
Polisi datang setelah Shena menghubungi mereka. Pesan gawat yang ia laporkan via telepon itu segera direspon oleh pihak Kepolisian untuk secepatnya bertindak.
Beberapa jam sebelum kejadian itu, Orang tua Shena menghubungi Orang tua Dirga perihal kelakuannya kepada Shena. Orang tua Dirga akhirnya memutuskan untuk segera menemui Shena dan kedua orang tuanya dengan membawa Dirga. Ia dalam keadaan bingung karena memang belum berhasil menemukan Shena. Setelah mereka sampai di rumah Shena, orang tua Shena mulai membicarakan apa yang terjadi pada Shena dan Shena merasa untuk segera memberitahu bagaimana Dirga melakukan sesuatu yang tidak layak untuk dia lakukan. Shena tak berbicara tentang Bili, Rion dan Neyza. Bisa jadi panjang ceritanya karena khawatir Dirga akan mencari mereka. Walaupun kenyataannya, ia sempat meneror Rion. Pertengkaran kecil terjadi antara Dirga dan Shena. Di satu sisi, Shena berusaha jujur kepada orang tua Shena. Namun Dirga menolak mentah-mentah apa yang dikatakan Shena. Ia mulai berbicara panjang lebar tanpa alasan yang jelas. Hingga pada akhirnya Dirga mulai tak bisa menahan amarahnya. Ayah Dirga berusaha untuk melerai, Dirga mendorongnya. Ibunya pun juga mulai menahan Dirga. Hal sama juga terjadi. Shena berusaha menghentikan Dirga. Karena tak tahan dengan Shena, Dirga pun melayangkan pukulannua ke muka Shena. Wajahnya sedikit lebam. Ayah Shena marah. Ia akhirnya menyerang Dirga secara reflek. Shena tak tinggal diam, ia pun menghubungi Bili. Ia berharap Bili segera datang dengan bantuan. Gayung bersambut. Setelah Bili datang bersama Rion dan Neyza, mereka pun berhasil menghentikan tindakan Dirga. Setelah Dirga dibawa oleh Polisi dengan keadaan setengah sadar, Shena beserta lainnya pergi ke kantor Polisi untuk memberikan keterangan. Selama dua jam lamanya mereka menjawab banyak pertanyaan.
Shena duduk setelah gilirannya selesai. Bili duduk di sebelahnya dengan membawa segelaa air mineral. "Minum dulu. Suara lu pasti parau karena banyak cerita," Shena mengambil botol itu. "Udah lama gue mau lepas itu cowok. Gue gak betah," kata Shena. Ia merasa bahwa tiap kali bertemu dengan Dirga selalu saja ada pertengkaran kecil. Shena harus mengalah. Bila tidak Dirga yang akan membuat keributan kecil di depan publik. "Berarti emang sakit dia. Bener aja gak usah diajak nikah sama dia. Cinta udah butain dia. Shena lu jadi dunianya yang harus ditata dan diatur sama Dirga," Shena meneguk air mineralnya. "Gue beneran terima kasih karena kalo gak ada lu sama yang lainnya, entah gue mungkin jadi sarden mentah ditangan Dirga," kata Shena. Bili tak menampik bahwa ia ingin sekali membantu Shena. Namun ia tahu pasti posisi dia hanyalah orang lain. Belas kasih Bili lah yang membuat ia harus segera menolong Shena kapan pun ia butuhkan.
__ADS_1
"Bili, gue... " kalimat Shena terhenti karena Bili baru saja dipanggil oleh Petugas Polisi untuk dimintai keterangan. Shena sangat ingin terbuka dengan Bili. Ia benar-benar menyematkan istilah pria terbaik pada Bili karena ketulusan nuansa terhadap Shena. Angan-angan Shena kembali muncul lagi. Berterus terang pada Bili bahwa ia ingin lebih jauh mengenal Bili nampaknya masih urung ia laksanakan. "Lha gue siapa tiba-tiba nanti bilang gitu di depan dia. Yang ada gue malu kalo dia nolak," Shena memaksa senyumannya.
"Kamu udah gak papa, Shen?" kata Neyza tiba-tiba duduk di sebelahnya. Ia mengangguk. Pembicaraan panjang dengan Neyza kali ini adalah yang pertama oleh Shena. Shena sempat melihat bagaimana ia menjatuhkan Dirga dengan sekali tendang dan beberapa pukulan. Sampai-sampai Shena bertanya dimana Neyza belajar bela diri. Neyza berusaha membesarkan hati Shena. Ia bisa menjamin bahwa Shena akan mendapatkan seseorang yang lebih pas untuknya. Shena mengamini perkataan Neyza.
"Saya sebenarnya ingin dekat sama Bili. Karena dia sangat tulus menolong saya. Tapi saya takut," Rion saling memandang bersama Neyza. Rion berusaha berpikir keras untuk menjawab pernyataan Shena. "Shena, kamu boleh dekat dengan siapa saja. Bili atau siapa pun itu. Kecuali orang yang sudah punya pasangan. Tapi perlu kamu ingat. Kamu wajib belajar dari kejadian ini. Teliti dulu perasaan kamu sama orang lain. Apakah itu suka atau sekedar kagum?" Shena memahami perkataan Rion. Ia baru sadar bahwa ia masih harus mencari banyak waktu untuk merenungi keputusannya menjadikan Bili sebagai tambatan hatinya yang baru pengganti Dirga.
__ADS_1
Neyza dan Rion segera pulang setelah urusan mereka selesai. Mereka sudah berada di rumah. Melihat anak-anak, makan bersama dan bermain bersama. "Sayang, kamu tahu, gak? Bili kayaknya harus ambil langkah seribu untuk menjauh dari Shena," Neyza sedang memakaikan baju Rui. "Kenapa?" Rion menjelaskan bahwa menurut pandangan Bili, Shena adalah tipikal orang yang mudah sekali jatuh cinta. Bili tak membayangkan bagaimana nanti Shena tiba-tiba tahu kekurangan pasangannya bila ia tidak terlebih dahulu mengenal siapa pria yang ingin ia dekati. "Membuat komitmen memang gak mudah," kata Neyza. Rion setuju dengannya. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Rion juga tak tega bila Bili menerima permintaan Shena. Walaupun hanya sekedar kenal. Namun target Shena memang sudah terlihat untuk menjadikan Bili calon pasangannya alih-alih mengajak untuk lebih mengenal.
"Mama, kenapa beberapa hari ini Mama dan Papa sibuk?" kata Rui. Neyza segera menggendongnya dan mencium anak perempuan itu. "Maaf, sayang, Rui dan Kakak Ta jadi main sendiri. Mama dan Papa punya banyak pekerjaan. Tapi Mama janji setelah ini selesai kita bermain di taman atau pantai, mungkin?" Neyza melirik Rion yang tengah asyik menyisir rambut Lalita. "Ha? Pantai? Wow. Papa juga suka itu. Setelah urusan Mama Papa selesai kita ke Pantai, yuk?" Rui dan Lalita nampak sangat berbahagia. Mereka melompat saking gembiranya.
(bersambung)
__ADS_1