Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 42 Kenapa datang lagi?


__ADS_3

Rion tercengang dengan perkataan Bili.


Bili: "Lu gpp, Bre?"


Rion: "Gue kenapa-kenapa."


Bili: "Yah, jangan gitu dong."


Rion: "Lu tahu latah hati, kan?"


Bili: "Lu gak maju-maju, sih. Gemes gue."


Rion: "Gimana mau maju, dianya dideketin udah kayak patung. Diem aja. Diajak ngomong jawabnya singkat."


Bili: "Sabar, ya. Gue paham perasaan lu. Gue udah 7 kali ditinggal nikah sama gebetan gue. Sampai sekarang gue senang-senang aja."


Rion: "Kalo lu mah karena emang gampang suka sama orang, Bre."


Bili tersenyum menggaruk kepalanya. Rion kembali bekerja. Ia simpan rapat-rapat perasaannya pada Neyza. Biarlah. Mungkin bukan jodohnya. Rion adalah seorang manusia juga. Ia seorang pria. Patah hati pun pernah ia rasakan. Malah cinta itu sudah ia genggam. Walau tak menikmati kasih sayang sebagai pasangan pada umumnya, toh ia bangkit lagi. Walau tanpa sadar ia memang menaruh hati pada wanita baik itu. Neyza, selamanya tak akan dilupakan Rion. Beruntunglah lelaki yang akan menemani hari-hari Neyza itu.


Enam hari mendekati pernikahan Neyza.


Weni: "Kamu gak milih-milih tema, gitu?"


Neyza: "Gak. Semua Mama yang atur. Katanya biar aku fokus kerja dulu. Biar gak kepikiran rapat vendor dan printilannya."


Weni: "Serius? Gak mau ngerancang sendiri pernikahannya impianmu, Ney?"


Neyza: "Aku gak perlu ngerancang apa-apa, sih. Ini uda cukup senang. Pernikahan apapun kalon dijalani ikhlas mau diurusin apa gak tetap jadi pernikahan yang terberkati."


Weni: "Makin bijak kamu, Ney."


Neyza: "Gak, lah. Kamu juga ngajarin aku banyak kok, Wen."


Seseorang mengetuk pintu kamar Neyza. Seorang asisten rumah tangga memberi tahu kan bahwa seorang perancang busana pengantin telah datang. Ini hari yang mendebarkan. Neyza dan Weni segera turun untuk mencobanya. Weni dengan dress pengiring pengantin, sedangkan Neyza dengan dua baju pengantin.


Seorang deaigner dan tiga orang asistennya telah menunggu Neyza dan Weni. Weni terkejut melihat sebuah gaun panjang yang terletak di ruang tengah. Neyza tak kalah terkejutnya.



Neyza: "Ini pilihan Mamaku?"


Designer: "Betul. Tapi. Kalo Non Neyza gak mau. Kami bisa ganti dengan pilihan Non Neyza."


Neyza: "Tak apa. Saya coba ini saja."


Designer: "Mari, biar asisten saya yang membantu memakaikan."


Neyza segera segera pergi ke ruang kerja Papa dan seger berganti baju. Tak berapa lama ia keluar untuk menemui Weni dan Designer. "Perfect. Saya tidak pernah melihat keanggunan calon pengantin seperti raut wajah Non Neyza. Ini sangat cocok di badan Non Neyza. Bagaimana?"


Weni: "Kayak putri bangsawan kamu, Ney."


Neyza: "Haiyah. Apaan, sih, Wen?" Neyza mengelak.


Designer: "Semoga tidak ada perubahan. Karena membuat pakaian baru dalam enam hari sangat tidak mungkin."


Neyza: "Tidak mengapa. Kalo saya berubah pikiran saya akan memakai gaun di butik anda."


Designer: "Ide cemerlang. Bila mungkin besok atau lusa adalah batasan hari agar kami bisa menyiapkan lebih rapi untuk hari H nanti."

__ADS_1


Neyza: "Terima kasih sudah membantu."


Designer itu tersenyum dan mempersilahkan Weni untuk mencoba pakaiannya.


Malam harinya, Neyza dan Weni berada di sebuah toko. Mereka hendak memberikan beberapa hadiah kepada para tetangga di lingkungan perumahan.


Neyza: "Aku mau beliin Bu Dewi air cooler. Dulu ia pernah bilang mau beli itu. Tapi masih belum kesampaian. Aku juga mau belikan Pak Adam alat cukur rambut. Ia pingin banget punya itu. Terus Manji aku mau beliin sepatu roda."


Weni: "Kamu sampai hapal gitu."


