
Neyza sudah tiba di rumahnya. Pak Juli menyambutnya dengan gembira. Koper dan beberapa barang berukuran besar diletakkan di dalam kamar Neyza. Kamar yang sangat nyaman untuk sebuah tempat tinggal. Paling tidak untuk memulihkan hatinya yang sedang gundah.
Neyza segera membersihkan dirinya dan duduk di sofa putih di dalam kamarnya. Bi Ratih masuk dengan membawa buah dan air lemon dingin kesukaannya. "Makasih ya, Bi," ujarnya. Bi Ratih tak ingin berlama-lama. Belum saatnya Neyza direcoki banyak pertanyaan. Bi Ratih pamit.
Neyza melihat ponselnya. Sebuah pesan terkirim ke pesan Weni bahwa ia telah sampai dengan selamat. Balasan Weni pun sampai kepadanya. Neyza menaruh ponselnya dan bersandar pada sofa untuk melihat langsung pemandangan taman di jendela kamarnya yang sangat besar. Ia menutup kedua matanya. Banyak hal yang akan ia lakukan setelah sampai di Bali. Melakukan kegiatan seru yang mungkin bisa menyingkirkannya suasana hatinya karena berbagai masalah yang terjadi. Mulai dari keluarganya, pria-pria yang mengejar hatinya, dan tentu saja, pria yang menawan hatinya.
Kriiing.
Neyza mengambilnya tanpa melihat layar di ponselnya. Mungkin Mama atau Weni. "Halo," jawabnya setengah malas. "Lu kemana sih, nek? Malah kabur," Neyza terduduk tiba-tiba. Suara yang tak asing untuknya membuatnya kembali tersadar bahwa ini bukan sebuah mimpi. Pria yang ingin ia buang jauh-jauh mengapa hadir lagi? "Kok lu diem aja?" kata Rion. Neyza tak ingin menjawabnya. Ia sedang tak ingin diganggu. Apalagi Rion. Neyza menghela balas dalam-dalam. "Apa? Suaramu putus-putus," tombol merah untuk menolak panggilan ia tekan dengan sangat yakin. Alasan ini dapat membuatnya bisa menghindari Rion. Paling tidak. Untuk saat ini.
Pesan lain muncul di notifikasinya.
Rion: "Lu dimana? Lu kan sekarang sedang dalam pengawasan," ketik Rion dengan sedikit marah. Ia tahu bahwa Neyza baru saja mendapatkan sebuah ancaman besar. Pergi tidak membuatnya bisa lari dari bahaya besar. Rion tahu karena ia pun mengerti urusan Papa Neyza.
Neyza membaca pesan itu. Ia tak ingin membalas. Tapi bila tidak dijawab, sudah pasti Rion akan terus bertanya-tanya. Justru nantinya ia akan pusing sendiri.
Neyza: "Pergi cari wangsit. Gak usah khawatir. Makasih," pesan singkat itu seperti tanda bahwa ia tidak ingin diganggu oleh Rion.
Rion: "Ah, lu, nek. Cepet banget perginya. Kalo lu ada apa-apa, hubungi gue. Lu harus mau. Awas kalo gak."
__ADS_1
Neyza tak berniat untuk menjawabnya. Sudah cukup. Begitu pikirnya. Neyza hanya membacanya. Menaruh kembali ponselnya ke atas meja dan mulai memejamkan matanya sampai tertidur.
[Rumah Rion, setelah Bili memberitahu bahwa Neyza telah pergi]
Rion: "Lu tahu dari mana, sih?"
Bili: "Gue tidur di tempat lu tadi malam. Terus pagi tadi Weni sama satu orang pada ke tetangga-tetangga kasih parcel besar buat semua rumah. Gue gak sengaja keluar terus lihat dia. Gue tanya ada acara apa bagi-bagi parcel? Gue pikir Neyza mau kampanye jadi Bu Lurah. Ternyata itu hadiah karena dia mau pamit gak tinggal di situ lagi."
