
Neyza dan Rion diam. Tak menggubris perkataan Hani. Beberapa menit kemudian, Hani menatap Rion.
Hani: "Kamu janji bisa jagain Lalita buat aku?"
Rion: "Gue gak bikin janji ini buat lu. Tapi ini janji gue untuk istri gue. Untuk niatan dia bantuin Lalita. Gue pingin ada etika untuk ijin lu di sini. Kalo lu keberatan, gue balikin Lalita sama Heri."
Hani: "Aku gak keberatan, Rion. Terima kasih. Walau berkali-kali disakiti, kamu masih mau bantuin aku dan Tito jagain Lalita. Neyza.. "
Mata Hani melihat Neyza. "Kamu baik. Rion pasti jagain kamu lebih baik." Neyza hanya tersenyum. "Terima kasih buat kalian." Rion mengeluarkan kertas. "Gue mau lu tanda tangani ini. Sebagai ijin untuk bisa rawat Lalita. Gue gak mau ada masalah apa-apa. Gue capek." Hani melihat kertas yang ditempelkan Rion untuk ia baca. "Kemarikan. Biar aku tanda tangani." Rion meminta ijin seorang sipir penjara untuk memberikan surat perjanjian itu kepada Hani. Setelah Hani menandatangani, Rion dan Neyza segera pergi untuk pulang.
(Dalam perjalanan pulang)
Neyza dan Rion hanya diam. Biasanya mereka saling berbicara. Apalagi semenjak Hani mengijinkan mereka bisa merawat Lalita.
Rion: "Kok diem?"
Neyza: "Ha? Aku diem? Daritadi aku ngomong, kok."
Rion: "Kamu bicara dalam hati, ya?"
Neyza: "Ah, iya itu kayaknya."
Rion: "Kepikiran apa?"
__ADS_1
Neyza: "Kepo banget sih kamu?"
Rion: "Ya istrinya. Suaminya masa gak boleh tahu."
Neyza: "Nggak ah. Rahasia."
Neyza memalingkan wajahnya. Tak menggubris tawa Rion yang sedari dari tadi membuatnya ingin cepat pulang dan bertemu Lalita. Tebakan Hani tentang malam pertama tadi rupanya membuat ia kalah telak. Hani sangat mudah menebak apa yang ada pada Rion. Pria yang menjadi suaminya ini ternyata sangat mencintai Hani. Masa lalu Rion sangat rumit untuk di selami. Memang tidak mudah melupakan cinta pertama. Tak mudah mempertahankan. Rion hanya korban cinta yang bertepuk sebelah. Rion berjuang sendiri dengan hatinya untuk mencintai Hani. Walau pada akhirnya ia sadar bahwa Hani menghancurkan segalanya. Cinta Rion runtuh begitu saja.
Rion hanya tersenyum mengingat pertanyaan Hani tentang malam pertama mereka yang belum pernah terjadi. Rion membayangkan Neyza benar-benar menjadi miliknya. Pikirannya ke mana-mana.
Neyza: "Heh. Fokus nyetir. Jangan senyum-senyum gak jelas."
Rion terkejut mendengar Neyza. "Ha? Iya. Gak senyum-senyum, kok."
Neyza berjalan mencari Lalita di rumah. Rion pergi ke kamar untuk berganti baju. Neyza menggendong Laluta yang sedang tertidur di kamar bawah. Menaruhnya di kasur bayi yang hangat. Rion keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk. Neyza hampir saja melemparkan sebuah bantal sofa. Ia hanya memalingkan mukanya ke luar jendela.
Neyza melihat wajah Lalita yang terlelap. Teduh. Anak cantik yang hanya tak beruntung bersama kedua orang tuanya untuk sementara waktu. Ia hanya kasihan dengan anak kecil ini. Lalita adalah korban kejahatan orang tuanya. Ia tak berhak menerima ini semuanya. Lalita tak tahu apa-apa. Ia hanya berpikir apa yang membuatnya merasa bahagia. "Ta. Mama Neyza janji nemanin Lalita sampai Lalita punya kehidupan yang lebih baik." Neyza berbalik badan untuk menyiapkan makan siang untuk Rion. Tak sadar bahwa Rion sedari tadi berada di belakangnya. Neyza terjatuh bersama Rion. "Aduh!" kata Neyza. Rion juga terkejut walau pada akhirnya ia tersenyum. Neyza bangkit dan menutup muka Rion dengan tangannya. "Dasar usil," kata Neyza. "Gak papa. Daripada usil sama istri orang lain. Mau?" Neyza berjalan ke pintu kamar. Lalu berbalik ke arah Rion. Menurunkan alis matanya dan keluar menuju dapur.
