
Pagi ini, Neyza membuka matanya. Ia hampir lupa bahwa saat ini ada seorang anak kecil yang harus ia jaga. Neyza duduk di atas tempat tidurnya.Ia melihat bayi kecilnya dengan mata terbuka dan senyum yang lebar seperti ingin mengucapkan selamat pagi.
Lalita.
Entah apa yang ada dalam benak Neyza dan Rion saat memutuskan untuk mengasuh Lalita sampai Heri betul-betul siap menjaganya. Orang tuanya hanyalah sebuah masa lalu yang kelam untuk keduanya. Namun hati nampaknya tak begitu berat untuk rela membantu semampu mereka.
Neyza: "Selamat pagi, Ta."
Lalita masih tersenyum. Semalaman ia tidur nyenyak setelah Neyza menggendongnya hingga tertidur pulas. Saat Lalita bangun di malam hari karena kehausan, Rion dengan sukarela membantu membuat susu dan menggendong Lalita. Berat.
Rion bangun karena tawa Lalita. Nampaknya ia juga baru tersadar bahwa ada seorang anak kecil yang sekarang menemaninya dan Neyza.
Rion: "Lalita sudah bangun. Mau ngapain hari ini, dek?"
Neyza: "Sejak kapan dia jadi adek kamu?"
Rion: "Oia, anak ya? Hehehe... Mau ngapain hari ini ini, Nak?"
Lalita berusaha untuk duduk sendiri. Namun terjatuh. Ia menangis. Neyza dengan sigap menggendongnya. "Gak apa-apa, Nak. Kan baru belajar, ya? Mandi, yuk. Bau ih." Neyza membuat mimik tak suka. Gerakan menutup hidung yang juga diikuti oleh Lalita. "Ba.. Ba.." ulangnya. "Bau, sayang," kata Neyza.
Neyza bangkit dari tempat tidur. Sementara Lalita diberikan kepada Rion.
Neyza: "Jagain bentar, aku mau siapin air hangat sama bajunya."
Rion: "Oke," jawabnya singkat. Rion mulai membuka baju Lalita. Perlahan. Walau sangat kaku dan belum terbiasa. Sementara Neyza menyiapkan air hangat, mainan dan baju yang akan dipakai Lalita.
Rion: "Ney.. Ney.. butuh bantuan di sini. Kayaknya Lalita mengeluarkan bau yang tak sedap."
Neyza: "Bentar lagi, ya. Dikit lagi. Atau kamu bawa ke sini aja. Biar aku yang bersihin kotorannya."
Rion membawa Lalita dengan diapers yang masih dipakainya. Neyza membuka diapers dan membersihkan Lalita. "Tolong taruh di plastik di situ, ya. Baru dibuang di tempat sampah," ucap Neyza. Rion dengan tangan menutup hidungnya segera membawa diapers yang kotor untuk segera dibuang. Namun ketika hendak melangkah, ia malah terpeleset dan jatuh terduduk. Diapers itu jatuh ke lantai. Namun tanpa sadar tangan Rion sudah 'mendarat' cantik di diapers kotor yang terbuka.
"Aaaaaaaa," Neyza dan Lalita terkejut melihat Rion. Lalita memeluk lengan Neyza yang sedang memandikannya di dalam bak mandi. Rion lekas membersihkan tangannya yang penuh dengan kotoran Lalita. Neyza tertawa terbahak. Sedangkan Lalita kebingungan dengan dua ekspresi Neyza dan Rion. Setelah itu Rion membersihkan kembali apa yang tertunda tadi.
Pagi ini, Neyza dan Rion sarapan pagi dengan ditemani Lalita. Para asisten rumah tangga juga sangat menyukai Lalita. Bergiliran mereka menggendong dan bermain dengan Lalita.
__ADS_1
Neyza: "Kita jadi ke Hani?"
Rion: "Jadi."
Neyza: "Gak apa-apa sama aku?"
Rion: "Aku bawa surat perjanjian juga."
Neyza: "Ha? Buat apa?"
Rion: "Aku gak mau ada masalah sama dia lagi. Surat perjanjian untuk legalin apa yang kita lakukan."
Neyza: "Kamu yakin?"
Rion: "Kalo dia gak mau, kita bisa ngobrol lagi sama Heri."
Neyza mengangguk.
Dua jam kemudian, Neyza dan Rion telah berada di dalam mobil. Mereka hendak menjenguk Hani yang berada di dalam penjara. Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di ruang jenguk. Seorang petugas sipir membawa Hani untuk bertemu dengan Rion dan Neyza.
