
Kaki jenjang itu melangkah mendekati ruangan Rion. Senyumnya mengembang. Rasa-rasanya ada yang ingin ia ceritakan. Sebuah kemenangan.
Pintu itu sengaja ia buka. Ah, Tak ada orang. Perempuan itu mendekati meja kerja Rion. Sepagi ini, sepuluh menit sebelum jam masuk kantor. Ia hendak duduk di kursi Rion untuk membuatnya terkejut. Tak menyangka, kursi itu terbalik dengan seseorang yang tengah duduk di situ.
"Kamu!" ucap Regina terkejut. "Kenapa harus terkejut? Ini kursi suamiku." Regina masih berdiri dan menatap dingin Neyza. "Kenapa kamu ada di sini?" Regina seperti hendak 'memangsa' Neyza. "Kenapa saya harus punya ijin kalo saya bebas ke sudit mana pun di gedung ini?" Regina diam. "Jadi, harusnya empunya rumah yang patut bertanya apa tujuan anda datang kemari pagi-pagi sekali?" Regina mengepalkan tangannya. "Saya ada perlu dengan Rion," Neyza menaikkan alisnya. "Sepagi ini, tanpa mengetuk pintu. Saya pikir anda adalah orang yang paham tentang aturan. Atau di perusahaan anda, aturan itu tidak ada?" Regina mendekati Neyza. Menyandarkan tangannya dengan badan yang mencondong ke arahnya. "Apakah anda tahu perusahaan ini sedang dalam krisis?" Neyza tak bereaksi. "Saya pastikan Rion akan meminta bantuan dari perusahaan saya." Regina tersenyum sinis. "Saya heran dengan pernyataan anda ini. Datang berkali-kali hanya untuk menawarkan kerja sama dengan final words Rion datang untuk meminta bantuan. Hahaha," Neyza tertawa," perang mental yang akan berkepanjangan. "Tak masalah kalo kamu tahu. Setidaknya Rion akan memikirkan matang-matang tentang penawaran ini," Regina memberikan tatapan sinis. "Ingatlah, baik-baik. Sesuatu yang berawal dari niat yang tidak baik akan berhenti pada akhirnya," Regina tertawa. "Kita lihat. Perkataan siapa yang akan terbukti," Regina berjalan ke arah pintu untuk keluar. "Jangan bermimpi terlalu tinggi," kata Neyza memperjelas.
Beberapa saat kemudian Rion datang. "Kamu serius mau cuti satu hari ini, sayang?" Neyza mengangguk. "Terus pake acara berangkat paling pagi," Neyza tersenyum. "Karena aku tahu perempuan itu bakal datang lebih pagi buat ketemu kamu," ungkap Neyza. Rion memandang Neyza. "Ha? Regina ke sini? Kapan?" Neyza tersenyum. "Tenang. Dia gak kalah terkejut. Kamu hati-hati, deh. Dia jelas-jelas tahu situasi perusahaan kamu dan yakin kalo kamu bakal terima tawaran kerja samanya," Rion mendengarkannya dengan serius. "Atau mungkin yang diinginkan dia sebenarnya kamu. Alih-alih mau jatuhin kerjaan kamu," Neyza menganalisa. "Apa untungnya?" Neyza mengelus rambut suaminya itu. "Kamu terlalu playboy mungkin," Rion mencium bibir Neyza dengan cepat. "Enak aja aku playboy. Gini-gini aku dulu cuma senang sama satu orang. Yang sekarang di penjara itu. Udah itu aja. Suer kewer kewer jewer. Iya kamu mungkin dulu mantannya banyak," Rion balik menggodanya. "Neyza mencubitnya. "Aku dulu ada yang aku suka. Tapi sayangnya kita gak jodoh. Aku gak punya pacar," jawab Neyza. "Jadi, aku jadi first kiss kamu, dong?" tanya Rion. Neyza mengangkat bahu. "Cerita gak, ya?" Rion gemas dengan tingkah Neyza. Ia lalu mengejar Neyza. Membuatnya tertawa.
__ADS_1
Kriing.