Neyza: "Aku tinggal di lingkungan yang damai banget. Mereka saling membantu, mendukung, saling kerja sama. Dan lucu."


Weni: "Hei, Rion juga bagian dari tetanggamu."


Neyza: "Tapi dia udah gak disitu lagi, kan?"


Weni: "Tetap aja kamu gak adil beliin semua tetanggamu."


Neyza: "Oke oke.. aku beliin deh. Apa, ya?"


Weni: "Dia suka apa?"


Neyza: "Aaah, ini," Neyza memegang gantungan kunci berupa palu karena mengingat awal mulai pertemuannya dengan Rion saat hendak mencari palu."


Weni: "Emang berkesan ya tetangga kamu yang satu itu?"


Neyza: "Gak. Idih geli aku."


Rion: "Emangnya aku ulat bulu sampek kamu geli, Ney?" 😒


Weni dan Neyza menoleh ke arah Rion yang tiba-tiba ada di sebelah Neyza.


Weni: "Sejak kapan kamu di sini?"


Neyza: "Terus ngapain ikutin kita?"


Rion: "Emang gue ada perlu di sini."


Weni: "Cari apa, Rion?"


Neyza: "Paling alasan aja."


Rion: "Cari kado buat kawinan lu, Nek."


Neyza mencubit Rion yang sedikit berteriak. "Sssst, didengar orang, ih," Neyza protes.


Rion: "Lagian. Baik-baik kek sama gue. Diem mulu. Mentang-mentang mau nikah. Mau manja-manja sama suaminya."


Neyza: "Iri? Cari pasangan, dong."


Rion: "Lha yang dikejar udah mau nikah duluan. Weee."


Rion meninggalkan Weni dan Neyza. Sementara Weni menutup mulutnya dan Neyza malah terpaku seperti patung.


Weni: "Nho, nyesel gak, tuh? Ternyata saling sayang menyayangi."


Neyza: "...... "


Weni: "Heh. Ney. Heh... Jangan diam. Aku panggilin ambulan, lho."

__ADS_1


Neyza: "Gak gak. Tadi bukan siapa-siapa. Halusinasi. Yuk, bayar."


Weni tertawa karena reaksi Neyza yang tak kalah terkejutnya.


Neyza mengantri di kasir. Setelah membayar, seorang petugas toko membawakan barang-barangnya untuk dibawa ke mobil Neyza. Neyza dan Weni berjalan di depan. Setelah sampai di parkiran, Neyza membuka pintu belakang.


Seseorang menaikkan barang-barangnya Neyza dan merapikannya.


Neyza: "Terima ka.... Rion!"


Weni segera menoleh ke arah Neyza.


Rion: "Dibantuin, kek."


Neyza: "Ngapain di sini?"


Rion: "Gue mau ambil barang yang mau klu kasih. Di nikahanmu nanti gue gak mau jadi tamu lu."


Neyza: "Kamu, nih."


Weni: "Duh, kalian itu kenapa sih gak jadi aja dari dulu? Sebel aku."


Neyza: "Ogah sama tukang usil."


Rion: "Gue juga ogah sama mak lampir."


Neyza: "Nih!" memberikan gantungan kunci palu yang ia taruh di tas tangannya."


Rion: "Ya, udah. Sekarang kita kemana?"


Neyza: "Rioooon. Apa lagi?"


Rion: "Gak ah. Masak semua tetangga lu kasih hadiah di atas 500.000.Punya gue cuma 25.000.Nih harganya masih nempel. Gue mau samaan."


Neyza: "Ngelunjak, ya. Udah dibeliin."


Weni: "Udah udah turutin aja, ah. Makan malam kek. Anggep aja terakhir. Habis itu kan kamu sama suamimu kemana-mana."


Neyza mempertimbangkan omongan Weni. Ada benarnya.


Neyza: "Yaudah. Kamu mau kemana?"


Rion: "Makan di food court di lantai atas, yuk?"


Weni: "Ayuk udah ayuk. Aku gemeteran laper dari tadi." Weni menarik tangan Neyza. Rion berjalan di belakang mereka.


Mereka mencari tempat duduk untuk segera memesan makanan. Weni segera meninggalkan Neyza dan Rion di meja karena ia sudah sangat lapar. Weni mencari-cari makanan untuk dimakan.


Rion: "Selamat, by the way. Bentar lagi lu nikah."


Neyza: "Kamu gak datang nanti?"


Rion: "Pasti datang."


Neyza: "Syukur, deh."


Rion: "Lu pasti sayang banget sama calon suami lu?"


Neyza: "Bakalnya."

__ADS_1


Rion: "Gue patah hati, Nek."


Oh, tidak.


__ADS_2