Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 74 Butuh Bantuan


__ADS_3

Neyza dan Rion tiba di kantor Polisi. Melihat Lisa dan Bili tengah duduk di ruang tunggu. "Kalian gak papa?" Lisa mengangguk. Neyza memeluk Lisa. "Kenapa tadi? Maaf Kakak gak tahu kalo jadi kayak gini. Berarti pesan kamu tadi itu benar-benar darurat banget," Neyza memeluk Lisa. "Aku yang minta maaf, Kak. Harusnya kan aku gak perlu bercandaan sama Kakak," Neyza memegang wajah Lisa. "Kamu gak salah, sayang. Kita yang salah gak tahu itu pesan kamu butuh banget sama kita." Rion bersama Bili dan seorang pengacara sedang memberikan laporan tentang kejadian itu.


Tak lama kemudian mereka pulang. Bili juga ikut menuju rumah Neyza. "Kak, terus anak-anak gimana tadi mainnya?" tanya Lisa. "Gpp, tadi ada Paman Lendra, Heri sama mbak-mbak yang ikut. Mereka makan dan pulang sama supir. Sesampainya mereka di rumah Neyza, Rion dan Neyza turun dari mobil Bili. Lisa hendak turun mengikuti mereka. " Kak Bili," Bili menoleh. "Ada apa?" Lisa tersenyum. "Makasih banyak. Yang tadi Kak Bili gak datang, gak tahu lagi nasib aku," mata Lisa berbinar. "Eh, gpp. Jangan nangis di sini. Malu nanti. Kan sudah ada yang atur. Kamu banyak-banyak bersyukur aja."


Neyza dan Rion akan beranjak tidur. Namun keduanya tidak dapat menutup mata. Rasanya masih tak percaya. Kejadian yang dialami Lisa membuat mereka khawatir. "Sayang, aku jadi kepikiran," kata Neyza. "Iya, nih. Aku juga. Apa aku minta supir kantor aja ya buat anterin dia kemana-mana?" Rion memberikan solusi. "Tapi dia itu masih muda. Kebutuhan dia banyak. Pasti dia pingin ke temannya. Malah jadinya nunggu supirnya," Neyza memberikan masukan. "Atau kita beliin mobil?" kata Rion dengan nada riang. "Gak gak. Ingat kata Tante. Dia harus bisa mandiri. Biar dia fokus ke kuliahnya," Rion mengangguk.


Pagi itu, semua orang baru saja terbangun. Neyza turun untuk membuatkan sarapan untuk seluruh keluarga. "Sayang, Rui nangis," Rion menggendong Rui dan mengantarnya kepada Neyza yang baru saja akan turun dari tangga. Lalita bangun bersama Lisa. Mereka juga hendak turun untuk makan pagi. Neyza terkejut karena makanan di meja makan sudah tersedia. "Eh, siapa yang masak ini? Banyak banget," Neyza bertanya-tanya. "Mama yang masak," suara Mama membuat Neyza terkejut. "Ayo, duduk!" tegas Mama. Semua terkejut dengan kehadiran Mama Neyza. Mama langsung memeluk Lalita dan Rui. "Ya, Mama. Langsung ke cucu-cucunya. Ke anaknya, kek?" Neyza melakukan protes. "Mantunya juga," Rion juga mengikuti bentuk protes Neyza. "Eh, Mama ke Indonesia sebentar karena kangen cucu-cucu Mama, ya?" Neyza dan Rion mengerucutkan bibir mereka. "Ya Mama kan juga kangen sama kalian," Mama tertawa bersama Neyza dan Rion. "Ini Lisa, ya?" Lisa mengangguk. Neyza membisikinya Lisa bahwa Neyza sering menceritakan dirinya kepada sang Mama.

__ADS_1


Setelah mereka melakukan sarapan. Semua orang tengah disibukkan dengan kegiatan mereka. Neyza dan Rion yang pergi ke kantor, sedangkan Lisa yang juga akan pergi ke kampus. "Lisa bareng aku aja," ujar Rion. "Gak usah, bareng gue aja," tiba-tiba Bili muncul. Lisa terkejut. "Yaudah. Kalo sama lu gue tenang. Gue bisa berangkat duluan," Lisa lalu masuk ke dalam mobil Bili.


Dalam perjalanan.


"Kak Bili kapan datang ke rumah tadi?" Liza penasaran. "Jam 7 tadi," kata Bili. Lisa mengecek ponselnya. "Kak, aku turun di toko ATK dekat kampus, ya? Mau fotokopi," Bili mengangguk.


