Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 6 Berbunga


__ADS_3

Neyza menunggu taksi untuk pergi ke kampus. Pagi itu ia akan menemui seorang Dosen untuk berkonsultasi.


"Nunggu sapa, nek?", Rion yang juga baru keluar menyapa Neyza.


Neyza : "Nenek nenek. Bukan nenek kamu."


Rion : "Namanya susah. Nenek aja. Biar lebih deket."


Neyza : "Kita cuma tetangga ya, Rion. Gak usah dekat-dekat. Alergi."


Rion : "Nanggung lho, cantiknya. Eh, keriputnya."


Neyza tak menjawab kata-kata Rion dan masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti di depannya.


Bili datang dengan sepeda motor.


Bili : "Buset cantik amat. Sapa, bre?"


Rion : "Tetangga sebelah."


Bili : "Ha? Kontrakan lu? Kok gak pernah lihat?"


Rion : "Baru juga dia kayaknya."


Bili : "Waaa.... Bisa digebetin, nih."


Rion : "Ambil aja dah. Galak."


Bili terkekeh. Mereka akhirnya pergi ke kampus.


Neyza sudah berada di kampus. Berjalan melewati koridor kampus. Seorang mahasiswa mendatanginya dengan membawa sebuah hadiah kecil. Neyza awalnya enggan menerima. Tapi ia akhirnya menerima juga. Hadiah itu ia masukkan ke dalam tasnya.


"Neyza." Seorang pria bertubuh tinggi dan tampan menyapanya. Neyza menoleh ke arahnya. Ia hanya tersenyum simpul. Seperti enggan bertemu.


"Tumben kasual?!", Tanyanya.


Neyza : "Pingin aja. Yuk."


"Eh tunggu, Ney. Mau bicara sebentar.", Tahannya.


Neyza : "Apaan? Keburu, nih."


"Aku tahu kejadian kemarin. Apa gak sebaiknya aku di dekat kamu terus?", Pertanyaannya serius.


Neyza : "Untuk apa?"


Pria itu menahan diri untuk tersulut emosi karena kejadian yang menimpa Neyza beberapa waktu yang lalu.


"For your safety, Ney. Siapa yang gak khawatit sama kamu saat ini?" Ia mencoba menawarkan diri kepada Neyza.


"Makasih, To. Sampai saat ini aku masih bisa jaga diri. Aku gak mau sombong. Aku juga punya sisi lemah. Tapi semoga kemarin itu yang terakhir. Cabut dulu ya? Mau konsul.", Neyza berlalu meninggalkannya.


"Duh Tito. Sayang banget sama Neyza.", Seorang sahabat Neyza merangkulnya saat ia berjalan meninggalkan Tito yang nampak khawatir.


Neyza : "Risih, Mel."


Mela : "Jangan gitu, dong. Anggap aja tawaran dia itu karena sebagai teman dia care banget sama kamu."


Neyza : "Dan hatiku. Alah... Pasti sambunganmu gitu."


Mela tertawa Neyza bisa membaca pikirannya.


Mela : "Lagian awet ya nungguin kamu dari saban tahun gak move on. Beruntung lho, Ney. Ganteng, pintar, kaya. Dambaan para wanita."


Neyza : "Gak masuk list ku, Melaaaa. Ah berisik. Ayok anterin ke prodi terus makan di kantin."


Mela : "To... Tito... Neyza pingin makan di kantin.", Neyza menutup mulut Mela dan berjalan menuju lantai atas.


***********


Bili dan Rion sudah sampai di kampus. Setelah ujian yang memeras tenaga dan perasaan. Kini mereka pergi ke perpustakaan untuk melihat referensi makalah.

__ADS_1


Bili : "Gue kepikiran tetangga lu, bre. Cantiknya gak ada sisa. Entar gue main ya ke tempat, lu? Nginep setahun juga dijabanin."


Rion : "Gak usah. Gue lagi pingin istirahat. Cari hidayah."


Bili : "Ah elu, pelit. Ya nanti kan gue yang jadi tetangga elu."


"Apaaa? Enak aja lu."


"Sssstttt.....", Beberapa mahasiswa membuat sinyal diam kepada Rion dan Bili.


Bili : "Eh jangan mikir mesum dulu, bre. Gue alim. Maksudnya kalo gue berjodoh nikah sama dia. Gue jadi tetangga kontrakan lu."


Rion : "Mimpi kok tinggi banget."


Bili : "Btw, bre. Sedari tadi gak lihat ciwi-ciwi pada lengket sama lu. Yang minta nomor telpon, kasih bekal makan siang."


Rion : "Ya iyalah mereka nunggunya di parkiran basemen. Dipikir gue datang sama mobil. Biar kapok karena nunggu. Hahaha..."


Sebuah penghapus pensil melayang ke kepala Rion. Rion menoleh ke arah pelempar, ternyata penjaga perpustakaan yang 'angker' sedang memperhatikannya.


