
Wajah Neyza memerah. Ia tahu bahwa kata-kata Rion membuat ia tersipu malu. Rion menoleh ke arah Neyza.
Rion: "Lu wajib ge er, kali. Kan gue emang muji lu."
Neyza: "Apaan, sih?"
Rion: "Lambat laun, lu paham. Kita paham. Pernikahan gak cuma dasar suka sama suka. Tapi kerja sama dalam komunikasi dan kasih sayang."
Neyza: "Baca buku dimana?"
Rion: "Di hati kamuuuu."
Neyza membalikkan badannya untukmu segera tidur. Sedangkan Rion terkekeh melihat reaksi Neyza.
...
...
...
Pagi itu, Neyza membuka matanya. Alarmnya belum nyala. Atau mungkin baterainya habis sejak semalam. Masih agak berat. Namun rupanya masih sangat dingin. Pasti sangat pagi. Ia merasakan kehangatan pagi ini. Tak seperti biasanya. Ia mencoba bangun. Namun selimutnya yang membuatnya semakin enggan untuk beranjak dari tempat tidur.
Tunggu.
Selimut?
Sepertinya tadi malam tak ada selimut. Karena ketika hendak tidur ia merasakan cuaca sangat panas. Mungkin karena pujian Rion yang membuatnya semakin panas.
Lalu selimut tadi?
Neyza membuka matanya lebar. Ternyata tangan Neyza sedang memeluk Rion yang dengan santai tersenyum melihat Neyza. Ia lalu bangun dan menepis badan Rion. Sadar bahwa itu adalah sebuah 'kesalahan'.
Rion: "Hangat, ya? Suami istri mah kudu gitu."
Neyza: "Hei!!"
Rion: "Gak usah marah. Toh, emang lu sendiri yang tiba-tiba meluk gue. Kayak meluk bantal guling."
Neyza: "Maaf."
Rion: "Gue seneng selama lu merasa nyaman. No sorry. Dan gak usah gengsi. Kita udah suami istri, kan? masa mau jadi kucing anjing. Malu dilihat orang. Apalagi Mama Papa."
Neyza mendekati Rion. Menaruh tangannya di pundak Rion. Ia tatap mata Rion dalam-dalam. "Duh, gue benci pikiran gue. Neyza kenapa? kesurupan? ngapain dia pake gaya beginian? duh, Tuhan. Takut gak kuat," batin Rion
Neyza: "Maksud kamu gini?"
Perlahan, Neyza menjewer telinga Rion dan Rion mengerti kesakitan.
Rion: "Ney, kalo lu gitu lagi. Nanti bakal ada sesuatu hal yang diinginkan."
Neyza: "Ha? Apa yang diinginkan?"
Rion: "Nanti lu tahu. Makanya jangan garang sama suami."
Neyza lalu berdiri dan segera mencari sesuatu untuk sarapan. Rion sedang membersihkan kamar. Kepala Neyza tiba-tiba berada di dekat pintu. Rion terkejut sehingga hampir membuatnya terjatuh.
Rion: "Astaga, Ney. Gue kira penghuni kubur, lu. Jangan ngagetin orang."
Neyza: "Ih, aku gak ngagetin orang. Sarapan, yuk? Bubur yang dulu kita pernah makan. Yang habis dikejar anjing."
Rion: "Lu mau? Apa gue yang beliin?"
Neyza: "Disana aja. Sekalian pulang."
Rion: "Oia, kita kan mau ke Jepang sore ini."
Neyza: "Hmm. Rion."
__ADS_1
Rion: "Iya?"
Neyza: "Kita ganti jadwal aja gimana?"
Rion: "Maksudnya?"
Neyza: "Ke Jepangnya waktu kamu meeting kantor aja aku ikut."
Rion: "Kok gitu? Ada kerjaan?"
Neyza: "Dua minggu ini kita nginep di kontrakan aja."
Rion: "Ha? Serius?"
Neyza menganggukkan kepalanya.
Rion: "Kok lu bisa mikir gitu?"
Neyza: "Gak tahu. Kangen aja sama kontrakan. Kangen sama tetangganya."
Rion: "Hmm, yaudah. Gue cancel aja dulu Hotel dan sebagainya. Tapi yakin lu mau di sini dua minggu?"
Neyza: "Dulu berbulan-bulan juga yakin."
Rion: "Ayo, deh. Pokok istri gue seneng. Gue juga seneng. Kuy cari sarapan terus bawa pakaian kemari. Butuh barang apa buat ditaruh di rumah? Biar sekalian belanja."
