Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
107 Takdir apalagi?


__ADS_3

Sejak Lalita bertanya perihal tentang pernikahan, Rui jadi berusaha untuk melupakan Maliq. Memendam perasaan yang begitu dalam. Semakin hari semakin ingin lepas dari bayangan Maliq. Walau Lalita tak pernah mempertemukan Maliq dengan keempat orang tuanya. Namun Rui yakin. Suatu saat, Lalita akan membawa pria itu untuk lebih dekat dengan keluarganya.


Beberapa tahun berjalan. Kini Rui bekerja sebagai seorang Dokter di salah satu rumah sakit. Sedangkan Lalita, bekerja sebagai staf di kantor Heri. Ia sempat diberi kelonggaran untuk bekerja di kantor Neyza atau Rion. Namun nampaknya ia lebih nyaman dengan suasana kantor Heri dimana banyak teman-teman kampusnya yang bekerja di sana. Lalita dan Rui tumbuh menjadi wanita dewasa yang penuh dengan pesona. Mereka saling mendukung. Terlebih ketika yang satunya mengalami hal-hal berat dalam pekerjaannya. Maka saudara yang lain nampak turut mendukung.


Secara tak sengaja, Rui tak pernah bertemu kembali dengan Maliq setelah beberapa tahun tak terdengar kabarnya. Baik saat di kampus, saat ia menjalani kelulusan terlebih dahulu atau pun dari Lalita. Entah mereka sudah tidak bersama lagi atau tidak. Tapi baik Lalita atau pun Rui masih sama-sama fokus untuk menjalani karir mereka sebagai pekerja.


Suatu hari, Rui datang ke rumah sakit karena ada keadaan darurat. Ia segera menuju ruang UGD untuk membantu dokter jaga lainnya. Seseorang mengalami pendaratan karena kecelakaan yang parah. Dengan cepat, para tenaga medis segera mengambil tindakan cepat untuk mengurangi kemungkinan terburuk. Satu setengah jam lamanya, akhirnya mereka menyelesaikan tugasnya. Satu-satu pasien tengah diantar ke ruang perawatan. Rui membersihkan diri dan segera pergi menuju ke ruangannya.


Ia tengah mengambil ponsel dari tasnya tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. "Mbak," Rui menoleh ke arah orang tersebut. Rui hanya memandanginya. "Kalo parkir yang bener, dong. Saya jadi gak bisa keluar dari mobil," wajah pria itu nampak kelelahan. Rui lalu mengingat-ingat kembali napa yang telah terjadi. Sesaat sebelum ia sedikit berlari ke ruang UGD, ia memang memarkir nya di ruang basement gedung ini. Tapi..


"Ya, Tuhan. Mobil putih yang sebelahnya tembok, ya?" Rui tersenyum penuh penyesalan. Pria itu sengaja menampakkan kekesalannya pada Rui. Namun ia tak tega ketika melihat Rui meminta maaf berkali-kali. "Maaf, mas. Maaf sekali. Tadi saya keburu ke ruang UGD untuk tindakan. Saya lupa kalo mobil juga gak netral. Tukang parkirnya gimana?" Rui menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak ada ketombe atau pun kutu rambut.

__ADS_1


"Saya lewat atap mobil, mbak. Untungnya ada sunroof. Terus.. " ia sedikit menjeda kalimatnya. Rui menunggu kelanjutannya. "Waktu saya naik. Saya diteriakin maling sama satpam. Untung tukang parkir kenal saya. Jadinya ya," wajah Rui memerah karena malu. Ia sudah membuat susah seorang karena kecerobohannya.


Rui menunduk sebagai ucapan maaf. "Maaf, Mas. Saya benar-benar gak tahu. Saya pikir tadi mobil Dokter Manji," Pria itu nampak tersenyum. Kekesalannya sepertinya sirna. "Yaudah. Gak papa. Lain kali hati-hati, ya?" kata pria itu sembari meninggalkan Rui. Beberapa langkah setelahnya seorang perawat menemui pria itu. "Dokter Manji, ada pasien yang sudah menunggu. Hari ini pasien kamar 202..." mendengar suara perawat tadi membuat Rui cepat-cepat meninggalkan lorong rumah sakit itu.


Lha, itu memang Dokter Manji, Rui.


