
Weni tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Rion dengan percaya diri mengatakan ingin menikahi Neyza.
Weni: "Kamu gpp, Rion?"
Rion: "Gue mau balas kebaikan dia. Banyak berhutang banyak gue sama dia. Terakhir dia bantuin gue damprat Hani dan Tito. Lu pasti sudah dengar dari Neyza."
Weni: "Iya, sih, gue paham. Tapi. Kalo kamu mau nikahin dia karena hutang budi dan bukan karena cinta. Lebih baik gak usah, Rion. Aku juga gak tega Neyza gak dicintai."
Rion: "Sejujurnya sebelum Hani datang dan bilang kalo dia mau gue nikahin, gue sempat kepikiran Neyza, Wen. Gue malah getol usilin dia setiap ketemu. Entah emang gue ada rasa sama dia. Tapi gue ngerasa emang dia jadi perhatian gue saat itu."
Weni mengubah posisinya. "Rion, saranku. Lebih baik kamu dalami lagi perasaan kamu. Jangan sampai niatan baik kamu untuk menikah dengan Neyza atau dengan wanita mana pun jadi bukan karena kamu pure suka sama dia. Kalo kamu mau, aku bantu buat kamu dekat lagi dengan Neyza. Maksudnya, biar Neyza bisa nerima kamu jadi teman, paling gak itu dulu. Setelah ia Terima kamu jadi teman lagi, terserah dia mau kembali suka sama kamu atau gak. Itu urusan kalian."
Rion tersenyum. "Waaa, pencerahan banget lu, Wen. Gue jadi gak sabar ketemu Neyza."
Weni: "Ingat, ya. Deket jadi teman. Sembuhin hati Neyza dulu."
Rion: "Siap-siap, Wen. Eh, Bili gue panggil ke sini ya biar makan sama kita. Kasihan sendirian kayak tiang listrik."
Seorang pelayan diminta Rion untuk memanggil Bili dan segera bergabung dengan Rion dan Weni.
Bili: "Lha, jadi dari tadi ini Weni. Gue kira sapaan. Ah, lu, Bre. Dari tadi kek gue kesini. Bosen gue sendirian di sono. Dasar lu."
Weni: "Ha? Rion gak nyuruh kamu ke sini? Jahat bener."
Rion: "Weni, deh. Ngomporin gue. Hehehe."
Mereka bertiga menikmati waktu makan siang mereka dan kembali ke kantornya masing-masing.
(Di rumah Neyza)
Weni datang dengan martabak dan minuman Boba Cokelat kesukaan Neyza. Neyza baru saja selesai melakukan yoga. "Waaa, kapan kurusnya habis olahraga dikasih makanan gini. Yeeey. punyaku. Kamu jangan ambil."
Weni hanya memasang wajah sinis. "Kamu nih, sama martabak aja posesif banget. Dulu-dulu gak kayak gitu." Neyza menutup mulutnya yang sedang memakan satu potong martabak.
Weni: "Kamu ada kenangan ya sama martabak?"
Neyza terbatuk. "Uhuk uhuk." Neyza segera mengambil air di meja. Weni menepuk punggung Neyza. "Kamu, nih. Bikin kaget aja." Weni tersenyum. Ia yakin martabak tadi ada kaitannya dengan Rion.
Weni: "Kamu udah lupain Rion?"
Neyza: "Apaan, sih?"
Weni: "Ya aku penasaran aja."
__ADS_1
Neyza: "Aku pingin lupain dia. Selamanya. Aku pingin cari kekasih aja kalo kayak gini."
Weni: "Langsung nikah aja. Malah enak gak putus sambung putus sambung."
Neyza: "Sapa yang mau sama aku, Wen?"
Weni: "Ih, kamu. Dulu ada Tito kamu gak mau. Sekarang masih suka sama Rion juga gak ada itikad deketin dia. Duda ting ting, lho."
Neyza: "Nho, mulai ngaco ngomongnya."
Weni: "Ya, gak gitu. Tapi kan selalu ada kesempatan dalam hidup. Tinggal kitanya. Ambil kesempatan itu apa gak, Ney."
Neyza: "Kalo gitu aku milih gak."
Weni: "Kalo tiba-tiba takdir nyatuin kamu sama orang yang kamu jauhin? inget, takdir gak bisa kita lawan."
