
Rion keluar dari kantor Polisi untuk memberikan berita acara menghilangnya Hani. Nampak lesu tatapan wajahnya. Ia tak menyangka secepat itu kebahagiaan pergi darinya. Ia pulang bersama Bili. Sepanjang perjalanan ia tak berbicara. Bili juga tahu bahwa ia tak ingin menganggu luapan emosi Rion saat ini. Hatinya terguncang hebat. Berkali-kali ia menarik napas berat dan panjang. Kemana Hani? Begitu yang ada dipikiran Rion sejak ia tahu bahwa Hani memang tak ada. Kini Bili juga merasakan kesusahan karena sahabatnya. Ia tak tahan bila Rion terus bersedih.
Mereka telah sampai di rumah Rion. Bili membuat secangkir teh jahe untuk Rion.
Bili: "Minum dulu, bre. Biar tenang. Lu harus makan juga habis ini biar bisa mikir ke depannya. Jangan sakit. Kasihan Hani pasti ngarepin lu buat jemput dia," Rion tak menjawab namun, setelah itu ia meminum habis minuman buatan Bili.
Rion: "Gue gak nyangka, bre."
Bili: "Gue juga. Sebenarnya apa sih yang terjadi sampai ada kejadian kayak gini? Gue benar-benar gak bisa mikir siapa dalang dibalik semua ini."
Rion: "Kalo sampai gue ketemu orangnya. Gue habisin."
Kedua orang tua Hani baru saja tiba di rumah Rion.
Papa Hani: "Gimana, Rion?" sambil memeluk anak menantunya itu.
Rion: "Tadi barusan Rion dari kantor polisi, pa. Mereka langsung bergerak untuk melakukan pencarian."
Papa Hani: "Pengacara Papa juga sudah dihubungi. Mereka langsung bergerak untuk mencari Hani. Kamu tenang saja. Biar mereka yang urus."
Rion: "Gak bisa, Pa. Rion gak bisa tenang kalo Hani belum ketemu."
Mama Hani: "Mama sedih, Rion. (sambil menangis). Ada apa sebenarnya sampai harus mengorbankan Hani?"
__ADS_1
Rion memeluk Ibu Mertuanya. "Mama.Maafin Rion yang gak bisa menjaga Hani. Semua salah Rion. Rion janji akan menemukan Hani secepatnya dalam keadaan sehat."
Mama Hani memeluk Rion. "Terima kasih ya, Nak," balasnya. Papa dan Mama Hani segera pulang untuk tetap fokus pada penemuan Hani. Rion duduk di samping kolam renangnya. Ia hanya melihat air yang tenang. Bili merasa kasihan, namun membiarkan Rion dan kesedihannya sejenak. Hujan perlahan mulai turun. Rion tetap duduk dan merenung di bawah guyuran hujan. Air hujan mengalir di sela-sela wajahnya. Begitu pun air matanya. Ia menangis tersedu-sedu memikirkan Hani. Cintanya selama ini. "Kamu dimana?"
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Penantian Hani tak kunjung terdengar. Wajah Rion mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis di bawah bibirnya. Energinya seakan habis oleh penantian selama ini. Sudah enam bulan ia menantikan kabar Hani. Ia hanya berpasrah tatkala Hani ditemukan dalam keadaan hidup atau tidak. Situasi ini membuat hari-harinya kelam.
Suara ponselnya berdering.
"Halo," jawab Rion. "Rion. Kamu bisa ke rumah sebentar?" kata orang di telepon itu. Rion menjawab akan segera pergi. Ia mengajak Bili yang sudah enam bulan ini menemani Rion. Telepon dari Papa Hani tadi mengantarkan Rion untuk segera menuju ke rumahnya.
Beberapa mobil terparkir di depan rumah. Banyak orang yang lalu lalang. Rion sadar ada sesuatu yang terjadi di rumah mertuanya itu. Ada apakah? Rion masuk perlahan bersama Bili. Ia masuk ke ruang tamu. Namun orang-orang malah berkerumun di ruang tengah yang besar itu.
