Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 16 Jangan Lari


__ADS_3

Pagi itu, Rion berlari pagi seperti biasa. Melewati dua kampung dan masuk ke sebuah perumahan dan melakukan peregangan badan di sebuah taman olahraga. Jam saat itu masih pukul 5.10. Celana olahraga, kaos, dan topi membuat ia merasa nyaman. Tak lupa headset yang terpasang untuk mendengarkan beberapa lagu kesukaannya.


Jalanan masih sangat sepi. Kini ia akan berlari cepat. Namun seseorang tiba-tiba menabraknya. Bruuk... Rion terjatuh. Walau ia tak terluka, namun hantaman tadi membuat ia bertanya-tanya. "Jalan segini sepinya kenapa yang ditabrak gue, sih?"


"Maaf y", Seseorang membuka hoodie dan meminta maaf pada Rion. " Lha.. Nek.", Penabrak tadi akhirnya membuat ia mengenali dengan sangat mudah. "Rion", Neyza yang juga memakai pakaian olahraga nampak tak asing dengan pria yang ditabraknya.


Rion : "Ngapain pake acara nabrak, sih?"


Neyza : "Gak sengaja ih. Lagian ngapain berdiri di situ?"


Rion : "Jalan segini besarnya kenapa nabrak maksudnya? Ngikutin yaaa."Goda Rion.


Neyza : " Ih, gak. Emang gak ikutin. Ge er. Tadi tuh aku benerin benang di jaket makanya gak lihat depan."


Rion : "Alah, alesan. Bilang aja pingin ngomelin gue."


Neyza : "Minta dijitak kamu, ya?"


Rion : "Nih, silahkan." Rion menyodorkan kepalanya. Neyza yang tersulut kemarahan malah berbalik ingin memukul kepala Rion. Naas, karena paving yang diinjak tak rata, Neyza terjatuh. Dan mau tak mau ia harus hilang keseimbangan dan jatuh di tubuh Rion. Keduanya terjatuh. Walau tak ada yang melihat. Namun keduanya lekas berdiri untuk membersihkan diri. Jantung Neyza dan Rion berdetak kencang. Sepagi ini dan tidak ada orang yang melihat. Hanya Tuhan dan alam semesta yang tahu bagaimana malu keduanya.


Rion : "Lha kan. Main peluk-peluk.", Rion ingin memecah kekakuan situasi sambil membersihkan celananya.


Neyza : "Makanya jangan usil. Udah tahu disini bakal ada orang."


Rion : "Sekarang curi-curi waktu buat jogging bareng. Pura-pura jatuh biar bisa dipeluk. Besok rencana apa, nek?", Rion terkekeh membuat analisa. Neyza semakin marah dan akhirnya melepas sepatunya. Ia melempar sepatunya ke arah Rion. Rion yang setengah berlari untuk menghindari amukan Neyza berusaha berlari. Naas, walau pun ia telah menghindari, sepatu Neyza mengenai seekor anjing yang sedang tertidur. Anjing tersebut bangun dan terkejut. Tahu bahwa ada yang mengganggunya, ia pun menggonggong. Rion yang paling dekat dengannya akhirnya menjadi sasaran kejarannl anjing.


"Aaaaaa..... ", jerit Rion.


Rion pun mengetahui bahwa ia menjadi pelampiasan kemarahan si anjing. Ia pun berlari sekuat tenaga untuk menghindar. Ia berlari ke arah Neyza. Neyza yang sudah tahu ikut berlari menghindar. Kalah cepat dengan Rion, Neyza pun berusaha lari sejauh mungkin. Rion yang akan melampaui Neyza secara reflek menarik tangan Neyza agar turut berlari. Anjing yang terus menggonggong tadi masih berlari. Neyza pun berhenti dan melepas genggamannya dari Rion. Rion pun berhenti. Bingung dengan sikap Neyza.


Neyza melepas sepatu sebelahnya lagi dan melempar ke arah anjing yang mengejarnya. Sepatu tersebut mengenai anjing. Walau tak begitu keras, nampaknya anjing tadi menjadi takut dan akhirnya pelan-pelan menghindari Rion dan Neyza.


Rion terduduk dengan keringat bercucuran. Neyza pun tak kalah kecapaian. Air yang turun membasahi wajahnya sudah membuat ia merasa cukup mengakhiri olahraga pagi ini. Mereka masih terduduk di paving taman dan Neyza dengan napas yang cepat dan berat.


Rion : "Makanya... tadi... jangan... lempar sepatu.."


