
Lalita berani mengutarakan apa yang ia rasakan ketika ia tak dapat memejamkan matanya. Rion dan Neyza segera duduk dan membiarkan Lalita duduk di antara mereka. "Sayang. Ta sayang Mama sama Papa?" Lalita mengangguk. Rion menngusap rambut anak itu. Ia sadar bahwa semakin Lalita besar, akan semakin banyak pertanyaan dan 'konflik' yang ada. Sebuah resiko yang harus dihadapi Neyza dan Rion pada akhirnya. "Mama Hani malah justru lebih sayang dari Mama dan Papa. Kalo Ta tinggal dengan Mama Hani, kan juga sama kayak Ta dengan Mama dan Papa," ungkap Neyza. "Sayang. Ta kan juga masih bisa main kapan aja di sini. Rumah Mama Hani juga gak jauh dari sini," sambung Rion untuk menenangkan Lalita.
"Tapi kenapa Mama Hani lama sekali. Terus Papa Tito juga gak pernah telepon Ta," Lalita mulai melancarkan berbagai pertanyaan yang menganggunya. Neyza memeluk Lalita. Memberi jeda agar ia bisa berpikir jawaban apa yang pas untuk ia cerna. Lalita memang anak yang kritis. Wajar bila pada akhirnya, sugesti yang telah ditanamkan oleh Neyza dan Rion akan membuat Lalita bingung. Mengapa Hani tak pernah ada untuknya?
"Sayang. Papa Tito kan juga bekerja. Jadi mungkin Mama Hani yang mewakili Papa Tito buat nyapa Ta dan kita semua," Neyza kembali memutar otak. "Ta, Papa yakin, kita semua bahagia selamanya. Ta harus bersabar, ya? Karena waktu Mama Hani belajar dan Papa Tito bekerja itu sangat lama. Di sini, kita sama-sama menunggu mereka kembali pulang, ya?" Lalita mengangguk. Ada sebuah rasa lega di dalam dadanya. Tatkala Rion menjelaskan berapa banyak orang juga turut menunggu kehadiran Hani dan Tito bersamanya. "Ta boleh cerita apa saja sama Mama dan Papa. Malam-malam bangunin Mama dan Papa juga gak papa," Neyza memeluk Lalita.
"Ta kangen Mama Hani. Belum pernah ketemu. Cuma di telepon aja," suara Lalita sedikit serak. "Mau besok telpon Mama Hani?" Lalita menggeleng. "Ta mau ketemu, Ma," Neyza memeluk nya makin erat. "Habis Ta pulang sekolah. Coba Mama telepon Mama Hani, ya? Apa bisa pulang cepat?" Kata Neyza. Lalita hanya memeluk Neyza. "Nanti kalo Mama Hani pulang. Biar di rumah kita dulu. Tidur sama Ta. Kita main sama-sama. Kita makan bersama juga. Oke?" Rion mengangkat jari telunjuknya. Menandakan bahwa Lalita tengah tertidur dalam pelukan Neyza. Neyza lalu menghentikan ucapannya. Ia mengelus rambut Lalita dan mencium kening anak perempuan itu. Memposisikan tidur Lalita agar merasa nyaman.
__ADS_1
"Menurut kamu, gimana?" Neyza bertanya pada Rion yang belum tidur. "Hani? Apa bisa dikurangi masa tahanan? Tergantung dari bagaimana perilakunya selama di sel. Besok aku berusaha konsultasi sama tin pengacara. Apa bisa Hani dan Tito diberi tangguhan tahanan kota? Biar bisa kumpul sama Hani," jawab Rion. "Aku cuma takut. Kalo dia semakin besar dan tahu Hani di penjara. Dia bakal kecewa sama Hani dan sama kita. Sedangkan, kita menahan penjelasan ini juga deni psikis Lalita," Neyza mulai sedih. "Sayang. Sudah sudah. Memang banyak hasil yang kita dapat. Apa pun cara yang kita ambil, semoga itu yang terbaik buat kita semua. Khususnya Lalita." Mereka lun melanjutkan tidur mereka.
