
Rui hendak membalas pesan itu, namun lampu hijau segera menyala. Ia segera kembali berjalan. Ia lalu tiba di rumah. Ia terlupa untuk membalas pesan yang masuk tadi. Rui makan malam bersama Neyza dan Rion. Sangat menyenangkan berkumpul bersama keluarga.
"Rui!" kata Rion tiba-tiba. Rui memandang Papanya dengan lembut. Memberikan sinyal bahwa ia menunggu pertanyaan selanjutnya. "Usia kamu sudah bisa lho buat menikah," Rion tersenyum. Neyza terbatuk mendengar perkataan Rion. Bahkan Rui hanya diam seperti patung. Mengapa tiba-tiba Rion memunculkan tema pernikahan di tengah makan malam ini?
Rui hanya mengangkat kedua bahunya. Tanda bahwa ia pun tidak tahu menjawab apa. Kebingungan mencari pasangan saja ia sudah pusing dibuatnya apalagi menuju ke pelaminan. Rasa-rasanya masih jauh dari harapan. "Kalo nikah Rui masih belum kepikiran sih, Pa. Tapi kayaknya seru, ya," jawab Rui. Neyza memandang anaknya dengan tajam. "Sayang. Menikah bukan permainan yang seru aja. Rasanya mix buat pasangan yang baru memulai. Ada yang naik turun. Dan semuanya harus bisa bertahan. Rui harus mencari orang yang bertanggung jawab penuh. Finansial hanyalah nomor sekian. Yang paling penting adalah bagaimana dia menghormatimu terhadap kekurangan dan kelebihan. Cara ia berbicara dan pandangannya terhadap tingkah lakumu," Neyza memperkuat argumennya.
Rui tentu saja melihat Rion dan Neyza sebagai panutan dalam pernikahan. Ia hampir tidak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar. Atau mungkin ia tidak menyadari bahwa terkadang mereka mempunyai cara tersendiri untuk menyimpan rapat tentang hubungan mereka yang sedang renggang. "Mama Papa pernah bertengkar?" Rion mengangguk. "Sering, dong," kata Neyza. Rui kembali memutar memorinya mencari bagian pertengkaran rumah tangga yang terjadi. Namun tidak ia dapati.
"Sayang. Tidak semua pertengkaran kita hadirkan dan kita sajikan untuk orang lain. Apalagi untuk sekedar bercerita pada orang lain. Terkadang hati mudah bergeser. Ingin dibenarkan dengan menjelekkan pasangan lain. Dan menjadi orang yang berbesar hati mengatakan bahwa ia ada andil salah adalah orang yang besar hati," kata Neyza. Rion mengangguk.
Rion menambahkan. Bahwa untuk menjadi belahan jiwa satu sama lain butuh proses yang tidak mudah. Mereka harus menjalani naik turunnya kehidupan dan ujian yang melatih kesabaran dan kecintaan mereka agar tetap bersama. Saling menggenggam dalam kondisi apa pun. Rui serasa berada pada sebuah kelas pra nikah. Namun ia sangat menikmati karena nasihat ini ia perlukan sampai saatnya nanti.
"Mama Papa. Apa yang membuat pernikahan bertahan sampai sejauh ini?" kata Rui. Rion melihat Neyza. Mereka saling melempar senyum. "Karena ingin bersama selamanya," kata Rion singkat. Neyza masih berpikir untuk menggenapinya. "Karena selalu ada yang diperjuangkan untuk tetap bertahan. Dan karena cinta itu benar-benar buta ketika kami mengenal cinta. Dan cemburu adalah salah satu wadahnya," tegas Neyza.
__ADS_1
Rui tersenyum. "Rui. Gak tahu menikah di waktu kapan. Tapi cerita ini bakal selalu Rui ingat. Makasih, Ma Pa," Rui menjawab. "Kalo kamu sedang dekat dengan seorang pria. Dan pria itu hendak meminang kamu. Segera nemuin Papa Mama. Kami gak mau Rui terlalu lama berkenalan dengan pria mana pun. Gak ada lagi yang harus dicari. Karena Rui sudah bekerja. Jadi lebih baik menapaki chapter lebih besar dan lebih indah. Pernikahan" Rion berpesan.
Rui mengangguk. Ia paham. Sebuah kekhawatiran datang dari sang Papa. Ia tidak ingin Rui seperti Neyza karena patah hati yang terlalu lama. Rui masih mengingat Maliq. Laki-laki yang sebentar lagi menjadi kakak iparnya. Neyza memahami. Dan menunggu cerita bergulir selanjutnya. Ia berharap Rui segera memutuskan ketegasan dirinya untuk mengakhiri semuanya dan kembali menjalani hidup dengan baik dan menemukan seseorang yang baru.