Hani tertunduk. Ia tak ingin mengangkat wajahnya untuk melihat Rion dan Neyza. Malu. Mungkin hanya dirasakan Hani saat ini. Wajahnya mulai kusam tak terawat. Rambutnya mulai memanjang.
Hani mulai mengangkat wajahnya.
Rion: "Gue datang sama Neyza."
Hani diam saja.
Rion: "Lalita."
Hani terkejut mendengar nama anaknya disebut Rion. "Darimana kamu tahu nama anakku Lalita?" Hani keheranan. Ada yang aneh. Ia merasa ada yang aneh dengan Rion. "Kamu jangan sakiti anakku, ya. Urusan kamu sama aku. Bukan Lalita." Rion menghela napas.
Rion: "Gue gak punya masalah dengan siapapun. Gue gak jahat kayak lu. Gue kesini dengan niat baik."
Hani tertegun. Ia tak menyangka Rion akan berkata seperti itu. Dia benar. Hani memang salah. Namun ia juga khawatir Rion mengambil kesempatan untuk semakin menjatuhkan dirinya sebagai balas dendam atas apa yang dilakukannya.
Hani: "Darimana kamu tahu Lalita?"
__ADS_1
Rion: "Heri datang ke rumah gue dan ceritain semua. Semenjak rumah lu disita, dia tinggal di rumah temannya. Dia hampir putus sekolah dair S2nya. Dia jagain Lalita."
Dua bulir air jatuh dari mata Hani. Teringat akan adiknya Heri yang menjaga Lalita. Bayang-bayang penderitaan akan berkepanjangan karena kasus ini semakin membuatnya sedih. Lututnya lemas. Ia mulai menangis.
Rion: "Lu dengerin gue dulu. Jangan nangis. Gue kesini mau bantuin lu."
Hani: "Jangan bercanda kamu, Rion" sambil mengusap air matanya.
Rion: "Kalo boleh, selama Heri lanjutin S2 dia di luar negeri, gue dan Neyza bantuin lu untuk jagain Lalita sampai Heri punya kerjaan dan bisa biayai hidup dia dan Lalita."
Hani tersentak kaget. Kalimat demi kalimat yang diuatarakan Rion membuatnya semakin tertusuk-tusuk. Hancur hatinya sehancur-hancurnya.
Hani: "Aku gak tahu mesti gimana? Hidup aku hancur."
Rion: "Lu harus bangkit demi Lalita. Lu mau Lalita luntang luntung gak jelas?"
Hani: "Dia bakal malu punya Ibu kayak aku."
Rion: "Wajar lu berpikir begitu. Tapi lu bisa bangkit demi Lalita."
Hani menatap Rion, lalu mengalihkan pandangannya kepada Neyza. "Seperti apa kamu bisa bikin Rion jatuh cinta? Sedangkan mungkin dia belum bisa lupain aku sejak kejadian itu?" tanya Hani heran.
Neyza: "Halo Hani. Pertanyaan kamu gak bisa aku jawab sekarang karena pernikahan kita juga karena sebuah ketidaksengajaan. Tapi aku yakin semua akan ada masanya. Mencintai dan melupakan."
Hani: "Neyza, betul kan itu namamu? Kamu bisa sangat beruntung karena Rion adalah orang yang akan mengejar seseorang yang dia sukai."
Rion: "No, Hani. Gue sudah berubah. Gue akan mencintai seseorang dengan cara yang berbeda."
Hani: "Oya? Beri aku satu alasan kenapa kamu bantuin aku jagain Lalita walau sudah kusakiti berkali-kali."
Rion mencoba mengatur hatinya walau sebenarnya sudah mulai kacau di dalam sana. Bertemu dengan Hani seperti membuka kenangan lama. Hani pernah singgah di hatinya dalam waktu yang lama.
Rion: "Lu tahu gak, menjaga Lalita itu inisiatif sapa? Istri gue. Neyza. Dia tahu semua bagian cerita gue sama lu dulu. Gue udah tutup buku. Dan gue lihat besarnya hati dia buat gak taruh sakit hati di hati gue. Dia malah buktiin simpati dan empati yang besar. Dia ajarin gue banyak hal."
Hani: "Kalo dari cerita kamu ini, kalian pasti belum malam pertama."
Deg.
__ADS_1
(bersambung)