
"Lu dengerin gue dulu.. "
Kata perempuan itu. Bili lalu mempersilahkan ia duduk. Perempuan itu cantik. Matanya sedikit besar. Bola matanya coklat, rambutnya panjang, walau terkesan masih acak-acak, tapi bila dirapikan tentu saja dia nampak bersinar. Ia pasti merawat dirinya dengan sangat baik. Bohong bila Bili tak memperhatikannya. Sekali saja ia menelan ludah karena setan berhasil menggoda mata Bili. Bibirnya tipis, Bili bisa membayangkan bagaimana perempuan ini tersenyum. Diam saja ia seperti magnet yang bisa membuat orang lain tersihir untuk tetap melihatnya. Menunggu tiap gerak dan gaya bicara. Mungkin meneduhkan, tapi bisa jadi menjadi candu dan hasrat memiliki akan semakin tinggi.
Tunggu, dia sudah punya tunangan. Dan berapa tidak beruntungnya gue kali ini terseret dalam arus masalah dia dan pria yang gak gue kenal sama sekali.
"Jadi, gue kemari karena satu jam yang lalu. Tunangan gue jemput gue di kantor saat jam pulang kerja. Gue ke mobil yang ia kendarai di parkiran bawah kantor gue. Kantor gue adalah gedung sebelah dengan lantai 11. Lu pasti tahu karena letak ruang kerja lu menghadap gedung kantor gue," katanya dengan sangat jelas. Bili memasang telinganya dengan energi yang maksimal agar ia bisa menempatkan diri ke arah mana ia akan dominan. Membantu perempuan yang dalam pengakuannya, ia sedang dalam bahaya besar, atau cerita itu ia samarkan karena bisa jadi antagonis itu adalah dirinya.
Gue mesti hati-hati. Perempuan dan laki-laki jelas punya dua sisi berbeda. Peran baik tidak selalu dalam cover yang cantik dan tampan. Dan sebaliknya, yang mempunyai peran antagonis bukanlah orang dengan visual yang gak menarik. Gue menarik tapi mulut gue gini amat.
__ADS_1
Perempuan tadi sedikit terbatuk. Ia memegang lehernya. "Lu punya air putih? Gue haus banget," mintanya. Bili dengan sigap memberikan air putih yang tak jauh dari meja kerjanya. "Waktu gue masuk mobil, gue ada pertengkaran dengan tunangan gue. Hingga akhirnya dia megang gue kayak gue mau diperkosa gitu. Dengan alasan orang lain gak bakal percaya sama gue, karena kita tunangan, maka bisa jadi orang-orang percaya bahwa kita ngelakuinnya atas dasar suka sama suka," Bili sudah menduga apa yang ia katakan.
"Terus kok lu bisa lari kesini?" tanya Bili heran. Tak mudah membicarakan hal ini kepada orang yang baru saja ia kenal. Perempuan itu nampak terburu untuk menentukan keputusan hendak kemana. Bahkan di benaknya pun tak ada kata berlari ke petugas keamanan padahal ia punya hak penuh terhadap keselamatannya. Ia menjelaskan kepada Bili bahwa pikirannya tertuju pada gedung tempat kerja Bili karena ia tahu Rion adalah pemilik gedung ini. Nama Rion memang sangat familiar di antara para karyawan di gedung-gedung yang berseberangan atau bersebelahan dengan kantornya. Ia dulu adalah pria dengan sejuta pesona. Cerita demi cerita sampai kepada banyak karyawan bahwa Rion adalah sebuah sosok idaman baru yang akan menjadi pria yang masuk dalam daftar incaran para perempuan. Bili paham. Terkadang otak kita bekerja dengan sangat cepat dan yang paling dekat itulah yang terkadang di luar sadar kita pernah memikirkannya.
"Kok lu tiba-tiba ada di lantai ini?" tanya Bili semakin heran. "Gue pernah kasih surat ke Pak Rion dengan bos divisi gue. Gue hapal betul lantai berapa dan jalan ke sini adalah hal yang mudah gue ingat. Gue gak pernah lihat, lu. Lu siapanya?" katanya. "Gue sekretaris pribadinya," perempuan itu diam. "Biasanya cewek. Tumben cowok. Burik lagi," Bili mendengar perkataan perempuan itu. "Makasih lho. Gue denger jelas. Dari tadi lu ngomong. Nama lu siapa? Gue Bili," perempuan itu tersenyum. "Gue Shena," Bili menangguk. Berdebar juga jantungnya dengan sekali senyum dari Shena.
