
Rui berjalan dengan tergesa-gesa pada lorong kampus. Sebuah perkuliahan akan dimulai beberapa saat lagi. Ia sedikit menaikkan kekuatan kakinya untuk berlari. Dua buku literasi yang tebal, tas punggung, sepatu kets berwarna putih.
Ia masuk setelah seorang Dosen berjalan di belakangnya. Rui menghela napas panjang. Ia yakin jantungnya tadi semakin memompa cepat. Ini adalah pertemuan pertama di mata kuliah terbaru. Para mahasiswa tengah sedikit riuh da akhirnya berhenti berbicara ketika sang Dosen duduk di kursinya.
Sebuah layar berwarna putih memunculkan lembar kerja dari materi yang akan ia sampaikan. Rui dan mahasiswa lainnya memperhatikan dengan seksama. Di sebelahnya, Levi, teman pertama Rui sejak ia masuk ke kampus ini, tengah sibuk membalas pesan di ponselnya. Rui menyenggol lengan Levi. Sebuah catatan mendarat di atas buku Levi yang masih belum terbuka.
Kamu ngapain, sih? Fokus, napa?
Levi hanya membalas dengan ikon senyum di bawah tulisan Rui. Setelah satu setengahnya jam berlalu, Kuliah itu telah selesai. Rui hanya menatap temannya itu dengan tatapan heran. Levi hanya terkekeh melihatnya. "Ini lho. Tetanggaku pingin nitip jajan kalo aku pulang kampus," kata Levi dengan santai.
Rui menarik lengan Levi menuju kantin. Mereka segera memesan makanan lengkap dengan pencuci mulut, sebuah menu baru di kampus ternama itu. Levi bercerita dengan menggebu tentang seorang pria yang ia temui di jalanan tadi pagi. Rui hanya menikmati kue cokelat lava yang menggoda saat tadi memesan makanan. Levi yang melihat Rui memegang sesendok kue cokelat lumer itu berusaha ingin menjahili Rui. Ia lalu mendekati sendok Rui untuk memasukkan sendok berisi kue itu ke dan mulutnya. Naas, Rui mengetahui rencana licik Levi, ia lalu menarik sendok itu dengan kekuatan yang sedikit besar. Alhasil, sendok itu terpental ke lantai. Rui yang terkejut melihat sendok itu sementara Levi hanya tertawa melihat kelakuan Rui.
Rui mengambil sendok itu, namun ia tak melihat kue itu jatuh ke lantai. Ia terheran heran. Kemana kue itu terjatuh. Ia ingin segera membersihkan karena khawatir akan terinjak oleh orang-orang.
__ADS_1
"Kamu cari ini?" kata seorang pria sambil menunjuk pipinya yang terlihat berantakan karena kue cokelat Rui mendarat di pipi pria itu. Rui sangat terkejut dengan apa yang ia lakukan. Secara spontan Rui menarik lengan pria itu dan sedikit berlari ke depan kamar mandi kantin.
Rui mengambil tisu basah yang ada di saku celana panjangnya. Gaya tomboy nya sangat kentara karena ia tak segan membersihkan pipi pria itu dengan agak keras. Pria itu hanya diam tanpa perlawanan. Ia tahu bahwa Rui melakukan itu sebagai bentuk permintaan maaf karena kesalahannya. Setelah Rui membersihkan pipinya. Tentu saja, tisu basah akan meninggalkan sisa air yang masih menempel di pipinya. Rui mencari tisu kering yang harusnya ia bawa tadi. Namun ia baru ingat tisu kering itu ia tinggalkan di dalam mobil saat ia berlari menuju kelas tadi.
Rui tak habis akal, scarf di lehernya itu ia buka dan ia bersihkan sisa air di pipi pria itu. Pria itu nampak tak banyak berkspresi. Ia seperti mengikuti apa yang Rui lakukan. Pasrah karena ia pun tak mampu berbuat apa-apa.
"Udah," kata Rui merasa senang karena ia tak menjadikan pria itu malu karena ulahnya. "Maaf, tadi saya gak sengaja. Udah bersih kok ini. Bajunya kayaknya juga gak kena," sambung Rui. Pria itu masih diam.
