
"Mau aku jodohin sama Heri aja, gimana?" Rion menawarkan sebuah ide. Neyza menggeleng seakan-akan ia sudah menolak mentah-mentah pendapat Rion. Neyza lalu tidur dengan tanpa mempedulikan perkataan Rion.
Keesokan harinya, Neyza dan Rion mendapatkan sebuah pesan bahwa siang ini Regina akan segera dioperasi. Neyza dan Rion merencanakan untuk pergi menjenguk Regina setelah pulang kerja. Mereka berdua turun ke ruang makan untuk sarapan. Shena bersama para asisten rumah tangga telah selesai menyiapkan makan pagi. Neyza dan Rion duduk bersama anak-anak. "Pak, Bu, hari ini saya pamit pulang. Orang tua saya lebih awal dari jadwal. Saya Terima kasih banyak sudah diberikan tempat yang nyaman di sini. Maaf juga karena merepotkan banyak orang selama saya ada di rumah ini. Sekali lagi Terima kasih. Rion mengangguk. "Sama-sama, Shena. Kami juga minta maaf kalo ada jamuan yang kurang mengenakkan," kata Neyza mewakili Rion. "Wah, kita gak ada teman lagi dong," kata Lalita. Shena tersenyum. "Kita kan bisa main sama-sama," bujuk Neyza. Setelah semua pergi untuk urusan mereka masing-masing, Shena mempersiapkan segala sesuatu untuk dijemput oleh orang tuanya.
Sebuah mobil sedang berwana putih tiba di rumah Neyza. Sepasang suami istri itu pun keluar dari mobil. Shena berada di depan pintu dan menyambut mereka. "Ma! Pa!" kata Shena. "Yang punya rumah pada ke kantor, ya?" kata sang Mama. Shena mengangguk. "Kalo begitu kapan-kapan kita kemari untuk bertemu. Kita harus mengirimkan sesuatu untuk mereka," kata Papa Shena. Mereka pun segera kembali pulang.
Sore itu, Neyza dan Rion pergi ke rumah sakit menjenguk Regina yang sudah selesai dioperasi. Ketika mereka masuk ke dalam ruangan, Ogi tengah duduk di sofa dan membaca sebuah majalah. Melihat kehadiran Neyza dan Rion, ia pun segera berdiri dan menyambut mereka. Neyza dan Rion duduk bersama Ogi di ruang tamu pengunjung.
"Gimana?" tanya Neyza. Ogi menceritakan perihal kesuksesan operasi siang tadi. Sebelum Neyza dan Rion datang, Regina baru saja keluar dari kamar operasi dan langsung dibawa ke ruang rawat untuk segera beristirahat dan menunggu untuk segera siuman. Rion menepuk pundak Ogi. "Lu kuat, ya. Semoga ini semua segera berakhir. Regina bisa sembuh lebih cepat," Neyza mengangguk. "Eh, Gi. Ini kita bawain makanan. Lu makan dulu, gih. Gue yang jagain Regina di kursi sebelah. Biar ditemenin Rion juga," kata Neyza.
Tut tut tut
__ADS_1
Sebuah pesan masuk di ponsel Rion.
Selamat sore, Pak Rion. Saya mau memastikan bahwa perempuan di rumah Bapak itu adalah tunangan saya. Jadi saya harap Bapak mau mengerti. Jangan ikut campur urusan saya.
Rion terlihat biasa saja. Ia menduga ini mungkin adalah pesan dari orang iseng. Namun pada akhirnya, ia kembali sadar bahwa kemungkinan besar, ini adalah tunangan Shena. Rion sedikit menghela napas. Hal yang ia jauhi nampaknya menjadi sebuah masalah dengan mempersilahkan Shena menginap di rumah Neyza. Rion tak sabar untuk memberitahukan ini pada Neyza. Pesan itu diteruskan ke nomor Bili. Dan Bili sengaja meminta nomor pria itu sehingga ia dengan jantan menghubunginya.