Neyza: "Itu urusan belakangan. Tapi aku berdoa semoga gak terjadi."
Weni: "Who knows, sayang."
Neyza: "Terus kenapa tanya-tanya Rion?"
Weni: "Penasaran aja. Eh, nanti makan di Eliza Court, yuk. Ada menu baru di sana."
Neyza: "Ayuk ayuk. Uda lama aku gak makan di sana. Kebabnya enak. Bentar aku mandi dulu, ya."
Satu jam kemudian mereka telah sampai di tempat makan. Weni sudah memesan tempat duduk untuk mereka. Neyza dan Weni segera duduk. Disambut pelayan yang langsung menyediakan semangkok buah segar sebagai jajanan pembuka, Neyza segera melihat-lihat menu. Sedangkan Weni memandang jam tangannya. Pelayan segera mencatat apa yang sudah mereka pesan.
Weni: "Gimana? Masih ingat kan sama tempat ini?"
Neyza: "Lama banget ya gak kesini. Terakhir kayaknya setahun lalu. Waktu aku habis bimbingan ke Dosen."
Weni: "Eh, iya ya. Bener. Malah aku yang makan banyak, Ney. Jadi malu sama cowok di meja sebelah."
Neyza dan Weni tertawa bersama sambil mengingat masa-masa yang lalu.
"Ketawa gak ajak-ajak, nih. Ikutan, dong!"
Rion tiba-tiba datang bergabung dengan mereka. Neyza dan Weni nampak terkejut melihat kedatangan Rion dan Bili. Rion duduk di sebelah Neyza sedang Bili duduk di sebelah Weni. Neyza berdiri seketika, ia hendak pergi meninggalkan meja. Weni nampak kaget, begitu juga Bili. Rion berdiri dan mengejar Neyza.
Rion memegang tangan Neyza. "Ney, tunggu."
Neyza berhenti. "Lepasin, Rion." Rion tak melepaskannya. "Gue minta maaf. Apapun yang gue lakuin dan lu gak bakal kasih tahu apa salah gue, gue minta maaf sampai selamanya. Gue gak mau kehilangan temen kayak lu." Neyza diam. Ia tak banyak bicara. Ia merasa masih kekanak-kanakan menghadapi Rion.
__ADS_1
Rion: "Kita bisa ngobrol berdua sebentar, gak?"
Neyza melihat Rion. "Mau ngomong apa?"
Rion: "Lu boleh mukul gue. Lu boleh ngelakuin apa yang lu mau. Asal please, jangan menjauh dari gue. Lu udah kayak keluarga buat gue."
Neyza: "Adik kamu?"
Rion: "Lu gak mau? Yaudah jadi bini gue aja gimana?"
Neyza mencoba pergi, namun Rion menahannya. "Tunggu. Maaf. Gue bercanda, Ney. Enaknya gimana ini?"
Neyza: "Maaf, Rion. Aku yang kekanakan. Maaf. Gak harusnya aku kayak gini. Kamu terlalu usil buat aku."
Rion: "Serius cuma itu?"
Neyza: "Iya"
Rion: "Kalo gue janji gak usil, lu mau kan kayak dulu lagi sama gue?"
(Sementara itu di meja Weni dan Bili)
Weni: "Semoga hati Neyza bisa luluh sama Rion."
Bili: "Gue yakin mereka bisa balik seru-seruan kayak dulu lagi."
Weni: "Sukur-sukur kalo lanjut ke pelaminan ya, Bre."
Bili: "Hahaha. Gue surprise lu manggil gue kayak Rion. Gpp gpp. Eh, aamiin deh gue do'ain mereka jadi Tuan dan Nyonya besar."
Weni: "Emang kamu ngerti cerita mereka, Bil?"
Bili: "Dikit banyak. Cuma dari awal gue emang setuju Rion sama Neyza daripada sama Mak Lampir itu."
Weni: "Hani?"
Bili: "Iya.Gue uda feeling gak enak udah lama. Apalagi pas Hani ngajakin Rion nikah. Dia jebak Rio. Gue tambah dongkol sama tuh cewek. Emang sekeluarga bakat jadi penjahat. Cih."
Weni: "Sabar, Bre. Sabar."
15 menit kemudian.
Weni: "Lama banget mereka."
__ADS_1
Bili: "Jangan-jangan mereka kawin lari."
"Apa?"