
Neyza dan Weni saling memandang. Weni tersenyum kepada Rion. Sedangkan Neyza langsung menghadapkan wajahnya ke arah jendela. Ia lebih senang melihat para pekerja bandara daripada melihay Rion. Berselang waktu Bili datang dan duduk di sebelah Rion. Kursi mereka berseberangan dengan kursi Neys dan Weni.
Bili: "Neyza, Weni. Kangen gue." Bili melambaikan tangannya. Neyza tersenyum melihat Bili, Weni pun sangat senang saat berjumpa dengan Bili. Neyza melambaikan tangannya kepada Bili. Rion melirik Neyza, ia pun melambaikan tangannya kepada Neyza. Neyza lalu berhenti tersenyum dan memalingkan wajahnya kembali ke luar jendela. "Tuh, kan. Gue bilang apa. Dingin banget dia sama gue. Kayak semacam ada amarah dendam yang dalem banget. Sama lu dia senyam senyum aja kayak gak ada beban. Salah apa gue, Bre?" tanya Rion yang bingung. "Ah, itu karena lu sekarang jadi gembel. Rambut gak dirapiin, baju seadanya, badan gak diatletis-in," jawab Bili panjang lebar. Rion melihat dirinya di ponsel. Ia juga merasa dirinya sedang tidak dalam keadaan 'sempurna' seperti sebelum menikah dengan Hani. Satu tahun membuat dirinya menjadi orang asing yang terperangkap rasa cinta berlebih pada Hani. Ah, Hani. Nama itu rasa-rasanya membuat ia ingin pergi. Lukanya semakin dalam. Hani mengkhianatinya. Berhari-hari ia semakin terpuruk dalam kesedihannya. Rion ingin membuat kehidupan yang baik. Ia sudah tahu semuanya. Mengapa ia harus terjebak dalam perasaan dengan Hani? Hani sekarang adalah masa lalu.
Bili: "Kalian apa kabar?" Bili bertanya kepada Weni yang lebih dekat dengannya.
Weni: "Baik, Bil. Kamu apa kabar?"
Bili: "Baik. Neyza apa kabar?"
Neyza: "Halo, Bili. Baik."
Rion: "Lu gak nanya gue, Nek?"
Neyza hanya menyunggingkan bibirnya. Tanda bahwa ia tidak tertarik sama sekali dengan pertanyaan Rion. Bili tertawa dengan kelakuan Neyza dan Rion. Mereka pun segera menenangkan diri karena pesawat sebentar lagi akan berangkat. Lima belas menit perjalanan yang baru saja ditempuh, suasana di kelas bisnis nampak lengang. Weni hanya membaca buku, Neyza tertidur, sedangkan Rion menutup matanya.
Bili: "Aw aw aw...aduh aduh!" ungkap Bili tiba-tiba.
Rion: "Kenapa, Bil?"
Bili: "Tau, nih. Tangan gue kayak sakit gitu tiba-tiba."
Weni: "Habis jatuh, Bil?" Bili mengangguk. "Ini aku ada obat salep."
Rion berdiri dan pergi menemui Weni. "Sekalian aja diobati. Sini tukeran sama gue sebentar."
__ADS_1
Weni lalu beralih ke tempat duduk Rion, sementara Rion duduk di tempat duduk Weni di sebelah Neyza. Weni yang anak seorang Dokter nampak sedang memberikan banyak informasi kesehatan kepada Bili. Rion mencuri pandang ke arah Neyza. "Lu tuh baik, Nek. Tapi kenapa lu jadi jahat sih sama gue? Salah gue apaan, coba? Terus kenapa dulu gue gak suka sama lu aja, ya? Kenapa juga sama Hani? Ah, bete gue nyebut nama dia. Moga-moga lu gak denger," Rion berbicara sendiri dengan suara pelan.
Neyza: "Aku dengar ya, Rion," Neyza membuka matanya dengan jelas menatap ke arah Rion. Rion yang tertangkap basah sedang berbicara tentang Neyza pun berpura-pura tidak mendengarkan.
Rion: "Emang gue ngomong apaan coba?"
Neyza: "Semuanya dari aku baik sampai suka apalah-apalah."
Rion: "Yaudah. Emang gitu terus mau diapain coba?"
Neyza: "Aku gak suka ya, Rion."
Rion: "Bisa gak sih ngomong lu santai aja? Gue salah apa sih, nek?"
Neyza: "Aku gak suka aja."
Neyza mencoba mengangkat tangannya ingin memukul Rion layaknya pertengkaran. Rion malah semakin mendekatkan dirinya ke arah Neyza. "Nih, silahkan pukul gue. Lu lebih jago berkelahi daripada gue, Nek." Rion terkekeh melihat Neyza yang menahan diri.
Pramugari: "Permisi. Menu makan hari ini kami siapkan dua pilihan. Ada Chicken Briyani dan Curry Ramen. Mau yang mana?"
Neyza: "Chicken Briyani. Sekalian teh hangat, bisa?" PRamugari mengangguk sambil tersenyum.