Rion: "Terus?"
Bili: "Kontrakannya kan masih ada satu tahunan. Jadi kata Pak Adam gak boleh ditempatin siapa-siapa sampai masa-nya habis. Barangkali Neyza balik. Terus Weni gue tanyain, Neyza kemana? Dia bilang kalo Neyza lagi di rumah sodaranya di Sulawesi."
Setelah mengantar Hani pulang, barulah ia mencoba menelepon Neyza.
Pagi ini, masih pukul 06.38 Neyza sudah bangun dan duduk di ruang tengah rumahnya. Secangkir kopi dan semangkok potongan buah menemani paginya. Bi Ratih dan beberapa asisten rumah tangga lainnya masih sibuk menata rumah, menyiapkan sarapan dan membersihkan taman.
Neyza membaca koran pagi ini. Melihat apakah kasus Papanya kembali muncul di koran seperti beberapa minggu yang lalu?
Headline News : "Pengusaha Muda, Ogi Nalendra. Antara bisnis, sosial dan mencari cinta."
__ADS_1
Neyza menaikkan kedua alisnya. Ogi teman kecilnya itu nampaknya sudah menjadi orang berperngaruh. Itulah mengapa Neyza langsung merasa nyaman karena ada kenangan masa kecil yang belum hilang dari dalam pikirannya. Ogi yang ia kenal ketika dewasa saat ini juga bukan orang yang nampaknya punya sesuatu yang berlebihan. Interaksinya pun sangat sederhana. Bila Ogi tiba-tiba datang ke rumahnya, bukan berarti ia mengejar hati Neyza. Ya, mungkin saja. Tapi Neyza merasa Ogi bukan orang baru di kehidupannya. Begitu kira-kira.
Ia melipat koran pagi dan menikmati sarapan dengan hati yang tenang. "Non," sapa Bu Ratih. Neyza menoleh. "Iya, Bi?" jawabnya singkat. "Ada yang dipikirin?" tanyanya. "Hmm, gak ada, Bi. Kenapa?" Neyza mengelak. "Bibi lihat semenjak datang dari bandara, Non mukanya murung. Saya pikir ada masalah atau apa. Tapi Non Neyza gak perlu khawatir. Kalo butuh apa-apa. Kami siap membantu," tawar Bi Ratih. Neyza tersenyum. "Do'ain semua baik-baik saja ya, Bi," Bi Ratih mengangguk dan tersenyum lalu menepuk pundak Neyza.
Ia pun pergi ke meja makan untuk memakan sarapan yang sudah dihidangkan Bi Ratih.
"Bi, nanti aku mau pergi. Tolong siapin bekal ya. Aku mau ke pantai," Bi Ratih hanya mengangguk sambil tersenyum.
Siang itu, Neyza memang hendak berjalan-jalan dan bersantai di pantai. Sudah lama semenjak kejadian itu ia hanya mampir sebentar di bibir pantai dan bermain air. Sekarang ketika tak ada yang bersamanya, ia bisa bebas bermain di pantai seperti saat ia masih kecil. Bermain air, membawa bekal makanan, dan duduk melamun sepanjang hari.
Bekal makanan yang banyak sudah ia bawa. Mobil sudah terparkir dengan aman. Pantai juga tak terlihat ramai. Hanya 3-4 orang saja yang lalu lalang. Kini ia bisa bersantai dengan tenang. Alam betul-betul menenangkan dan menyembuhkan.
[Rumah Hani]
Setelah menelepon Rion, Hani segera mengecek sebagian besar tamu undangan. Hari pernikahan sudah sangat dekat. Ia akan menjadi istri sah Rion. Orang yang selama ini memang menjadi tambatan hatinya. Saking senangnya ia berbalik untuk mengambil ponsel di dalam tas sehingga tas-nya terjatuh. "Aah," ia mengambil barang-barang yang hilang. Dompet, headset, ponsel, sebuah lipstik dan...
testpack bergaris dua.
__ADS_1