Satu jam kemudian, Rion dan Neyza segera pamit untuk kembali pulang. Mereka lantas bertemu dengan Bili di sebuah tempat makan. "Ini gimana, sih? Kok bisa-bisanya dia ngerti nomor gue?" Rion sedikit kesal. Neyza yang membaca pesan itu pun juga ikut kesal. "Gak mungkin kalo Shena. Tapi dia tahu darimana?" Neyza penasaran. Bili bercerita bahwa ia belum sempat menghubungi pria itu karena ia lebih dulu menghubungi Shena untuk sebuah penjelasan. "Kata Shena, hari ini dia bakal ketemu sama orang tua Shena dan si Dirga kalo gak salah namanya. Jadi gue tahan dulu. Kita gak usah ikutan. Lu juga gak usah balas deh pokoknya," kata Bili. Rion dan Neyza sedikit lega karena semestinya masalah ini perlahan menjadi jernih kembali.
Sebuah telepon masuk ke ponsel Bili. Bili mengangkatnya. "Halo!" Suara isak tangis terdengar di ponselnya. "Bil, tolongin gue. Dirga marah-marah di rumah. Orang tua gue mau disakitin sama dia," Bili membesarkan matanya. "Gila.Lu tunggu di situ. Gue kesana," Bili segera berdiri. Neyza dan Rion menanyakan perihal telepon tadi. Bili menceritakan apa yang terjadi. Neyza dan Rion pun lalu mengikuti Bili.
Dalam perjalanan. Mereka bertiga masih bertanya-tanya apa yang terjadi terhadap Shena dan orang tuanya. "Lu tahu rumah Shena?" tanya Rion. Bili mengangguk. "Gue pernah tanya alamatnya. Dan kebetulan gue hapal daerah situ. Dekat sama rumah mantan gue. "Ya, giliran mantan emang kenangan banget, ya?" kata Rion. Mobil Rion melaju dengan kencang. Mereka sampai di depan rumah Shena. Suara tangisan dan teriakan sudah terdengar sampai di luar.
__ADS_1
"Dirga. Stop!"
"Udah. Mundur. Ni cewek emang gak ada makasihnya sama gue.!
" Gue gak suka sama lu, Dirga!"
"Aaaa..!!"
Bili, Rion dan Neyza segera masuk ke dalam rumah Shena. Mereka terkejut karena Shena sudah berada dalam pegangan Dirga. Pipinya lebam dengan sedikit darah di bibirnya. Orang tua Dirga nampaknya, terlihat karena muka mereka tidak berbeda. Melerai Dirga namun kekuatan Dirga terlalu kuat. Sedangkan orang tua Shena memegang Shena dengan sekuat tenaga. "Lepasin dia. Lu udah bikin sakit orang," kata Bili. Dirga menatap Bili dengan tatapan tajam. "Siapa lu? Jangan ikut campur urusan gue," Bili mendekati Dirga untuk melepaskan Shena, namun yang ada sekepal tangan Dirga mendarat telat di wajah Bili. Ia pun terjatuh di lantai. Rion dengan cepat meladeni Dirga buang sudah menyakiti sahabatnya itu. Shena langsung berlari begitu cengkeraman Dirga lepas karena Rion berusahalah mendorongnya. Keduanya beradu seperti perkelahian di film aksi. Dirga sempat mendapat satu pukulan dari Rion. Lalu dengan cepat ia pun membalas pukulan Rion. Rion pun akhirnya terjatuh. Neyza melihat suaminya terkapar di lantai. Setelah membatu Shena dan orang tuanya masuk ke dalam kamar, ia pun segera berlari dan membuat ancang-ancang untuk segera menyerang Dirga. Tak butuh waktu lama, hasrat untuk menumbangkan Dirga akhirnya berhasil ia jatuhkan dengan hanya sekali tendangan maut. Tak sampai di situ, Neyza lalu memukul beberapa titik untuk membuatnya tidak sadarkan diri. Mata Neyza memancarkan amarah yang besar. Napasnya terengah-engah. Keringatnya bercucuran. Bili dan Rion yang kembali berdiri memang tak terkejut dengan aksi Neyza. Ia adalah petarung sejati.Mungkin sepertinya ia lebih ahli untuk bertarung daripada Bili dan Rion yang mengandalkan insting. Mama Dirga segera menuju ke anaknya yang sudah tak sadarkan diri. Sedangkan Papa Dirga menuju Neyza dan menepuk pundaknya. "Kamu mengambil langkah yang tepat. Terima kasih. Dirga memang kehilangan akal karena cinta mati pada Shena," Neyza lalu sadar. Ia lalu meminta maaf pada kedua orang tua Dirga.
"Sayang, jangan bikin malu kita, dong."
__ADS_1
(bersambung)