Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
113 Hari ini


__ADS_3

"Apanya yang kabari, Kak?" tanya Rui. Maliq memandangnya sebentar. Rui sedikit menebak bahwa Maliq sepertinya ingin berada dalam lingkaran pertemanan antara dirinya dan Manji. Walau kemungkinan menyukai Rui tak terbersit sedikit pun. Namun, kemungkinan kecil itu ada.


Maliq melakukan tugasnya lagi karena beberapa orang terakhir hendak membutuhkan obat. Manji sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia lalu duduk bersama Rui untuk berenggangkan badannya. Beberapa anak-anak yang terlihat kusam dan lusuh mendatanginya. Mencoba berbicara dengan senyum yang menawan. Manji sangat dekat dengan anak-anak ini. Beberapa anak yang telah beranjak dewasa tengah menanyakan tentang pekerjaannya sebagai Dokter. Ia lalu dengan sabar menjawab tiap pertanyaannya walau dalam keadaan lelah.


Sesekali ia melemparkan pertanyaan anak-anak itu kepada Rui. Memberikan ruang kepadanya agar ia juga turut merasakan bagaimana situasi dan kondisi anak-anak di lingkungan ini. Rui awalnya gugup dengan perlakuan Manji, namun perlahan ia mulai terbiasa untuk menghibur mereka.


Rui bertanya kepada Manji alasan ia melakukan kegiatan sosial ini sendiri. Manji sebenarnya mempunyai teman-teman seprofesi yang ikut dalam kegiatan ini. Namun khusus tempat ini ia ingin melakukannya sendiri. Karena tempat yang tidak terlalu besar, ia ingin terjun sendiri dan berbagi banyak pengalaman untuk para warga yang tidak mampu.


"Kak!" seorang anak laki-laki terlihat takut mendekati Rui. Ia memegang sebuah kertas buram di tangan kirinya. Wajahnya nampak lelah. Beberapa noda hitam terlihat jelas menutupi sebagian wajahnya yang manis. Rui memalingkan pandangannya kepada anak laki-laki ini. Namanya Budi. Anak berumur 14 tahun itu baru saja pulang dari pekerjaanya sebagai serabutan di sebuah bengkel. Ia biasanya mengganti oli mesin sepeda motor. Setelah mendengar Manji akan datang untuk memeriksa para warga. Ia segera meminta ijin untuk pulang lebih awal. Tadi Budi adalah pasien terakhir yang diperiksa Manji.


Namun kali ini, setelah melihat teman-temannya berkumpul dengan Manji dan Rui, ia memberanikan diri untuk mendekati mereka. "Sini, duduk sama Kak Rui," tawarnya. Budi lalu duduk dan memberikan kertas kosong itu. Rui keheranan melihat sikap Budi. Namun. Budi menjelaskan bahwa ia mempunyai cita-cita menjadi seorang Dokter agar bisa merawat para tetangganya yang ada di sini. Rui bertanya kertas yang ia terima. Rupanya ia ingin Rui menuliskan beberapa kalimat untuk ia tempelkan di rumahnya. Sebuah penyemangat agar ia tetap bersekolah dengan baik. Rui mengambil bulpen dari tasnya. Berpikir sejenak. Ia lalu melihat Manji. Namun Manji mengangkat bahunya. Ia gak sempat berpikir. Manji dekat dengan Budi. Keduanya sering berbincang ketika Manji selesai memeriksa.


Budi akan menjadi Dokter hebat. Merawat banyak orang. Dan menjadi orang bermanfaat dengan hati yang besar.

__ADS_1


Rui memberikan kertas itu kepada Budi. Ia membacanya. Lalu tersenyum. Rui mengatakan bahwa itu adalah nasihat dari kedua orang tuanya ketika ia merasa lelah dengan sekolah. Berbeda dengan kondisi Budi yang bersemangat sekolah. Rui lelah dengan banyaknya kegiatan sekolah yang menumpuk.


Ia bercerita kepada Budi bahwa ada dimana ia ingin mengakhiri semua pendidikannya. Namun Mama Papanya selalu mengingatkan betapa cita-citanya menjadi Dokter adalah hal mulia yang ia rasakan.


