Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 34 Bangkit lagi?


__ADS_3

"Halo," suara lelaki yang sudah setahun ini tidak ia dengar kembali terdengar di telinga Neyza.


Neyza: "Halo."


Rion: "Halo, Ney. Ini gue, Rion. Apa kabar?"


Neyza: "Baik. Ada apa?"


Rion: "Sori, ganggu. Ini penting banget. Temen cowok lu yang suka bareng lu sapa namanya?"


Neyza: "Banyak. Siapa maksudnya?"


Rion: "Yang pernah ke kontrakan lu."


Neyza: "Ada apa sama dia?".


Rion: " Mention it."


Neyza: "Tito?"


Rion: "Ah, iya bener. Itu dia."


Neyza: "Kenapa dengan Tito?"


Rion: "Gue boleh minta bantuan lu, gak?"


Neyza: "Kenapa harus aku?"


Rion: "Ini buat kepentingan banyak orang, Ney."


Neyza: "Ney? Kamu lupa nama panggilanku?"


Rion: "Gue ngerti. Tapi gue sekarang gak nyaman manggil lu dengan sebutan nenek lagi."


Neyza: "Ada apa dengan Tito? "


Rion: "Gini, setahun lalu gue nikah. Malam pertama gue ajak dia tinggal di rumah. Dia masih sama gue. Dan pagi harinya dia hilang. Berapa hari kemudian polisi nemuin kalo dia meninggal. Dan sekarang gue ada di Bali. Gue ada kerjaan. Pas mau masuk hotel gue lihat ada orang yang nitip banget sama almarhumah istri gue itu. Gue ikutin. Temen gue yang jadi detektif masuk ke rumahnya. Nyamar. Dan tahu ada foto keluarga. Suaminya mirip sama Tito, temen lu. Gue mau buktiin kalo itu bukan istri gue dan temen lu. Lu bisa bantu gue?"


Neyza: "Aku gak bisa, Rion."


Rion: "Kenapa?"

__ADS_1


Neyza: "Aku emang gak bisa."


Rion: "Please. Cuma lu yang bisa buktiin itu bukan Tito. Dan gue pingin kalo itu gak bener, gue pingin nyembuhun kesedihan gue karena terlalu lama gue tersiksa. Tolong gue. Sekali ini. Lagian kenapa sih lu tiba-tiba hilang? Nomor telepon udah ganti gak bilang-bilang."


Neyza: "Privasi."


Rion: "Tolong gue, Neyza."


Neyza: "Bilang sekali lagi," Neyza menarik napas. Tak tahan dengan permohonan Rion. Ia juga merasa kasihan dengan keadaan Rion.


Rion: "Tolong gue, Nek."


Neyza: "Ok. Aku bantu sampai bisa buktiin kalo itu bukan Tito."


Rion: "Yes yes. Dimana bisa ketemu?"


Neyza: "Kamu dimana?"


Rion: "Aku di Resto Mejangan"


Neyza hampir tersedak. Restoran Mamanya. Rion berada di sana. Ia pun menyetujui untuk bertemu. Ia memilih tidak ditemani Weni. Nampaknya memang ini masalah yang serius.


Neyza mengantar Weni ke rumahnya lalu kembali ke restoran mamanya. Neyza masuk ke dalam restoran. Ia mencari-cari keberadaan Rion. Kemana dia? batin Neyza. Jangan-jangan ia pergi ke sebuah tempat tanpa mengkonfirmasi kepada Neyza. Neyza mengambil ponselnya dan segera menghubungi Rion.


Mereka berdekat saling memandang. Dengan pikiran meraka masing-masing, mereka nampak sedang sama-sama bertanya-tanya apa yang terjadi selama setahun belakangan ini. Waktu sudah mengubah banyak hal tentang dunia, tentang Rion dan tentang Neyza.


Rion: "Lu kok berbuah sih, nek?"


Neyza: "Muka kamu juga udah kayak hutan, Rion."


Rion: "Lho, ini tren. Lagi booming. Biar macho."


Neyza: "Macho tapi gak bisa nancepin paku di dinding."


