Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 8 Teman


__ADS_3

Hani memandang Rion. Menghela napas dalam dan tersenyum. Ia memandang Rion. Rion pun menatap mata Hani dengan tatapan yang dalam.


Hani : "Kamu baik, Rion. Aku juga suka sama kamu. Makasih, ya?"


Hati Rion berbunga. Ia tak percaya Hani akan mengatakan hal yang sama. Senyumnya mengembang. Hatinya bersambut oleh Hani, pikirnya.


Rion : "Ha? Kamu juga suka? Kita..."


Hani : "Kita tetap temenan aja, ya?", Hani tersenyum memegang tangan Rion.


Rion pun membalas senyuman Hani. Tahu bahwa jawaban Hani menolak perasaan Rion yang melebihi teman. Cintanya bertepuk sebelah tangan.


Rion : "Gak papa, Hani."


Rion dan Hani menyelesaikan makanannya dan akhirnya kembali pulang.


[Di dalam mobil]


Neyza yang tak kalah terkejut dengan pernyataan Tito yang sangat mendadak.


Neyza : "ooo... Makasih, To. Kamu baik."


Tito : "Gak usah dijawab. Aku cuma ngutarain perasaan. Lebih lega kalo udah ngomong."


Neyza diam. Ia sudah menduga situasi ini akan terjadi.


Neyza : "Ooo... Iya. Makasih, To."


Tito : "Mau beli apa buat ke rumah Weni?"


Neyza : "Gak usah, To. Paling dia uda makan."


Tito : "Jangan. Kasihan. Yuk beli martabak."


Mobil Tito sudah sampai di rumah Weni. Tito keluar mobil untuk mengantar Neyza di depan rumah Weni.


Neyza : "Makasih, To. Tadi sudah banyak nolongin."


Tito : "Ney..", Neyza menoleh ke arah Tito.


Tito : "Yang tadi. Walau gak berharap kamu jawab. Semoga perasaanmu sama. Aku pulang dulu, ya?"


Neyza : "Aaa... Iya. Hati-hati, To."


Neyza masuk ke rumah Weni. Weni menyambut Neyza.


Weni : "Tito? Jelasin. Lu kan gak suka sama Tito."


Neyza : "Panjang ceritanya, Wen. Gak sengaja doang. Nih. Martabak asin. Ke kamarmu, yuk. Ngantuk."


Neyza berjalan ke kamar Weni disusul Weni yang sibuk mengunyah martabak asin.


*********


[Di rumah kontrakan]


Rion baru saja datang. Ia ditemani Bili yang juga menjemputnya dari makan malam tadi.


Bili : "Eh, Bre. Tetangga sebelah di rumah gak, ya? Mau nyamperin."


Rion : "Lha, lu samperin aja sendiri."


Bili dengan semangat berjalan ke rumah Neyza. Beberapa kali ketukan tidak ada jawaban. Bili kembali ke rumah Rion dengan muka sedih.

__ADS_1


Bili : "Kagak ada, Bre."


Rion : "Ya iya lah. Tadi gue lihat dia sama pacarnya di restoran yang gue makan tadi."


Bili : "Ha? Yaaa... Kok bisa sih?"


Rion : "Lu kenal aja kagak. Udah gak usah ngarepin. Pacarnya tinggi, cakep. Lha elu?"


Bili : "Ya gue kalah telak."


Rion : "Lu lebih baik karena lu lawak mulu. Harusnya si nenek sama lu biar gak garang."


Bili : "Ah bisa aja. Gue mundur mundur. Hahaha... Nha, sekarang lu nih. Tadi sama si Hani gimana?"


Rion : "Ya gitu, Bil. Gue bilang suka sama dia."


Bili : "Waaa... Uda punya gandengan ini ceritanya."


Rion : "Gue ditolak, bro."


Bili : "Hahahahhaa....."


Rion : "Seneng banget liat gue ditolak."


Bili : "Ya kagak. Lu sok sok cuek gitu. Banyak yang suka. Giliran nembak orang ditolak. Bumi kebalik".


Rion : "Cari pacar mah gampang."


Bili : "Iya lu semua dunia dapet."


Rion : "Tapi yang tulus susah. Semua lihat gue karena alasan yang logis di mata."


Bili : "Lu juga ada sisi logis, ya."


Pyaaar


Kaca jendela rumah Rion tiba-tiba berantakan karena pecahan kaca.


Bili dan Rion berusaha menghindari pecahan tersebut. Mereka keluar melihat apa yang terjadi.


