
"Kalo lu gak mau. Pak Rion gak pingin punya istri lagi?"
Pikiran Shena mulai ke mana-mana. Untung saja kalimat itu tidak ia sampaikan. Sudah bisa ditebak ia akan terusir secara paksa dari rumah Neyza. "Gila lu, ah. Gak gak. Gue udah ada yang punya. Lu cari laki-laki yang baik. Itu urusan diselesaiin dulu," Shena tertawa. "Iya ya, gue juga bercanda. Lagian ngapain tiba-tiba nodong lu jadi calon suami gue. Kan gue juga gak yakin. Masih trauma sama laki-laki," Bili menghela napas sembari mencari air putih karena ia sempat syok berat. Neyza segera memberitahu Shena bahwa orang tua Shena bisa menjemputnya setelah tiba di bandara. Hal itu akan sangat memudahkan Shena dalam penjagaannya dari tunangannya tersebut.
Shena masuk ke dalam kamar. Dadanya serasa bergetar hebat. Apa yang barusan ia katakan? Neyza dan lainna adalah malaikat tanpa sayap untuknya. Apa yang ia sampaikan tadi sebenarnya juga tidak sepenuhnya candaan. Andai saja Bili mau menerima idenya itu, maka ia akan sangat bersyukur. Shena duduk sambil memeluk lututnya. Wajahnya tenggelam dalam sedih. Hidupnya kacau padahal beberapa pekan lalu ia masih merasakan hangatnya suasana pesta pertunangan yang meriah. Keluarga dan sahabat-sahabat Shena berdatangan. Menyambut baik perayaan yang dilakukan Shena.
"Sayang, aku bakal jaga kamu," teringang-ngiang kata-kata calon suaminya itu. Ia merasa di atas awan. Semakin melambung karena perasaan istimewa menghampirinya. Tak ada yang lebih indah selain ini. Ia merasa dicintai. Dirga, pria yang sudah tiga tahun ini membersamainya. Lekat dalam ingatan saat mereka pertama kali mengenal nama satu sama lain. "Hai, aku Dirga. Kamu siapa?" tanya pria itu saat sebuah perhelatan besar acara kantornya. Mereka memang bukan teman sekantor. Tapi Shena adalah perwakilan kantornya sebagai kolega kantor Dirga. Rasa penasaran Dirga pada Shena memang sudah terlihat dari semenjak pertama bertemu. Shena adalah sosok yang tegas. Dirga sangat suka dengan karakter Shena. Pria itu memperhatikan bagaimana gesture Shena yang dengan mudah melobi beberapa pimpinan Divisi di kantornya. Shena adalah orang yang supel. Ia mampu berbaur dengan orang yang baru ia kenal.
__ADS_1
Saat Shena akan pergi meninggalkan acara, Dirga bahkan sempat sedikit berlari hanya untuk menanyakan nomor teleponnya. Berlanjut tentang urusan kantor, Dirga pun sering bertemu dengan Shena secara profesional. Dirga dengan sopan meminta Shena untuk mengijinkannya menghubungi Shena karena merasa mulai dekat. Shena tersenyum. Masa bahagia itu paling tidak pernah ia rasakan. Manis rasanya. Ia bisa berkali-kali malu ketika mengenang bagaimana Dirga menatap matanya dengan sangat tulus. Hati Shena berbunga-bunga.
Ah, Shena sempat tidak Terima dengan takdir yang membawanya. Rasanya tidak mungkin Dirga, orang yang ia kenal hampir empat tahun itu menjadi sangat liar. Shena masuk ke dalam mobil Dirga saat pulang kerja. Wajah Dirga nampak biasa saja. Namun seketika sebuah foto yang diberikan Dirga kepada Shena merupakan pemicu dari kejadian memilukan kala itu. Shena yang sedang berbicara dengan seorang pria dianggap Dirga adalaah sebuah pengkhianatan.