Budi tersenyum. Ia lalu kembali pulang membawa kertas tersebut. Rui merasa apa yang ia lakukan. Walau pun hanya menulis kalimat penyemangat punya arti khusus untuknya. Manji melihat Rui. Ada rasa bangga kepada rekannya itu. "Jadi, kamu dulu hampir gak mau jadi Dokter?" Rui mengangguk dan tersenyum mengingat hal itu. "Dokter kayak gak tahu aja. Berat, kan?" Manji mengangguk. Semua usaha memang tidaklah mudah. Namun nyatanya, meraka mampu bertahan di tengah pikiran dan rasa lelah.


Maliq duduk bersama mereka. "Seru amat," Rui hanya tersenyum. Manji menceritakan perihal Budi yang baru saja pergi. Maliq menatap Rui. Ia juga ikut tersenyum. Ketiganya lalu pamit untuk kembali pulang. Rui diantar ke rumahnya terlebih dahulu. Lalu giliran Maliq. Rui membersihkan diri dan mengambil sepiring kecil Spageti panggang yang dimasak oleh Neyza. Mereka duduk di sore hari menjelang petang. Neyza merasa senang dengan perkembangan Rui setelah menjadi Dokter. Banyak hal baru yang ia rasakan. Terlebih walau masih bersama Maliq, setidaknya ia sedikit terhibur.


"Tapi kan Rui cerita kalo Lalita sama Cinta. Berarti ada kemungkinan Maliq suka sama Rui," Neyza mencoba menebak. Rui menggeleng. Ia merasa tak perlu menggali isi hatinya. Membiarkan saja waktu dan semesta yang menjawab dengan elegan. Neyza memeluk anak semata wayangnya itu. "Sayang. Bersama siapa pun nantinya. Rui wajib bahagia," kata Neyza. Rui membalas pelukan Neyza. Tak menyangka ia saat ini lebih tenang dalam menghadapi Maliq.


[Kak Maliq:] "Malam, Rui. Terima kasih tadi sudah mengajak kegiatan dengan Dokter Manji. Kayaknya ini bakal jadi kegiatan rutin yang lebih menyenangkan."


Rui hanya mengangkat alisnya. Dengan singkat ia menjawab, "Bukannya Kakak yang tiba-tiba masuk ke mobil Dokter Manji?" Ia tersenyum sinis ketika pesan tersebut terkirim. Mungkin Maliq akan kebakaran jenggot karena hal tersebut tidak sesuai dengan jawabannya tadi. Rui tertawa hingga menutup wajahnya dengan bantal. Namun dalam tawanya, wajah Maliq memenuhi pikirannya. Ia kalu terperanjat.

__ADS_1


Astaga.


Maliq meneleponnya dan ia segera mengangkat telepon itu. "Hahaha, kayaknya memang aku yang kepedean, ya. Tapi makasih aku gak sampai diturunin di jalan tadi," Rui pun terhanyut dalam pembicaraan singkat dengan Maliq.


Rui tertidur setelah tersenyum sendiri selama beberapa menit. Entah karena hari ini sangat panjang dan menarik atau bagian terakhir saat ia berbicara dengan Maliq.


Beberapa hari setelah hari yang melelahkan di rumah sakit. Pekerjaan yang sangat banyak. Manji mengajak Rui dan seorang rekan untuk makan siang. Di kantin Dokter itu, mereka sedang berbincang. Beberapa kasus menarik untuk dibahas saat akan mengoperasi salah satu pasien yang sudah mencapai stadium 2. Rui mendengarkan dengan seksama. Kasus yang tidak biasa. Ia meminta Manji turut menganalisa menurut sudut pandangnya. Pembicaraan itu lumayan panjang hingga tiba-tiba ponsel Rui bergetar.


"Nak, Papa dalam perjalanan ke rumah sakit. Mama kesakitan. Gak sadar barusan di kantor," Rui terkejut dan segera pamit kepada Manji. "Maaf, Dok. Mama dalam perjalanan ke sini. Saya siap-siap ke UGD," Manji dengan sigap juga turut berdiri dan mengikuti Rui.


Mobil Rion telah berada di depan UGD. Para perawat dengan cepat menuju mobil itu dengan Rui. Neyza dalam keadaan yang sangat pucat. Bersama Manji, ia pun membawa Neyza ke bilik perawatan. Rion menunggu di ruang tunggu. Dengan jantung berdebar ia menggenggam tangannya.


Satu setengah jam berlalu. Rui keluar dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Pa!"


(bersambung)


__ADS_2