Rion: "Masih inget aja, lu. Udah, ah. Penting, nih. Duduk sini."


Neyza: "Sebenarnya kenapa?"


Rion: "Seperti yang gue cerita tadi. Istri gue meninggal setahun yang lalu. Malam pertama cuma bisa ngucapin selamat tidur. Disentuh aja gak, nek. Gue masih perjaka ting ting. Paginya gue bangun gaun kesiangan. Gue cari dia gak ada. Yang ada ruang kerja bokap berantakan. Dokumen hilang, emas batangan hilang, surat berharga juga hilang. Ada sobekan baju sama darah di lamtai."


Neyza: "Lha orang rumah pada kemana kok pada gak tahu?"

__ADS_1


Rion: "Pada diungsiin semua kecuali satpam. Biar gak ganggu pengantin."


Neyza: "Terus?"


Rion: "Tadi gue ketemu detektif temen gue. Dia bilang dua orang itu namanya bukan Hani dan Tito. Tapi pembantunya sempat manggil Nyonya Hani. Di foto keluarga itu ada foto suaminya juga. Ini fotonya."


Neyza melihat dengan seksama foto keluarga itu. Seorang perempuan, laki-laki, dan anak yang masih balita. "Ini memang persis sama Tito."


Rion merasa keyakinan Neyza kuat. "Lu bisa kan bantu gue, nek?"


Neyza: "Bantuin apa sih?"


Rion: "Gue pingin buktiin itu bukan Hani, istri gue."


Neyza: "Kalo emang iya?"


Rion: "Gue bersyukur sampai gak punya keturunan sama dia. Toh berarti dia perempuan gak bener."


Neyza: "Bohong."


Rion: "Ya gue nangis, lah, nek. Gue cinta sama Hani. Setahun belakangan hidup gue hancur karena mikir dia."


Neyza: "Itu yang aku maksud. Kamu terlalu cinta sama dia. Kamu belum bisa move on."


Rion: "Jelas kalo gue sedih. Gue gak bisa bayangin kalo benar itu Hani. Pasti hidup gue berantakan."


Neyza: "Kamu itu cowok. Jatuhnya kok sama cewek yang gak bener. Banyak cewek di luar sana yang setia dan gak nipu kamu."


Rion: "Hati gak bisa bohong."


Neyza: "Logika kamu yang terlalu terlena sama cinta. Kamu gak ambil manfaat dari jatuh cinta sama orang lain. Kamu cuma mau senengnya aja. Tapi kamu gak siap sama patah hati. Pada akhirnya, kalo kita berpasangan. Tetap akan berpisah. Mau dipisahin maut, atau dipisahkan dengan cara yang gak enak."


Rion terpaku dengan perkataan Neyza. Mulutnya menganga karena terkejut dengan ucapan bijaksana yang keluar dari tetangganya itu. Neyza ada benarnya. Logikanya mati termakan cinta. Cinta membuat buta pikirannya untuk terus hidup dengan semangat banyak orang. Rion akhirnya sadar bahwa ternyata banyak yang mencoba menghiburnya, membuatnya bisa menatap dunia dengan bijaksana. Bili, sahabatnya yang sudah lama, sering sekali memberikan banyak masukan dan dukungan. Namun Rion malah tidak menganggap semua itu. Ia digelapkan oleh cinta Hani.


Neyza: "Heh. Denger gak, sih?"


Rion: "Denger, Nek. Lu sekilas kayak Gandhi, Mario Teguh, Bunda Maria, apapun yang bijak bijak itu. Makasih banget udah ingetin gue betapa pentingnya orang-orang terdekat. Gue gak sadar selama ini gue hanya mikirin hati gue. Tapi hati orang-orang terdekat gue malah gue sia-sia-in. Gue berhutang sama lu."


Neyza: "Udah, gih. Sekarang gimana?"


Rion: "Detektif gue ngabari kalo bentar lagi mereka keluar untuk makan malam. Mereka nyewa presiden suite di hotel. Kita kesana duluan buat nguping pembicaraan mereka."

__ADS_1


Neyza dan Rion segera pergi menuju hotel tersebut.


__ADS_2