Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 29 Pamit


__ADS_3

Neyza memeluk Weni. Ia merasa malu untuk mengatakan bahwa memang ia terluka dengan kabar pernikahan Rion. Ia mulai menyukainya. Siapa yang sangka? Anak tangguh seperti Neyza tumbang juga karena luka di hatinya.


Weni menghapus air mata Neyza. Ia ikut membantu Neyza merapikan pakaiannya. "Kamu butuh aku ikut, Ney?" Neyza menggeleng. "Wen, kamu udah bantuin aku banyak hal. Dan sekarang yang lebih bikin aku sakit hati adalah jauh dari kamu," Weni dan Neyza saling berpelukan. Mereka menangis. Kedua sahabat yang sudah lama saling mengenal itu akan berpisah entah sampai berapa lama.


Weni: "Janji sama aku, kita tetap saling berhubungan. Jangan sedih lama-lama. Aku gak pingin kamu melihat dunia dengan cuaca mendung dan hujan. Janji sama aku ganti santan dengan krimmer sehat. Dan jangan lupa jogging setiap pagi 15 menit sehari."


Neyza menghapus air mata Weni seraya berjanji akan ucapan yang dikatakan Weni tadi.


Neyza: "Kamu juga janji, ya? Jangan lupa makan rendang pakai nasi. Jangan rendangnya aja. Yang lain gak kebagian."


Weni memukul Neyza sambil tertawa. "Kamu ini udah kayak Rion sama Bili," Weni cepat-cepat menutup mulutnya karena terlanjur menyinggung nama Rion. Neyza hanya tersenyum. "Mereka teman-temannya yang baik. Beruntung bisa ketemu sama mereka."


Dua buah koper siap untuk ikut terbang bersama Neyza ke pulau Bali. Weni membantu seorang asisten rumah tangga yang turut membawakan koper tersebut. Siang nanti ia harus pergi menuju bandara. Weni secara lahir batin juga siap mengantar Neyza. "Salam buat Rion dan Bili, ya? Sampai-in maaf karena gak sempat pamit," Weni mengangguk. Neyza termasuk orang yang kuat. Ia tetap bisa menyebut nama orang yang telah melukai hatinya. Dia pun menitipkan salam.


Neyza dan Weni dalam perjalanan menuju bandara. Neyza sekali-kali melihat ponselnya. Kadang ia hanya merenung melihat jalan. Keputusan yang sangat cepat ia ambil. Pergi sementara waktu yang tak tahu kemana ia kembali pulang.


Neyza dan Weni sudah berada di bandara. Sebentar lagi Neyza akan masuk ke ruang tunggu keberangkatan.


Neyza: "Wen. Kamu gak kasih tahu Bili, kan?"


Weni: "Kamu ke Bali? Gak, lah."


Neyza: "Gak udah dikabari, ya. Bilang aja aku ke luar kota. Jangan mention Bali,"


Weni menuruti kata Neyza. Pengumuman penerbangan pesawat yang akan Neyza naiki terdengar. Neyza memeluk erat Weni. Tak ada tangisan kali ini. Neyza nampak tegar, Weni pun semakin yakin bahwa Neyza akan baik-baik saja.


Weni: "Setelah urusanku selesai, aku nyusul, ya?"

__ADS_1


Neyza: "Pasti. Jangan lama-lama, ya!"


Neyza masuk ke dalam ruang tunggu. Ia melambaikan tangan kepada Weni. Sedangkan Weni nampak tersenyum walau air matanya sudah di pelupuk mata.


Weni: "Kamu bakal baik-baik saja."


Neyza menaiki pesawat. Nomor 1C, kelas Bisnis. Memandang langit saat penerbangan di dalam pesawat membuatnya sangat berkesan tiap kali akan pergi. Ah, Rion kembali hadir di sekitar lamunannya. Ia tak menyangka hatinya tercuri juga oleh sosok usil, tetangga rumah kontrakannya. Memutuskan untuk hidup di kehidupan yang jauh berbeda dari dirinya yang biasanya nampaknya membawa banyak cerita. Yang terakhir adalah berlari dari bahaya yang besar. Tak pernah terpikirkan ia akan berada dalam situasi yang sulit. Pun di saat bersama dengan Rion yang selalu membuatnya menjadi sangat kesal. Namun, kenapa Rion menjadi orang pertama yang ia harapkan untuk menolongnya?


