Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 59 Kota Baru


__ADS_3

Pagi ini, Neyza bangun terlebih dahulu. Menyiapkan sarapan untuknya dan Rion. Suaminya tengah tertidur di kamar bersama Lalita yang juga belum bangun.


Neyza selesai menyiapkan makanan pagi ini ketika dia tangan melingkar di pinggangnya. Sebuah kecupan mendarat di pipinya.


"Masak apa?" kata Rion dengan rambut yang masih berantakan dan mata yang setengah menyipit. Neyza memasukkan potongan Strawberry ke mulut Rion. "Cuci muka dulu, gih. Masak mau sarapan kucel, gitu?" Rion masih enggan pergi dari Neyza. Rasa kantuk nampaknya masih hinggap di matanya. "Masih pingin gini dulu," katanya manja. "Neyza mendorong badan Rion ke belakang. Tangannya yang baru saja basah diusapkan ke muka Rion. Neyza mengecup pipi Rion. "Ayo, duduk!" perintahnya. Rion dengan sigap mengikuti perkataan istrinya. "Aaaaa," pinta Rion. Neyza segera memotong cheese sandwich yang ada di piring Rion.


"Rion, besok kita jadi ke Jepang, kan?" Neyza mengingat sebuah jadwal rapat Rion dan Neyza yang sudah mereka rencanakan sesaat setelah menikah. "Iya, kita ajak Lalita sama dua mbak asisten juga buat bantuin keperluan kita di sana. Aku uda sewa apartemen keluarga buat kita tinggal di sana," Neyza mengangguk. Suara tangisan Lalita terdengar hingga ke ruang makan. Seorang asisten rumah tangga segera naik dan menenangkan Lalita. Sebuah pesan masuk ke ponsel Neyza.


Aku harap kamu bisa jagain Rion dengan baik seperti aku jagain dia dulu.


Deg.


Mata Neyza mengipit seolah-olah ia ingin membalas pesan itu. Namun urung. Sedikit penasaran membuatnya enggan untuk berinteraksi dengan si oengirim pesan tersebut. Malas rasanya. Ditengah hangat-hangatnya hubungan Neyza dan Rion, kini malah ada pemain baru yang tiba-tiba ingin merusak hubungannya. Apa maksud pengirim pesan ini? Seorang pelakor yang sedang heboh di jagat media sosial? Atau hantu yang hanya membuat sebuah pertanyaan setiap hari. Neyza memblokir nomor itu. Ia akan simpan sampai nanti ia ceritakan kepada Rion bila waktunya telah luang.


....


....


....


Hati ini, Rion dan keluarga kecilnya tengah bersiap pergi ke Jepang untuk sebuah urusan bisnis. Bersama Bili dan beberapa karyawan kantor, mereka pergi dengan satu pesawat. Neyza, Rion, Lalita dan dua asisten rumah tangga mereka berada dalam kelas bisnis. Kenyamanan memang nomor satu untuk Rion. Kedua asisten rumah tangga saja mampu ia berikan fasilitas yang sama seperti ia dan Neyza. Mengingat Rion dan Neyza sama-sama orang yang loyal dan menghargai para pekerja yang membantu mereka. Apalagi kebutuhan mereka selama jauh dari rumah akan terasa ringan bila ada dua asisten sekaligus. Menjaga Lalita juga adalah salah satu alasan mengapa ia rela mengambil kocek lebih dalam untuk menyewa apartemen yang luas untuk mereka tinggali selama satu bulan ini.


Perjalanan selama delapan jam lebih telah mereka tempuh. Jet lag sudah pasti mereka alami. Rion dan keluarganya langsung menuju ke sebuah restoran untuk makan malam dan segera pergi ke apartemen yang ia sewa.

__ADS_1


Mereka segera beristirahat untuk mempersiapkan segala keperluan dalam dua hari ke depan.


....


....


....


Pagi itu setelah mereka bangun pagi. Rion baru saja selesai menyiapkan beberapa pekerjaan yang akan ia bawa untuk rapat. Neyza turun untuk membuatkan sarapan. "Ney, yuk makan! Hari ini aku beli makanan di tempat makan. Nanti siang kita belanja buat keperluan satu minggu. Kasihan mbak-mbaknya. Mungkin jet lag," Neyza tersenyum dan mengangguk. Neyza harusnya melancarkan rencananya untuk memberitahu Rion perihal tentang pesan lalu. Namun urung ia lakukan karena Rion nampaknya tengah mengumpulkan rencana untuk rapat besar. Nanti saja. Sampai rapat itu selesai.