Neyza : "Kamu.. "

__ADS_1


Beberapa menit setelah duduk. Neyza berdiri. Ia berusaha jalan. Namun sepertinya ia Baru sadar kalau kaki kirinya terasa sakit. Sepertinya ia menginjak batu agak dalam. Walau terlapisi kaos kaki. Tetap saja ia tak bisa berjalan seperti biasanya. Neyza berjalan pelan meninggalkan Rion yang masih terduduk.


Rion yang melihat keadaan Neyza berdiri dan segera menopang tangan Neyza. Neyza terkejut dengan bantuan Rion. Matahari sudah mulai terlihat. Saat keluar melewati jalan kecil menuju arah kampung, Rion yang merasa kasihan dengan Neyza menyuruhnya duduk di pos jaga.


Rion : "Nek lu duduk sini dulu. Bentaran."lll


Neyza : "Ngapain?"


Rion : "Gak nyampe-nyampe lu kalo Jalan begini. Tunggu disini. Jangan bandel. Disini gak ada anjing."


Neyza pun menuruti kata Rion. Ia duduk di pos jaga perumahan yang berbatasan dengan sebuah kampung. Sepuluh menit berlalu. Neyza mulai gelisah menunggu Rion.


"Yuk, nek.", suara Rion membuyarkan lamunan Neyza. Sepasang sandal jepit disodorkan di dekat kaki Neyza. " Apa ini?", tanya Neyza. "Tenda manten. Sandal jepit lah. Masa masih nanya." jawab Rion.


Neyza mencoba sandal yang bawa Rion. Tak perlu berpikir panjang ukurannya sama dengan ukuran kakinya. Rion lalu menuntun Neyza keluar pagar perumahan. Ia mengarahkan Neyza ke sebuah sepeda motor yang terparkir di dekat mereka.


Neyza : "Sepeda sapa?"


Rion : "Sepeda Bili. Rumah Bili deket sini. Ayok."


Rion : "Pingin apa lu, nek?"


Neyza : "Bubur. Pingin makan bubur dekat stadion situ."


Rion : "Detail amat. Ngidam lu?"


Neyza : "Cerewet ah. Tadi nanya pake komentar."


Rion : "Iya nyonya. Ayok dah makan bubur."


Rion : "Tangan lu mana? Kayaknya tadi ada yang luka."


Neyza : "Ha? Gak ada. Ngaco ah."


Rion : "Mana sini? Gue tadi lihat."


Neyza : "Nih. Dibilangin gak ada."

__ADS_1


Rion yang disodorkan tangan Neyza memegang tangan Neyza dan menaruhnya di pinggang Rion.


Rion : "Pegangan.Biar gak jatuh."


Muka Neyza memerah. Ia tak percaya pagi ini dihadapkan dengan situasi yang canggung seperti ini. Sedangkan Rion pun tak kalah malu. Ia sedikit memaksa keinginannya demi keselamatan Neyza. Tapi... Kenapa hatinya tak karuan begini? Semoga karma Bili tak berlaku untuknya.


Rion dan Neyza sudah sampai di sebuah warung bubur. Warung bubur depan stadion. Langganan Neyza setelah tinggal di rumah kontrakan. Rion menuntun Neyza turun dari sepeda motor dan duduk di warung tenda yang dimaksud Neyza.


Rion memesan dua bubur ayam dan dua gelas teh hangat. Rion kembali duduk di sebelah Neyza. Neyza memegang kakinya. Rion yang melihat Neyza penasaran. Rion melihat kaki Neyza. Neyza belum membuka kaos kakinya.


Rion : "Nanti malam kayaknya bengkak. Pulang cepet dikasih minyak oles."


Neyza : "Anterin mampir ke apotek, ya?"


Rion : "Iiih kagak."


Neyza : "Rion.. "


Rion : "Iya, nyonya. Mampir toko obat."


Neyza manyun melihat tingkah Rion. Dua bubur dan teh hangat sudah berada di meja Neyza dan Rion. Neyza tersenyum. Makanan kesukaan di pagi hari membuatnya lupa kejadian dikejar anjing tadi.


Neyza : "Tanganmu sini."


Rion : "Apaan sih? Malu dilihat orang."


Neyza menarik tangan Rion dan memberikan semprotan hand sanitizer ke telapak tangan Rion. "Cerewet kamu nih."


Pagi ini, Rion dan Neyza makan bersama dengan tenang. Hal tak terduga membuat mereka semakin akrab.


Sampai akhirnya.


"Lu udah punya pacar gak sih, nek?", tanya Rion.


Bubur Neyza seperti hendak tersangkut di tenggorokan.


Neyza tak bisa menjawab.

__ADS_1


__ADS_2