Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 20 Tinggal


__ADS_3

Neyza menghela napas. ia lalu keluar kamar dan menelepon seseorang. Ia yakin bahwa ini masih ada kaitannya dengan kasus Papanya. Ia mulai curiga dengan banyak hal. Secepat itu rivalnya menemukan ia dan mengapa ia yang jadi sasarannya? Penjahat tak kenal kebaikan. Ia pasti berpikir untuk menghabiskan lawan mainnya. Neyza mungkin dianggap menjadi pengganggu. Dan mungkin ini adalah sebuah ancaman agar Papanya tidak terlalu ikut campur urusan bisnisnya. Tidak. Ini sebuah kejahatan besar.


Neyza lalu keluar meninggalkan Rion, Weni daan Bili di kamar. Ia menuju rumah untuk melihat kondisi Mamanya. Ia menceritakan apa yang terjadi. Sang Mama nampak khawatir. Ia syok. Anak perempuannya kini jadi sasaran kejahatan.


Mama : "Ney sekarang di rumah aja. Mama yakin mereka bakal kembali melukai Ney."


Neyza mengangguk. Ia benar-benar ingin memastikan bahwa Mamanya baik-baik saja. Ia pergi ke luar ke sebuah ruang keamanan. Ia mengumpulkan para petugas keamanan. Untuk rumah yang besar, tentu saja Neyza punya algojo yang kuat untuk melindungi rumah dan penghuninya. Mereka kini menjaga ketat. Tak ada tamu yang boleh masuk kecuali yang bersama tuan rumah dan tim pengacara.


Neyza lalu kembali ke rumah sakit. Beberapa pekerja rumah menuju ke kontrakan Neyza untuk membersihkan rumah Neyza. Mereka membuat sebuah laporan bahwa hal tersebut adalah pencuri. Mereka juga mengaku bahwa mereka adalah keluarga Neyza yang tinggal di Jakarta. Sehingga tak ada kecurigaan atau ketakutan para tetangga.


Neyza masuk ke dalam ruangan Rion. Bili tertidur di sofa, Weni di kamar mandi. Sedangkan Rion menonton televisi.


Rion : "Dari mana lu, nek?"


Neyza : "Dari rumah."


Rion menangkap sesuatu di wajah Neyza. Ia tahu Neyza tak mungkin keluar karena sebuah alasan yang sederhana.


Rion : "Kenapa lu?"


Neyza : "Rumah kontrakan diberantakin maling"


"Apaaa?", Rion terkejut. Weni yang baru saja keluar juga mendengar perkataan Neyza.


Weni : "Lhooo"


Rion : "Bahaya kalo gitu. Lu udah cek belum? Ada yang hilang gak?"


Neyza : "Gak penting ada yang hilang apa gak? Aku cuma khawatir sama para tertangga. Ada anak kecil." Neyza merasa kesal.


Weni : "Tenang dulu. Mungkin kita bisa pikirin itu


Yang penting sekarang kamu gak kenapa."


Rion : "Mungkin sekarang gpp. Tapi bisa jadi si maling bakal balik lagi. Bre... heh.. Biliii. Ada suster cantik, Bil."


Bili langsung bangun dan merapikan rambutnya. Ia lalu tersenyum. Entah senyum itu untuk siapa. Sadar bahwa itu hanya tipuan. Ia lalu menyipitkan matanya ke Rion. "Lu nih ah. Ganggu tidur orang aja."


Rion lalu akan segera turun dari tempat tidur. "Buruan ke kontrakan." Ia lupa bahwa masih ada selang infus yang tertancap. Neyza dengan sigap menghalangi Rion.

__ADS_1


Neyza : "Kamu masih sakit, ya. Jangan macem-macem." Mata Neyza nampak serius. Rion pun ingat ia masih harus dirawat di rumah sakit.


Neyza kembali duduk. Bili yang baru saja paham tentang apa yang terjadi dari Weni mulai nampak khawatir.


Bili : "Terus gimana ini? Kita lapor polisi?"


Neyza : "Gpp, Bili. Uda lapor kok."


Rion : "Lu pulang dulu gih ke rumah Weni kek. Kemana kek. Ke rumah Tito kek."


Neyza dengan reflek menutup mulut Rion.


Neyza : "Tito bukan pilihan ya. Aku disini aja. Kamu gak bisa dipercaya. Bisa lari."


Rion : "Yaudah pakai baju suster aja sono. Biar pas."


Neyza mengerutkan alisnya.


