Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 28 Menangislah


__ADS_3

Sekilas Rion melihat sosok laki-laki yang sama dengan Tito, teman dekat Neyza. Namun ketika mencoba melihat lagi, nampaknya ia memang salah orang. Belakangan ini, ia selalu terbayang orang-orang yang dekat dengan Neyza.


Hani menggandeng tangan Rion. Ayo sayang kita pulang. Rion tersenyum sambil menatap mesra mata Hani. Mereka lalu masuk ke mobil kembali. Rion menjalankan mobilnya sambil berpikir tentang kejadian yang menimpa Neyza barusan. Terkahir ia berbicara dengan tim pengacaranya, Papa Neyza memang sedang dalam pengawasan polisi. Bukan karena kejahatan yang ia buat. Tapi selain tuduhan yang tak terbukti, ia juga bisa mendapatkan ancaman besar dari berbagai pihak.


Orang sukses selalu saja ada yang menghalangi. Rion berhenti di sebuah cafe. Ia dan Hani akan makan malam bersama. Rion memesan sebuah meja kepada pelayan yang menyambut mereka. Kini, Hani dan Rion duduk berdua.


Hani: "Kamu kenapa? Lagi banyak pikiran?"


Rion: "Nggak. Lagi pikirin menu apa yang mau kamu pesan."


Hani: "Ini masih sore. Dan kita makan mal terlalu cepat. Tapi gpp. Aku pesan. Steak."


Rion: "Apa yang kamu makan, aku juga makan."


Hani tersenyum. Memesan dua makanan dan minuman yang sama. Pelayanan itu segera pergi. Hani memegang tangan Rion. "Jangan kebanyakan pikiran. Kamu bisa sharing apa aja ke aku," Rion mengangguk.


Neyza mengajak Weni untuk segera pulang. Ia khawatir sang Mama akan mencarinya. Berita pencurian itu akan ia tangguhkan dulu. Ia masih harus mengumpulkan banyak kekuatan agar bisa berbicara dengan Mamanya.


Sebuah pesan dari Ogi masuk ke ponsel Neyza.


Ogi: "Hai, Neyza. Apa kamu ada waktu besok siang?"


Neyza: "Hai, Ogi. Sepertinya akan sangat sibuk beberapa hari ke depan. Maaf."


Ogi: "Ah, tidak apa-apa. Kalo begitu besok aku kirimkan beberapa kue untuk kamu dan keluarga."


Neyza: "Wah, terima kasih."


Neyza menutup matanya. Weni yang ada di sampingnya mencoba meluruskan kakinya. "Kamu butuh cokelat hangat?" tanya Weni. "Huum," jawabnya singkat. Weni lalu beranjak untuk membuatkan segelas minuman hangat.


Neyza duduk di dekat jendela. Suasana mendung menyelimuti langit bumi saat ini. Ia menekuk lututnya, seperti saat ia menangis di pantai bersama Rion. Hidup sudah sejauh ini susahnya. Para musuh membuat hidupnya dan keluarga menjadi sangat kacau.

__ADS_1


Weni masuk ke kamar. Memberikan minuman hangat kepada Neyza. "Ney, tadi Bili cerita. Rion lagi siapin pernikahan," Neyza menatap Weni. "Rion? Nikah? Sama siapa?" tanya Neyza. Weni menggeleng. "Kata Bili 3 bulan lagi. Makanya dia sering gak di rumah kontrakan lagi," Neyza terdiam.


Neyza: "Wen, aku butuh istirahat," ujarnya singkat.


Weni: "Ah, ok. Kalo gitu aku pulang sekarang ya, Ney? Kamu gpp?"


Neyza menggelengkan kepalanya. Weni menepuk pundak sahabatnya itu lalu keluar kamar untuk segera pulang.


Neyza menatap lagi langit saat itu. Hujan mulai turun. Membasahi sebagian jendela kamarnya. Tiba-tiba hatinya sendu. Entah kejadian tadi masih terngiang di pikirannya atau, kabar yang Weni ceritakan adalah sebuah pesan sakit hati untuknya.


"Kenapa tiba-tiba aku jadi sedih, sih?" Neyza memegang dadanya seakan jantungnya akan segera lepas dari tubuhnya. Hujan semakin deras.