"Kamu mahasiswa baru, ya?" kata pria itu. Rui mengangguk. "Ah, iya. Saya Rui. Kamu?" Pria itu seperti enggan menyebutkan namanya. Setelah berpikir sejenak. "Maliq," katanya singkat. "Sekali lagi, maaf, ya. Saya gak sengaja. Saya boleh balik ke tempat saya?" Malik mengangguk mempersilahkan Rui kembali.
"Ya Tuhaaan! Aku kudu gimana?" jawab Rui dengan ekspresi datar. "Kok kamu malah gitu? Gak takut?" Rui tersenyum. "Karena aku udah minta maaf. Dan dia juga gak masalah dengan itu," kata Rui menghabiskan satu suapan terakhir dari kue cokelat itu.
Sesaat setelah perkuliahan selesai. Kampus sudah mulai sepi. Ia mulai menjalankan mobilnya di parkiran. Setelah hendak keluar dari gerbang kampus. Sebuah mobil yang nampak arogan sempat menyalip beberapa angkutan umum beberapa meter sebelum berada di depan kampus Rui. Mobil itu sudah terlihat seperti mobil yang tak menghormati pengendara lain. Namun apesnya, ia berada di depan mobil Rui yang akan keluar kampus. Ia lalu berhenti dan membunyikan klaksonnya. Rui terkejut setengah mati. Tangannya sedikit bergetar. Jantung Rui bersetak kencang. Seorang pria paruh baya keluar dari mobil dan memukul kap mobil Rui.
__ADS_1
"Keluar, gak lu? Main halangin orang jalan aja," ia lalu berdiri di sebelah pintu Rui. Mengetuk kaca pintu Rui. Tangan Rui berkeringat. Ia hampir kehabisan napas karena panik. Pria itu hendak kaca mobil Rui. Namun tangannya terhenti karena sebuah tangan menghalanginya.
"Saya perhatiin dari tadi mobil anda yang ngawur. Bunyi klakson anda buat pengendara lain juga gak nyaman dari tadi. Sekarang cari alasan buat bikin masalah di kampus orang," Rui melihat kejadian itu. Maliq berdiri untuk menghadapi pria itu.
"Lu siapa? Pake sok jagoan datang tiba-tiba," ujarnya penuh kekesalan. "Saya Nico. Pengacara. Kalo Bapak mau memperkarakan ini. Dengan senang hati saya layani. Mudah untuk melihat bukti CCTV dari pagar ujung kampus sampai di tempat kejadian ini. Dana saya akan berdiri sebagai saksi untuk memenjaraka Bapak," muka pria itu nampak pucat pasi. Ia lalu berlalu dan pergi tanpa satu kata pun.
Rui keluar dan menemui Maliq yang masih berdiri. Memastikan pria itu telah pergi dari pandangannya. "Kak Maliq. Makasih. Tadi.. " Maliq hanya mengangguk. "Kamu mau pulang?" Rui mengiyakan pertanyaan Maliq. Ia lalu menyuruh Rui masuk ke dalam mobil dan duduk sebagai penumpang. Maliq mengambil alih kemudi. "Lho, aku dianterin? Gak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri. Tadi itu makasih," Maliq menjalankan mobil Rui. Ia tak banyak berbicara. "Rumah kamu dimana?" katanya. Rui memberikan alamat lengkap dan beberapa petunjuk rumahnya. Dalam beberapa menit kemudian merak telah sampai di depan rumah Rui.
Mobil itu tepat berada di depan pagar rumah. Maliq turun dari mobil Rui. "Aku pulang duluan. Hati-hati," ia lalu berjalan menjauh dari mobil Rui. Sementara Maliq semakin menjauh dan menghilang. Rui hanya keheranan melihat kejadian yang aneh barusan. Bukan karena pria di depan kampus itu.
Tapi sikap Maliq yang sangat dingin dan perhatian.
Siapa Maliq sebenarnya?
__ADS_1
(bersambung)