Seorang mahasiswi tiba-tiba duduk di depan Rion dan Bili.


"Heh Rion. Uda dengar, belum?"


Rion : "Cika. Hih, kaget gue. Apaan?"


Cika : "Gebetan lo udah datang dari study exchange."


Rion : "Ha? Hani? Udah datang? Kapan?"


Cika : "Kemarin. Lu gak lihat mobil dia parkir di bawah?"


Rion : "Lha gue tadi sama ojol, ka."


Bili : "Enak lu kate gue ojol. Enakan ijol dibayar. Gue gak dibayar. Gratis."


Rion tersenyum.


Cika : "Astagaaa.... Dasar gak peka. Nhooo..."


Cika memalingkan pipi Rion ke pojok perpustakaan dimana seorang perempuan cantik sedang duduk dengan beberapa buku dan laptop.


Rion : "Miracleeee.... Oke, gue target dulu, ya. Makasih, Ka. Pizza apa Ketoprak? Bill ke gue."


Bili dan Cika hanya mencibir.


Bili : "Gue ikutan ya, Ka. Belum makan."


Cika : "Elu mah."


Rion mendekati Hani yang sedang membaca buku dan sesekali mengetik di laptopnya.


(Gambar)


Rion : "Hai, Han."


Hani terkejut dengan kedatangan Rion. Ia tersenyum.


Hani : "Rion. Tumben di perpus."


Rion : "Iya barusan juga. Lihat skripsi. Barangkali ada ide."


Hani : "Pingin cepat kelar?"


Rion : "Yaa... Ngapain di sini, Han?"


Hani : "Ini kan memang tempat favoritku, Rion."


Rion : "Oya? Hehehe..."


Hani : "Tadi kayaknya aku gak lihat mobilmu."

__ADS_1


Rion : "Ooo. Sama Bili. Sepeda motoran. Eh, Hani. Nanti malam ada acara, gak?"


Hani menggeleng. "Kenapa, Rion?"


Rion : "Makan di luar, yuk?!"


Hani berpikir sejenak.


Rion : "Ada janji, ya?"


Hani : "Gak kok. Free. Kita ketemuan di spot aja, ya? Jam berapa?"


Rion : "Kamu suka makanan apa?!"


Hani : "Japanese."


Rion : "Aaa... Di Hotel Lofty ada restoran jepang enak. Jam 7, ya?"


Hani mengangguk tersenyum. Rion pamit dan mengajak Bili serta Cika keluar dari perpustakaan.


Rion : "Yess... Habis ini ngedate sama Hani."


Bili : "Iya kalo dia mau. Ngarep lu, bre."


Cika : "Namanya juga usaha, Bil."


Rion : "Cuma. Gue bingung entar mau kasih apa sama dia. Dia udah punya semuanya."


Cika : "Cowok belum, Rion."


Bili : "Halah gombal. Nanti juga ditolak."


Rion mencubit pinggang Bili.


*******


Neyza pulang ke rumah. Penat rasanya seharian di kampus. Apalagi yang biasanya ia membawa mobil atau diantar supir. Sekarang ia harus memakai jasa ojek online.


Krucuuk...


Perutnya berbunyi. Tak ada makanan di atas meja. Kulkas pun terdapat satu buah apel yang sudah kusut kulitnya.


Tok tok tok.


Suara pintu yang tiba-tiba.


Neyza membuka pintu dan mendapati seseorang dengan senyum yang lebar.


Neyza : "Rion. Apaan?"


Rion : "Nih...", Menyodorkan sebuah plastik. Wanginya nampaknya membuat Neyza ingin membukanya. Itu makanan.


Neyza cepat-cepat mengambil makanan itu.


Neyza : "Nyogok apaan nih?" Matanya sinis.


Rion : "Yaaa... Gue mah gitu orangnya. Lu kan uda bantu gue tuh. Jadi gak ada salahnya gue ikut bantu lu. Kita kan sama-sama susah."


Neyza : "Kamu aja. Aku gak."


Rion : "Yaudah. Alasan logis aja. Pas di kampus habis makan jadi keinget nenek gue di rumah belum makan. Kasian nanti kurus. Hahahahha....", Rion lekas berlari pulang ke rumah dengan meninggalkan Neyza.


"Dasar, bocah."


"Gpp, mbak. Mungkin suka sama mbak Neyza.", Sahut mbak Rima sambil menggendong anaknya.


Neyza : "Nggak ah mbak. Usil gitu orangnya. Kayaknya playboy.", Suara Neyza semakin jelas saat menyebut kata playboy.


Rion mendengar pembicaraan Rima dan Neyza. Ia keluar dengan muka serius.


"Hati-hati ya, nek. Besok yang gue ajak lu ke pelaminan." Rion dengan muka jutek masuk kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2