Weni : "Ney. Anterin ke bread store di bawah yuk. Mau beli roti. Ada tetangga dirawat di sini. Temenin yuk." Neyza tersenyum dan segera beranjak dari tempat duduknya.


Kini giliran Rion yang segera menghubungi beberapa orang. Pengacaranya, dan juga pemilik hunian kontrakan. Sekilas ide yang muncul adalah Ia ingin beberapa petugas keamanan untuk menjaga lingkungan kontrakan. Tentu saja dengan ijin pemilik kontrakan. Dengan alasan pencuri yang sudah masuk ke dalam rumah Neyza, ia yakin bahwa keamanan lingkungan kontrakan menjadi lebih aman.


Bili : "Eh, bre. Deket kontrakan kan ada dua petak sawah tuh yg kosong. Maling bisa aja kan ngumpet lewat situ kalo ada bodyguard lu jagain situ."


Bili mengangguk.


Rion : "Gue ada tugas penting buat lu, bre?"


Bili : "Gue selalu asiyap."


Rion : "Tolong cari tahu yang punya sawah-sawah itu. Gue mau beli dengan harga berapapun."


Bili : "Ha? Buat apa?"


Rion : "Kita bentengin kontrakan orang-orang. Bisa jadi mereka bakal balik lagi. Nanti gue mikir lagi tuh tanah mau diapain. Yang penting ada yg jaga dulu."


Bili : "Alasan logis apa yang lu kasih sama pemilik kontrakan?"


Rion : "Tentu aja maling yang masuk rumah Neyza. Gue cerita kalo mereka petugas keamanan yang memang dibayar untuk jagain perumahan. Yang bayar mereka gue."

__ADS_1


Bili : "Tunggu. Dia gak curiga apa kok lu bisa bayar petugas keamanan?"


Rion : "Gak.Gue cerita kalo gue juga punya side job yang gajinya gak dikit. Gue tahu kesannya gue pamer. Tapi paling gak harta gue dipakai di jalan yang baik. Kalo gak gue cerita, dia bisa bertanya-tanya darimana gue dapat duit."


Bili : "Iyalah.Toh habis kelar skripsi lu uda cabut dari situ sama bodyguard lu."


Rion : "Kagak bisa gitu juga, bre. Itu. lingkungan udah jadi rumah kedua gue. Gak bisa gue lepas tangan begitu aja. Mereka tetap disitu buat jagain tempat itu."


Bili : "Lu baik, tamvan, kaya. Kenapa Hani nolak lu sih? Heran gue."


Rion : "Hati gak bisa dipaksa. Kayak lu terima cinta Dayu aja. Huuu..."


Bili terkekeh mendengar skakmat Rion.


Rion lalu sibuk melihat ponselnya. Pesan-pesan untuk memastikan keadaan kasus Papa Neyza kembali menjadi perhatiannya. Ada hubungannya dengan Papa Neyza? Jelas. Sepertinya upaya menarik laporan hanya sebuah strategi baru untuk menjatuhkan Papa Neyza. Tidak semulus itu. Pikir Rion. Ada yang harus diluruskan. Kini ia yakin akan membantu Neyza. Ia merasa kasihan dengan Neyza. Rion lalu tersenyum.


Bili : "Oi. Lu ngapain senyam senyum sendiri? Kemasukan jin?"


Neyza : "Habis liat aku, Bil. makanya senyum senyum sendiri."


Rion lalu sadar dirinya sedang dibicarakan oleh teman-temannya. Ia lalu memasang muka serius.


Rion : "Fitnah lu, nek. Mana roti gue?"


Neyza : "Roti? Emang pesen roti?"


Rion : "Lha lu tadi katanya Weni mau ke toko roti."


Neyza : "Beli buat jengukin tetangganya. Bukan buat kamu."


Bili : "Gue beliin, bre. Emang dasar lu lupa tadi emang gak nitip."


Rion memalingkan mukanya ke jendela. Menghindari rasa malu yang akan nampak.


Neyza : "Baju kotor kamu sudah aku taruh disitu. Nanti Bili biar bawa buat dicuci. Baju yang bersih di lemari."


Rion : "Bawel tapi makasih, nek. Biar Bili aja yang jagain gue. Lu pulang aja ke rumah Weni."


Neyza : "Gak. Aku yang tidur sama kamu. Jangan cerewet."

__ADS_1


Apa?


Jantung Rion tiba-tiba berdetak kencang.


__ADS_2