Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
109 Sebuah jawaban


__ADS_3

Maliq berdiri tak jauh dari Rui. Perempuan itu nampak mencari sesuatu dari pandangannya. Mencoba mengalahkan rasa gugupnya. Harusnya berada di sebelah Maliq bukanlah hal yang berat. Namun nampaknya pikiran dan hatinya masih kalut. Bertahun-tahun untuk bisa mencari pengobat dalam hatinya. Ia malah dihadapkan dengan situasi yang kembali memunculkan sisi kacau di dalam hatinya.


"Lama gak ketemu," kata Maliq. Rui mengangguk. Maliq masih melihat Rui sesekali. Ia paham bahwa jeda panjang dalam pertemanannya bersama Rui menjadikan situasi kali ini menjadi canggung. "Kalo aku terima tawaran Dokter Manji dulu kayaknya aku bisa satu rumah sakit ya sama kamu," Rui hanya mengangguk. Ia lalu bertanya perihal mengapa ia tidak menerima tawaran Dokter Manji. Pria itu menjelaskan bahwa tempat kerjanya saat ini merupakan tempat yang banyak ditempati Dokter baru. Sehingga ia lebih banyak mengawasi dan membersamai rekan-rekan sejawatnya itu.


Pernah terpikir bahwa Rui akan bekerja di tempat itu. Namun ia lebih memilih rumah sakit yang ia tempati saat ini karena tidak seberapa jauh dengan rumahnha. Ia lebih mudah pergi ke tempat kerjanya untuk menangani pasien baik darurat atau tidak.


"Maaf lama gak hubungi kamu," kata Maliq. Rui memahami kalimat itu. Keduanya lantas terdiam. Lalita keluar untuk bergabung bersama mereka. "Ngobrolin apa?" goda Lalita kepada Rui dan Maliq. Keduanya hanya tersenyum. "Eh, dipanggil Mama di dalam. Yuk!" ajak Lalita. Rui bernapas lebih 'lega'.


Acara ramah tamah itu nampaknya menjadi kegiatan yang menarik oleh keluarga Neyza dan Rion. Satu persatu para tamu pulang. Kini giliran Maliq, Manji dan Bili pulang. Rui turut mengantar mereka di halaman rumah. Maliq nampak mendekati Rui. "Makasih, ya. Aku pamit dulu," disambut anggukan Rui.


Dokter Manji yang telah dulu berpamitan dengan Rion dan Neyza juga mendekati Rui. "Sampai ketemu besok di rumah sakit, Dok." Rui hanya mengangguk pada seniornya itu. Lalita memeluk Rui. Ia juga kembali pulang.


Neyza memandang Rui. Ia mengikuti gerak gerik putrinya. "Rui!" kata Neyza sambil melambaikan tangannya untuk mempersilahkan Rui duduk di dekatnya. Rui dengan tenang mengikutinya. "Daritadi Mama lihat Rui kayaknya gak menikmati acara," Rui menggeleng. "Oke. Gak banyak. Sedikit," Rui tersenyum tipis. Neyza paham betapa Rui adalah anak periang bila para tamu adalah orang-orang yang ia kenal. "Dokter Manji?" Rui tak terkejut. Ia menggeleng. Rui sadar bila Dokter Manji adalah orang yang baru saja ia kenal. "Maliq?" kali ini Rui tak mampu menyembunyikan kegalauan hatinya. Ia diam. Tak merespon. "Gak papa kalo gak cerita. Mama juga gak sengaja lihat kalian dj belakang tadi. Kamu jadi kayak kucing yang lagi malu. Gak kayak biasanya. Gestur tubuh kamu dan tatapan kamu sekilas," Rui memanyunkan bibirnya. "Ya, Mama. Gimana, ya? Hahaha. Rui juga bingung mau cerita awalnya dari mana," Rui berstiker untuk membuat jeda cerita Maliq. Namun lama-kelamaan ia membuka suara setelah bertahun-tahun lamanya ia memendam rasa terhadap kakak tingkatnya itu.

__ADS_1


Neyza tersenyum. Mengusap rambut anaknya yang cantik itu. Ia ingat betapa masa-masa saat ia patah hati karena Rion menikah dengan Hani. Butuh beberapa tahun untuk mengobati luka batinnya. Namun gayung takdir menyambutnya. Dan bukan sebuah kebetulan bahwa nyatanya ia kembali membuka hatinya. Neyza beruntung bahwa Tuhan mengijinkannya mencintai Rion kembali. Namun dengan situasi Rui. Ia tak dapat menggaransi hal apa yang terjadi setelah ini. Ia tak mungkin memaksa perasaan seseorang.


