Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 48 Kembali lagi


__ADS_3

Pagi ini Neyza sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Rion. Sang suami baru saja bangun dan segera ke lantai bawah untuk menemui Neyza.


Rion: "Yang lain kemana? Kok sepi?"


Neyza: "Di rumah Papa."


Rion: "Sama mbak asisten juga?"


Neyza mengangguk. "Dari tadi malam cuma kita berdua?" tanya Rion. Neyza mengangguk lagi. "Nih, makan dulu," Neyza menaruh beberapa makanan ke atas piring untuk dihidangkan di atas meja.



Rion: "Lu gak makan, Ney?"


Neyza: "Panggil apa tadi?"


Rion: "Gue gak mau panggil lu Nenek lagi. Kelihatan tua."


Neyza hanya diam. "Punyaku ada. Makan aja dulu. Mau susu atau jus?" tanya Neyza. "Apa aja," jawab Rion. Tak lama ia sudah menghabiskan satu piring pembuka dengan sangat cepat. Neyza lalu memberikannya satu menu makanan lagi yang baru saja matang. "Lho, ada lagi?" Rion heran. "Makan aja. Bahannya keburu gak bisa dipake," kata Neyza.



Kali ini Rion memakannya dengan pelan agar Neyza juga mengikutinya makan. Neyza mengambil piring terakhir untuknya dan segelas susu untuk Rion.



Rion: "Makan lu sehat banget. Pantes aja sakit kalo digebukin."


Neyza: "Tenagaku kuat kalo cuma gebukin kamu."


Rion tersedak. "Uhuk uhuk... Ni belum apa-apa udah KDRT duluan, nih."


Neyza dan Rion menikmati sarapan mereka.


Rion: "Gue udah pesan tiket besok ke Jepang. Mau berapa hari di sana?"


Neyza: "Seminggu aja. Kerjaan udah numpuk banget pasti."


Rion: "Emang lu kerja di kantor Papa?"


Neyza: "Heem."


Rion: "Lha itu kan bisa sama wakil lu aja."


Neyza: "Tanda tangan dan sebagainya?"


Rion: "Emang lu tuh mimpin perusahaan berapa lama, sih?"


Neyza: "Uda hampir setahun ini."


Rion: "Meeting tinggal conference. Tanda tangan udah ada tanda tangan digital."


Neyza: "Aku udah tahu ya, Rion. Tapi aku pingin make sure semuanya biar aku tahu apa-apanya."


Rion: "Kan ada email, sayang. Kamu bisa cek dulu kan sebelum tanda tangan?"


Neyza: "Sayang sayang."


Rion: "Ya masa gue manggil 'puss puss'. Emang gue nikah sama kucing."


Neyza: "Emang kamu pingin tinggal disana berapa lama? Seminggu kurang?"


Rion: "Dua minggu dari sekarang emang ada kerjaan di sana. Rencana ada tim, juga sama Bili ke sana buat ketemu sama investor."


Neyza: "Oo. Bentar. Aku pastiin tiga minggu ini bisa aku remote."


Rion mengangguk dan segera menghabiskan makanannya. Neyza baru saja menyelesaikan suapan terakhir makanan pagi ini. Rion mengangkat piringnya dan segera membawanya ke tempat cuci piring. Rion mencuci semua piring dan semua peralatan masak yang dipakai Neyza tadi.

__ADS_1


Neyza: "Eh, gak usah. Aku aja. Kayak kamu bisa aja."


Rion: "Remehin, lu. Gini-gini dikontrakan gue belajar bersihin rumah. Masa gak inget, sih?"


Neyza: "Kamu gak nyuruh orang?"


Rion menggeleng. "Kalo kita bisa nyelesein tugas ini. Ya udah terus aja. Gak usah ngarep orang lain."


Neyza: "Iya juga, sih. Di kontrakan itu jadi tempat buat belajar banyak."


Rion: "Termasuk dikejar biawak sama anjing."


Neyza mencubit lengan Rion. "Aaaaa, sakit sayang," Neyza malah melotot kepadanya. "Awas panggil sayang-sayang lagi," ancamnya.


Rion: "Lu gak kangen sama rumah kontrakan?"


Neyza: "Kangen."


Rion: "Gue juga. Suasananya hangat. Semua orang saling menghargai."


Neyza: "Ada Manji yang suka usil kayak kamu."


Rion: "Murid gue itu."


Neyza: "Ada Bu Dewi, Pak Adam, penjual nasi goreng, Mang-mang sate, martabak. Duh. Enak banget, sih."


Rion: "Kita ke sana, yuk. Makan malam di rumah lu atau rumah gue. Kan kosong tuh."


Neyza: "Ngaco kamu."


Rion: "Eh, serius. Kapan lagi bisa ketemu mereka paska kita nikah?"


Neyza: "Kita beliin mereka makanan juga."


Rion: "Entar gue telepon Pak Adam sama Pak Santoso."


Rion: "Salah satu satpam depan itu, lho. Kan ada dua."


Neyza: "Kok ada nomornya di kamu?"


Rion: "Itu satpam kantor aku, Ney."


Neyza: "Jadi sebenarnya kita tuh nutupi siapa diri kita dari orang-orang, ya?"


