
Rion menatap Hani dengan penuh keterkejutan. Seorang pria yang barusan duduk tadi harusnya yang ia kenalkan. Mengapa Rion? Hani tersenyum memandang Rion. Mama dan Papa Hani tersenyum. Rion pun tersenyum terpaksa. Ini bukan rencana yang bagus. Berarti, cinta Hani tertolak. Lalu siapa pria yang baru masuk ini?
Hani: "Mama, Papa. Rion inilah yang selama ini Hani suka. Ia pun juga menaruh hati pada Hani. Sekiranya Mama Papa menginjinkan, Hani dan Rion akan menikah secepatnya."
Rion: "Tunggu.. "
Hani memegang tangan Rion. "Kami sudah sepakat. Untuk mengatakan ini pada Mama dan Papa."
Papa Hani: "Tentu. Papa dan Mama juga bukan kali ini bertemu dengan Rion, kan?"
Mama Hani: "Mama juga tidak kaget ketika Rion yang datang tadi. Mama dan Papa setuju Hani menjadi pasangan hidup Rion."
Peluru tajam sepertinya menghujam jantung Rion. Ia merasa asing dengan keadaan ini. Ini bukanlah keinginannya. Ini diluar dugaan. "Yasudah. Kapan kira-kira kita akan berkunjung ke rumah Rion untuk bertemu Mama dan Papanya?" tanya Papa Rion. Yang ditanya tak bisa menjawab. "Hmm, nanti saya kabari Hani." Mama dan Papa Hani berdiri dan mengajak Rion ke meja makan untuk makan malam. Lelaki yang barusan datang tadi juga berdiri dan mengikuti mereka. Hani berdiri, sedangkan tangan Rion menghentikan langkahnya.
Rion: "Maksud kamu apa sih, Hani?"
Hani: "Bukannya kamu setuju bantuin aku, Rion?"
Rion: "Kalo kamu bilang sejak awal, aku bisa pastiin kamu sama pria yang kamu sukai itu. Terus siapa laki-laki yang baru masuk tadi?"
Hani: "Adikku. Kamu lupa? Oia. Dia baru saja dari luar negeri. Operasi wajah. Setahun kemarin kan dia mengalami kecelakaan hebat. Wajahnya hancur. Jadi setahun itu juga dia menetap di luar negeri untuk berobat."
Rion menepuk dahinya. Betul. Hani punya seorang adik laki-laki. Namanya, Leo. Rion hampir tidak mengenalnya. Walau hanya sekali bertemu. Tetap saja ia bisa mengenal seseorang. Tapi tidak dengan Leo.
Rion: "Ah, yang dulu aku sering panggil dia Heri." Rion tersenyum. "Iya, cuma karena dia mirip sama teman kamu itu," Hani memukul lengan Rion.
Hani: "Ayo, makan dulu!."
Rion: "Tunggu. Ini maksud kamu apa lagi? Aku jadi bingung."
Hani: "Aku memang kenalin calonku ke Mama Papaku. Dan memang dia."
Rion: "Gak ngerti."
Hani: "Orang yang aku suka kamu."
Rion: "Apa?"
Hani: "Jangan cerewet kamu. Panjang ceritanya." Hani menarik tangan Rion menuju ruang makan dan makan bersama. Satu jam berlalu. Rion pamit untuk segera pulang. Hani menemaninya keluar.
Rion: "Kamu yakin?"
__ADS_1
Hani: "Nikah sama kamu? Yakin banget."
Rion: "Perasaan kamu, Hani. Kenapa kamu sekarang malah bilang suka sama aku?"
Hani: "Aku gak mau cuma sekedar pacaran dan putus. Aku pingin ada yang serius."
Rion tersenyum. Ternyata Hani juga punya perasaan yang sama dengannya. Kini ia akan pulang dengan perasaan yang sangat ringan. Ia pulang membawa cinta Hani yang tiba-tiba datang. Ah, manis rupanya kisah cinta itu, pikirnya.
Rion malam ini tak pulang ke kontrakannya. Keesokan harinya, Bili datang ke rumah Rion untuk memastikan keadaan Rion yang pergi begitu saja.
Bili: "Heh, bre. Lu tuh ye. Bikin orang khawatir mulu. Barusan keluar dari rumah sakit, tiba-tiba hilang, gak pulang ke kontrakan, gue ke sini lu malah senyum-senyum."
Rion hanya tersenyum memandang Bili. Rion menenggelamkan kepalanya di bantal empuknya. Bili merasa gemas hingga ia mencubit paha Rion.
