Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 67 Kelam


__ADS_3

Lisa mempersilahkan Neyza duduk di sofa kamar itu. Lisa mengambil tas ranselnya. Ia sibuk mencari ponsel yang ia simpan. Tak lama kemudian ia memberikan ponselnya kepada Neyza.


"Apaaa?"


Neyza terkejut bukan main.


Sebuah foto yang terdapat Tante Manda, Lisa dan saudaranya, Puan. Lisa menunjuk Puan yang sangat mirip dengan Neyza. "Sekilas mirip, ya?" kata Neyza. "Iya, Kak. Kak Neyza mirip sekali sama Kak Puan," Neyza melihat foto itu dengan seksama. "Aku boleh tanya sesuatu, gak? Tapi gpp kalo kamu gak mau cerita. Aku cuma penasaran aja," Lisa melihat Neyza dan tersenyum. "Gak papa, Kak. Tanya aja," Neyza mengangguk. "Kata Tante Manda Puan sudah meninggal?" Neysa berhati-hati dalam bertanya.


Lisa mengangguk beberapa kali. "Iya, Kak. Kak Luan memang sudah meninggal lama. Kami dua bersaudara," Neyza memegang tangan Lisa. "Lisa, gak cerita gak papa, kok," Lisa memegang balik tangan Neyza. "It's ok. Aku yang pingin cerita ini. Aku, Kak Puan dan Kak Rion dari kecil main sama-sama. Kemana pun. Kak Rion suka ikut Mama dan Papa. Keluar negeri sekali pun, Kak Rion pasti ikut. Sampai akhirnya kita pindah ke Thailand karena Papa harus urus kantor cabang di sana. Waktu itu Kak Puan masih sekolah SMP. Aku masih SD. Kita homeschooling. Tiap hari selalu ada Guru yang datang ke rumah," Lisa sangat antusias menceritakan hal ini. Sementara Neyza juga tak kalah penasaran dengan cerita keluarga Rion ini.

__ADS_1


"Suatu hari. Kak Puan pergi ke supermarket dekat rumah. Dia mau beli makanan ringan sebelum Guru datang. Dan, selama dua jam dia gak pulang," kata Lisa mulai bergetar. Menahan sedih. "Mama dan gurunya cari ke tiap toko dekat rumah. Pokoknya kemana Kak Puan pernah berkunjung, Mama pasti ke sana. Sampai tengah malam. Gak ada kabar dari Kak Puan. Papa udah telepon Polisi untuk memastikan Kak Puan gak kenapa," Lisa menghentikan pembicaraannya. Keesokan harinya, Polisi nemuin anak yang hilang. Tapi sudah gak bernyawa. Ternyata itu jenazah Kak Puan yang diculik dan dibunuh oleh komplotan yang suka culik anak." Lisa mengusap matanya. Nampak ada air mata yang jatuh tiba-tiba. Neyza dengan sigap memeluk Lisa. "Maaf, Lisa. Kak Neyza gak bermaksud bikin Lisa sedih. Jadi Tante Manda sengaja ikutin Kak Neyza buat mastiin kalo Kak Neyza aman. Dan Tante Manda nolongin Kak Neyza saat yang ginting banget. Jadi karena ada trauma tersendiri." Lisa menarik nafas.


Tante Manda memberikan sebuah air hangat kepada Rion. "Rion, ini air hangat. Biar perut kamu enak. Pasti kelamaan di ruangan ber-ac," Rion tersenyum. "Makasih, Tan." Rion meminun perlahan air di dalam mug itu. Setelah mengerjakan pekerjaan kantornya, ia segera ke kamar untuk beristirahat. Ia melihat Neyza sedang duduk di sofa. Melihat pemandangan lampu kota Tokyo dari jendela rumah. "Kamu belum tidur?' Neyza hanya mengangguk saja. Rion sengaja duduk di sebelah istrinya itu. "Kenapa?" Rion memegang tangan Neyza. "Kamu, Lisa dan Luan pasti dulu sangat bahagia," Rion menaikkan alisnya. "Kenapa tiba-tiba ngomong ini? Lisa cerita?" Neyza masih memandang keluar jendela. "Iya. Foto Puan juga mirip ya sama aku." Rion memegang pundak istrinya. "Sekilas iya," Neyza memandang Rion. "Kalo bukan karena perjodohan ini, mungkin aku bakal ngira kamu nikah sama aku karena aku sama Puan mirip," Rion mencubit pipi Neyza. "Ya, gak lah. Mana ada nikah gara-gara mirip sama sodaranya? Ada-ada aja kamu ini," Rion lalu menarik tangan Neyza ke tempat tidur.