Rion: "Maksudnya apa, sih? Gue gak paham bahasa perempuan. 'Kamu milikku'? 'Awas kamu macem-macem'? Apaan? Makanya ayo kita usahain adeknya Lalita. Hihihi."
...
...
__ADS_1
Makan siang susah siap di atas meja. Neyza dan Rion segera memakan makanan yang dimasak para asisten rumah tangga. Neyza memberikan semangkuk irisan daging tumis kepada Rion. Sedangkan Rion memberikan semangkuk tempura goreng kepada Neyza
Neyza: "Rion. Sore ini aku mau ke dokter anak buat imunisasi Lalita."
Rion: "Mau aku antar?".
Neyza: " Gak gak. Gak perlu."
Rion: "Jangan deh. Biar aku anterin aja. Daripada ribet kamu sendirian. Kita ke klinik Ibu dan Anak punya keluargaku aja."
Neyza: "Nah, gitu peka."
Rion melirik Neyza dengan tatapan bingung. "Salah gue gimana, sih? Sampe bini jutek gitu? Ha? Readers. Ada yang tahu?" Rion berlalu dengan pertanyaan besar.
Sore itu, di sebuah rumah sakit Ibu dan Anak. Rion dan Neyza tengah menunggu di ruang bermain anak untuk memeriksakan Lalita. Dengan sigap setelah tahu buku data kesehatan Lalita diberikan oleh Heri, Neyza langsung menghubungi pamannya yang juga seorang Dokter. 'Kuliah' singkat mengenai konsultasi anak kepada Dokter anak ia simak dengan teliti.
Neyza tengah mengajak Lalita bermain di ruang bermain anak. Pintu itu terbuka lebar sehingga terdengar orang lalu lalang. Beberapa perawat berjalan bersama dan berhenti di depan ruang bermain anak. "Itu kan keponakan Dokter yang pernah datang di klinik berapa tahun yang lalu. Rion kalo gak salah namanya. Aku ingat dia pernah ke meja kasir dan isi data seorang perempuan. Kalo baca data pasien, dia lagi hamil. Tapi bukan perempuan yang sekarang. Ini malah bawa anak kecil," seorang perawat lain membuat reaksi tak suka. "Anak orang kaya emang gitu, ya? Pergaulan sebebas-bebasnya. Gak tahu itu bisa bikin masa depan orang lain bisa hancur karena cinta semalam," Mereka tertawa. "Aku ogah deh,ya.Biar punya suami kaya raya tapi masa mudanya habis karena fota-foya gak jelas," ujar seorang lagi. Neyza mendengar semua itu dengan jelas. Rion sedang dalam radar pembicaraan orang-orang tersebut. Ah, apa benar Rion seperti yang mereka bicarakan? Atau hanya rumor dan kesalahan pahaman semata.Apakah yang diantar Rion dulu Hani? Atau, siapa perempuan yang dibicarakan itu? Neyza sedikit geram. Terhadap perawat atau pun Rion. Cerita apalagi yang tidak ia ketahui? Rion sungguh penuh dengan misteri. Neyza berdiri dan menggendong Lalita keluar dari ruang bermain. Berdiri di depan para perawat itu.
Para perawat terdiam ketika melihat Neyza. Mereka salah tingkah karena orang yang dibicarakan tengah berdiri di depan mereka. Neyza tak banyak bicara. "Ta, habis ini kita buka lowongan perawat yang banyak, ya." Neyza lalu pergi meninggalkan para perawat itu dengan perasaan takut dan cemas.
"Anak Lalita!" seorang perawat memanggil di depan ruang praktek Dokter Anak. Sepanjang pemeriksaan Neyza hanya diam dan bertanya tentang Dokter. Ia tak menghiraukan Rion. Tangisan Lalita yang disuntik pun ia handle sendiri tanpa bantuan Rion. Ada perasaan campur aduk di hatinya. Ia penasaran dengan cerita para perawat itu.
Ah, cemburu.
__ADS_1