
Maliq pulang ke rumahnya. Ia segera duduk di meja belajarnya dan membuka komputernya. Ia sibuk membuka mesin pencari tentang buku yang Rui cari. Sebuah pernyataan yang ia lontarkan secara 'berani' membuatnya harus membayar mahal untuk segera mendapatkan barang yang ia cari.
Buku itu nampaknya buku kedua yang baru saja diterbitkan. Tentunya, harusnya mudah didapatkan di toko buku mana pun. Namun rupanya, buku itu masih belum masuk ke Indonesia. Buku itu masih belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sempat terbersit untuk membeli versi bahasa yang lain. Namun nampaknya ia akan lebih dipecundangi dirinya sendiri.
Kini ia makin kebingungan. Ia menggaruk kepalanya. Ia bertanya pada seorang teman yang senang dengan buku-buku novel. Namun belum ada balasan, ia masih terus mencari keberadaan novel yang hendak dicari Rui itu.
Maliq, udah kok novel itu kemarin baru keluar di toko buku. Coba cari aja. Gampang habis juga.
Pesan dari temannya itu membuatnya segera mengangkat kaki dan pergi ke toko buku. Tiga puluh menit kemudian, Maliq sudah sampai di sebuah toko buku terbesar dan terlengkap di Jakarta. Ia segera masuk dan menuju ke tempat informasi mengenai novel tersebut.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Maliq dengan riang gembira menyusuri rak-rak buku itu. Tak mudah pula mencari rak buku yang dituju. Ia pun berhati-hati dan tidak gegabah. Maliq bukan orang yang secara rutin pergi ke perpustakaan apalagi toko buku. Sesekali ia pergi untuk mengantar keponakannya, atau pergi membeli beberapa tas untuk kebutuhannya sekolah.
Baru saja ia mengambil novel terbaru yang akan ia berikan pada Rui. Wajahnya bergembira. Ia segera membayarnya di tempat kasir. Ia berjalan melewati sebuah display pembatas buku. Ia lalu berhenti karena melihat sebuah pembatas lucu berwarna merah jambu. Ia pun mengambil satu untuk dibeli. Saat ia hendak keluar dari toko buku tersebut, seseorang nampaknya sontak memanggilnya.
"Maliq!"
Maliq segera mencari orang yang memanggilnya tersebut. "Lalita!" katanya. Lalita tersenyum melihat Maliq yang ada di depannya. Mereka sedikit berbincang. Terkadang Lalita tertawa karena Maliq melontarkan sesuatu yang lucu. Namun sesekali keduanya nampak serius dalam sebuah perbincangan. Maliq memberikan sebuah pembatas buku yang baru saja ia beli. Kemudian mereka pun berpisah.
Setelah makan malam bersama keluarganya, Maliq segera menuju ke kamarnya dan segera membaca novel tersebut dengan cepat. Namun karena ia bukanlah orang yang gemar membaca buku, baru membaca dua halaman saja ia sudah merasakan matanya kepanasan dan ia merasa bosan.
"Harusnya aku baca yang pertama. Bagaimana mungkin aku baca novel kedua tanpa membaca rantai cerita yang pertama?" ia menghela napas panjang. Kalau saja ia tidak menjanjikan sesuatu kepada Rui, saat ini mungkin ia tengah bermain game atau bersantai dengan keluarganya. Perhatiannya pada buku itu mendadak terhenti. Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Hai, Kak Maliq. Ini Rui. Maaf mengganggu. Tentang novel yang kita pernah bicarain itu. Gak masalah kalo novel itu gak ada. Rencananya aku mau pre order kalo emang buku kakak gak ada. Takut merepotkan.
__ADS_1
Maliq terdiam sejenak. Seketika ia menjadi patung saat selesai membaca pesan Rui. Ia segera menaruh buku itu dan berpikir keras untuk membalas pesan Rui. Sebuah fitur note pada ponselnya ia buka dan segera mengetik kalimat demi kalimat yang akan dikirim ke ponsel Rui.
Mengetik.
Menghapus.
Mengetik.
Menghapus.
Dua hal itu yang ia lakukan dalam waktu lima menit pertama. Ia lalu merebahkan dirinya. Ia lihat kalimat yang ia ketik sedari tadi. Kini ia mendapatkan ide untuk membalas pesan Rui.
Gpp.