Siang itu, Rion dan Neyza tengah berbelanja di sebuah swalayan. Belanja di Jepang memang sangat berbeda dengan di Indonesia. Walau Neyza sering ke luar negeri, namun kali ini sangat berbeda. Selain karena bersama Rion, suasana di Jepang menurutnya sangat Metro Romance. "Rion, aku pingin Jagabata," Rion melihat Neyza dengan tatapan mesra. "Yuk!' ajak Rion.


Ting.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Neyza.


Neyza enggan melihat ponselnya lagi. Sial. Siapa orang ini? Bisa-bisanya ia bilang tidak menganggu padahal kenyataannya Neyza merasa sangat terganggu.


Rion membawa Jagabata kepada Neyza. "Nih!" katanya. Neyza mulai melahap jajanan kentang yang nikmat itu. Mata tak bisa menipu. Rion melihat Neyza berkali-kali memandang ponsel yang sedang mati itu. Pandangannya jauh. "Kamu kenapa?" Neyza menggeleng.


Cerita. Gak. Cerita. Gak.


Pikiran Neyza melancong kemana-mana. "Ney," Rion memanggil istrinya pelan. Ia memegang tangan Neyza. Neyza terpancing rayuan Rion. Tatapan Rion seperti menjamin cerita Neyza tak akan mengganggu pikiran Rion.

__ADS_1


"Aku mau cerita tapi takut kamu kepikiran." Rion tersenyum. "Ada yang neror kamu?" tanyanya. Neyza mengangguk. "Entah apa namanya. Tapi menurutku ini juga gak bisa aku sepele-in," Neyza menyodorkan ponselnya. Dua pesan yang ia tunjukkan pada Rion kini tengah dibaca. Rion tersenyum. "Gak usah digubris, ya. Mungkin orang iseng," Rion mencoba menenangkan. "Aku bisa kasih banyak prasangkaku ke kamu sekarang. Ini ada hubungannya sama masa lalu kamu, pasti. Atau ada orang yang gak suka sama hubungan kita. Dan kalo terus-terusan kayak gini, aku sangat terganggu," Neyza memberikan banyak penjelasan.


Rion menepuk punggung tangan Neyza. "Hei, sayangku. Kita lewati ini bareng-bareng." Neyza menahan sedikit amarahnya. "Maaf ya, Rion. Perempuan sensitif banget hal-hal begini. Kalo tiba-tiba aku bad mood dan gak pingin bicara sama kamu. Sabar, ya," Neyza memberikan sebuah pernyataan mengejutkan. Rion hanya menggelengkan kepalanya.


Hai, Neyza. Kamu menikmati waktumu di Jepang?


Pesan larut malam ini muncul. Nomor yang sama itu kembali mengirimkannya sebuah pesan. Bulir keringat Neyza mulai turun. Nampak sebuah amarah tengah ia tahan. Ia hampir saja melempar ponselnya karena kesal. Rion tengah tertidur dengan Lalita.


Apa ada hal lain yang ingin disampaikan?


Neyza akhirnya menyerah untuk mendiamkan pesan yang dikirim oleh si pengirim pesan. Mungkin si pengirim pesan akan tersenyum mendapat balasan Neyza. Terpancing juga dia. Begitu kira-kira.


Aku juga ada di Tokyo. Mari bertemu. Aku sudah tak sabar.


Bila ingin, Neyza akan menemui orang ini secepatnya dan membuat sebuah peringatan besar untuk menjauh dari Keluarganya.


Miyuki Resto, Sekiguchi - 4 pm.


Neyza mematikan ponselnya. Lebih cepat untuk menghadapi orang tersebut akan semakin baik. Dan sebaiknya jangan berharap banyak karena Neyza bisa lebih 'kejam' dari apa yang dia bayangkan. Neyza mengancam dalam hati.


Keesokan harinya, Rion yang sedang berada pada rapat penting perusahaannya tentu saja belum kembali dari apartemen. Setelah bermain dan memandikan Lalita, ia pergi untuk bertemu dengan seorang pengirim pesan itu.


Neyza duduk melihat ponselnya. Ia tak yakin pengirim pesan itu datang. Tapi hanya untuk memuaskan kepenasarannya.

__ADS_1


"Hi, Neyza."


(bersambung)


__ADS_2