Rion tiba di kantornya setelah mengantarkan Neyza ke kantornya. Sesampainya di depan ruangannya, seorang perempuan berdiri di dekat pintu. "Regina!" kata Rion. "Syukurlah anda masih ingat saya, Pak Rion," kata Regina dingin. "Ada perlu sama gue? Ayo masuk ke dalam! ," tawarnya. "Anda tahu kalau saya salah satu pesaing perusahaan anda. Dan anda pasti tahu kalau saya kemari untuk menawarkan kerjasama untuk kesekian kalinya," Regina mempertegas. "Regina, kita itu bukan sekedar kompetitor, kita teman sekolah dulu. Ayolah, kita bisa lebih informal kayak dulu. Lu bisa manggil gue dengan bahasa santai," Regina tak bergeming. Ia lalu meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Bili masuk dengan beberapa berkas. "Bos, kayaknya kita bakal buat banyak perubahan. Ada dua cabang restoran yang turun omzet. Tak sampai dua pertiga dari target kita," Bili menunjukkan beberapa lembar laporan. "Gue tadi malam juga dapat laporan dari cabang yang lain. Gimana ini, Bil?" Bili melihat laporan-laporan tersebut. "Harusnya untuk prospek Mall kita masih bagus bahkan bisa baik 15 persen. Kenapa gak kita dongkrak aja dari Mall? Beberapa restoran juga punya peluang pindah cabang di Mall. Daerah restoran kita di daerah yang sekarang lumayan sepi karena banyak pembangunan pabrik," analisis Bili.


Rion meletakkan lengannya di meja. "Bentar, gue telepon Bokap dulu," kata Rion. Selang beberapa waktu. Rion menaruh teleponnya dengan muka sedih," Bili menangkap raut wajah sahabatnya itu. "Bre, kenapa?" Rion diam. "Nanti gue rapat khusus sama Bokap," Bili menepuk punggung Rion. "Gue percaya sama lu. Gue gak bakal ninggalin lu," janji Bili. Rion tersenyum. Bili keluar ruangan Rion. Rion menyandarkan tubuhnya di kursi. Penat. Sepagi ini sangat penat. Ujian itu akhirnya datang. Sebagai pebisnis naik turun memang sudah biasa. Tapi membawahi banyak perusahaan Papanya merupakan tanggung jawab yang besar. Tak tanggung-tanggung, perusahaan yang menjual banyak kebutuhan itu adalah perusahaan yang besar. Rion melihat ponselnya. Pikirannya tertuju pada sebuah namanya. Neyza. "Halo," sapa Rion. "Tumben telepon di jam kerja. Kenapa?" Rion sedikit terhibur dengan mendengarkan suara Neyza. "Aku pingin ngobrol sama kamu," kata Rion. "Hmm, kamu gak kenapa-kenapa?" Neyza mulai curiga. Rion diam. "Sayang. Aku tahu kamu, ya. Jangan sembunyiin sesuatu sama aku." Rion tertawa. "Gak. Cuma masalah kantor." Beberapa saat Neyza menutup teleponnya dan segera pergi ke kantor Rion.


Neyza masuk ke ruangan Rion dengan membawa sebungkus makanan kesukaan Rion. "Eh, sayang. Kok ke sini?" tanya Rion. "Kamu, nih. Bikin aku khawatir. Gimana?" Neyza mencium pipi Rion. Mereka duduk di sofa ruangan Rion. Rion menceritakan beberapa kendala tentang kinerja perusahaannya. Neyza mendengarkan apa yang dijabarkan Rion. Sesekali ia menyuapi Rion dengan kue kesukaan Rion. "Perlu gebrakan sih menurut aku. Apalagi restoran ini. Terakhir kita pernah makan setelah nikah, kan? Daerahnya sekarang memang jadi daerah perkantoran dan pabrik. Tapi kayaknya gak suit sama tema restoran kamu," Neyza memberikan Nasihat.


"Menurut kamu, gebrakan apa ya, sayang?" tanya Rion. "Kita bisa pindahin restoran kamu ke mall dengan tematik yang lebih segar dan menarik. Kayak menu minuman yang bisa dimasukin minuman Kekinian. Dan tambahan menu snack dengan keju leleh yang sekarang banyak peminatnya," Rion terbelalak. "Eh, ide kamu cemerlang," Neyza menepuk pundaknya. "Masalahnya di tim management kamu. Mereka harus sering kamu ajakin liburan dan ajak makan di tempat makan yang enak. Biar mereka punya gambaran tentang tempat mereka kerja. Kalo monoton kayak gini gak bakal bisa bersainh dengan kompetitor baru," Rion memeluk Neyza.

__ADS_1


Seseorang tiba-tiba masuk ke ruangan Rion. "Oh, jadi di jam kerja kamu kencan."


(bersambung)


__ADS_2