
"Sayang"
Neyza tidak menggubris panggilan Rion. Bili tertawa melihat reaksi Rion yang mengerucutkan bibirnya. "Tadi berhasil, lho. Sekarang lupa," Rion membela.
Neyza hanya baru selesai dirias. Namun baju pengantin yang sangat panjang belum ia pakai.
Tim WO: "Perhatian. Satu jam lagi kita akan berangkat ke gedung. Mbak Neyza silahkan memakai gaunnya."
Neyza naik ke kamarnya ditemani designer dan para asistennya. Dua puluh dua menit berlalu
Neyza turun dengan gaun panjang yang sangat cantik.
Mata Rion membesar. Seakan-akan ia akan memperbesar bagian wajah Neyza yang sangat cantik saat ini. Ia hampir tak mengenal Neyza. Bahkan bila ditatap lama-lama, ia tidak menemukan sosok Neyza. Semua keluarga melihatnya turun. Semua sangat senang melihat Neyza.
Bili: "Woi, Bre. Woi. Eh ngelamunin istrinya."
Rion tak menjawab Bili. Ia masih sangat fokus memandang Neyza. "Cantik banget ini bini siapa?" ia berbicara sendiri. "Tapi sewot," muka Rion berubah bila ia mengingat betapa Neyza masih sangat menjaga jarak dengannya.
Persiapan untuk resepsi di sebuah gedung telah selesai. Mereka akan segera pergi bersama-sama sesuai jadwal yang diatur oleh tim wedding organizer. Neyza masuk ke dalam mobil dibantu oleh asisten designer. Rion juga masuk ke dalam mobil. Semua orang tengah berjalan masuk ke kendaraan mereka masing-masing.
Rion: "Nek.Lu gak keberatan emang pake baju se panjang itu?"
Neyza: "Masih berat hidup sama kamu."
Rion: "Ish, jangan ngomong gitu. Doa, lho."
Neyza: "Eh, iya. Gak boleh, ya?"
Rion: "Iya dosa besar."
Neyza: "Duh, deg-degan."
Rion: "Lha ngapain?"
Neyza: "Takut gaunnya kamu injek."
Rion: "Makanya. Pilih baju pengantin jangan panjang-panjang. Pake aja yang simpel. Biar gak susah jalannya."
Neyza: "Hih. Ini aku yang milih, ya."
Rion: "Iya, cantik, kok. Tapi kalo nanti lu yang gak nyaman kan kasihan."
Neyza: "Semoga, gak."
Rion: "Nanti gue bantuin."
Neyza melihat keluar jendela. Ia tak ingin berbicara banyak. Ia takut tersipu.
Rion: "Kalo.kayak gini lu cantik."
Neyza: "Kalo kamu kayak gini gak nyangka usil banget."
__ADS_1
Rion: "Iya tapi ngangenin."
Neyza: "Bukan aku."
Rion hanya tertawa nelihat reaksi Neyza. Kini, semuanya telah memulai perjalanan mereka. Hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai ke gedung utama. Gedung yang sangat besar untuk diadakan acara pernikahan.
Suasana yang sangat meriah ini membuat Rion dan Neyza tak kalah gugup. Kini mereka berjalan menuju panggung pelaminan. Para tamu sudah menanti mereka. Pernikahan yang tak biasa ini betul-betul dinanti oleh banyak pihak.
Neyza berjalan menuju pintu utama sebelum masuk ke dalam gedung. Rion lalu menyusul di Belakangnya untuk sebuah persiapan.
Rion: "Ya ampun, Nek. Gede banget. Lu yang atur semua?"
Neyza: "Gak. Mama yang atur semua."
Rion: "Penasaran gue. Kayak apa ada di kolase."
Neyza: "Koade."
Rion: "Eh, iya iya
Koade. Jangan ngegas ah. Luntur make up lu."
Mereka berdua memasuki gedung besar itu dengan iringan piano klasik. Para tamu berdiri memberikan hormat kepada kedua mempelai. Pembawa acara yang sedang memandu acara tersebut nampaknya mengantarkan keduanya untuk segera naik ke pelaminan.
Rangkaian demi rangkaian mereka lewati. Satu persatu tamu datang dan memberikan uda serta ucapan selamat kepada kedua mempelai. Sementara ini, Rion dan Neyza tengah sibuk berbahagia menyambut para tamu yang silih berganti.
Neyza: "Hai, Ogi. Makasih sudah datang, ya."