Ponsel Neyza berdering. "Halo, Lisa. Kenapa?" Neyza mengangguk. Lalu menutup teleponnya. "Rion, aku pergi dulu, ya? Siang aku balik lagi ke sini. Makan siang sama kamu, ya," kata Neyza. "Lisa?" Neyza mengangguk. Neyza lalu memeluk Rion. "Jangan kebanyakan mikir, ya. Bagiin sama aku," Rion mengelus rambut Neyza laku mencium keningnya. "Makasih, ya, sayang. Aku gak tahu kalo gak ada kamu," Neyza membalas dengan mendaratkan bibirnya ke bibir Rion. Bili mengetuk pintu. Rion menyuruhnya masuk. Neyza keluar dan melewati Bili. "Hai, Bil. Ganggu orang pacaran aja!" Neyza tersenyum sambil berlalu. "Ya, gue ganggu. Maaf maaf," Rion lalu menyuruhnya duduk.
Neyza sedang dalam perjalanan menemui Lisa di kampusnya. "Gimana, Lisa?" sesaat setelah Neyza datang menemui Lisa di lobi gedung utama. "Kak, aku rencana mau ikut summer camp di Korea. Sekalian nengokin Mama. Cuma harus ada wali mahasiswa. Orang tua atau keluarga buat tanda tangan surat persetujuan. "Kapan emang rencananya?" tanya Neyza. "Bulan depan, Kak." Neyza menyanggupi permintaan Lisa. Setelah beberapa saat, mereka tengah keluar dan segera pulang. Saat akan berjalan ke tempat parkir. Neyza menghentikan langkahnya. Seseorang nampak menarik perhatiannya. "Umpan manis. Lisa, aku pinjam jaket sama kacamata kamu, ya?" kata Neyza. Lisa memberikannya tanpa bertanya. "Kamu tunggu di sini, ya?" Neyza berjalan dimana seseorang yang ia yakini adalah sebuah rahasia besar." Di sebuah working space, Neyza duduk tepat di belakang seseorang yang ia buntuti tadi.
Beberapa waktu lalu, Neyza melihat Regina tengah masuk ke dalam lobi kampus. Neyza yang baru tersadar setelah ia keluar dari ruangan dosen bersama Lisa, berinisiatif untuk mengikutinya. Benar saja, Regina hendak bertemu dengan seseorang. Pria bertubuh kecil itu baru saja datang dan duduk di depan Regina. "Jadi, gimana? kamu sudah tahu kekurangan restoran itu?" tanya Regina. "Tentu. Mereka terlalu tunduk dengan atasan. Menurut saya. Restoran itu mendekati sempurna. Minggu lalu saya membayar lima orang dengan waktu yang berbeda. Sengaja saya buat menu itu tidak higienis atau hal lainnya. Sehingga terdengar oleh beberapa pelanggan yang ada di situ. Lalu saya cek reviewnya setelah satu hari. Targetnya berhasil. Banyak review berbintang dua bahkan ada yang menilai bintang satu. Dari orang suruhan saya, cabang di restoran itu betul-betul mengalami penurunan. Dan cabang lainnya tentu saja dengan taktik yang sedikit ekstrim," Regina tertawa. "Beberapa usaha Rion juga akan dibuat lebih dramatis. Strategi membeli saham di salah satu usahanya juga sedikit terlihat hasilnya. Sejengkal lagi, dia bakal memohon untuk meminta bantuanku." Regina pergi meninggalkan pria itu. Neyza yang sedari tadi sudah menyiapkan rekaman berhasil mendapatkan bukti besar. Pria itu hendak berdiri, Neyza secara spontan mengambil foto pria itu. Ia sengaja mengikutinya. "Kak. Ngapain?" Neyza terkejut dengan kehadiran Lisa. "Lisa, aku butuh foto cowok itu. Bisa bantu?" Lisa memahami apa yang diminta Neyza. "Aku tahu." Lisa menghampiri pria itu. "Permisi, mas. Bisa minta tolong sebentar?" Pria itu mengangguk. Tolong pegang kan hape saya. Saya mau toktokan. Tapi saya gak bisa pegang hapenya!" Ia lalu melihat ponselnya.
__ADS_1
Gawat ini.
Neyza menurunkan sedikit rambutnya. Lisa memberikan ponselnya kepada orang itu. "Saya pakai kamera depan untuk merekam. Tolong pegang kan, ya." Dengan polosnya pria itu hanya tersenyum melihat kelakuan Lisa. Lisa membuka aplikasi tersebut, mengatur kamera belakang agar terlihat wajah lengkap pria itu dan memulai merekam. Berakting layaknya seorang expert. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan dokumen lebih lengkap tentang wajah pria ini. "Nih, Kak!" kata Lisa. Neyza menggelengkan kepalanya. "Makasih. Kamu bisa gila juga, ya," Neyza senang.
Sebentar lagi, kita mungkin bisa bertemu di pengadilan.
(bersambung)
__ADS_1