
Rion berusaha berlari mengejar sosok perempuan tadi. Ia yakin itu Neyza. Setidaknya kali ini ia mengikuti kata hatinya. Ia mulai masuk dan mencari Neyza.
Ney, jangan pergi. Maafin aku, Ney. Ayo pulang!
Ia melihat sekilas Neyza masuk ke dalam ruang lapor. Beberapa antrian memburamkan penglihatan Rion.
Sial.
Perempuan berbaju abu-abu yang ia lihat itu berada pada antrian penerbangan ke Indonesia. Betul, itu pasti Neyza. Penerbangan tinggal satu setengah jam lagi. Bagaimana Rion bisa masuk ke dalam? Sedangkan ia bukanlah salah satu penumpang yang bisa mengakses masuk ke dalam ruang lapor. Rion memutar otaknya. Kemana lagi harus menembus masuk ke ruang lapor ini?
"Pak Rion!" seseorang memanggilnya. Rion mencari sumber suara itu. Rupanya salah seorang karyawannya berada di Bandara. "Pak Rifan. Ada apa malam-malam di Bandara?" tanya Rion. "Oh, saya lagi antar adek saya." Dengan cepat Rion menemukan sebuah ide. "Pak Rifan bukannya punya kartu Otoritas Bandara ini, ya?" Rion bertanya tanpa pikir panjang. "Iya, Pak. Kenapa ya, Pak?" Rion mengenggam tangan Pak Rifan. "Saya pinjam ya, Pak. Saya ada perlu di dalam." Pak Rifan hanya termenung sambil mengambil kartu Otoritas Bandara yang ia punya. Pak Rifan adalah salah satu Manager di perusahaan Rion dan bekerja di kantor Jepang. Tugas lain Pak Rifan juga mengantar dan menjemput tamu ataupun para atasan yang datang serta pergi ke Jepang. Untuk itulah akses masuk Bandara begitu mudah untuknya karena Otoritas.
Rion dengan cepat masuk tanpa halangan. Antrian di ruang lapor sudah sedikit dan keberadaan Perempuan tadi jelas sudah tak ada. Ia segera bertanya pada salah seorang petugas bandara dimana gate penerbangan yang ia maksud.
__ADS_1
Rion berlari untuk mencari keberadaan Neyza. Ia meneliti tiap orang yang masuk ke gate itu. Namun tak ada yang mirip dengan Neyza.
Ah, perempuan di dekat pintu.
Rion segera menghampirinya. "Ney!" perempuan itu membalikkan badan. Melihat dengan seksama. "Yes?" ujar perempuan itu.
Ah, bukan Neyza.
Rion memasuki apartemennya. Suasana sangat hening. Ini sudah larut malam ketika ia tiba di lobby gedung ini. Lalita pasti sudah tidur dengan para asisten rumah tangganya. Rion memasuki kamarnya yang remang karena lampu tidur dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Kaki Rion rasanya tak menginjak tanah. Ia ingin jauh dari waktu ini. Kembali di saat ia ditawarkan makan malam oleh Neyza. Ia pasti akan memakan lahap semua makanan itu. Ia akan bersikap lebih lembut kepada istrinya itu. Neyza benar-benar membuat ia merasa jatuh cinta dan kali ini, patah hati sedalam-dalamnya.
Rion lelah. Ia merebahkan dirinya secepat mungkin agar besok ia dapat menghubungi Neyza kembali. Ia cepat memejamkan matanya. Tangannya ingin meraih seluruh selimut. Mencari bau Neyza yang mungkin tertinggal di selimut ini.
"Rion, apaan, sih. Sini selimutnya." suara Neyza diangan-angan. "Ah, coba itu beneran kamu, Ney. Kayak kita dulu rebutan selimut. Kamu dimana, sih? Aku kangen." Rion berada dalam hati yang sangat kalut. "Hei. Aku bukan hantu, ya. Sini in selimutnya. Kamu rakus banget sih sama selimut." Rion tercengang dan terduduk di tempat tidur. Ia lalu menyalakan lampu yang terang sehingga ia yakin ada manusia yang membersamainya.