Ogi lalu tersenyum. Ia pun berlalu untuk membaur bersama tamu yang lain.
Rion: "Itu siapa?"
Neyza: "Temen."
Rion: "Bukan mantan, kan?"
Neyza: "Aku pernah suka sama dia."
Rion: "Kalah cepet sama gue berarti."
Neyza: "Ge er."
Acara makan malam berlangsung. Pengantin dan keluarga makan bersama. Mereka akhirnya ditinggal berdua oleh para keluarga untuk menikmati makan malam.
Rion: "Lu mau liburan kemana?"
Neyza: "Maksudnya?"
Rion: "Ya nanti kalo orang-orang nanya kita gak bulan madu kan bisa tanda tanya. Liburan kemana, kek?"
__ADS_1
Neyza: "Aaa, aku pingin ke... hmm... Jepang."
Rion: "Oke, besok kita berangkat."
Neyza: "Gak ah. Lusa aja. Capek aku."
Rion: "Oke, nanti kita liburan ke Jepang."
Neyza: "Lho, sendiri aja kan bisa?"
Rion: "Eh, kalo lu sendirian berarti artinya lu melarikan diri. Dicari polisi. Lu mau orang satu kelurahan kebingungan cari lu? Ya berdua lah sama gue. Kalo gak berdua gimana mau jadi?"
Neyza: "Apanya yang jadi?"
Rion: "Akun maskapai lah. Emang apaan? Ngeres aja."
Neyza dan Rion menikmati makan malam mereka. Semua orang sudah mulai kembali pulang. Neyza dan Rion pun juga sudah masuk ke dalam mobil pengantin dan seger pulang.
Sepanjang perjalanan. Keduanya diam. Rasa capai sangat mereka rasakan. Sesekali Rion melihat Neyza yang sudah kelelahan. Kini, sampailah mereka di rumah Neyza. Pak Supir turun untuk membukakan pintu. Rion turun terlebih dahulu. Membantu Neyza dengan gaunnya. Membenarkan dan mengangkatnya agar Neyza bisa berjalan.
Rion: "Pakai korden berapa meter, sih?"
Neyza: "His. Kok Korden, sih? Ngaco."
Rion hanya terkekeh melihat Neyza yang nampak marah. Mereka sudah berada di kamar Neyza. Rion membuka jasnya. Ia akan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia melirik Neyza yang sedang kebingungan untuk membuka gaunnya. Rion lalu mendekatinya. Neyza yang tahu kedatangan Rion malah berbalik.
Neyza: "Gak usah. Aku panggil mbak aja."
Rion: "Ini jam berapa? Udah mau jam 11 malam. Mereka kecapekan. Lu gak kasihan ganggu mereka tidur?"
Neyza: "Terus. Sama kamu?"
Rion: "Sama siapa? Yang masih bangun cuma gue sama Pak Supir tadi. Lu pilih, deh."
Neyza: "Yaudah, kamu aja."
Dengan muka memelas Neyza dibantu Rion untuk melepas gaunnya. Sebelum Neyza membuka semuanya, Rion cepat-cepat ke kamar mandi. Ada senyum di bibir Neyza. Ia tak menyangka Rion menghargai privasinya.
Neyza: "Tapi dia kan suamiku? Gak masalah, kan selama dia bukan orang lain?"
Neyza kembali melepas gaunnya dan memakai pakaian handuk dan bersiap untuk mandi. Setelah Rion keluar, Neyza masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jam menunjukkan pukul 00.19. Rion meletakkan badannya di sofa kamar. Neyza keluar dengan piyama tidurnya. Melihat Rion yang sedang tertidur pulas. Ia merasa kasihan.
Neyza: "Kok tidur di sofa, sih? Apa gak sakit tuh badan?"
Rion: "Ya daripada di kasur lu jadi perang Dunia sama gue. Mending dia sofa. Tapi kalo di rumah ini ada extra bed, gue bawa ke sini."
Neyza: "Eh, kamu pikir aku sejahat itu. Tidur di kasur."
Rion: "OK," dengan secepat kilat Rion berada di kasur besar Neyza dan segera menutup mata."
Neyza yang melihat hal itu tersenyum. Ia mulai bersikap lembut kepada Rion. Setidaknya ia memutar otak agar rasa malu untuk mengakui bahwa ia mencintai Rion perlahan akan sirna.
__ADS_1
"Selamat Malam, Rion."
(bersambung)