
Rion yang hendak menoleh ke rumah Neyza karena sinyal yang diberikan Neyza mendadak berteriak. Neyza yang tak kalah terkejut juga berlari. Keduanya berlari menuju jalan sawah yang berada tak jauh dari kawasan kontrakan.
Dengan berpegangan tangan, keduanya berlari tanpa sadar bahwa bahaya mengancam nyawa mereka.
Seekor biawak besar yang berada di depan rumah Neyza mendadak berlari ke arah Rion yang mencoba mendekat ke rumah Neyza. Neyza yang ketakutan pun ikut berkari menghindari hewan tersebut.
Keduanya berlari hingga hampir terjatuh di sebuah petak sawah. Beruntung, ada dua orang petani yang membawa cangkul dan berhasil menangkap biawak besar tersebut.
Napas Neyza dan Rion terengah-engah seakan-akan hampir habis. Pagi ini, biawak memaksa mereka untuk berolahraga. Keduanya terduduk di tanah. Rion mengangkat tangan, melambai ke arah petani-petani tersebut. "Makasih, pak.", Ucapnya disambut anggukan dan senyuman petani.
Rion : "Hhhh....hhh...hhh... Lu, hhh... Lu gpp, nek?"
Neyza masih kecapaian. Ia sendiri sedang mengatur napasnya dengan baik karena ia hampir pingsan.
Rion : "Nek... Oi, ditanya. Nek."
Neyza menunduk dengan keringat bercucuran. Keringatnya turun bersamaan dengan air matanya.
Rion : "Eh, nek. Jangan nangis. Eh... Jangan nangis di sini. Lebih ngeri dari dikejar biawak tari. Udahan."
Neyza menangis sambil memeluk lututnya.
Rion yang sedang menenangkan dirinya melihat Neyza menangis menjadi ikut panik.
Rion : "Udah. Udah dibawa tuh biawaknya. Gak usah khawatir lagi. Udah gak ada."
Rion menepuk punggung Neyza.
Neyza : "Aku pikir itu buaya. Gak pernah lihat hewan sebegitu besarnya.", Suaranya terisak.
Rion : "Pantes aja lu pegang tangan gue pas lari. Takut, tho?"
Neyza terhenyak dengan kalimat Rion.
Neyza : "Sapa yang megang? Kamu tuh yang megang-megang."
Rion : "Lha lu takut gemetaran gitu tadi di depan rumah."
Neyza : "Yang ngajakin lari sapa?"
Rion : "Lha lu yang lari duluan. Ya gue lari lah."
Neyza : "Kamu juga takut, kan?"
Rion : "Gue cuma kaget."
Neyza : "Halah, takutan juga ternyata. Gak laki. Maku kaca aja gak bisa."
Neyza membersihkan celananya yang kotor dan meninggalkan Rion yang tengah terduduk. Omelannya yang tiada henti membuat Rion juga menimpali perkataan Neyza. Mereka kembali pulang ke rumah masing-masing.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu rumah Rion dua jam setelah kejadian tersebut.
__ADS_1
Rion membuka pintu dan mendapati beberapa tetangga di kawasan kontrakan sedang berada di depan rumahnya.
Rion : "Eh, bapak-bapak, ibu-ibu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Iya, mas Rion. Tadi saya dengar dari pak Nur, petani yang garap sawah sebelah tentang biawak tadi. Mas Rion sama Mbak Neyza gpp?", Suami Mbak Rima bertanya terlebih dahulu.
Rion : "Gpp, pak Adam. Semua baik. "
Pak Adam : "Iya ini. Mumpung kita pada ngumpul. Kita mau ngobrolin tentang keamanan tempat tinggal kita."
Rion : "Oh, iya. Mari silahkan masuk. Biar lebih enak ngomongnya."
Para tetangga masuk ke dalam rumah Rion. Tak lama berselang, Bu Rima datang bersama Neyza ikut duduk di ruang tamu Rion.
Pak Adam : "Jadi gini, sudah lama sebenarnya kalo kita ingin kawasan kita jadi lebih aman dari gangguan pencuri dan hewan liar. Kejadian pagi ini yang menimpa mas Rion san mbak Neyza rasanya sudah saatnya kita lebih memerhatikan ekstra."
Rion : "Iya betul. Apalagi ada anak kecil yang sering main di luar."
Bu Dewi : "Walahpun jumlah kita tidak banyak. Semoga solid, ya?"
Semua mengangguk.
