Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 27 Tidak apa-apa


__ADS_3

Neyza terjatuh setelah pria tersebut berhasil membaca gerakannya. Kini pria itu marah karena ia tadi terluka. Ia berdiri di atas Neyza yang sedang terbaring. Mata pria itu memerah. Kemarahan nampaknya akan semakin buruk untuk Neyza dan juga Rion.


Tak mau berpikir panjang, Neyza mengincar alat paling sensitif dari pria tersebut.


Bang.


Pria tersebut kesakitan. Kini ia semakin yakin untuk menumbangkan pria tersebut dengan beberapa pukulan.


Buk.


Buk.


Buk.


Pria itu tergeletak lemah. Pukulan bertubi-tubi oleh Neyza membuat dia kalah telak. Rion lalu hadir untuk melihat kondisi Neyza. Rion terengah-engah karena ia juga menghadapi lawan yang tak kalah susahnya.


Rion: "Lu gpp?"


Neyza mengangguk sambil mengatur napas. Rion mengambil ponselnya. Memberitahu Bili. Sedangkan Bili barusan datang dengan mobil polisi.


Bili: "Bre, lu gpp?"


Rion mengangguk. Neyza pun tersenyum melihat kedatangan Bili. "Weni, mana?" tanya Neyza. "Dia nyusul," jawab Bili.


Setelah mendengarkan cerita Neyza dan Rion, Polisi segera membawa empat orang yang menyekap Neyza. "Ayo, cabut," Rion memberitahu Neyza. Neyza mengangguk. Mereka lalu meninggalkan Bili. Rion berjalan untuk mengambil sepeda motornya.


Neyza: "Naik sepeda?"


Rion: "Lu capek gak? Atau mau ikut Bili sama Polisi?"


Neyza: "Gak. Masih kuat. Sepeda aja."


Rion lalu memberikan helm kepada Neyza. Mereka lalu keluar dari tempat tersebut. Dalam perjalanan melewati pantai Neyza merasa sangat damai.


Neyza: "Rion. Bisa berhenti sebentar?"


Rion yang sadar akan pertanyaan Neyza akhirnya mencari tempat berhenti. "Kenapa, nek?" tanya Rion. "Aku mau lihat pantai. Pantainya bagus," jawab Neyza.


Neyza lalu turun dari sepeda motor Rion. Ia berjalan menuju pasir pantai. Kemudian ia duduk di antara hamparan pasir putih. Neyza meluruskan kakinya. Ada sebuah robekan dan luka di celana jeans-nya. Tak lama Rion datang. Ia sengaja membawa kotak obat yang ada di jok sepedanya.


Rion: "Lutut lu luka."


Neyza masih melihat luka yang ada di lututnya. "Gpp," katanya. Rion lalu mengambil beberapa perlengkapan kesehatan. Obat luka, plester dan kapas. Neyza pasrah dengan perawatan Rion. Untuk saat ini. Mereka tidak ingin membuat kesal satu sama lain. Tak ada keusilan Rion pada Neyza.

__ADS_1


Rion selesai memberikan perawatan pada luka Neyza. Kini giliran Neyza yang memperhatikan Rion. Ada sebuah luka tergores yang terlihat besar di lengannya. Setelah Rion menaruh peralatan tadi, Neyza yang mengambilnya. Tangan Rion diambilnya. Rion terkejut melihat sikap Neyza. Namun pada akhirnya ia tahu kalau ada luka yang ingin diobati oleh Neyza.


Rion: "Ini mah gpp, nek."


Neyza: "Gak usah cerewet. Tadi aku bilang gpp juga kamu ngotot pingin ngobatin."


Rion tertawa terkekeh.


Setelah luka itu diobati, merek tengah duduk berdua di pasir pantai melihat ombak yang sedang bergulung-gulung. Lama keduanya duduk terdiam.


Neyza: "Makasih, Rion. Kalo kamu gak datang mungkin kejadian lain bakal lebih buruk dari ini."


Rion: "Gue juga makasih. Lu udah aktiv-in lokasinya ke gue."


Neyza: "Pikiranku saat itu cuma kamu."


Deg.


Jantung Rion berdegup kencang. ".. cuma kamu," yang ia dengar dari mulut Neyza seperti membuatnya menjadi seseorang yang lain.


Neyza diam saja. Rion pun tak membalas. Lama keduanya menatap ombak. Rion mencoba melihat Neyza. Ada dua titik air yang luar dari matanya turun melewati pipi Neyza. Ia juga perempuan.