Pukul 02.30, Rion terbangun. Melihat Lalita tertidur tanpa Neyza di sebelahnya. Lampu kamar mandi nampak terlihat dari celah bawah pintu. Rion membuka pintu pelan-pelan. Neyza tengah terduduk dan menangis. Rion dengan sigap menghampiri Neyza dan memeluknya. "Sejak kapan ada di sini? Masih kepikiran Lalita?" Neyza menangis di dada Rion. Rion memeluknya semakin erat. Mencoba menenangkan Neyza yang terhanyut dalam kesedihan. "Sudah, sayang. Akun tahu kamu sedih. Tapi, jangan berlarut. Ingat, Lalita bukan anak kita. Kita hanya menawarkan bantuan agar anak itu tidak terlantar. Kamu sudah paham kan sejak awal?" Neyza mengusap air matanya. "Aku kayak belum siap gitu, Rion. Ta juga anakku. Bahkan aku merasa dia anak kandungku juga. Aku tahu aku salah. Aku mau belajar buat hilangin rasa protektifku sama dia," kata Neyza.
Rion memandang wajah Neyza. "Coba pake sugesti ini, sayang. 'Lalita akan sangat bahagia dengan Hani'. Gitu terus. Jadi kita gak ragu buat nyerahin Lalita ke Hani pada akhirnya. Kamu mau nyoba, kan?" Neyza menutup matanya. Menarik napas. Mencoba mengatur harinya perlahan.
Neyza berhenti menangis dalam pelukan Rion. Ia mencoba memahami bagaimana takdir berjalan seiring waktu yang semakin lama semakin singkat. Rion menuntun Neyza ke tempat tidur agar ia bisa kembali meneruskan tidurnya. "Kamu kuat dan hebat. Aku bangga sama kamu. Selamat malam, sayang," kecup Rion untuk membuat Neyza lebih cepat tertidur. Neyza menutup mata. Rion lalu juga berusaha menutup matanya sambil membiarkan satu titik air yang keluar dari ujung matanya.
__ADS_1
Pagi ini, semua anggota keluarga tengah sibuk seperti biasanya. "Ta, Rui. Udahan ya sisir rambutnya! Nanti rambutnya lepas, lho. Ayo, ditunggu Mama sama Papa di bawah," kata Lisa sangat terburu dengan dua perempuan kecil itu. Neyza dan Rion sudah duduk di meja makan. Neyza menata dua gelas susu dan beberapa makanan lainnya. Serta buah-buahan kesukaan anak-anak. "Kak, besok aku berangkat ke Korea. Program di mulai seminggu. Tiga bulan aku di sana. Baru, deh balik ke Indonesia. Sekalian jenguk Mama," kata Lisa. Rui dan Lalita membuat muka bersedih. "Yang tidur sama kita siapa?" Neyza memandang kedua anak itu. "Mama sama Papa, dong," Rui berbisik pada Lalita. "Hayo, bisik-bisik apa?" tanya Rion sambil memakan roti isi buatan Neyza. "Kata Rui, Mama sama Papa tempat tidurnya gak cukup kalo buat kita berempat," semua orang tertawa. "Sayang, yang tidur di kasur cuma Mama, Ta, sama Rui. Papa tidurnya di sofa," Rion terkejut dengan pernyataan Neyza. "Gak usah, dek. Kita kan gak takut tidur berdua. Jadi gak papa kalo kita tidur gak sama Mama dengan Papa," kata Lalita menguatkan Rui. "Kakak nanti kalo aku takut kita selimutan berdua, ya?" Lalita mengangguk. "Nanti kamu boleh tidur di kasur kakak," Neyza tersenyum dan mencium dua anak perempuannya itu.
Keesokan harinya, Lisa pamit kepada Neyza adan Rion di pagi hari sebelum mereka pergi ke kantor. Dan anak-anak yang hendak pergi sekolah. "Sampai ketemu lagi, ya. Jaga kesehatan semua," Setelah memeluk semua anggota keluarga, Lisa pergi diantar supir menuju bandara. Sesampainya di sana, menurunkan koper-koper dibantu oleh seorang porter bandara. Lisa akan masuk ke dalam ruang check-in.
"Lisa!"
Lisa menoleh.
__ADS_1
(bersambung)