Ia memukul dahinya sendiri. Tak menyangka, beberapa bulan di rumah sakit ini, ia bahkan belum mengenal siapa saja rekan sejawatnya. Ia kembali ke ruangannya. Terduduk lemas. Padahal dalam perjalanan menjadi Dokter di rumah sakit ini, ia merasa banyak jalan yang memudahkan dirinya. Lingkungannya juga sangat ramah.


Malam itu, setelah selesai menutup prakteknya, ia segera pulang. Seingatnya, ia meminta tolong tukang parkir untuk memindahkan mobilnya ke parkiran khusus Dokter yang kosong. Ia pun berusaha mengingat agar tak terjadi lagi kesalahan. Ia kini sudah berada di parkiran mobil. Namun ia tak mendapati mobilnya di tempat parkir.


Rui berlari ke tempat semula. Benar saja. Mobilnya nampak masih belum bergeser sedikit pun. Dan lebih parahnya lagi. Pria yang baru saja ia ketahuan bernama Dokter Manji itu sedang bersandar di mobilnya. Sepertinya sedang menunggu peradilan untuknya. "Gawat, bisa-bisa punya musuh aku di sini," Rui mempersiapkan diri untuk siap diadili oleh Manji.

__ADS_1


"Maaf maaf. Tadi saya sudah nyuruh Pak Parkir untuk mindahin mobil ternyata belum dipindah," Rui langsung membungkuk kepada seniornya itu. Suasana parkiran itu nampak lengang dan sepi. Manji, Dokter muda yang terkenal akan kebaikannya itu nampak dengan tenang memandangi ponselnya. Ia pun segera memandang Rui. Dimana Rui menunggu penghakimannya.


"Gpp. Saya yang gak ijinin. Soalnya jam terakhir saya sama kayak kamu," Manji menjelaskan. "Maksudnya?" Rui tak mengerti. "Tadi tukang parkir itu datang ke ruangan saya. Ia tahu kalo mobil kamu itu menghalangi mobil saya. Saya tanya kamu siapa. Dokter Rui, tho. Saya belum pernah dengar. Maafkan," Rui hampir saja meneteskan air liurnya. Melihat wajah Manji yang manis dan perkataan yang sopan membuatnya sedikit teralihkan untuk terus menatapnya dalam waktu yang lama. "Ooh, Maaf, Dokter. Saya juga tahu kalo mas itu Dokter Manji. Saya sering dengar. Tapi belum pernah ketemu," jawab Rui.


Mereka pun segera berpamitan dan masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Rui dan Manji pun akhirnya pergi. Di dalam mobil, Rui menjadi semakin membuat dirinya menjadi orang paling konyol hari ini. Cerita tentang Manji memang sering ia dengar oleh perawat dan beberapa Dokter di rumah sakit. Kadang saat jam makan siang atau makan malam di kantin, mereka lebih senang 'menggodok' cerita Manji yang supel dan baik terhadap teman-teman sejawat di rumah sakit. Ia terkenal Dokter yang kerap mendatangi daerah pelosok saat ijin liburan untuk merawat orang-orang yang sakit atau pun memberika edukasi kesehatan bersama rekan spesialis gizi. Hal itu sering ia lakukan tatkala semenjak masih duduk di bangku kuliah, Manji sangat getol dengan kegiatan sosial. Membantu banyak orang yang kesusahan ekonomi. Untuk itu ia lebih memilih berada di pelosok daerah ketimbang liburan mewah.


Rui akhirnya menyadari dan membuktikan sendiri bagaimana kebaikan akal dan emosional Manji tatkala ia merasa dirugikan karena ulah ceroboh Rui. Ia menarik napas. Rui segera pulang untuk beristirahat.


Sesampainya di rumah, Rui mendapat kejutan bahwa Lalita tengah datang dan akan menginap di awal pekan. Hal yang hampir tak pernah ia lakukan. "Kak!" ujar Rui. Ia lalu segera membersihkan diri dan menemui Lalita yang sudah dari tadi menunggunya. Rui membawa beberapa camilan kesukaan Lalita dan segelas cokelat hazelnut hangat untuk ia nikmati bersama Lalita.


"Rui. Masih ingat Maliq?"

__ADS_1


Deg.


(bersambung)


__ADS_2