Shena bercerita bahwa ia tak mungkin kembali ke rumahnya dalam beberapa hari ini. Tunangannya akan mencarinya ke rumah. Sedangkan orang tuanya sedang pergi ke luar kota. "Terus lu gak pergi ke rumah sahabat lu gitu?" Shena menggeleng. Ia kembali meneruskan ceritanya. Pria itu akan mencari ke semua teman dekatnya. Ia seperti tanpa ampun untuk membiarkan Shena lari seorang diri. Ia tak mau Shena melaporkan dirinya ke pihak berwajib. Namun Shena seperti tak punya pilihan lain.
"Gue bingung, Bil," Bili segera menenangkan Shena dan menelepon bos besarnya, Rion. Hal yang tak mudah untuk disampaikan Bili karena ini bukan termasuk jam kerja. Masalah yang masih prematur ini mau tak mau membuatnya berpikir lebih dalam. Rion menerima telepon dari Bili dan segera merespon apa yang telah disampaikan sahabatnya itu. Ia juga sama terkejutnya dengan Bili karena waktu yang semakin petang ini seharusnya menjadi waktu rehat yang lama. Setelah berdiskusi dengan Neyza, mereka berdua memutuskan untuk segera pergi kembali ke kantor Rion dan mengetahui apa yang terjadi.
__ADS_1
Kini, Neyza dan Rion duduk bersama Bili dan Shena. Keduanya masih bertanya-tanya di dalam hati perihal kehadiran Shena. "Maaf, betul ini Pak Rion?" Rion mengangguk. Bukankah pertanyaan Shena adalah perkataan yang jarang dilontarkan kepada orang yang baru saja bertemu? Shena ber mukadimah tentang bagaimana ia secara samar mengetahui Rion. Ia cukup populer. Paling setelah ia menikah dengan Neyza dan mempunyai anak. Bili menceritakan semua kejadian awal ketika Shena berada di ruangannya. Berdiri dengan terengah-engah seperti hendak meminta perlindungan.
Rion mengajak Neyza ke ruangannya. Berbicara tentang masalah Shena. Neyza memberitahu bahwa mungkin ia bisa ditempatkan di rumah kontrakan mereka dulu. Namun akhirnya urung ia sampaikan karena bisa jadi tunangan Shena mudah mencarinya. Berada di hotel sekali pun akan sangat sudah untuknya. "Bagaimana kalo beberapa hari di rumah kita?" tanya Rion. Neyza berpikir sejenak. Paling tidak, tunangan Shena itu akan kesulitan untuk datang ke rumahnya. Toh ia tak mungkin tiba-tiba akan menggerebek rumah Neyza. Ia pun menyetujui kata Rion.
"Shena, untuk sementara waktu kamu boleh tinggal di rumah kami. Namun bila sudah dirasa lebih tenang, kamu boleh pulang kembali," Shena tersenyum lebar. "Terima kasih. Ini sebuah keberuntungan besar buat saya, Pak. Maaf saya telah merepotkan. Saya akan pulang kalau situasinya saya rasa sudah kondusif," kata Shena. Mereka hendak pulang. Rion dan Neyza baru saja keluar dari ruangan Bili. "Lu gak ikut?" tanya Shena. Bili menggeleng. "Kerjaan gue banyak," muka Shena nampak tak suka. "Besok lu jenguk gue, ya? Gue sungkan mau adaptasi di rumah orang. Lu orang yang bikin gue nyaman dari pertama bertemu. Plis," pinta Shena.
Duh, ni cewek permintaannya bikin semua cowok gak mungkin nolak. Mana dia bilang nyaman lagi sama gue. Kalo lu belum punya tunangan mungkin gue ambil seribu langkah kali buat tahu lebih jauh. Tapi....
(bersambung)
__ADS_1