"Aaargh..sakit, bre. Apaan sih, lu?" tanya Rion yang kesakitan.
Bili: "Dari tadi gue ngomong sama hantu. Nha balik ke badan ruh lu."
Rion: "Ish, lu mau tanya apa. Buruan."
Bili: "Lu dari mana?"
Rion: "Duh Bil. Gue bentar lagi nikah."
Rion: "Idih. Ya gak lah. Beda. Ini orang paling cocok sama gue." Rion tersenyum.
Bili: "Jangan mainin cewek lu, ye."
Rion: "Sapa yang mainin cewek, sih?"
Bili: "Lu tuh suka godain Neyza terus lu nikah sama orang lain. Php namanya, Bre. Kalo Neyza suka sama lu karena lu suka jailin dia gimana?"
Rion: "Lah, dia mana suka sama gue. Bawaannya pingin makan gue gitu."
Bili: "Dosa tahu, gak?"
Rion: "Denger ye, bre. Gue secara gak sengaja kan ketemu sama si nenek. Dan gue gak ada niatan buat bikin dia suka sama gue. Semua murni karena sebuah kesalahan. Kalo dia emang suka sama gue. Ya itu memang kata hati dia. Bukan gue. Masak gue harus tanggung jawab sama perasaan dia."
Bili: "Makanya, bre. Ada sebuah materi perkuliahan namanya menjaga perasaan. Lu kagak ambil waktu itu. Gak semudah itu bikin orang gaksuka sama dia. Tapi, yang gue lihat sama Weni. Lu tuh ada rasa sama Neyza. Lu sering banget godain dia yang gue gak pernah lihat lu kayak gitu ke orang lain."
Rion: "Gue gak ngerasa gitu."
__ADS_1
Bili: "Lu gak peka. Tapi orang lain yang ngerasa." Bili berdiri mengambil botol minuman di sebelah Rion dan meminumnya.
Rion: "Kok lu jadi marah ke gue, bre? Salah gue apa?"
Bili: "Gue kasihan sama Neyza. Andai dia suka sama lu. Dia bakal sakit hati banget."
Rion: "Udah udah. Gue ngaku salah. Gue emang gak ada rasa sama dia. Gue orangnya usil sama Neyza. Gue berdosa."
Bili: "Lu emang gak pernah mikirin dia?"
Rion: "Pernah."
Bili: "Jantung lu gak pernah berdebar-debar gitu kalo dekat dia? Gue aja yang gak naruh hati keder juga lihat kecantikan dia sama lemah lembutnya dia."
Rion: "Pernah juga."
Bili: "Lu gak pernah kepikiran jadi orang penting di hatinya?"
Rion: "Wah kalo ini di luar kuasa gue ya, bre. Gak pernah kalo ini. Udah ah. Lu mau lobster gak? Tuh menu pagi ini di meja makan. Ayo makan."
Bili: "Wah, ini gue gak bakalan nolak. Lu kalo nyogok gue pake makanan pasti bakal berhasil."
Bili dan Rion berjalan ke meja makan untuk sarapan pagi. Setelah duduk di meja makan. Bili mengambil seekor lobster untuk dimakan.
Rion pun mengambil udang besar dan memakannya. Bili menghabiskan makanannya lebih cepat dan menikmati segelas air jeruk peras yang ada di dekatnya. "Sapa yang bakal nikah sama lu?" Bili penasaran. "Hani" Rion menjawab sambil melahap daging lobster. Bili tiba-tiba batuk karena mendengar jawaban Rion. "Hani?" tanya Bili memastikan. Rion tersenyum manis ke arah Bili. "Kok gue ngerasa aneh ya, bre?" Bili berpendapat.
Rion: "Aneh gimana? Lu gak suka?"
Bili: "Jelas-jelas dia nolak lu. Ketemuan sama lu juga biasa-biasa aja dia. Bukan kayak cewek yang lagi suka sama cowok."
Rion: "Justru itu lebihnya dia. Dia beda dari cewek mana pun."
Bili: "Pokoknya lu mesti mikirin lagi nikah sama dia. Gue uda ingetin."
Rion: "Lu nih. Kayak gue ini diambang jurang."
Bili: "Gue takut tiba-tiba perasaan lu cenderung ke Neyza."
"Uhuk", Rion tersedak makanan.
__ADS_1
Nama Neyza tiba-tiba membuat ia terkejut.