Neyza: "Gak usah. Isi kulkas aja. Biar masak di rumah."
Rion: "Wah, bisa dong masak kayak sarapan pagi kemarin?"
Neyza: "Kamu ketagihan?"
Rion: "Iyaa. Enaaaak."
Neyza: "Itu telur bebek, lho."
Tak berapa lama mereka telah pergi untuk mencari sarapan.
(Di dan mobil di tengah jalan menuju rumah Neyza)
Rion: "Kalo diingat-ingat, kocak juga tiap kita barengan dulu."
Neyza: "Maksudnya?"
Rion: "Ada biawak, dikejar anjing, pinjem sepeda ojek, kejar maling."
Neyza: "Tunggu. Pinjem sepeda ojek? Kapan?"
Rion: "Ya habis lu makan itu. Gue bilang kan mau pinjem motor Bili. Tapi karena rumah Bili jauh, gue pinjem ojek langganan buat anter lu pulang. Gue bohong biar lu gak khawatir."
Neyza: "Ish, gampang bohong ya, kamu?"
Rion: "Gue lihat-lihat dulu. Gue gak suka bohong, kok. Kalo urgent kayak lu dulu, jelas darurat tingkat satu."
Neyza tersenyum.
Rion: "Gue boleh tanya sesuatu, gak?"
Neyza: "Apa?"
Rion: "Eh, bentar. Gue gak mau tanya sebelum lu ubah kata 'apa' tadi ke gue."
Neyza: "Ha?"
Rion: "Kita harus punya rule. Ah, gue baru ingat. Teman gue dari Jawa. Kalo sama suaminya tiap ditanya jawabnya, 'dalem, sayang?'"
Neyza: "Yailah. Ngapain pake gituan?"
__ADS_1
Rion: "Lebih romantis dan lebih santun. Lu kan juga masih ada darah Jawanya. Cobalah, jawab gitu sama suaminya. Gue juga bakal jawab gitu sama lu. Ayo coba!"
Neyza: "Nggeh."
Rion: "Nggeh apaan artinya?"
Neyza: "Iya sama kayak dalem tadi."
Rion: "Sayangnya mana? gue gak dengar."
Neyza: "Hih. Ribet amat, sih?"
Rion: "Mau gue tanya gak?"
Neyza: "Gak deh gak."
Rion: "Wah, padahal, penting banget ini."
Neyza: "Apaan? Buruan."
Rion hanya diam dan gak menghiraukan kata-kata Neyza. Neyza yang sadar bahwa Rion menantikan balasan tadi mau tak mau mencoba untuk mengikuti perintah Rion.
Neyza: "Nggeh, sayang."
Rion: "Nha, gitu, dong."
Neyza memalingkan wajahnya. "Jadi mau nanya apa?"
Rion: "Lu kira-kira kapan bisa santai ngobrol sama gue dan kita bisa kompakan kayak pasangan yang lain?"
Neyza: "Gak tahu."
Rion: "Gue bisa analisa hari ini bisa asal.. "
Neyza melihat Rikn penuh tanda tanya. "Asal?"
Rion: "Dari sekarang lu gak sewot sama gue. Hahaha."
Neyza: "Udah ah. Gak mau jawab."
Rion: "Gak bisa, dong. Gue tiap lu mau tanya apa aja gue jawab gamblang dan tanpa ditutupi."
Sekali lagi, Neyza masih enggan mengeluarkan isi hatinya bahwa ia masih terlalu malu mengutarakan rasa sayangnya pada Rion.
Neyza mencoba mengusik Rion. Akhirnya mereka tiba di depan Rumah Neyza. Ketika Rion hendak memasukkan mobilnya ke dalam area rumah. Seorang laki-laki berdiri di depan mobil mereka.
Rion: "Astaga!"
Neyza terkejut. Untung saja seatbelt-nya masih terpasang sehingga ia tidak terbentur apa-apa. Rion turun dan seorang satpam rumah juga turut menemui pria itu.
Satpam: "Mas, permisi, mobilnya mau masuk."
Rion menatapnya. "Heri, Adiknya Hani, kan, lu? Ada apa?"
Heri: "Rion. Gue mau ngomong sama lu. Ada waktu sebentar?"
Rion meminta tolong Pak Satpam untuk segera menjamu tamunya yang baru saja datang. Sementara Rion memarkirkan mobilnya di depan teras rumah.
Neyza: "Siapa?"
Rion: "Adik Hani. Ikutan duduk, ya? Biar tahu mau dia apa?"
Neyza: "Iya aku ikutan duduk."
Rion: "Makasih, sayang."
(bersambung)
__ADS_1