Ia lalu tersenyum. Lalu kembali meneruskan bacaan bukunya. Sebuah pesan kembali masuk. Mungkin itu Rui. Maliq dengan cepat membacanya.
Maliq menyalahkan dirinya sendiri karena berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Dalam hatinya ia berjanji untuk lebih berhati-hati terhadap reaksi apa pun. Ia hanya tak menyangka Rui akan berkata demikian tak enak hati.
Ponsel Rui bergetar. Ia tengah membaca sebuah masalah wisata dan menyantap keripik kentang. Ia tak melihat layar ponselnya. Melainkan ia langsung mengangkatnya. "Halo!" sapanya. Seseorang di sana tak menjawab. Rui menyapa lagi dengan kata yang sama. "Ya, Halo, Rui. Ini Maliq," jawab si penelepon.
Mata Rui membesar. Ia hampir saja melempar ponsel itu. Ia tak menyangka Maliq seberani itu menghubunginya. Ia segera tersadar dan berbicara dengan Maliq. "Eh. Ya, Kak," jawab Rui. Ia terlanjur berpikir tentang Maliq dan Lalita. Namun ia dengan cepat membuat situasi dirinya menjadi tenang.
"Sori, terpaksa telepon. Tanganku kotor. Gpp, bukunya ada di rumah, kok. Tapi kamu bisa nunggu sebentar kan? Kayaknya aku masih repot," Maliq tak melanjutkan kalimat sambungannya.
__ADS_1
Masih repot baca novel ini biar bisa satu frekuensi kalo ngobrol sama kamu.
Rui membalas permintaan maaf dan Terima kasih kepada Maliq. Dan sang Kakak seniornya itu segera mengakhiri percakapan mereka segera.
Keduanya nampak duduk terdiam tak lama setelah mereka menutup teleponnya. Maliq dengan tatapan ke novel tebal itu, dan Rui yang masih ingin menimbang-nimbang untuk kembali memasukkan keripik kentang atau tidak ke dalam mulutnya.
Oh, My God. Ini ada angin apa tiba-tiba Kak Maliq telepon aku? Lagi demam kali, ya?
Rui segera menghubungi Levi. Perempuan itu adalah satu-satunya yang bisa mengartikan rasa penasarannya karena ia mengikuti dengan detail bagaimana cara kerja takdir menyelimuti Maliq dan Rui.
"Apa aku gak boleh bilang kalo Kak Maliq itu mungkin tertarik sama kamu, Rui?" sahabatnya itu hanya menggeleng tak setuju terhadap ucapan Levi. "Lha dia kan sama Kak Lalita. Lagian cowok telepon ke cewek kan gak mesti harus ada rasa suka. Ini pure memang ada perlu karena dia nawarin novel kesukaanku aja, sih. Masa ia dia suka sama aku? Aku udah berharap lagi ya, Vi," Rui menjelaskan secara terperinci.
Pembicaraan yang lama itu akhirnya tak menemukan titik temu antara iya atau tidak seorang Maliq menaruh hati pada Rui.
Empat hari kemudian, di kampus. Rui tengah duduk di taman kampus seperti biasa. Menunggu Levi untuk segera masuk ke dalam kelas. Maliq yang melewati taman itu melihat Rui yang duduk sendiri sedang sibuk dengan ponselnya.
"Rui!" kata Maliq dengan nada pelan. Rui tak menjawab sapaan Maliq. "Rui!" ia memanggil dengan nada sedikit lebih keras. Rui kembali tak menggubris panggilan Maliq. Ia lalu menepuk pundak Rui dari belakang. Rui terkejut.
Lho, aku pikir tadi pikiranku yang manggil-manggil. Ternyata ada orangnya beneran.
Rui meminta maaf kepada Maliq. Rui lalu menerima sebuah novel yang dijanjikan oleh Maliq. Rui merasa sangat senang. "Gak usah keburu bacanya. Semua udah pada baca," Rui mengangguk.
Ponsel Maliq bergetar. Ia pun mengangkat sebuah panggilan. "Halo, Ta. Gimana? Oh.. Ya udah. Aku jemput sekarang di kampus, ya?" Maliq segera menutup telepon itu dengan senyum mengembang. Rui tak melewatkan moment itu. Lalu ia pura-pura tidak mengetahui. Maliq lalu pamit untuk segera meninggalkan Rui yang menghela napas panjang.
__ADS_1
Fix udah beneran Jadi adik ipar aja. Bye, Kak Maliq. :(
(bersambung)