Seorang anak kecil berdiri di depan rumah Rion.


Bili : "Iih bocah. Sini."


Anak lelaki tersebut terdiam dengan bibir gemetar. Tak lama setelah itu seorang Ibu datang.


"Manjiiii... Kamu kenapa? Jangan nakal.", Suara Ibu Dewi memecah keheningan.


Manji sedari tadi diam dengan bibir yang gemetar. Rion yang terakhir keluar menemui Bu Dewi.


Bu Dewi : "Maaf ya, mas. Saya yang ganti kacanya, ya?"


Rion : "Gak papa, bu. Anak kecil. Ndak usah diganti. Saya saja."


Bu Dewi : "Jangan, mas. Kaca mahal. Mas nya masih kuliah. Saya saja. Suami saya kerja."


Rion : "Serius saya, bu. Saya ada rejeki lebih. Saya saja. Ikhlas. Namanya juga anak-anak."


Bu Dewi dengan terpaksa tidak mengganti dan membawa Manji pulang.


Bili dan Rion membersihkan sisa kaca yang pecah. Tak berapa lama.


Tok tok tok.

__ADS_1


Bili membuka pintu.


Bili : "Eh, ini Manji yang tadi ya? Ada apa dek?"


Manji yang ditanya diam saja.


Rion keluar untuk menemui tamu kecilnya.


Rion : "Hai, Manji. Gak usah takut. Gak papa, kok. Sini masuk."


Manji menggeleng.


Manji : "Tadi. Aku liat ada kadal besar. Di kaca. Terus... Aku kejar. Aku lempar batunya. Kena kaca.", Ia sedikit menangis.


Rion menggendongnya masuk ke dalam rumah. Ia menghapus air mata Manji. Ia mencoba menenangkan Manji yang masih terisak.


Rion : "Iya. Kak Rion gak marah kok. Manji anak baik. Udahan ya nangisnya? Gimana kalo kita pesen makanan?"


Manji mengangguk. Rion mengambil ponselnya dan memesan sekotak donat untuk Manji.


Rion : "Kadalnya sebesar apa?", Tanya Rion sambil memangku Manji.


Manji : "Besar, kak."


Rion : "Pasti jelek ya mukanya?"


Manji : "Iya. Kayak kakak ini.", Ia menunjuk Bili.


Bili : "Buseet. Anak orang bilang gue kadal. Ini bukan kadal, dek. Komodo."


Rion dan Manji tertawa bersama.


Rion : "Besok-besok kalo Manji lihat kadal besar, ular, anjing jangan dekat-dekat, ya? Bilang aja sama orang yang lebih besar. Karena bahaya."


Manji menggeleng.


Rion : "Janji ya, Manji?"


Bili : "Cocok dah punya anak, bre. Icikiwiir."


Rion : "Gue mah cocok aja. Calon ibunya yang gak cocokin gue ke dia."


Bili : "Ah lu bre... Hahahaha.. Lawak. Jo baper, tho?"


Seorang kurir sampai ke rumah Rion. Sekotak donat diberikan kepada Manji dan Manji mengantarkannya pulang ke rumah.


*********


Keesokan harinya, Neyza kembali ke rumahnya. Seorang ojek online menurunkannya di depan kawasan kontrakan. Pagi itu masih pukul 06.00, ia harus pulang pagi karena kembali pergi ke kampus. Suasana kawasan kontrakan masih sepi. Hanya ada Bu Dewi di depan rumahnya lalu kembali masuk ke rumah.


Langkah Neyza terhenti. Ia seakan-akan terdiam tiba-tiba Neyza berhenti tepat di depan rumah Rion. Jantungnya berdebar.


Sebuah gagang pintu terbuka. Seseorang keluar rumah. Rion keluar dengan muka yang masih baru bangun tidur.


Rion terkejut karena melihat Neyza. Namun kali ini Neyza tak ingin berdebat dengan Rion. Ia memilih diam. Neyza membuat sinyal agar Rion terdiam. Rion yang tak tahu apa-apa tidak paham dengan kode Neyza.


Matanya menatap Neyza. Neyza pun membuat pertanda bahwa ada sesuatu di rumahnya.


Rion penasaran dengan apa yang dilakukan Neyza. Ia akhirnya berjalan ke arah rumah Neyza. Tak sampai melihat rumah Neyza, ia terkejut dan berteriak.


Neyza pun tak kalah terkejut. Ia pun ikut berteriak.


"Aaaaaaaaaa........"

__ADS_1


__ADS_2