"Kamu perempuan yang tidak tahu berterima kasih," itu adalah satu dari kalimat menohok yang dialamatkan kepada Shena. Masih nampak dengan jelas raut wajahnya memerah. Matanya melotot ke arah Shena. Dirga seperti bukan dirinya. Batin Shena menguatkan dirinya. Walau Shena menolak dakwaan Dirga bahwa ia adalah seorang pengkhianat, namun tak ada hasil yang Shena dapat. Dirga tersulut api cemburu. Jiwa raganya ingin sepenuhnya menguasai Shena. Aroma wangi parfum Shena yang masih harum walau sudah berjam-jam ia beraktivitas, membuat Dirga semakin candu pada Shena. Hasratnya untuk memiliki Shena seutuhnya sangat kuat. Ia memulai memegang lengan Shena, mendekatkan Shena seakan-akan ia ingin mencumbu. Shena berusaha menolak. "Hei, Dirga. Lu gak boleh kayak gini, kita belum jadi suami istri," Dirga yak menggubris perkataan Shena. Yang ada dalam pikirannya hanya menginginkan Shena. Perlakuan demi perlakuan yang ditujukan pada Shena membuat adrenalin Shena semakin terpacu. "Lari! " otaknya terus berkata seperti itu. Shena berusaha mendorong Dirga sekuat tenaga. Inilah kesempatanmu Shena untuk segera berlari. Dengan rambut acak-acakan, ia keluar dari mobil Dirga. Ia melepas high heels nya dan segera pergi meninggalkan tempat parkir. Shena tak sempat berpikir untuk meminta bantuan kepada salah satu petugas keamanan. Dalam pikirannya, ia hanya ingin lari ke gedung perusahaan Rion yang tepat ada di sebelahnya. Ketika ia masuk ke gedung itu, seorang petugas keamanan menanyakannya. Ia berbohong bahwa ia adalah sepupu Rion yang disuruh untuk menunggunya bersama istri Rion. Petugas itu pun setuju. Walau rasa penasaran tentang tatanannya yang sedikit tidak rapi dan tidak memakai sepatu itu juga perlu dipertanyakan.
Dan cerita itu bersambung sampai akhirnya ia bertemu Bili, Rion dan Neyza.
__ADS_1
Rion dan Neyza berada di dalam kamar. Setelah makan malam dan menidurkan anak-anak di kamarnya, mereka juga bersiap untuk beristirahat. "Kasihan si Shena," kata Rion ketika keluar dari kamar mandi. "Iya, kasihan," kata Neyza. Rion berharap masalah ini segera berakhir. "Apa kita gak bisa bantu dia?" Neyza menatap tajam Rion "Maksud kamu membantu? Laporin tunangannya ke Polisi? Jangan, ah. Gak usah ikut campur urusan orang. Gak baik," Neyza melarang. "Kita udah sering banyak bantuin orang. Tapi terkadang kita terjebak dalam kebaikan kita sendiri. Kamu pasti paham maksud aku," kata Neyza. Kebaikan Rion yang terkadang membuat ia bingung. Ia pernah terluka hingga harus dirawat di rumah sakit karena menolong Neyza. Bahkan ia juga hampir terancam bahaya juga ketika membantu Neyza saat ia terculik. Dan banyak hal lainnya yang Neyza ingat tentang bagaimana sifat Rion yang sangat ingin membantu.
"Kamu gak ada keinginan mau nikahin Shena, kan?" tanya Neyza secepat kilat. Rion tersenyum. "Apa ya harus menikah?" kata Rion. "Aku udah tahu dari wajah kamu kalo kamu kepikiran dengan masalah Neyza. Gak usah bohong. Gak usah nawarin bantuan apa-apa. Membiarkan ia tinggal di sini selama beberapa hari demi menyelamatkan dirinya dari kejaran tunangannya yang gila itu juga sebuah pertolongan. Gak usah berharap kamu mau menyelesaikan juga. Itu masalah dia dan keluarganya. Kita gak usah ikut campur. Kamu paham?" Rion mencium rambut Neyza. Ia merasakan gelombang cemburu semakin meningkat. Kamar itu semakin panas karena aura Neyza yang tak biasa. Rion tersenyum pada Neyza.
"Gak usah lempar senyum. Jawab aku!"
(bersambung)
__ADS_1