
Pagi itu Rui akan segera pergi ke kampus. Hari ini jadwal kuliahnya sangat padat. Seperti biasa, ia tak melewatkan sarapan pagi bersama Neyza dan Rion.
"Sayang, Mama Papa mau makan siang di restoran dekat kampus kamu. Rui ikut, ya?" tanya Neyza. "Kakak Lalita juga nanti ditelpon Mama," sambung Rion bersemangat. Rui masih mengunyah pancake saus stroberi menatap kedua orang tuanya. Ia masih mengingat-ingat bagaimana jadwalnya bisa disiasati dengan makan siang keluarga.
"Nanti Rui usahakan ya, Ma Pa? Soalnya mau bantuin Dosen bentar," jawabnya dibarengi senyum Rion dan Neyza. Rui hampir melewatkan cerita kemarin tentang orang jahat yang hampir mencelakainya.
Neyza dan Rion mendengar dengan seksama bagaimana anak gadisnya mendapat perlakuan. Namun mereka merasa lega karena seorang teman turut membantunya.
"Syukur kalo gitu. Apa mau di antar jemput aja, Rui?" tanya Neyza. Rui menggeleng. Ia meyakinkan Neyza dan Rion bahwa kejadian ini tidak akan terjadi lagi. Rui tentu bagian Maliq. Memperkenalkan nama Maliq kepada kedua orang tuanya masih belum bisa ia lakukan. Ia pun masih punya segudang kepenasarannya terhadap pria yang dingin itu.
Neyza dan Rion segera pergi ke kantor. Mereka bergantian mencium dan memeluk Rui. "Sampai ketemu siang nanti, sayang," kata Rion. Rui tersenyum lebar dengan beberapa sisa pancake di piringnya.
Siapa sih, Kak Maliq itu?
Rui sudah berada di kampus untuk segera mengikuti perkuliahan. Beradaptasi menjadi seorang mahasiswa kedokteran membuatnya sedikit mengatur ritme jadwal yang sedikit memakan energi dan pikiran. Rui dan Lalita memang anak-anak yang tidak begitu susah untuk dilibatkan dalam hal akademis. Mereka suka belajar. Sejak kecil bila bertemu dengan buku-buku, mereka mampu membaca hingga akhir dalam beberapa jam saja.
Walau kadang ada kalanya mereka tak ingin berhadapan dengan pekerjaan sekolah. Namun Neyza, yang terjun langsung untuk menemani mereka dalam memahami pelajaran sekolah, tahu bagaimana membuat keduanya kembali dalam mood yang baik.
__ADS_1
Levi menepuk pundak Rui saat ia tiba-tiba duduk di belakang Rui. Tersenyum dengan sebuah maksud. "Gak ah, nanti zonk lagi aku," Levi masih enggan untuk berhenti menganggu Rui. Ia paham, permintaan untuk menemaninya kencan buta benar-benar membuat Rui tak ingin berada dalam suasana yang kaku. Rui menjadi 'hiasan koade' Levi dan seorang pria.
"Vi, lagian siang ini aku ada janji sama Mama, Papa, sama Kak Lalita. Kita mau makan siang bareng. Jadi, have fun kamu, ya!" Rui menyengirkan bibirnya. Sementara Levi merasa kecewa karena mau tak mau ia harus menghadiri kencan buta itu sendiri. Levi memang orang yang mudah jatuh cinta pada orang lain. Rui bahkan sering mengingatkan untuk tidak terlalu terbawa perasaan saat berbicara dengan pria. Namun Levi rupanya sangat ingin ada seseorang yang mendampinginya.
Perkuliahan pagi ini berakhir. Hampir dua jam sang Dosen menerangkan berbagai materi yang padat dan jelas. Levi pergi ke toilet untuk bersiap-siap kencan buta dengan salah satu mahasiswa di kampus mereka. Rui tengah asyik memasukkan catatan dan sebuah buku. Ia teringat sebuah janji dengan Bu Sita, seorang Dosen yang beberapa hari lalu meminta tolong Rui merapikan beberapa literasi di rak buku yang baru saja dipindahkan ke ruangannya.