"Permisi, Kami ada pilihan menu pembuka. Ada Chicken Salad atau Assorted Sandwich. Mau memilih yang mana?" tanya seorang pramugari menyadarkan semua lamunan Neyza.


Neyza: "Ah, Chicken Salad. Terima kasih."


Kursi di sebelah Neyza tak diisi oleh penumpang lain. Sehingga ia bebas melakukan apapun tanpa perlu berinteraksi dengan orang lain. Ia sedang tidak ingin berbicara. Biarlah ia berbicara dengan dirinya sendiri. Bukan berarti ia menolak ada orang lain di sebelahnya, tapi takdir nampaknya senang membuatnya larut dalam situasi yang sangat mendung di hidupnya saat ini.



Kini ia akan melahap habis makanan ini. Akan ia habiskan sisa-sisa kenangan yang sudah ia lalui. Ia akan memulai kehidupan yang baru. Tidak ada penjual nasi goreng, tidak ada penjual sate, tidak ada biawak, tidak ada makanan katering dan, tidak ada Rion.


Beberapa menit kemudian, suara pengumuman akan mendarat diperdengarkan. Neyza nampak antusias dengan kabar tersebut. Kini, pesawat itu telah mendarat dengan baik tanpa gangguan apapun. Neyza bersiap-siap turun. Menyewa potter bandara untuk membantunya mengambil barang-barang dari bagasi.


Dua orang pria berpakaian safari dan seorang perempuan berpakaian rapi menyambut Neyza di depan pintu kedatangan. Neyza tersenyum, sedangkan perempuan tadi melambaikan tangan. Air matanya mengalir karena merasa senang atas kedatangan Neyza.


"Kok nangis?" Neyza berkata saat sudah mendekati perempuan itu, lalu memeluknya. "Iya, Non. Gimana gak nangis? Anaknya udah besar banget. Lama gak ketemu."


Neyza: "Bi Ratih. Neyza udah besar, lho. Masa kecil terus? Bibi apa kabar? Pak Juli mana?"


Bi Ratih: "Sehat, Non. Semua sehat. Ada perlu emangnya di Bali? Nyonya kabarinya mendadak. Baru tadi malam. Jadinya kan surprise sekali."

__ADS_1


Neyza: "Maaf. Ini juga mendesak sekali. Harus segera ke Bali. Sekalian liburan dan ngerjain skripsi."


Bi Ratih: "Wah, bakal rame, nih. Non Weni gak ikut? Tumben."


Neyza: "Nyusul, Bi. Setelah urusan kampus selesai dia bakal ke sini."


Bi Ratih memeluk Neyza. Bi Ratih adalah asisten pembantu keluarga Neyza semenjak mereka tinggal di Bali dan pindah ke Jakarta. Neyza sangat dekat dengan Bi Ratih dan Pak Juli. Saking dekatnya, Neyza selalu tidur di kamar Bi Ratih. Mama dan Papanya tidak pernah melarang Neyza. Untuk itu ia sangat menyayangi Bi Ratih dan keluarganya yang baik.


Neyza sudah sampai di rumahnya. Rumah yang sangat luas untuk ditempati sendiri. Ia rindu dengan Bali. Karena kegiatan kampus, ia hampir tidak pernah berlibur ke Bali. Ia lebih senang pergi ke tempat saudaranya di Bandung.


[Rumah Rion]


Hani dan Rion baru saja selesai rapat sebagai beberapa Vendor di ruang kerja Papa Rion. Semua tamu beranjak pergi. Hani dan Rion memeriksa beberapa berkas yang akan mereka revisi.


Hani: "Sayang, warna salem ini kamu suka, gak sih? Atau kita bikin warna yang lebih menyala kayak merah?"


Rion: "Untuk warna aku gak ada masalah. Pokoknya kamu suka, aku senang, kok."


Hani tersenyum karena Rion tidak banyak menuntut apapun untuk pernikahan mereka.


Kriiing.


Rion mengangkat teleponnya.


Rion: "Kenapa, bre?"


Bili: "Lu udah tahu Neyza udah gak di kontrakan lagi?"

__ADS_1


"Ha?"


__ADS_2