
Neyza sedikit melebarkan matanya. Kata-kata Rion membuat
jantungnya seperti berlari. Kenapa baru saat ia akan bersama orang lain, Rion
datang menyatakan diri bahwa ia patah hati. Neyza menggepalkan tangannya.
Keringatnya sedikit keluar. Menghela napas dalam-dalam.
Neyza: “Rion.”
Rion menoleh ke arah Neyza.
Neyza: “Jangan macam-macam ya kalo ngomong.”
Rion: “Lho, kok gitu, sih, Nek?”
Neyza: “Jangan bikin pengakuan palsu.”
Rion: “Ya gak, lah. Ngapain bohong?”
Neyza: “Kalo patah hati gak usah diomongin juga, kali.”
Rion terkekeh. “Emangnya gak boleh gue patah hati?”
Neyza: “Bukan urusan aku, ya, Rion.”
Rion: “Lu juga gak perlu jawab juga kali. Dengerin aja.”
Neyza: “Tau ah. Aku mau makan.”
Weni datang dengan dua mangkok makanan.
Neyza: “Eh, beliin aku juga? Makasih, Wen.”
Weni: “No no. Ini semua punya aku, Ney.”
Neyza memanyunkan bibirnya. Rion berdiri untuk segera
memesan makanan. Neyza pun ikut berdiri dan melihat berbagai macam makanan di
tempat itu. Sambil berjalan di belakang Rion, Neyza berpikir. “Kalo memang
benar dia suka sama aku. Kenapa gak kemarin-kemarin deketin aku? Maksudnya apa
dia ngomong kayak gitu? Apa sekedar usil aja?”
Rion berhenti untuk melihat menu di salah satu tempat. Neyza
yang masih berpikir hampir-hampir saja menabrak keras badan Rion.
“Uh!” Rion menoleh ke belakang. “Lu ngapain nabrak gue,
sih?” Tanya Rion. “Sori sori, gak sengaja. Tadi hindari kotoran,” jawab Neyza
berbohong. “Lu mau pesan di sini juga, gak?” Neyza mencoba melihat menu. “Ah,
sini juga ok.” Rion dan Neyza segera memilih makanan. Rion mengeluarkan kartu
debitnya untuk membayar. Neyza memegang tangannya. “Kan aku yang mau bayar,”
tahannya.
Rion: “Dih, gue berubah pikiran. Kayak gue gak ada duit
aja. Lagian uang lu udah keluar banyak buat nikahan minggu besok. Anggap aja
hadiah nikahan lu. Jadi gue ke sana gak usah bawa amplop. Capek masukin. Nanti
__ADS_1
banyak yang suka.”
Neyza: “Hih. Sapa yang mau sama kamu.” Rion tersenyum
sinis.
Rion: “Lu kali suka sama gue.” Neyza dengan cepat menarik
rambut Rion.
Neyza: “Kebiasaan usil kamu gak hilang.” Rion meringis
kesakitan lalu tertawa.
Rion: “Udah, duduk sama Weni sana.”
Neyza: “Gak usah, aku nunggu makanan aja.”
Rion: “Daripada gue panggil maling hati kenceng di sini.”
Neyza tak mendengarkan Rion namun dengan sigap ia
berjalan dan kembali ke meja tempat Weni makan.
Satu jam berlalu saat ketiganya menghabiskan makanannya.
Weni: “Kita balik dulu, Rion.”
Rion: “Ok. Makasih udah undang makan malam.”
Neyza: “Kamu, nih. Diundang makan malam malah yang bayar.
Gak niat jadi tamu kamu.”
Rion: “Nek, besok kalo udah nikah jangan galak-galak sama
Neyza: “Sini sebelum suamiku, kamu dulu yang nyobain.”
Rion menutup matanya dan berlalu meninggalkan Neyza dan
Weni. Kedua sahabat itu berjalan menuju parkiran untuk kembali pulang. Neyza melajukan
mobilnya untuk segera sampai di rumahnya. Weni menginap di rumah Neyza selama
seminggu untuk membantu Neyza mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan.
Neyza: “Wen, aku tadi ke web baju pengantin. Ada yang aku
suka, sih dari yang kemarin. Biar dibikin simpel aja. Besok anterin aku ke
butik designer yang kemarin itu, ya?”
Weni: “Gitu? Yang kemarin gak kalah bagus, lho.”