Rui mengetuk pintu ruangan Bu Sita. Rui adalah salah satu mahasiswa yang dekat dengan Bu Sita karena ia pernah membantu Bu Sita terjatuh di tempat parkir kampus. Dari situ, Rui banyak bertanya tentang serba-serbi kuliah Kedokteran yang sedang ia ambil. Tak canggung, terkadang, Rui diundang untuk makan siang di ruangan Bu Sita dan berbincang-bincang.
Sementara Rui memilah buku dari draft uang diberi Bu Sita, Dosen itu pergi untuk mengajar sebuah kelas. Rui sangat sibuk dengan 3 karton besar yang berisi buku. Ia hampir saja menelepon Levi untuk membantunya. Namun urung ia lakukan karena Levi pasti mempersiapkan diri untuk sebuah kencan rahasia.
Tok tok tok.
"Kak Maliq, ya?" Pria itu lalu masuk dengan sekali langkah. Menanyakan keberadaan Bu Sita karena ia punya sebuah keperluan. Rui mengatakan bahwa Dosen yang Maliq tuju sedang dalam pengajaran. Maliq melihat ruangan Bu Sita yang berantakan. Dan seorang perempuan yang dengan rambut sedikit berantakan dan keringat yang mulai mengalir dari sela dahinya.
Rui masih memegang catatannya. Maliq tahu bahwa Rui sedang dalam kesibukan menata buku seperti seorang pustakawan. "Sini kertasnya!" katanya dengan nada yang datar. Rui belum sempat mencerna kata-katanya, Maliq sudah menarik kertas dari tangan Rui.
Dengan cepat, Maliq mengosongkan tiga karton yang berisi buku itu. Mengambil sebuah spidol dari meja Bu Sita, dan menulis di salah satu sisi karton tersebut. Membuatnya merasa lebih ringkas untuk memilah mana yang masuk dalam tiga kategori itu. Rui sumringah. Pekerjaannya lebih ringan dibanding yang ia kerjakan tadi.
__ADS_1
Maliq membantu memasukkan buku-buku itu. "Dipilah gini aja dulu. Ruangannya kan juga terbatas. Nanti kalo sudah dipisah. Satu karton ini kita susun di rak sebelah kiri. Buku-buku ini biasanya dibawa para Dosen untuk mengajar. Taruh di tempat yang mudah terjangkau," Rui hanya mengangguk. Ia tak sempat bertanya-tanya tentang berapa misteriusnya pria ini semenjak hari pertama.
Namun Rui bukanlah orang yang merasa cepat suka pada seorang pria layaknya sahabatnya, Levi. Justru ia semakin banyak mendalami berbagai karakter manusia. Dan Maliq adalah salah satu yang paling ia anggap tuan bayangan. Istilah yang pantas ia sandang karena susahnya mengenal pria itu.
Setelah selesai, Rui meletakkan tiga buku terakhir. Keringatnya mulai banyak yang jatuh ke bajunya. Untung saja, ia selalu membawa baju ekstra di mobilnya. Sambil menoleh ke arah Maliq, ia akan mengucapkan terima kasih karena Rui sangat terbantu.
"Makasih, Kak. Sudah memban... " Rui tidak melihat seorang pun di ruangan itu. Rupanya Maliq terlebih dahulu pergi meninggalkannya tanpa pamit. Ia pergi bagaikan angin.
Nih orang, ya. Bikin jengkel orang lama-lama. Gak ada akhlaknya main dateng gak diundang, pulang gak diantar. Ih, Bete.
Rui sedikit kesal. Lalu tertawa karena reaksinya yang berlebihan. Bu Sita datang dan melihat hasil kerja keras Rui. Ia pun memberitahukan Bu Sita bahwa Maliq tadi datang mencarinya. Rui segera pamit untuk makan siang. Ia lalu menghubungi Neyza agar menunggunya di restoran yang mereka akan datangi.
Rui memarkir kendaraannya. Ia lalu berjalan menuju lobi sebelum masuk ke dalam restoran. Ramai lalu lalang, ia melihat Lalita yang tengah masuk juga ke dalam lobi. Lalita tersenyum, namun senyumannya itu dialamatkan kepada seseorang yang nampaknya adalah seorang laki-laki. Rui penasaran. Siapa pria itu? Kekasih Lalita?
Selang seling orang yang berjalan membuat Rui tak bisa melihat dengan jelas. Namun sebuah kesempatan nampak ia melihat sosok itu. Buram.
Kayak siapa, ya?
__ADS_1
Eh, Mas Maliq?
(bersambung)