Neyza yang sadar bahwa Rion tahu ia menangis merangkul kedua lututnya. Ia kini menangis. Rion yang melihatnya merasa kasihan, membuatnya ingin menghibur Neyza. Tangan Rion merangkul pundak Neyza. Ia tak berkata apa-apa. Neyza menangis. Ia juga perempuan yang kenal takut. Kejadian tadi membuat ia merasa berada di dunia yang lain.


Rion merasa kasihan. Ia melihat Neyza masih membungkuk dan menangis. Neyza lalu mengangkat mukanya. Ia menghapus air matanya. Menangis adalah salah satu cara ampuh agar ia kembali tenang. Kini ia tak takut lagi. Masa sulit sudah berlalu. Ia tak perlu merasa berada di suasana yang aneh. Ini bukan mimpi. Melihat ombak, berada di pantai adalah sebuah proses penyembuhan.


Neyza: "Dulu waktu masih kecil. Papa suka ajak aku ke pantai. Setiap minggu pasti aku nangis minta dibawa ke pantai. Bikin istana pasir. Sembunyiin harta karun. Sampai besar gini. Kalo sedih, Weni suka ajak aku ke pantai."


Rion: "Pantai itu bikin damai. Suaranya kayak dukungan dari alam. Bikin kita jauh hati sama suasana pasir, air sama sinar matahari. Tapi, gue ada kenangan gak enak di pantai."


Neyza: "Apa?"


Rion: "Nemenin orang nangis sambil obatin lututnya."


Neyza menoleh ke arah Rion dan melempar pasir yang ia genggam. Rion berdiri dan berlari menjauhi Neyza. Neyza berlari mengejar Rion. Rion berusaha menghindari kejaran Neyza. Keduanya berlari walau dalam keadaan terluka. Neyza berlari pelan karena lututnya yang masih sakit. Rion akhirnya berhenti. Sengaja memasrahkan diri. Neyza juga ikut berhenti sambil melihat lukanya.


Rion: "Udah. Nanti luka lu makin sakit. Kita pulang."


Neyza mengangguk. Ia kini merasakan apa yang dikatakan Rion. Lukanya makin perih. Rion yang sadar Neyza berjalan pelan di belakangnya, kembali mundur dan berjalan bersama Neyza.


Keduanya kini melaju untuk kembali pulang.


Bili dan Weni berada di rumah kontrakan Neyza. Tak berselang lama, Rion dan Neyza sudah sampai ke rumah kontrakan Neyza. Neyza turun dengan tertatih. Rion mengantarnya ke dalam rumah. Weni sudah menunggu bersama Bili.

__ADS_1


Weni memeluk sahabatnya itu. Weni menangis. "Kamu gpp, Ney?" tanya Weni. Neyza tersenyum. "Pesen makanan gih. Aku lapar," Weni lalu mengambil ponselnya dan memesan makanan kesukaan Neyza.


Bili dan Rion berada di ruang tamu Neyza.


Rion: "Ini masalah serius, bre."


Bili mengangguk. "Gue gak gak nyangka sampai sejauh ini."


Rion: "Gue usut sampai ketemu tuh orang."


Bili: "Gemes gue."


Rion: "Sementara lu tinggal di kontrakan, ya? Mastiin Neyza gpp."


Bili: "Kalo bisa gue tidur di ruang tamu ini. Biar gak ada yang gangguin Neyza."


Rion: "Bagus. Gue masih urusan penting soalnya. Lusa baru ke sini."


Bili: "Ha... ni"


Rion: "Iyoi, bre. Hehehe.. Gue titip si nenek, ya?"


Bili: "Kayak dia anak lu aja."


Rion akan pergi menuju rumah Hani. Seorang desainer baju pengantin sudah menunggu mereka. Rion mandi dan segera setelah itu ia pergi ke rumah Hani.


Beberapa vendor juga hadir untuk merapatkan beberapa keperluan lain. Raut wajah Rion nampak memancarkan kebahagiaan.


Hani: "Sayang. Mau warna apa buat tema nanti?"


Rion: "Eh, sayang? Hahaha... Terserah kamu aja. Apa enaknya."


Hani tersenyum. Rion merasa di atas awan. Panggilan Hani membuatnya menjadi semakin ingin menenggelamkan diri.


Setelah beberapa keperluan lain selesai. Rion akan segera pergi menuju kantor Papanya.


Hani: "Aku ikut, ya? Bete aku di rumah."


Rion: "Ayo."


Hani dan Rion segera pergi ke kantor Papa Rion. Hani menunggu di lobi kantor. Rion menyuruh seseorang untuk menemani Hani. Sejam kemudian, Rion kembali dan segera menemui Hani. Mereka hendak menuju ke parkiran lalu Rion melihat seseorang dari kejauhan.


Laki-laki itu.

__ADS_1


Tito.


__ADS_2