Neyza: “Gak, deh. Yang lain aja.”
Keesokan harinya.
Neyza dan Weni berada di butik designer yang menangani
baju pengantinnya. Setelah urusan itu selesai, mereka segera pulang ke rumah.
Weni: “Ney, undangan kamu mana? Lihat, dong.”
Neyza: “Mungkin di bawah. Mama naruh di meja kerja Papa mungkin.”
Weni: “Kamu belum lihat?”
__ADS_1
Neyza: “Gak. Sama aja udah. Pokoknya cepet nikahan aja.”
Weni: “Oo, pingin cepetan nikah, tho?”
Neyza: “Maksud aku tuh. Biar gak ribet urusin ini itu.”
Weni: “Tugas kamu kan cuma fitting baju doang, Ney?”
Neyza: “Iya juga, ya?”
Weni: “Terus hadiah yang gede-gede kita beli tadi
langsung dikirim ke rumah kontrakan?”
Neyza: “Ah ini aku mau bikin surprise sebenarnya buat
tetangga di sana. Jadi barang bakal dikirim waktu mereka pergi ke resepsiku.
Waktu mereka pulang. Bisa deh lihat hadiah itu di depan rumah mereka.”
Weni: “Wah, jadinya mereka seneng banget, dong.”
Mama masuk ke dalam kamar Neyza. "Ney, semua sudah beres, ya. Kamu butuh apa kira-kira? Barangkali Mama bisa cariin."
Neyza berdiri dan memeluk Mama. "Ada, Ma. Mama udah makan belum?" Mama menggeleng. "Bantuin Neyza biar Mama sehat. Jangan lupa makan. Ney gak suka Mama telat makan terus sakit lambungnya."
Mama: "Iya habis ini Mama makan. Eh, Ney. Sudah lihat calon suami kamu, belum?"
Neyza: "Nanti aja, Ma. Gak seru. Biar kayak hadiah gitu besok waktu nikahan aja."
Mama mengeluarkan ponsel di dalam tasnya. Mama membuka galeri fotonya dan mencari sesuatu. Tentu saja foto calon suami Neyza. "Nih ada nih. Kemarin dikirim Tante Fani." Mama hendak menyodorkan ke arah Neyza. Ia juga sangat penasaran dengan lelaki yang mendampinginya saat mereka sudah menjadi suami istri. Neyza hendak mengambil ponsel Mama. Namun tiba-tiba ponsel Mama mati.
Mama: "Ya, Ney. Lowbat. Maaf, ya."
Neyza: "Kan Neyza uda bilang nanti aja lihatnya waktu nikah aja."
Mama tersenyum dan meninggalkan Neyza serta Weni yang kecewa karena tidak melihat gambar calon suami Neyza.
....
...
..
.
Hari yang ditunggu telah datang. Rumah Neyza bak istana megah. Dekorasi putih sangat indah dengan bunga asli nan cantik menghiasi tiap sudut, tiap ruangan, tiap meja, tiap kursi, dan tangga rumah.
Neyza memakai gaun pengantin dan baru saja selesai dengan make up natural yang membuat ia sangat cantik. Gaun putih itu membuatnya sangat berbeda. Mama melihat Neyza setelah selesai dan memeluk putrinya. "Ya, Ney. Kayaknya baru kemarin kamu ulang tahun pertama. Sekarang udah mau jadi istri orang. Jadi istri yang baik, ya, Nak?"
Neyza: "Mama. Jangan sekarang dong. Kalo udah gak pake make up aja. Ney mau nangis kalo Mama gini."
Mama mencubit lengan Neyza. Neyza memeluk Mama. "Makasih, Ma. Sudah nemenin Neyza. Sudah merawat Neyza."
Weni: "Sebentar lagi acara segera di mulai. Minta tolong kami akan steril kan kamar pengantin."
Neyza: "Aku di kamar apa ikut turun?"
Weni: "No.Kamu di sini sendirian sampe akad selesai."
Jantung Neyza berdebar. Ada yang menganggunya. "Siapa kah laki-laki itu?"
Neyza memejamkan mata. Agak-agaknya mundur di masa sekarang ini tidak mungkin. Konyol. Tapi dengan membuka lembaran baru ini, paling tidak. Ia mempunyai kesempatan mencintai seseorang. Melupakan Rion. Tentu.
Melupakannya.
__ADS_1
Apa Neyza bisa?