__ADS_1
"Neyza!" Rion terkejut melihat istrinya sedari tadi berada di sebelahnya. Neyza akhirnya ikut duduk walau dengan kantuk yang mulai menghinggapi nya. "Bukan, mak lampir." Rion menaikkan alisnya. "Kamu sejak kapan pulang ke rumah?" Neyza menggarukkan kepalanya. "Dari 4 jam yang lalu." jawabnya singkat. "Terus, kamu tadi gak ke Bandara?" Neyza menggeleng. "Ngapain aku ke Bandara? Ngambek? Pulang ke Jakarta? Childish banget. Sini ah selimutnya. Aku ngantuk." Neyza menarik selimut dari Rion dan membaringkan tubuhnya. Mata Rion berkaca-kaca melihat Neyza betul-betul ada di hadapannya. Walau ia belum mau membicarakan perihal masalah yang belum ia selesaikan dengan Neyza. Setidaknya kali ini. Ia bersyukur bisa melihat Neyza kembali. Rion memeluk Neyza sementara perempuan itu membiarkan tangan Rion memeluknya erat-erat. "Maafin aku, Ney. Gak harusnya aku ngomong kayak gitu. Jangan marah dan jangan pergi." Neyza tak menjawab. Ia sepertinya tertidur. Rion akhirnya tertidur sambil memeluk Neyza hingga pagi hari.
Syukurlah.
Pagi itu, Neyza tengah memandikan Lalita dan bermain dengannya. Rion terbangun dan terkejut karena tak ada Neyza di sebelahnya. Rion langsung berdiri dan berlari ke ruang makan. "Neyza mana?" tanyanya kepada salah satu asisten rumah tangga. "Di kamar Lalita, Mas." Rion lalu kembali berlari ke kamar Lalita. Memastikan Neyza ada di dalam rumah. Rion membuka pintu dan melihat Neyza sedang bermain dengan Lalita. Rion mendekati Neyza. Ia duduk di atas karpet halus bersama Lalita. Rion mencium kepala Neyza namun Neyza sedikit menolak. "Kamu masih marah sama aku?" Neyza diam. "Hmm," jawabnya singkat. Rion memangku Lalita dan duduk menghadap Neyza. "Aku yang salah, Ney. Gak harusnya aku nuduh kamu yang macem-macem." Neyza diam. Matanya tak ingin menatap Rion. "Kemana kamu waktu gak pulang?" Neyza menghela napas. "Ke hotel?" Neyza menggeleng. "Gak ada satu hotel pun yang aku kunjungi." Rion terkejut. "Terus? Tidur dimana kamu?" Neyza menatap Rion dengan kuat. "Kamu tahu kan, aku gak bisa jauh dari Lalita? Makanya aku sewa apartement sebelah buat aku di situ selama kamu ada di rumah." Rion menganga. "Ha? Kamu sewa apartement seluas itu cuma sendirian?" Neyza mengangguk.
Tak sampai disitu kepenasaran Rion. "Bentar. Terus tadi malam kamu sempat pulang gak?" Neyza berpikir sejenak. "Ya, aku sempat masuk. Terus dengar kamu lagi ada di ruang makan. Aku cepat-cepat keluar balik ke sebelah." Rion menepuk dahinya. "Berarti kemarin aku yang salah orang." Neyza sekarang yang dibuat penasaran. "Maksudnya?" Rion sedikit menertawakan dirinya. "Waktu dengar ada suara pintu aku cepat-cepat keluar apartemen. Ada perempuan kayaknya mirip banget sama kamu lagi bawa koper. Aku ikutin sampe ke Bandara. Kebetulan dia baik pesawat Indonesia. Aku pikir itu kamu, Ney." Neyza menggelengkan kepalanya. "Aku kayak orang kalut, Ney. Aku takut kamu pergi." Wajah Rion berubah menjadi sedih. "Kamu menyesal?" tanya Neyza. "Banget. Kalo marah jangan pergi dari rumah, ya? Kita selesaiin Sama-sama," kata Rion. "Kalo ada masalah tanya dulu yang benar. Biar gak salah sangka." Rion mengangguk dengan pasti. p
"Aku juga minta maaf kalo masih kayak anak kecil. Harusnya aku gak pergi dari rumah. Walau aku cuma di sebelah." Rion tertawa. "Gak gak. Kamu lucu. Kamu gak salah, sayang. Aku yang salah." Neyza memandang Rion. "Aku juga gak suka sendirian di apartemen yang besar. Malam aku kadang tidur di kamar Lalita." Rion kembali dibuat terkejut. "Kamu takut, ya?" Rion meledek. "Ya kamu pikir aku seberani itu habis ke sebelah aku nonton sadako terus gak berani tidur sendirian. Kamu bikin susah aku." Neyza menuduh.
"Lho, kan kamu yang minggat." Rion tak mau kalah. "Kalo kamu gak ngomong kayak gitu, aku juga gak bakal minggat, ya." Neyza mulai tersulut emosi. Neyza mulai banyak berbicara sementara Rion mendekat dan mendaratkan bibirnya ke bibir Neyza.
(bersambung)
__ADS_1