Rion: "Apa yang dia makan. Samakan dengan menu saya."
Neyza menatap Rion dengan tatapan yang tidak suka. Rion kembali tersenyum puas. Makanan mereka sudah berada di meja masing-masing. Neyza menyantap makanan itu dengan sangat lahap. Rion hanya melihatnya. "Lu laper, Nek? Mau punya gue juga? Hehehee..." Neyza tak menggubris. Teh hangat yang sudah disajikan juga langsung dihabiskan oleh Neyza. Lima belas menit kemudian semua makanan diambil kembali oleh Pramugari pesawat. Perjalanan masih beberapa menit lagi. Weni sedang tertidur, Bili masih dengan tangannya yang kesakitan. Neyza tertidur dengan menyandarkan kepalanya ke jendela dengan bantal. Rion hanya diam.
__ADS_1
Tut tut tut tut.
Tanda sebuah pemberitahuan dari Pramugari. "Para penumpang yang terhormat. Dikeranakan cuaca sedang tidak mendukung, maka diharapkan segera mengikatkan sabuk pengaman anda. Terima kasih." Mereka memasuki awan mendung dan hitam. Tak lama setelah itu, pesawat mengalami goncangan. Beberapa penumpang nampak berdoa. Neyza duduk dengan mata tertutup. Tangannya memegang tangannya yang lain. Goncangan hebat terjadi lagi. Semua panik. Neyza tiba-tiba memeluk lengan Rion. Rion yang sadar bahwa Neyza ketakutan berusaha menenangkannya. Weni dan Bili pun tak kalah takut. Mereka saling menguatkan. Tak lama kemudian, pesawat kembali tenang. Langit sudah tak terlihat hitam. Kini kembali cerah. Ucapan syukur dari semua penumpang terdengar.
Bili: "Ngapain lu pada?"
Melihat Neyza dan Rion masih tetap berpegangan tangan membuat Bili gemas untuk menggoda mereka. Seketika Neyza dan Rion melepaskan pegangan mereka. Neyza melepaskan lengan Rion dengan keras, namun Rion tersenyum puas.
Beberapa menit kemudian pesawat mereka telah sampai di Jakarta. Semua penumpang turun untuk mengambil barang bawaan. Rion dan Bili sedang menunggu koper-koper mereka. Weni berpamitan kepada Rion dan Bili. Neyza menunggu di dekat pintu keluar.
Rion: "Wen, gue ada perlu sama lu. Kapan-kapan. Penting. Jangan kasih tahu Nenek, ya? Bili juga kagak ngerti."
Weni hanya tersenyum. "Apaan, Bre?" tanya Bili penasaran. "Mau tahu aka sih, lu." Rion tersenyum sambil mengambil kopernya yang telah sampai. "Woi, tungguin, Bre."
Setelah kedatangan mereka. Hari demi hari kesibukan Neyza dan Rion semakin banyak. Rion tengah sibuk mengurus kasus yang menimpa dirinya. Begitu pun Neyza. Kasus yang akhirnya terbuka itu sampai pada masa di mana sebuah persidangan besar terjadi. Hani, Tito dan Orang Tua Hani menjadi tersangka kasus penipuan dan beberapa kasus berlapis yang membuat mereka harus mendekam di penjara.
Seminggu kemudian, Rion merasa perlu untuk menemui Hani. Ia juga merasa kasihan. Walau pun saat ini tak ada sisa lagi Hani di hatinya, namun ia merasa punya hak untuk tahu apa yang terjadi langsung dari mulut Hani. Rion menjenguk Hani di penjara wanita. Awalnya Hani menolak kepada sipir penjara, namun ia didesak untuk bertemu. Wajah Hani nampak lusuh dan tak terawat. Ia duduk di sebuah kursi di mana Rion telah duduk menunggunya.
Rion: "Apa kabar?"
Hani diam saja.
Rion: "Gue kemari bukan buat jelekin lu. Karena gue gak nyaman dengan itu. Gue cuma mau minta penjelasan lu. Kenapa semua ini bisa terjadi? Lu patahin banyak kebahagiaan orang. Lu sampai nyelakain orang."
Hani hanya diam. Ia sama sekali tak tertarik untuk menjawab pertanyaan Rion.
__ADS_1
Hani: "Daridulu, Papa Mama dikucilkan keluarga karena gak mampu secara akademis. Ia bekerja jadi cleaning service dan pada akhirnya ia kenal dengan Papanya Neyza. Ia diangkat jadi pegawai. Ia banyak belajar. Dan pada akhirnya karirnya baik. Suatu hari ia terjerat hutang. Ia mau meminjam uang dari Papa Neyza tapi urung tak direstui Papa Neyza. Ia memilih keluar dari pekerjaan. Membangun sendiri usahanya, membayar hutangnya, dikejar penagih. Ia dendam dengan Papa Neyza. Tito pacarku. Aku gak pernah suka sama pria lain kecuali dia."
Ah, kalimat ini.