Neyza menangis bersamaan dengan rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Ia sepertinya keyakinan bahwa ada sebuah ruang di hatinya untuk Rion selama ini. Rion adalah pria yang baik. Tak dipungkiri, Rion selalu membuat ia merasa kesal. Ia memang tak menggubris. Namun lama kelamaan ia bisa tahu sisi lain Rion yang baik. Mungkin Rion memberikannya harapan secara tak sadar. Tapi bukan hanya Rion saja ia berinteraksi. Banyak pria yang dekat dengannya. Tito, Ogi, tapi mengapa hanya nama Rion yang membuat jantungnya semakin tak karuan?


Neyza sakit hati. Hatinya teriris. Saat ini ia bisa mengakui. Paling tidak untuk dirimu bahwa rasa yang semakin jelas itu adalah rasa suka. Neyza tak memungkiri. Pada akhirnya ia selalu memikirkan Rion, sekalipun ia berada dalam bahaya. Rion lah orang pertama yang ada dalam benaknya. Kini, setelah rasa itu ada dalam hati Neyza, berita Rion akan segera menikah adalah pukulan tajam. Sangat tajam sampai ia ingin memendam semua kenangan tentang Rion. Semua sudah terlambat. Rion sudah menambatkan hatinya untuk seseorang yang lain.


Neyza meminum cokelat hangat yang sudah mulai dingin. Ia menghapus air matanya. Mengambil ponselnya. Ia cari nama. Rion di kontaknya.


Rion Deleted.


Terhapus. Sengaja ia menghapus nomor Rion agar ia dapat memulai sebuah cerita baru tanpa Rion. Lelaki itu hanya singgah sebagai tetangganya. Sebagai orang yang hanya menjahili Neyza. Hanya seorang teman. Itu saja. Tak ada yang lebih. Apa lagi yang akan Neyza harapkan dari seorang Rion? Tidak ada. Rion bukanlah siapa-siapa lagi untuknya. Neyza mengangkat wajahnya. Ia menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Mencuci wajahnya dengan air dingin. Ia merasa yakin bahwa ia bisa melalui ini semua.


Pagi hari saat matahari sudah mulai bersinar terang di kamar Neyza. Sebuah pesan dari Weni. "Kamu gpp, Ney?" tanya Weni. Neyza membalas pesan Weni dengan emotikon senyum. Singkat. Walau Weni tahu itu adalah sebuah tanda tidak baik-baik saja, Tapi Weni akan memberi waktu untuk Neyza agar ia merasa tenang.


Neyza turun ke ruang makan untuk sarapan pagi dengan Mama.


Mama: "Anak Mama kok cemberut gitu?"


Neyza: "Nggak kok, Ma. Lagi belum penuh ini."

__ADS_1


Mama: "Ney, gimana kalo Neyza pindah ke Bali aja?"


Neyza: "Maksud Mama?"


Mama: "Mama hanya khawatir kamu ada apa-apa di sini. Rumah kita di Bali kan banyak orang dan lingkungannya aman. Sementara Ney di sana dulu."


Neyza: "Aku mau, Ma. Besok aku berangkat, ya?"


Mama terkejut dengan jawaban Neyza. Biasanya ia paling enggan untuk pergi ke Bali. Ia lebih senang berada di Jakarta dengan teman-temannya. Ia bisa saja mengajak Weni atau yang lain liburan ke Bali atau tempat manapun yang ia mau. Tapi Bali memang bukan jadi pilihan Neyza. Namun beda dengan pendapatnya kali ini. Ia merasa sangat senang dan menyambut dengan suka cita.


Kabar ini lalu disampaikan kepada Weni. Sahabatnya tak kalah terkejut dengan keputusan Neyza. Segera setelah itu Weni menuju ke rumah Neyza. Sahabat yang paling ia sayang itu kini sedang mempersiapkan pakaian untuk dibawa pergi sore ini.


Weni: "Ney, kasih tahu aku. Kamu kenapa?"


Neyza: "Aku gpp, Weni."


Weni: "No. Aku tahu kamu gak suka ada di Bali. Jawab aku. Kamu kenapa, sih?"


Neyza: "Yakin, deh. Aku baik-baik aja."


Weni: "Kenapa kamu nutupin sesuatu sih, Ney?"


Neyza: "Beneran aku gak kenapa."


Weni: "Rion?"


Neyza diam. Ia masih melanjutkan untuk merapaikan pakaiannya. Ia tak menjawab pertanyaan Weni.


Weni: "You're not ok, baby," Weni memeluk sahabatnya. Rupanya keputusan itu membuatnya patah hati. Neyza rupanya tidak sanggup memulihkan hatinya yang terluka karena Rion.


__ADS_1


__ADS_2