Rion: "Gue gak. Cuma buat jaga-jaga aja kalo ada pertanyaan yang gimana gitu. Gue cari jawaban yang paling mendekati. Gue malu."


Neyza: "Tumben malu."


Rion: "Sama lu nggak. Mau coba?"


Neyza melarikan diri ke kolam renang untuk duduk berjemur. Rion menyusulnya. "Gue renang, ya?" tanya Rion. "Kamu mau nyelam atau cari mutiara di situ juga gak ada yang larang." Rion menatap Neyza. "Eh, Ney. Kayak ada mbak asisten yang datang celingak celinguk. Nyariin lu kali. Tuh coba samperin. Kasihan." Neyza berdiri dan berjalan untuk melihat asisten rumah tangganya. Ketika hendak melewati Rion. Rion malah memeluk dan menjatuhkan diri mereka ke kolam renang.


Byuuuuur.



Keduanya basah kuyup di dalam kolam renang. Rion tertawa karena berhasil membuat Neyza ikut menemaninya berenang.


Neyza: "Kamu, ya!"


Rion: "Maksudnya tadi gue mau renang sama lu. Lagian olahraga, kek."


Neyza: "Nih, mau olahraga?" Neyza menggigit lengan Rion.


Rion: "Aaawwww......"


Sekarang Neyza yang tertawa melihat Rion yang kesakitan. Mau tak mau, Neyza keluar kolam dan melakukan pemanasan sebelum melanjutkan berenang. Sedangkan Rion asyik berjemur di pinggir kolam renang.

__ADS_1


Waktu berjalan dengan sangat cepat di hari itu. Malam hari, Rion dan Neyza hendak pergi ke rumah kontrakan. Setelah sampai, mereka masuk ke rumah Rion.


Neyza: "Sapa yang bersihin?"


Rion: "Pak Santoso."


Neyza: "Pesenin mereka makanan apa?"


Rion: "Beliin aja ayam fast food Kefesi. Beli yang paket keluarga. Biar bisa dimakan besok pagi juga. Jadi beli nasi goreng, gak?"


Neyza mengangguk.


Rion dan Neyza menyapa para tetangga ketika makanan pesanan mereka telah datang. Rumah demi rumah mereka datangi sambil menanyakan kabar setahun belakangan ini. Rion melihat pedagang nasi goreng langganannya. Ia lalu memesan dua bungkus makanan untuk dimakan bersama Neyza.



Makanan mereka telah datang. Neyza dan Rion kembali ke rumah Rion. Neyza ke dapur untuk mengambil dua sendok. Rion membuka sebungkus nasi goreng.


Neyza: "Lho, cuma satu yang dibuka?"


Rion: "Makan berdua. Kalo habis baru buka satunya."


Neyza: "Ha? Gak ah."


Rion dengan secepat kilat menyuapi satu sendok nasi goreng ke mulut Neyza. Nyam... Neyza pun mengunyah makanan itu dengan nikmat.


"Nasi goreng ini sudah biasa aku nikmati. Tapi kali ini jauh lebih nikmat dari yang kumakan biasanya. Apa karena bersama Rion?", batin Neyza. Ia hanya diam saja sambil. Neyza terus memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. "Nih yang terakhir. Dari tadi lu yang makan. Habis. Gitu, dong. Makannya banyak," kata Rion dan membuat Neyza menjadi terkejut. "Ha? aku yang habisin semua?" Rion membuka bungkusan yang satunya. "Dari tadi lu diem aja. Kayak lagi ngelamun resep apaan yang dipake mamang mamang ini?"


Malam tetap berjalan. Setelah makan tadi, Pak Adam datang untuk menyambut pengantin baru itu. Berdatangan tetangga yang lain yang ikut berbicara dengan Rion dan Neyza. Sampai akhirnya malam semakin larut. Para tetangga yang melepas rindu dengan Neyza dan Rion segera pulang.


Rion: "Kita tidur di sini aja, ya? Nanggung udah malam. Capek."


Neyza: "Aku aja yang nyetir."


Rion: "Gak. Gak enak sama tetangga."


Neyza menghela napas. Ia lalu menutup pintu dan segera membersihkan diri dan beranjak tidur. Rion mengambil bantal dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu. Neyza yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Rion tengah menata tempat untuk tidurnya di ruang tamu.


Neyza: "Hei. Ngapain kamu?"


Rion: "Mau tidur."


Neyza: "Masuk kamar."


Rion: "Waduh, juragannya marah."


Di kamar yang kecil itu, mereka merebahkan diri mereka.


Neyza: "Ini yang ngecat kamu juga?"


Rion: "Gak. Panggil tukang. Ada yang bersihin tiap hari. Mbak asisten rumah tiap hari kesini bersihin rumah. Kontrakan habis masih beberapa bulan lagi. Memang sengaja biar sewaktu-waktu bisa kesini."


Neyza: "Mubadzir."


Rion: "Ya gak lah. Ini buktinya kalo gak ada kamar kita mau tidur dimana? Mau makan di mana?"


Neyza: "Udah ah."


Neyza memalingkan badannya ke arah tembok.


Rion: "Sori, Ney. Lu marah sama gue?"


Neyza: "Gak. Cuma.. "


Rion: "Cuma?"


Neyza: "Rion. Apa aku pelarian kamu dari Hani?"

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2