saat perempuan muda itu sedang membersihkan rumah. "Ya Allah, maaf, mas Rion. Saya lupa mau kasih tahu dari tadi malam. Saya sudah ketiduran. Mbak Neyza malam kemarin setelah Lalita tidur pergi. Pamitnya pergi gitu aja."


Ha?

__ADS_1


__ADS_2