Pak Adam : "Rapat dua bulan lalu. Saat kita semua berkumpul. Inginnya membuat pagar di ujung kawasan. Berarti di sebelah rumah mas Rion ini. Kita butuh agar sewaktu-waktu orang-orang asing tidak mudah keluar masuk. Setiap rumah punya kunci cadangan. Sehingga seperti kurir makanan pun bisa dilakukan di luar pagar. Bagaimana? Mungkin ada masukan."
Semua mengangguk.
Bu Rima : "Anak-anak juga tidak khawatir ada orang asing ketika bermain. Mereka hanya di luar saja."
Semua mengangguk bersama.
Pak Adam : "Masalahnya. Biaya pagar itu juga mahal. Kemarin saya survey di toko bangunan. Untuk ukuran selebar jalan ini bisa sampai 5-6 juta."
"Waaa...", Sontak semua orang bereaksi tentang jumlah biasa tersebut.
Bu Dewi : "Mahalnya."
Bu Rima : "Apa kita perlu kas?"
Pak Adam : "Kalo ada uang kas kesannya ada kewajiban. Mungkin iuran sukarela untuk ini. Bila tidak memberatkan. Mungkin kita masih butuh waktu untuk mengumpulkan uang yang cukup."
Bu Rima : "Beda lagi kalo kita cari donatur untuk bayar penuh untuk biaya pagar."
"Saya yang bayar.", Neyza dan Rion berucap bersama.
Neyza : "Saya bayar semuanya. Tidak usah ada iuran suka rela." Neyza melotot ke arah Rion.
Rion : "Gak usah, nek. Saya saja bapak-bapak ibu-ibu. Saya yang bayar semuanya."
Para tetangga kebingungan dengan tingkah mereka.
Rion : "gue."
Neyza : "aku."
__ADS_1
Rion : "gue"
Neyza : "aku."
Pak Adam : "Sudah sudah. Gini aja. Mbak Neyza dan Mas Rion ini kan masih kuliah. Kami takut itu membebani."
Rion, Neyza : "Ndak, pak."
Rion : "Eh, begini, pak. Saya kebetulan ada uang lebih karena menang lomba di kampus. Jadi biar saya yang bayar biaya pagarnya." Alasan Rion.
Neyza : " Saya barusan juga dapat undian hadiah pak. Jadi bisa buat tambahan." Neyza juga membuat alasan yang logis.
Manji : "Pacaran, ya?.", ucapnya secara tiba-tiba.
"Gaaak.", Ucap Neyza dan Rion.
Semua orang tertawa melihat tingkah Rion dan Neyza.
Bu Rima : "Aamiin dah."
Pak Adam : "Ya sudah kalau memaksa. Agar lebih adil. Lebih baik biaya pembuatan pagar ditanggung berdua oleh mbak Neyza dan Mas Rion. Jadi biar sama-sama bisa bermanfaat.
Rion dan Neyza diam. Mereka juga merasa malu karena terlanjur bertengkar di depan para tetangga. Keduanya mengangguk. Pagi itu, Pak Adam dan Rion pergi ke toko bangunan untuk melihat beberapa contoh pagar. Hari itu juga, pagar untuk kawasan kontrakan telah dipasang.
Malam harinya, seperti biasanya, beberapa pedagang makanan masuk ke kawasan kontrakan. Neyza memanggil penjual nasi goreng dan memesan makanan.
Setelah pesanan selesai, ia pergi ke rumah Rion. Ia mengetuk pintu rumah Rion. Rion yang tahu keberadaan Neyza pura-pura tidak mendengar. Malah asyik memainkan ponselnya.
"Heh, Rion. Denger apa gak sih?", Ucap Neyza.
Rion benar-benar ingin mengerjai Neyza. Ia semakin tersenyum lebar ketika Neyza berteriak memanggilnya. Neyza yang geram akhirnya membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci oleh Rion.
"Heh, budek atau gimana sih?", Neyza marah kepada Rion.
Rion menoleh ke arah Neyza. "Eh, nenek. Gimana? Kapan kesini?", Rion terkekeh.
Neyza memberikan sebungkus nasi goreng yang barusan ia beli. "Nih. Makan.", Neyza semakin sebal.
Rion : "Lho, kok gak ikhlas gitu, nek? Keselek lho entar."
Neyza : "Iya ini buat kamu makan."
Rion : "Nyogok nih?", Balas Rion.
Neyza : "Ish. Apaan, sih? Makasih tadi."
Rion : "Yang mana ya?"
Neyza : "Capek aku, ya. Usil kamu kebangetan."
Rion tiba-tiba berdiri mendekati Neyza, mendorongnya ke dinding dengan tangan di samping kepala Neyza. Matanya menatap Neyza dan Neyza mau tak mau menatap mata Rion.
Deg
__ADS_1