"Sayang. Mencintai adalah anugerah. Kita gak bisa memilih siapa yang kita cintai. Tapi hati yang memilihnya. Rui harus kuat apa pun yang terjadi. Biarlah andai Maliq bukan jodoh untuk Rui. Setidaknya Rui akan paham apa arti bertahan. Rui pasti dapat yang terbaik. Mama yakin," Rui memeluk Neyza. Setelah cerita yang tak tentu arah itu, hatinya terasa dingin karena nasihat sang Mama.


Beberapa hari kemudian. Setelah ia selesai dengan jadwal prakteknya, ia akan pulang untuk melepas penat seharian ini. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Hai, Rui. Masih menyimpan nomor teleponku? Maliq."


Rui hanya mengangkat alisnya. Ia pun segera membalas pesan Maliq.


Setelah itu, pesan Maliq hendak mengajak Rui bertemu dengannya saat jam kerja yang luang. Awalnya Rui enggan membalas bahwa ia setuju. Namun ia beranggapan bahwa ini ada kaitannya dengan Lalita. Dan bantuannya mungkin sangat ditunggu.


Keesokan harinya. Saat jam. menunjukkan pukul 12.00, saat jam makan siang. Rui tengah menunggu Maliq di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja. Ia duduk sambil memegang ponselnya. Jantungnya sedikit berdebar. Berharap tidak ada yang melebihi kapasitas denyut normal. Ia harus tetap waspada dengan perasaanya.

__ADS_1


Maliq datang dan duduk di depan Rui. Seorang pelayan datang dan memberikan dia buah buku menu untuk Maliq dan Rui. Tak berapa lama mereka memesan makanan kepada pelayan itu.


"Ada perlu apa, Kak? Aku jadi gak enak sama Kak Lalita," Rui membuka suara. Maliq baru saja menutup ponselnya. Ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Rui. "Lalita? Ada apa dengannya?" Rui semakin bingung. "Aku pikir kita makan siang sama Kak Lalita juga," Maliq tersenyum. "Gak. Aku gak ngajak Lalita," Rui tak tahu lagi. "Ya kan Kak Lalita nanti cemburu atau marah, gimana?" Maliq menatap Rui hingga ia merasa ada yang lucu. Maliq tertawa. Rui masih tetap dalam kebingungannya.


"Kamu ini, kenapa, sih? Lalita cemburu sama kamu? Kok bisa?" Rui menyilangkan kakinya. Tak nyaman. "Kan Kak Maliq sama Kak Lalita pacaran," Maliq semakin tak bisa menahan tawanya. Ia lalu tersenyum kepada Rui. Ia menatapnya dengan serius. Membuat Rui menjadi takut dan berdebar.


"Jadi selama ini kamu kira aku sama Lalita ada hubungan istimewa?" Rui mengangguk dengan yakin. Ia lalu membeberkan analisa nya saat masih di bangku kuliah. Maliq mendengarkan dengan seksama. Melihat bagaimana reaksi Rui saat menceritakan pendapatnya selama bertahun-tahun ini kepada dirinya dan Lalita.


"Jadi maksud Kakak aku salah?" Maliq dengan enteng menganggukkan kepalanya. "Aku sama Lalita cuma teman, Rui. Dari aku ketemu dia pertama kali sampai saat ini. Dia salah satu teman baikku," kata Maliq. Rui terkejut mendapati jawaban Maliq. Ia tak percaya begitu saja. "Kakak kan pernah mau jemput Kak Lalita waktu kita ada di taman, kan? Yang angkat telepon dulu," jelas Rui.


"Kamu lucu, Rui. Itu aku dapat telepon dari adikku, Dikta. Nha, Dikta ini yang dulu suka sama Lalita. Dan mereka emang dekat sampai sekarang. Malah kabarnya Dikta mau minta ijin ngelamar Lalita," Rui merasa malu bukan main. Selama ini berarti ia salah menduga. Terlalu cepat menyimpulkan sebuah keadaan.


"Jadi maksud Kakak?" kata Rui.

__ADS_1


"Aku yang suka sama kamu," Maliq memperjelas.


(bersambung)


__ADS_2