Rui kembali ke kamarnya. Ia duduk di sofa di dekat jendela. Duduk diam. Memikirkan hal yang baru saja dibahas oleh kedua orang tuanya. Rui membuka ponselnya. Ia mendapati pesan yang belum ia buka. Nampaknya seseorang sedang mengharapkan balasannya.
"Ini siapa?" balas Rui kepada nomor yang tak dikenalnya itu. Lalu telepon masuk dari nomor yang sama. Rupanya Levi sedang menunggunya sedari tadi. Nomor itu adalah nomor saudara sepupunya. Ponselnya mati. Ia berharap tadi Rui bersamanya karena Maliq ada di meja sebelahnya di restoran itu. Begitu pesan beberapa menit selanjutnya.
Ada sedikit rasa penyesalan. Harusnya tidak boleh. Begitu batinnya ingin berteriak. Harusnya ada dinding tebal saat ini dari hatinya kepada Maliq. Ia tak ingin menganggu hubungan Lalita dan Maliq. Tidak saat ini. Ia betul-betul ingin keluar dari rasa yang mengekangnya.
Hari berjalan dengan cepat. Minggu pagi. Setalah sarapan pagi. Rui tengah menunggu Maliq yang akan menjemputnya ke rumah Lalita. Entah apa yang ada dan pikiran Maliq, begitu gumam Rui. Harusnya ia sendirian ke sana untuk bertanya kepada Hani dan Tito tentang putrinya.
Sebuah mobil berhenti di halaman rumah Neyza yang besar. Rui yang menunggu di ruang tamu segera keluar. Ia lalu masuk ke dalam mobil Maliq. Rui menata kembali hatinya. Berjaga-jaga hal yang besar terjadi hati ini. Dan harapan untuk membantu Manji siang ini menjadi salah satu fokusnya untuk mengalihkan segala perasaannya terhadap Maliq. Rui nampaknya perlahan 'meninggalkan' Maliq.
__ADS_1
Mereka telah tiba di rumah Heri. Rumahnya nampak sepi. Walau hanya beberapa asisten rumah tangga yang membersihkan rumah itu. Rui dan Maliq masuk ke dalam. Lalita masih berada di ruang makan bersama Hani menata sweet corner. "Halo, Rui sayang. Masuk," kata Hani. Rui langsung memeluknya. Mereka nampak akrab seiring berjalannya waktu. "Papa Tito mana, Ma?" kata Rui. "Tadi sih katanya nemuin tamu dari kantornya Om Heri. Bisnis travelnya sekarang bertambah, sayang. Jadi kadang mendadak pergi," Rui tersenyum dan turut membantu. "Kak. Itu Kak Maliq nunggu di ruang tamu," Lalita tersenyum. "Kalian jadi bareng?" Rui mengangguk. Tapi aku cuma sebentar. Dokter Manji jemput aku di sini. Aku mau bantuin bakti sosial sana dia nanti," Lalita sedikit cemberut. Namun akhirnya ia mengangguk tanda setuju.
Tito dan Heri datang. Rui membaur bersama mereka. Semua berkumpul di ruang tamu bersama Maliq. Seseorang datang dan duduk di sebelahnya. "Om, Tante. Saya kemari sebenarnya punya tujuan khusus. Saya adalah teman Lalita dan selama bertahun-tahun kami berteman baik. Saya mulai memikirkan keseriusan saya terhadap Lalita dengan menanyakan hal ini sebelumnya kepadanya. Dan dia menangkap baik keseriusan saya. Saat ini, saya secara pribadi memohon maaf. Saya minta ijin, bila mungkin dan bisa menjadikan pertimbangan Om Tante. Saya ingin melamar Lalita," Rui membelalakkan matanya. Kenapa bukan Maliq yang berbicara?
"Ehem. Iya. Om juga baru diberi tahu Lalita tentang acara pagi ini bahwa Dikta akan hadir dan berbicara tentang niatan untuk meminang Lalita... " Tito berbicara panjang lebar sementara Rui masih memutar otak tentang bagaimana hal ini bisa terjadi.
Tito menerima lamaran Dikta. Dan mereka berencana untuk mengadakan pertunangan. Pernikahan tentu saja akan dibicarakan lebih lanjut. Pukul 10.00. Tiga puluh menit lagi Rui akan dijemput oleh Manji. Pesan Manji pun sudah ia baca agar bersiap-siap pergi.
Rui mengambil beberapa kue dan memakannya di meja makan selagi yang lain duduk di ruang keluarga. Maliq mendatangi Rui.
"Rui!" kata Maliq. "Aku pikir tadi yang mau ngelamar Kakak," kata Rui setengah terbata.
(bersambung)
__ADS_1