Ada sekotak peti mati yang tergeletak disitu. Mama Hani menangis. Papa Hani memeluknya. Banyak yang menangis kala itu. Rion berusaha membesarkan hatinya. Siapa yang di dalam itu? Mama Papa Hani masih ada. Apakah adiknya? Rion mendekati Papa Hani. "Pa, ini siapa?" Papa Hani menepuk punggungnya. "Sabar Rion. Ini Hani. Ditemukan kemarin malam," runtuh sudah hidup Rion. Ia terduduk di sebelah peti mati Hani. Ia menangis memeluk peti itu. Ia ingin membuka. Namun dicegah oleh Papa Hani. "Jangan dibuka. Kondisinya tidak baik. Untuk kepentingan bersama. Jangan." Rion merasa sangat hancur. Bili memeluknya. Tanpa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk dan ikut menangis.
Papa Rion: "Hani ditemukan oleh beberapa warga di dekat pembuang sampah. Dalam keadaan tubuh yang mengenaskan dengan piyama. Entah apa yang terjadi padanya. Polisi sudah mengusut semuanya."
Rion hanya diam. Ia lalu pamit pulang dengan Bili. "Lu cerita kalo dokumen dan beberapa surat berharga di ruang kerja bokap lu hilang. Apa mungkin penjahat itu gak suka papa lu dan Hani? Kan ada lu di kamar. Lebih milih ngorbanin lu kan harusnya? bukan Hani. Kan lu anaknya?"
Rion masih tak fokus mendengarkan Bili. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana menerima kenyataan yang ada.
Setahun kemudian.
[Bali]
__ADS_1
Neyza telah kembali dari sebuah panti asuhan. Ia adalah seorang donatur dan ibu asuh dari beberapa anak yatim di panti tersebut. Ia menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan. Weni baru saja datang dari Jakarta 2 hari yang lalu. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Weni sudah merasa lega karena Neyza menjadi pribadi yang baru.
"Yuk, ke Resto Mama," Ajak Neyza. Weni segera membawa tas kecilnya yang tergeletak di sofa tengah mengikuti sahabatnya.
Makanan mereka telah siap. Bercanda dan bercerita seperti layaknya hari-hari biasanya. Setelah selesai dan membayar makanannya. Mereka segera melanjutkan perjalanan berkeliling Bali. Weni masuk ke mobil lebih dulu. Sedangkan Neyza kembali ke meja kasir untuk mengambil salad yang akan ia bawa pulang. Ia memakai kacamata hitamnya dan kembali menyusul Weni ke parkiran. Sampai di pintu masuk restoran..
Bruuk.
Tali tas kecilnya terkait dengan baju seseorang yang baru saja masuk ke restoran itu. "Ah, maaf," keduanya sama-sama tertarik hingga badan mereka bertabrakan karena kaitan tali tas Neyza. Keduanya membungkukkan badan tanda permintaan maaf. Neyza pun berdiri untuk melepaskan ikatan talinya. Dan segera pergi. Sedangkan pria tadi duduk untuk memesan makanan.
"Bre, gue uda sampai di Bali. Kelar kerjaan, gue baru ke Lombok. Lu jadi nyusul?" kata Rion yang baru saja duduk. Ia berbicara dengan Bili di telepon sambil memesan makanan di dalam menu.
Pertemuan dengan Neyza setelah setahun lebih tak bertemu tadi merupakan hal yang tak disangka-sangka. Namun ia tak menyadari. Baik dirinya ataupun Neyza bahwa pertemuan tadi harusnya tidak jadi pertemuan yang diinginkan Neyza. Rion pun sudah lama tak menghubungi Neyza lagi. Semenjak Hani menghilang, ia hanya fokus pada Hani. Sampai saat Hani meninggal. Ia bahkan cenderung menutup diri.
Setelah makan, Rion keluar untuk kembali ke hotel tempat ia bermalam beberapa hari ke depan. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran hotel. Ia berjalan melewati taman di samping hotel yang besar dan indah. Sebuah tangisan anak kecil di kereta bayi terdengar olehnya. Nampaknya anak itu sendiri. Ia berencana akan menjaga sampai orang tuanya kembali. Mungkin lupa atau mengambil sesuatu yang tak jauh dari situ. Sebelum sampai ke tempat bayi itu, ibu bayi itu sudah tiba terlebih dulu. "Tenang, ya, Nak. Mama di sini," Rion tersenyum mengurungkan niatnya untuk menolong. "Hani, ayo masuk ke mobil. Sudah mau sore," Rion yang mendengar itu makin tersenyum karena namanya sama seperti nama mendiang istrinya. "Sebentar sayang. Masih nangis anaknya."
Deg.
Rion penasaran dengan ibu bayi tersebut. Ia sedikit berjalan untuk melihat perempuan itu.
"Hani"
__ADS_1