Rion telah tidur lima belas menit yang lalu. Neyza masih belum tertidur. Rasa-rasanya ada hal penting yang menganggunya. Bukan karena cerita Lisa.


Pagi itu, setelah Rion bangun tidur. Neyza menunggunya di sofa kamar. Rion keluar dari kamar mandi dan melihat Neyza yang menunggunya. "Aku mau bicara sebentar sama kamu," Rion segera mendekat sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Cerita apa, Ney?" Beberapa hari lalu aku ngerasain badanku gak enak. Sampai akhirnya kemarin kejadian pulang dari supermarket. Aku... Takut." Rion terkejut. "Takut kenapa?" Neyza mengeluarkan sebuah kotak. Rion membukanya. Sebuah alat tes kehamilan dengan garis dua ada di tangannya. Rion diam sekejap. "Kamu takut cerita ke aku dan aku kecewa?" Neyza menunduk. "Bukan hanya kamu. Aku juga takut kecewa sama diriku sendiri." Rion memeluk Neyza. Mencium kening dan pipinya. "Gak perlu dikhawatirin. Kita bisa usaha lagi. Yang penting kamu sehat."


Neyza mengangguk. "Dan tes kehamilan ini baru pagi tadi." Rion mengangguk. "Iya gak papa. Nanti kita coba lagi. Eh, tunggu. Tadi pagi? Lho, berarti kamu hamil? Gimana, sih? aku gak nyambung," Rion penasaran. "Aku beli test pack ini beberapa hari lalu. Urung aku mau tes. Waktu kejadian kemarin itu dari supermarket, emang ada flek dikit. Pertama aku pikir ini mau haid atau keguguran. Udah dua kemungkinan itu aja. Tapi waktu aku test pack waktu habis bangun tidur tadi garis dua. Cuma. Aku masih penasaran. Aku masih belum percaya. Mau ke dokter," Rion memeluk Neyza erat. "Iya iya. Aku cuti aja hari ini anterin kamu ke dokter. Jadi atau gak jadi bukan masalah. Yang penting aku senang." Neyza membalas pelukan Rion. "Maaf, ya? Harusnya aku cerita ke kamu dulu sebelum test pack. Aku cuma mau kasih kejutan. Malah akunya yang bingung.".

__ADS_1


Rion mengganti baju dan segera menelepon sebuah rumah sakit untuk mendaftarkan Neyza ke seorang Dokter spesialis kandungan.


Pagi itu, setelah sarapan. Rion dan Neyza pergi ke sebuah rumah sakit. Mereka tengah menunggu untuk pemeriksaaan. Setelah masuk dan bertemu dengan dokter, Neyza segera diperiksa. "Pak, Bu, yang saya lihat memang ada calon bayi yang masih berada di dinding rahim. Di sini saya melihat ada satu calon bayi. Perut ibu pasti sedikit membesar karena ada fase menebalan rahim di awal kehamilan. Jadi, saya katakan selamat menjadi orang tua. Mohon dijaga kesehatannya. Tetap berpikiran baik dan saling menjaga," kata Dokter dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan Rion kepada Neyza. Rion memegang tangan Neyza. Tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Rion berterima kasih kepada Dokter karena kabar baik ini.


Keduanya pamit dan segera pulang. Di dalam mobil, Rion berceramah layaknya Dokter kandungan. "Jangan makan sushi, jangan makan lalapan, jangan makan steak yang matang medium, bakar-bakaran, apa lagi, ya? Aaa, jangan makan batu." Neyza memuluk lengan Rion. "Yang mau makan batu siapa, coba?" Rion bersenandung saat ber kemudi. "Ya ampun, seneng banget aku bisa hamilin kamu," Neyza kembali memukul tangan Rion. "Savage banget kamu, ya. Kata-katanya gak baik ditiru pembaca."


Raut muka Neyza yang berbahagia tiba-tiba berubah. "Aku kepikiran Ta. Kalo ada anak ini. Ta gimana, ya?" Rion pun tak kalah kaget.


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2